My Salvador

My Salvador
Eps.115 Dua Minggu



Osaka


Pukul 11.00 siang


Selasa


Sudah hampir dua Minggu pemuda ini terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang pesakitan rumah sakit Aurora Azura .Wajah pucat penuh plaster luka banyak berhias di wajah pemuda ini. Bahkan perban luka yang melilit keningnya pun masih terbalut rapi di sana.


Di sisi ranjang pesakitan ada seorang pemuda yang tengah terduduk lesung. Terduduk menunggu pemuda yang terbaring ini membuka mata.


Gelagapan."HANAKI."Pemuda ini tiba-tiba saja terbangun kaget. Tubuhnya langsung terduduk sempurna, sebelum ia sedikit tertunduk memegangi kepalanya yang terasa nyeri .


Memegang bahu Nathan."Ada apa, Nat?Ada apa?".Tanya Kenji .


Nathan menurunkan tangan kanannya, ia lihat lawan bicaranya."Ken, dimana Henaki? Dia baik-baik saja?".


"Lu minum dulu, nanti gue kasihan tau."Kenji beralih mengambil segelas air putih untuk Nathan .Lalu ia berikan segelas air putih itu kepada Nathan."Minum dulu."Menyodorkan gelas itu di depan Nathan yang masih terdiam."......Dokter Yuta tadi berpesan lu harus banyak-banyak minum air putih beberapa hari ini, be**go."


"Hemm."Nathan mengambil gelas berisi air putih itu. Ia teguk pelan-pelan air itu masuk menerabas tenggorokan kering nya .


Memberikan kembali gelas kosong itu kepada Kenji."Jadi, dimana Hanaki?".


Kenji taruh gelas itu kembali di atas meja dekat brankar pesakitan Nathan tanpa beranjak dari tempatnya duduk."Hanaki di penjara. Dia telah membunuh Sazui, orang yang hampir membunuh lu. Hanaki terluka parah, iya sempat di rawat beberapa hari di rumah sakit. Tapi karena alasan hukum ,iya langsung di masukkan ke dalam lapas penjara remaja."


Nathan terdiam untuk loading sejenak."Siapa Sazui?Dan bagaimana bisa Hanaki yang di penjara?Dia tidak salah."


"Hanaki menusuk Sazui, Nathan. Iya lakukan demi menolong lu yang hampir di bunuh oleh Sazui ,tangan kanan Reojin. Dia pesuruh Reojin."


"Gue harus menemui Hanaki."Nathan hendak beranjak turun dari atas brankar pesakitan nya."Tunggu be**go!Lu baru sadar, keadaan lu masih lemah."Kenji segera beranjak menghentikan pergerakan Nathan."...Jangan membuat bang Hanan marah ,Nathan .Bang Hanam mati-matian berusaha menutupi ini dari ayah gue. Iya sampai membuat alasan ,jika gue dan lu tengah berlibur ke Tokyo rumah orang tua nya. Agar ayah gue tidak curiga dan tidak khawatir. Yang pasti ayah gue tidak akan bilang ke kakak lu yang bisa membuat urusan akan semakin panjang. Jadi jangan sembarang keluar RS ."


Sudah duduk di pinggir ranjang pesakitan."Hemm."Lesung Nathan.


"Lu mau makan?".Tanya Kenji kembali dengan nada lembut nya .


Nathan menggeleng ringan."Gue mau istirahat saja."Ia baringkan kembali tubuh di atas ranjang pesakitan.


Kenji kembali duduk di kursi kecil dekat brankar pesakitan Nathan. Sementara Nathan terdiam membisu memperhatikan langit-langit kamar rawat inap rumah sakit cukup lama.


"Kalau gini lebih baik lu tidak perlu bangun ,cebong."Gumam Kenji menatap malas Nathan yang melamun .


Nathan terdiam sembaring menatap lama Kenji .Kenji yang merasa tidak suka di tatap seperti itu mengusap kasar wajah Nathan.


Melotot manik hitam lekatnya."Lu?".


"Apa?".Tegas Kenji .


"Hanya lu seorang yang menemani gue di sini?Lalu gimana sekolah kita?".Nathan yang sudah terfokus dengan lawan bicaranya.


"Tidak, kalau malam kadang bang Hanam atau bang Takumi menginap di sini. Kalau sekolah ,kita sudah tidak hadir tiga Minggu ini."


"Terus?Ujian?".


"Ikut susulan Senin besok. Jadi bisa tidak bisa ,Senin besok kita harus sudah masuk sekolah untuk ikut ujian susulan."


Melotot manik mata nya kembali."Kak Riska, kalau dia telfon bagaimana alasan?Kalau tidak di angkat terus kak Riska akan curiga."Panik Nathan .


"Gue yang balas chat nya. Gue berasalan tidak bisa telfon dulu karena sibuk persiapan ujian."


"Oh!Syukur kak Riska tidak curiga."Nathan membuang nafas lega .


"Arigatogozaimashita, sudah menjaga gue selama tidak sadar ."Ucap Nathan tersenyum tipis menatap lawan bicaranya.


Memasang ekspresi julid."Ini sebagai balas lu yang pernah menolong gue. Jadi tidak perlu terimakasih."


Tidak mau kalah. Nathan pun memasang ekspresi julid."Dasar kecipir kering."


"Lu.....". Ucapan yang terputus.".... Ehmm Nathan sudah siuman."Hanam melangkah kakinya masuk ke dalam kamar rawat inap ini. Dengan membawa dua kantung berisikan kotak makanan dan minuman yang ia bawa di tangan kirinya.


Kini Hanam yang sudah dekat dengan brankar pesakitan Nathan memberikan dua bingkisan ini kepada Kenji ."Kamu makan."Suruh Hanam kepada Kenji .


Menerima pemberian ini. Hanam yang melihat tatapan bertanya Kenji."Saya sudah makan sama Takumi. Kamu makan saja."


Kenji mengangguk ringan beranjak menjauh dari brankar pesakitan Nathan. Untuk duduk di Sova yang tersedia di kamar rawat inap ini.


Hanam mengambil ali duduk di kursi kecil yang tersedia di samping ranjang pesakitan Nathan."Gimana sudah baikkan?".Tanya Hanam yang sudah terfokus dengan lawan bicaranya.


"Lumayan, bang."


"Sudah makan?".


"Belum lapar, nanti saja."


"Hem."


"Sudah telfon kak Riska?".


"Belum."


"Kamu telfon kak Riska agar iya tidak khawatir."Kata Hanam .


"Ponsel sa.....".Memutus kalimat Nathan."Aa...iya .Kenji ponsel Nathan kamu taruh mana?". Berpaling melihat Kenii yang fokus menikmati menu makan siangnya.


Tanpa berpaling melihat lawan bicaranya."Laci."


Mendengar itu Hanam membuka laci samping tempat ranjang pesakitan Nathan ,untuk mengambil ponsel Nathan .Sudah mendapatkan Hanam memberikan ponsel itu kepada sang pemilik. Sembaring beranjak meninggalkan brankar pesakitan Nathan. Hanam masuk ke dalam kamar mandi .Sementara Nathan yang sudah menggenggam ponselnya mulai memainkan layar ponselnya untuk menyambung panggilan telepon dengan seseorang di seberang sana.


Tersambung.


*Kak Riska."


Mendengar itu Nathan justru terkekeh kecil ,karena kesalahannya .


*Gimana liburan dan ujian nya?".Tanya Riska di seberang sana .


Nathan menatap bingung Hanam yang baru keluar dari dalam kamar mandi .Membuat Hanam bingung sendiri .


Masih di fokus yang sama .*Aman kak, orang tua bang Hanam baik sekali sama saya dan Kenji .Kalau ujian beres lahh."


Sadar dengan perkataan Nathan, Hanam melengos menghampiri Kenji yang tengah sibuk dengan makan siangnya.


++++++++


+++++++++++


Korsel


Pukul 15.00 Sore



Sore hari ini. Riska yang mengambil kerja santai memutuskan untuk mengajak Joo Zon-jun jalan-jalan ke taman terdekat. Supaya Joo Zon-jun tidak terlalu terisolasi di rumah. Karena dirinya yang terlalu sibuk beberapa Minggu ini.


Sebelum berangkat, ia juga sempat berbicara bincang kecil melalui telepon dengan adiknya.


Kini keduanya beristirahat sejenak untuk melepas penat setelah berjalan kaki cukup jauh dari parkiran mobil.


Sementara Riska terduduk santai. Joo Zon-jun justru asik memainkan mobil-mobilannya .Untuk ia mainkan di atas landasan tempat duduk ini.


Riska sempat mengambil beberapa foto Joo Zon-jun untuk ia kirimkan kepada Jee Ghie-hye yang beberapa hari ini tidak memberi kabar sedikit kepada putranya Joo Zon-jun. Mungkin saat ini Jee Ghie-hye masih sibuk ngurus surat perceraian nya dengan sang istri .


"Zon-jun tidak haus?".Tanya Risaka menatap tenang anak laki-laki lucu ini .


"Zon-jun ikut Tante saja ."Ucap Anak laki-laki lucu ini.


Beranjak dari tempat duduknya."Kalau gitu ayo cari minum ."Ajak Riska mengulurkan tangannya .Agar Joo Zon-jun mengandeng tangannya.


Riska berjalan berlahan menyamakan langkah kecil Joo Zon-jun yang sibuk memainkan mobil mainannya. Sepanjang perjalanan.


++++++


Pukul 12.18 Siang


Riska mengajak Joo Zon-jun masuk ke dalam toko eskrim untuk menikmati makanan dingin yang akan mendinginkan tenggorokan kering ini .Riska melihat sekelilingnya untuk mencari tempat yang masih kosong. Sudah ia dapatkan, ia segera membawa Joo Zon-jun ke meja kosong itu.


Belum lama duduk, seorang pelayan toko menghampiri keduanya."Permisi, selamat siang."Mendengar itu Riska mendongak melihat sang sumber suara .


Melihat itu sang pelayan bertanya."Anda mau pesan apa?".Memberikan dua buku menu kepada Riska .


Riska mengambil buku itu dan memperlihatkan nya kepada Joo Zon-jun."Mau rasa apa?".


"Hemm...".Joo Zon-jun bersendawa sembaring memperhatikan gambar-gambar dan tulisan ini .


"Coklat panila ."Suara imut anak ini berucap .


Berpaling melihat sang pelayan ."Coklat Vanila satu dan Strawberry satu .Porsi yang ini."Riska menunjukkan gambar pesanannya.


"Baik, permisi ."Pelayanan itu berlalu pergi setelah mengetahui pesanan pelanggan nya.


Melihat Riska dengan mata berbinar."Tante."Mendengar itu Riska segera menengok ke arah sumber suara .


"Ada apa?".Tanya lembut.


"Saya ingin ke toilet."Joo Zon-jun menundukkan malu. Membuat Riska mencubit kecil pipi Cubi ini."Ayo, Tante antar."Ajak Riska mengulurkan tangannya agar Joo Zon-jun masuk dalam gendongan tangannya.


Riska gendong Joo Zon-jun kecil ini meninggalkan meja kecil ini, tak lupa ia membawa tas selempang miliknya. Ia jalan menghampiri pelayanan di ujung pintu dapur untuk bertanya tempat toilet.


Dengan baik hati pelayan toko ini mengantar Riska sampai di toilet .Sudah sampai di sana pelayan itu baru berlalu pergi dengan pamit nya yang sopan.


Riska turun Joo Zon-jun, ia bawa Joo Zon-jun masuk ke salah satu ruang toilet yang kosong.


Menghentikan langkahnya."Boleh sendiri?".Tanya Joo Zon-jun dengan suara polos nya .


Riska tersenyum tipis."Tentu, Tante tunggu di sini."


Joo Zon-jun ke dalam toilet ,sementara Riska menunggu di samping pintu toilet yang di kenakan Joo Zon-jun.


Sesaat kemudian Joo Zon-jun keluar dari dalam kamar mandi. Dengan senyum sumringah nya."Maaf tan.....".Riska tiba-tiba saja langsung mengendong Joo Zon-jun sembaring menutup salah telinga Joo Zon-jun dan mendekap kepala anak kecil ini ke dalam pelukannya. Tak lupa Riska juga segera melesat keluar dari dalam toilet.


Sampai di luar ruang toilet. Riska langsung melonggarkan pelukannya ,sembaring tetap berjalan kembali ke meja dadi. Meja di mana mobil-mobil Joo Zon-jun masih tergeletak di sana.


Rasa penasaran anak kecil ini perucap."Tante, tadi ada apa?Kenapa ,Tante?". Mendongak untuk melihat wajah wanita yang tengah mengendong nya .


Sudah sampai di meja tadi. Riska menurunkan Joo Zon-jun di kursi duduk nya, sebelum ia menyusul duduk di samping nya .


Karena masih penasaran Joo Zon-jun kembali bertanya ."Tante, tadi ada apa?".


"Tidak ada apa-apa, Tante cuma ingin cepat-cepat kembali dan menikmati es krim ini."Riska melihat pelayan toko yang tengah berjalan mendekati meja ini.


Joo Zon-jun mengikuti arah fokus Riska yang ternyata benar, jika ada pelayan yang tengah berjalan mendekati meja ini dengan nampan berisi pesanan .


Sudah mendapatkan pesanan eskrim nya masing-masing. Joo Zon-jun langsung mencicipi ia minum dingin ini lebih dulu.


Membuat Riska gemas sendiri .Riska bahkan sempat beberapa kali mengusap belepotan eskrim di mulut Joo Zon-jun dengan telaten berkali-kali.


Saat Riska kembali mengusap belepotan ini."Pelan-pelan anak ganteng nanti manisnya ilang karena eskrim."


Mendengar itu Joo Zon-jun justru tersenyum meringis menunjuk gigi-gigi kecil susu nya .