My Salvador

My Salvador
Eps.100 Joo Zon-jun tinggal bersama Riska



Berada di tengah tempat yang ramai. Nathan tetap mengikuti langkah Kenji yang akan membawanya ke tempat resto penjual makanan halal.


Nathan pasrah saja dengan kemauan Kenji, karena jin perutnya sudah meronta-ronta meminta bahan bakar.


Langkah Kenji terhenti di depan resto yang sangat ramai dengan pembeli. Kenji langsung melangkah masuk di ikuti oleh Nathan.


"Gue cari tempat, kalau ada jus buah pesankan."Pesan kepada Kenji, sebelum melesat mencari meja yang masih kosong.


"Hem."Dehem Kenji sembaring mendekati meja resepsionis pemesanan.


Selesai mengucapkan semua pesanannya dan Nathan. Kenji segera berlalu menyusul Nathan yang sudah dapat meja paling pojok.


Yah tidak apalah pojok, yang penting ada tempat untuk duduk dan perut kenyang. Mungkin itu yang Nathan pikiran saat hanya mendapati meja ini saja yang masih kosong.


Nathan dan Kenji sudah duduk di sini beberapa menit, di detik akhir pesanan keduanya akhirnya datang .


Berada di tengah tempat yang ramai. Nathan tetap mengikuti langkah Kenji yang akan membawanya ke tempat resto penjual makanan halal.


Nathan pasrah saja dengan kemauan Kenji, karena jin perutnya sudah meronta-ronta meminta bahan bakar.


Langkah Kenji terhenti di depan resto yang sangat ramai dengan pembeli. Kenji langsung melangkah masuk di ikuti oleh Nathan.


"Gue cari tempat, kalau ada jus buah pesankan."Pesan kepada Kenji, sebelum melesat mencari meja yang masih kosong.


"Hem."Dehem Kenji sembaring mendekati meja resepsionis pemesanan.


Selesai mengucapkan semua pesanannya dan Nathan. Kenji segera berlalu menyusul Nathan yang sudah dapat meja paling pojok.


Yah tidak apalah pojok, yang penting ada tempat untuk duduk dan perut kenyang. Mungkin itu yang Nathan pikiran saat hanya mendapati meja ini saja yang masih kosong.


Nathan dan Kenji sudah duduk di sini beberapa menit, di detik akhir pesanan keduanya akhirnya datang .



Makan ramen hangat murah meriah telah datang ke meja mereka berdua."Arigato."Nathan berkata dengan ramah kepada sang pelayan .


"Douitashimashite."Tersenyum ramah.


(Sama-sama).


Baik Kenji ataupun Nathan langsung menikmati menu pesanan keduanya.


Keduanya makan dalam hening, tanpa ada percakapan apapun. Selain suara benturan peralatan makan yang keduanya gunakan, dan suara para pelanggan lain.


+++++++


++++++


Pukul. 14.31 siang


Senin


Akhirnya jin-jin perut kedua pemuda ini telah beristirahat dengan tenang. Nathan mengelus perut nya yang tetap rata, walaupun sudah habis porsi makan besar . Sama halnya dengan Kenji.


Sampai entah karena ketularan virus julid Nathan atau karena terlalu banyak makan. Tiba-tiba kalimat julid ini meluncur dari mulutnya."Gue heran sama perut gue, kenapa tidak ada isinya sama sekali."Gumamnya.


"Maksud lu apaan, kecipir?".Nathan yang kebetulan masih waras jadi bingung sendiri.".....Kalau perut lu tidak ada isinya, bagiamana lu mencerna makanan tadi."Sambungnya berkata menurut logika manusia normal.


Memayungkan bibir tipis."Hemmm....bukan itu maksud gue. Maksud gue kenapa perut gue rata seperti jalanan beraspal. Kenapa tidak ada lubang-lubang gitu loh. Dan kenapa lu bilang kayak gitu?Gue jadi berpikir kemana larinya makanan tadi kalau di dalam perut gue tidak ada."Kenji ngelantur.


Nathan mengerutkan keningnya."Kumat be**gonya."Memutar bola matanya malas.


"Gue serius, Nat....". Memotong kalimat belum terselesaikan Kenji.".... Terserah lu, kalau lu mau tetap di sini ngedumel saja sama tembok. Gue mau lanjut."Nathan beranjak dari tempat duduknya.


"Yehh.....".Kenji tersenyum mayung. Sembaring mengikuti langkah Nathan ke meja resepsionis.


++++


Selesai membayar pesanan makanan. Nathan dan Kenji segera melanjutkan perjalanan touring jalan kaki .


Di tengah jalan, karena hari menjelang sore. Yang berarti suhu dingin semakin sangat dingin. Nathan dan Kenji kembali mengenakan mantel hangat tadi .Namun tidak mengenakan sarung tangan nya ,kata Nathan."Merepotkan."


Nathan di ajak Kenji langsung ke gedung terbuka Hanabi raito. Kenapa di sebut terbuka? Karena gedung ini memang terlihat seperti tidak memiliki atap.


Dan Kenji mengajak Nathan ke sana, karena kata Nathan di sana akan ada pesta kembang api memperingati akhir tahun. Pesta yang akan di lakukan di luar gedung Hanabi raito.


++++++


Sesampainya di Hanabi raito. Tidak ada tempat lagi, tempat ini sudah ramai dengan banyak orang-orang yang akan menyaksikan pesta kembang api.


Alhasil Nathan dan Kenji. Sedikit mencari tempat ,walaupun harus terhimpit banyak orang-orang yang mengelilingi nya.


Sedikit mendapatkan tempat yang lumayan luas, kedua terhenti di sini. Nathan segera bersiap dengan kamera ponsel untuk mengabadikan momen pesta kembang api ini.


"HI, FU, MI...."Mereka semua berhitung bersamaan.


Dorr...dor...dor....puyarr.....kerett.....Suara kembali api yang mulai berhamburan membentuk warna-warni kecil bertebaran di langit gelap Jepang.


Semua orang yang ada di sana bersorak bersamaan."Wwwaa...".Kalimat sederhana mereka pada rasa kagum melihat pemandangan sederhana ini.



"Happy new year". Ungkap Nathan untuk menyambut tahun baru.


"Ha!?".Ujar Kenji membuyarkan antusias kedamaian Nathan menyambut tahun baru."Lu bilang apa tadi?".


Menatap datar."Happy new year."


"Apa artinya itu?Banyak yang bilang gitu, tapi gue tidak faham."Kenji yang terlalu polos termakan zaman.


Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Nathan."Jawab!?".


Masih menatap datar."Ungkap untuk menyambut tahun baru. Happy new year, Akeome."Jelas Nathan singkat.


"Oh! akeome."Kenji tersenyum masam.


"Pulang, Ken."Ajak Nathan berlalu dari sana.


"Ini belum selesai."


Nathan yang sudah jalan lebih dulu."Lu mau ketinggalan kereta, kita nginep di luar. Terus kalau kayak kemarin lagi. Dame, kecipir."Nathan membuang nafasnya kasar."....lu rasakan sendiri."Sambungnya berlanjut jalan.


"Kayak kemarin. DAME!Gue tidak mau."Kenji cepat-cepat menyusul Nathan yangs sudah sedikit jauh dari nya.


Kenji mengikuti langkah Nathan, ia samakan jalannya hingga jalan beriringan.


Walaupun masih sore. Tapi Nathan dan Kenji harus kembali pulang karena kereta akan ditutup jam 1 pagi.


Sampai akhirnya Kenji tersadar saat Nathan tiba-tiba berhenti di depan penjual makanan ringan."Nat, kereta kan tutup jam 1 pagi."Ucap Kenji.


Nathan yang tengah mengantri untuk membeli makanan ringan hangat ini. "Baru sadar."Tanpa perduli dengan Kenji yang ngambek karena di bohong."...Lu mau beli tidak, kalau tidak yasudah?".Acuh Nathan .


"Gue satu."Ketus Kenji tanpa melihat lawan bicaranya.


Nathan hanya mengedipkan bahu, sembaring menunggu antrian yang tinggal sedikit lagi giliran nya.


"Dua takoyaki ."Pesan Nathan kepada penjual takoyaki berbahan dasar yang salah satu nya daging sapi.


Sudah mendapatkan dua pesanannya, Nathan segera membayar pesanan.


Menerima beberapa lembar uang dari Nathan."Kalian bersaudara, terlihat akur sekali."Ucap Pak penjual Takoyaki ini.


Kenji memperlihatkan senyum ramah."Idih ogak sekali punya saudara seperti cebong, Cerewet sekali."Batin Kenji berkobar-kobar tidak terima.


Sementara Nathan langsung melesat berterus terang."Kami tidak bersaudara."


Tidak perduli dengan Kenji."......Dan sangat tidak mungkin. Dia ini seperti kecipir kering, Oji-san."Sambung bergosip tentang Kenji yang orangnya berdiri di samping nya.


Penjual ini tertawa renyah."Hhhahh...bisa saja kamu, pahala dia tampan loh."


"Iiihh...masih tampan juga saja."Nathan yang sangat pede peles jujur sekali.


Kenji yang tidak terima."Dia ini Cerewet sekali ,Oji-san. Saya bahkan berharap bisa jauh darinya."


"Jauh saja sana, sekalian jangan ikutin gue. Lu tidak bisa pulang bukan urusan gue."Ketus Nathan.


Pak penjual Takoyaki ini tertawa renyah terbahak-bahak melihat pertengkaran kedua pemuda ini."Sudah-sudah, kalian ini kenapa jadi bertengkar, lagi kalian cocok jadi saudara."


"Dame!".Tegas kedua nya.


"Jika bukan saudara lalu di sebut apa hubungan kali?".


"Musuh."Balas bersamaan.


Nathan mendengus kesal."Baiklah ,Oji-san .Permisi."Berlalu dari sana dengan membawa pesanannya sendiri.


Kenji yang masih berdiri di depan kedai ini."Jika bukan karena Otou-san, pasti sudah hemm....".Gumam geramnya ingin sekali memberi Nathan pelajaran.


Pak penjual Takoyaki ini hanya geleng-geleng kepala sembaring melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda karena dua pemuda beda alam yang di paksa bersatu. hhhh...sudah lanjut....


+++++


Selesai menghabiskan camilan tadi. Kini Kenji yang sudah baikan lagi dengan Nathan. Sibuk mengantar Nathan ke mushola terdekat daerah ini untuk sholat.


"Hem."Dehem Kenji yang terus berjalan.


Melihat mushola itu."Itu mushola, gue tunggu lu di sana."Kenji menunjukkan tempat yang akan buat tempat beristirahat sejenak nya.


Nathan mengangguk ringan sebelum berlalu pergi berlawan arah dengan Kenji.


+++++++


Pukul. 16.45


Selesai sholat. Nathan memutuskan untuk tetap di kursi panjang tralis besi yang Kenji duduki. Sembaring menunggu sholat Magrib sebentar lagi tiba, ia memutuskan untuk tetap di sini menunggu sekaligus beristirahat.


Kenji setuju-setuju saja, karena ia sudah sangat lelah. Sembaring tadi berjalan tanpa istirahat .Istirahat-istirahat pun hanya untuk makan ,bukan istirahat karena lelah.


+++


Waktu semakin berputar cepat. Waktu membawa kita meloncat ke dua jam setelah ini. Yang berarti membawa kita ke posisi selanjutnya dua pemuda ini.


Dua pemuda yang sudah ada di tempat berikut nya ,toko sovenir(oleh-oleh) terbesar di daerah ini .Sovenir Hanabi raito, nama toko besar ini.


Nathan yang sudah ada di dalam toko berpencar dengan Kenji. Kenji kebingungan harus membeli apa, ia bermaksud bertanya kepada Nathan. Tapi sayang Nathan sudah lenyap dari hadapan nya. Di saat dirinya kebingungan mencari Nathan.


Langkah Kenji terhenti di saru lorong penuh buku komik. Alhasil rencana tanya Naya pun lenyap .Kenji langsung dapat berpikir jernih, ia dengan mudahnya langsung memilih beberapa judul komik yang paling sangat ingin ia beli, tapi karena mahal akhirnya hanya menjadi sebuah bayangan.


Tapi karena Kenji ingat dengan pesan Nathan awal masuk toko."Lu beli saja terserah lu, mahal murah terserah lu, gue belikan asal lu jangan Ikutin gue." Pesan Nathan bergema dalam ingat mood bagus Kenji.


Di sisi lain. Nathan justru berkeliling ke area gitar. Ia memang sudah memiliki gitar di rumah, tapi sayang itu bukan miliknya. Itu milik kakaknya yang ia rebut dan bawa ke sini. Nathan pernah berpesan akan menggantinya, dan itu kan terwujud sekarang.


Nathan terus melihat-lihat gitar kayu klasik ini. Gitar cantik yang tertata sangat rapi. Membuat Nathan kewalahan harus memilih yang mana.


Akhirnya ia di hampir oleh penjaga lorong musik ini."Mau beli gitar, kak?".


"Ah iya."


"....Boleh saja coba mainkan, soalnya kalau cuma di lihat bingung harus beli yang mana."Minta ijin Nathan dengan sopan.


"Tentu silakan."Pelayan ini memperlihatkan."...Jika mau yang bunyinya tenang, coba saja yang ini kak."Memberikan gitar perpaduan warna coklat emas, dan tua.".... Bunyinya tenang, dan sangat dami di dengar. Jadi banyak sekali peminat yang membeli gitar jenis ini."


Nathan mengangguk-angguk. Lalu mencoba memetik senar gitar ini. Teng..negg...Benar kata pelayan ini. Bunyinya getaran bunyinya menenangkan


Nathan tersenyum manis andalannya. Lalu berkata."Saya ambil gitar ini."


"Baiklah mari urus pembayaran nya."Pelayan ini menunjukkan meja resepsionis pembayaran.


Sesampainya di sana, Nathan yang menunggu resepsionis ini mengemas gitarnya dalam tas. Nathan melihat-lihat sekitar mencari keberadaan Kenji yang belum kunjung muncul.


Bahkan sampai gitar ini selesai pembayaran Kenji belum kunjung keluar. Akhirnya sembaring dari pada susah-susah buang-buang tenaga mencari Kenji. Nathan memutuskan untuk mendekati rak striker keren-keren yang terpajang depan meja resepsionis.


Nathan mengambil dua stiker bertuliskan koreografi kanji Jepang cantik. Dan bersamaan dengan itu."Bayar, Nat."Suara berat Kenji terdengar.


"Lelet lu."Mendengus Nathan berjalan ke meja resepsionis kembali.


Kenji menaruh lima tumpukan buku komik dengan judul berbeda, sementara Nathan menaruh dua stiker tadi .


"Cuma beli komik sebanyak ini."Ujar Nathan.


"Edisi terbatas, Nat."


"Mahal."Nada suara masam .


"Kan lu tadi bilang. Lu beli saja terserah lu, mahal murah terserah lu, gue belikan asal lu jangan Ikutin gue."Kata Kenji.


Nathan menghembuskan nafas dengan kasar, lalu memberikan kartu ATM nya pada resepsionis ini .Karena uang kertas tinggal beberapa lembar ,akhirnya Nathan harus mengunakan ATM agar uang lembar yang kurang jumlahnya ini tidak sampai benar-benar habis.


++++++


Sudah menyelesaikan pembayaran."Antar gue ambil uang."Ucap Nathan menerima kembali ATM miliknya.


"Sekalian pulang!?".


"iya."


"....Uang bulanan di potong, sehari habis berjuta-juta. Oh, ara, ara, ara."Ngeluh Nathan. Yang pada sedetik kemudian tidak ada kalimat keluhan-keluhan yang muncul dari mulut nya dengan pengeluaran (melupakan pengeluaran banyak).


++++++


++++++++++


Korsel


Pukul. 05.32 malam


Rabu


Jee Ghie-hye mengemudi mobil di jalanan bersalju dengan kecepatan di atas normal. Tatapan mata tajam penuh marah terpancar dari sorot matanya .Entah siapa yang membuat Jee Ghie-hye terlihat sangat marah. Sampai ia yang seharusnya masih di jadwal merawat pasien-pasien nya di rumah sakit, terpaksa harus ia rolling ke rekan sesama Dokter yang seharusnya hari tidak ada waktu bertugas.


Pakaian atasan jas dokter masih rapi ia kenakan .Hanya ekspresi wajah saja yang sangat kacau, penuh amanah. Ia masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas normal membelah jalanan yang terlihat ramai, tertutup kabut tipis akibat musim dingin.


Sampai di tujuan yang ia tunggu-tunggu segera sampai. Jee Ghie-hye langsung menghentikan mobil, ia segera beranjak turun dari dalam mobil.


Kaki jengkal panjang nya melangkah cepat mendekati pintu depan rumah berdesain mewah modern.


Jee Ghie-hye berhenti di pintu depan rumah bernuansa warna abu-abu ini. Ia tekan kasar bel rumah ini berkali-kali, namun belum kunjung ada jawaban dari dalam.


Melihat itu amarah Jee Ghie-hye semakin membara. Semakin besar amarah saat pintu depan rumah ini berlahan-lahan terbuka. Amarah semakin membara, akan tetapi seketika itu amarah nya lenyap.


Api amarah Jee Ghie-hye padam seketika, ia berubah menjadi lema lembut. Bahkan senyum tipis manis terukir di sudut bibirnya.


"Abeoji."Suara yang menghangatkan api amarah membara Jee Ghie-hye. Suara putra pertamanya Joo Zon-jun .


Jee Ghie-hye sedikit berjongkok untuk menyamai tinggi badan sang putra."Ommaa di mana?".Tanyanya lembut.


"Ommaa tidak ada di rumah sejak kemarin .Tapi-tapi Zon-jun tidak sendirian ko, ada bibi pengasuh yang biasa menjaga Zon-jun di panti asuhan biasanya."Jelas Joo Zon-jun. Ia tatap lekat manik mata ayahnya."Abeoji jangan marah sama Ommaa. Ommaa kerja juga buat Zun-jun kan, sama seperti yang Abeoji lakukan untuk Zun-jun. Jangan marah ya, sama Ommaa."Minta hati anak polos ini .


Jee Ghie-hye mengelus lembut surai rambut putranya yang lebat hitam, sembaring mengangguk ringan."Sekarang bibi di mana?".


"Pergi belanja."


"Zon-jun sudah makan?".


"Udah, masakan bibi asuh sangat enak."


Jee Ghie-hye tersenyum manis, senyum manis yang mengartikan hancurnya hatinya melihat putra pertamanya. Seorang putra yang Jee Ghie-hye harapan tidak mengalami hal sama, seperti yang ia alami. Justru sebaliknya, putranya justru mengalami hal sama seperti waktu kanak-kanak nya.


Namun sebagai ayah, Jee Ghie-hye berusaha semaksimal mungkin agar putranya tetap mendapatkan kasih sayang dari orang tua .Walaupun itu hanya dari dirinya seorang.


"Abeoji."Panggil Joo Zon-jun membuyarkan lamunan sang ayah .


Jee Ghie-hye tersenyum tipis, lalu berkata."Zon-jun mau ikut Abeoji?".


"Tapi bibi asuh?".


"Abeoji beritahu bibi asuh nanti."Jee Ghie-hye yang langsung mengeluarkan benda pipih dari dalam saku jas nya .


Sudah berhasil mengirimkan beberapa Notifikasi Chat. Jee Ghie-hye kembali mengemas benda pipih ini ke dalam saku jas nya."Ayo berangkat."Ajak Jee Ghie-hye.


"Pintunya!".Joo Zon-jun memayungkan bibir memerah persik nya .


Jee Ghie-hye tertawa kecil."Ahh iya, Abeoji lupa."Menutup pintu rumah ini .


Dengan Joo Zon-jun dalam gandeng tangan, Jee Ghie-hye meningkatkan rumah miliknya ini.


Sedikit info.


Jee Ghie-hye mencoba menerima Seo Zhu-ye, istrinya kembali demi putra pertamanya. Beberapa bulan berlangsung baik-baik saja, keluarga ini aman-aman saja dan sangat bahagia.


Akan tetapi di suatu hari Seo Zhu-ye mengulangi hal yang sama kembali. Jee Ghie-hye menegurnya, tapi gagal. Dan terjadi pertengkaran hebat saat itu .Keesokan harinya Seo Zhu-ye masih kembali ke rumah. Namun terjadi kecanggungan, keluarga yang awalnya bersinar terang menjadi redup cahaya.


Hari semakin hari Seo Zhu-ye semakin berubah seperti dulu. Seo Zhu-ye semakin menjadi dirinya yang dulu kembali. Ia mengabaikan putranya kembali .


Dan di hari ini, Jee Ghie-hye yang lama di tugaskan menjadi dokter yang kerja lembur. Baru mengetahui dari bibi pengasuh, jika Joo Zon-jun selama tiga hari ini di rawat olehnya, bukan ibunya .


Hal itu yang memicu amarah berapi-api Jee Ghie-hye. Tapi sayangnya saat di rumah ia benar-benar tidak menemukan istri. Ia hanya menemukan putra pertamanya yang memadamkan api amarah nya.


Lanjut....


Melirik sekilas Joo Zon-jun yang terdiam memainkan laci kotak mobil di depannya."Zon-jun."Seru Jee Ghie-hye.


"Iya?".Joo Zon-jun menatap ayahnya yang fokus mengemudi mobil.


"Kalau seandainya Zon-jun Abeoji titipkan sama teman Abeoji, Zon-jun mau?".Jee Ghie-hye melirik sekilas melihat Joo Zon-jun yang menunggu pertanyaan nya .


"Hemm.... tergantung. Kalau teman Abeoji baik kayak bibi pengasuh, Zon-jun mau saja."


"Baiklah setelah jalan-jalan ini, Abeoji akan antar kamu bertemu dengannya."


Mendengar itu Joo Zon-jun yang polos hanya tertawa renyah.


++++++