
Indonesia
Pukul. 19.38 Malam
Senin
...Kenapa penantian harus ada yang tidak sesuai dengan realita. Kenapa?Ini cukup menyakitkan. Bukan kepulangan seperti ini yang saya mau....
Masih di hari yang sama .Di malam yang sama .Nathan masih bersama dengan Kenji .Ia masih enggan untuk menuruti keinginan Kenji yang mengajaknya untuk lekas pulang ke rumah.
Nathan memutuskan untuk mengajak Kenji ke tongkrongan biasa iya dan Jovan datangi. Di tepi sungai kota S. Sungai yang membentang luas ,perbatasan antar daerah S dengan daerah lain. Tempat yang lumayan jauh dari hiruk pikuk padatnya kehidupan kota.
Sudah sampai di tempat itu. Nathan beranjak turun dari dalam mobil, ia naik dan duduk .Buka tapi rebahan di atas mobil ."Aaaaahhh......".Merebahkan butuhnya di atas mobil.
Kenji yang bersandar di bagian luar mobil bagian depan ."Kenapa tidak pulang saja?".
"Masih sore, lagian di rumah juga ngapain....lu tidak asik lahh ,ngajak pulang terus .Kayak anak perempuan takut di marahin ayahnya."
"Bukan gitu....nanti kalau kak Riska pulang pasti khawatir kalau lu belum di rumah."
Tidak menguberis lagi ocehan Kenji .Nathan memilih terdiam memejamkan kedua kelopak matanya.
Merasa di abaikan Kenji memilih membuka pintu mobil. Duduk di kursi mobil tanpa menutup kembali pintu mobil .Kenji merai kantung berisikan buah rambutan di kursi belakang nya .
Baru merasakan satu suapan."Uuwwwoo....manis."
Nathan yang terpejam tenang di atas mobil .Terusik dengan Kenji yang ngedumel di bawa sana .Nathan menggeser posisi rebahan malasnya ,ia menggelantung kan kepalanya tepat di depan Kenji ."WOY ANJING!MAKAN IYA MAKAN ,JANGAN KAYAK ORANG O'ON. URUSAI!!".Bentak Nathan .
Urusai\=>Berisik diam dalam bahasa Jepang.
Terlalu asik mengupas kulit rambutan. Mulut Kenji masih penuh ."Bodoamat."
Mengepalkan tangan hendak memukul, tapi urungkan .Nathan memilih membalikkan badannya tanpa merubah posisi rebahan di atas mobil ."Pulang agak malam saja."Ucap Nathan memejamkan kedua kelopak matanya.
Seketika Kenji menghentikan aktivitas makan-makan nya ,ia memilih merapikan bekas makannya.
Selesai membuang kulit rambutan. Kenji kembali duduk di tempat tadi ."Kenapa tidak mau pulang sekarang?".Basa basi Kenji yang sebenarnya sudah mengetahui betul sebab Nathan tidak mau pulang sekarang.
"Lu tidak lihat ,langit malam ini banyak bintang."Berkata seperti itu .Tapi kedua kelopak mata Nathan masih terpejam.
"Lu tidak mau pulang karena lu tidak suka melihat suasana sunyi rumah ."
Tidak ada jawaban dari Nathan .Namun sesaat hening ."Jihh...Cerewet sekali lu ."Ujarnya .
"Buk....". Memotong ucapan Kenji ."...Diem bang***sat ,gue sedang menikmati bintang cantik ini."
"Hem".
+++++++
Di tempat Yudha .
"Yud ,gue bilang lu pulang besok saja."
"Yudha, Lu belum pulih dengan baik , dan besok lu masih ada pemeriksaan sebelum di perbolehkan pulang."Alyah yang terus saja membujuk pemuda yang sudah siap berkas untuk meninggalkan kamar rawat inap rumah sakit .
Alyah terus mengikuti kemanapun langkah pemuda ini pergi, tidak lupa dengan mengomel-gomel .Berugkk....."Aaa...".Mengelus kening yang baru saja menubruk punggung kekar Yudha .
Yudha menghela nafas panjang, ia berpaling ke arah Alyah yang berdiri di belakangnya."Seharusnya kamu di rumah. adikku Ana pasti sendiri di rumah."
"Tidak.....Ada ayah dan ibu ku juga adik laki-laki yang menjaga Ana .Jangan banyak alasan Yudha ,lu harus tetap istirahat di sini .Titik tidak ada bantahan."Alyah menekan kalimat akhirnya agar terlihat lebih tegas.
Yudha sedikit membukakan badannya .Menyamakan tinggi badan Alyah yang pendek .Yudha menatap lekat kedua manik mata bulat di depannya ini."Gue akan tetap di sini...".Menjedah kalimatnya dan semakin mendekat wajah ke Alyah."...Jika lu mau melakukannya bersama ku."Di susul senyum tipis Yudha .
Baru saja dengan maksud Yudha setelah sekian lama loading menatap lekat sepasang manik mata Yudha .Alyah mendorong kasar tubuh Yudha ."H??Lu tidak waras?....Mesum".
Yudha tersenyum miring."Gue suami lu. Apa ada yang salah jika gue melakukan itu bersama lu."
"Ta...tap....". Cara bicara Alyah yang jadi terbata-bata .
Namun tiba-tiba."Hahah.....gue bercanda Al."Yudha mendekat ke Alyah lagi .Alyah yang berusaha menenangkan dirinya. Iya, hanya sekedar bualan dan tatap tajam dari Yudha .Sudah cukup membuat Alyah takluk.
Yudha mendekati Alyah, ia mencium kening Alyah. Lalu berkata."Gue titip ibu dan adik gue .Ibu pasti masih di ruang rawat Brian ."Mengambil tas ransel."Gue akan bawa ini ke apartemen .Setelah itu gue akan menemani ayah."
Alyah masih terdiam di tempatnya. Yudha yang sudah berdiri di ambang pintu keluar kamar rawat inap nya."Terima kasih sudah merawat saya dengan baik."Ucapnya sebelum berlalu pergi.
"Tap....dasar keras kepala."Ujar Alyah yang akhirnya melepas kepergian Yudha .
++++
Sesuai dengan ucapan pamitnya tadi kepada istri ,Alyah .Kini Yudha langsung dalam perjalanan ke kantor polisi tempat ayahnya sibuk mengurusi kasus Asta. Saudara kembarnya.
Namun sesampainya di kantor polisi .Yudha tidak mendapati keberadaan ayahnya di sana. Iya justru mendapatkan informasi, jika Asta di rawat di rumah sakit .Dikarenakan Asta mengalami sedikit gangguan mental .Yang hampir mencelakai dirinya sendiri .
Tidak perlu basa-basi lagi .Yudha yang sudah mendapatkan alamat rumah sakitnya, segera tancap gas motornya ke alamat rumah sakit tersebut. Eh!Buka motornya ,tapi dengan motor milik istrinya. Karena Yudha tidak pernah memiliki motor Scoopy warna pink .
Next...
"Gue benar-benar tidak mengerti kenapa perempuan sangat suka sekali motor pendek ."Akibat terlalu pendeknya motor istrinya .Yudha yang jadi ngedumel seperti orang cerewet.
Sesaat kemudian, ia yang sudah sampai di rumah sakit Sakti Bakti .Rumah sakit yang lumayan jauh dari pusat kota tempat ia rawat inap .
Yudha segera berjalan masuk ke dalam ,ia sempat melihat sekilas parkiran mobil rumah sakit .Melihat masih ada dua mobil polisi terparkir di sana .Membuat Yudha mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke dalam gedung rumah sakit .
Tidak perlu berbasa-basi tanya ke resepsionis rumah sakit .Yudha langsung turun tangan sendiri mencari keberadaan ayah dan saudara kembarnya itu .
"Ayah."Yudha berjalan di antara polisi yang menemani ayahnya di lorong isolasi khusus pasien baru dengan gejala berat .Membaca itu Yudha tahu betul jika keadaan Asta pasti sangat buruk .
Yudha yang sudah dekat dengan ayahnya ."Ayah apa yang terjadi?Asta baik-baik saja kan?".Tanya beruntun Yudha .
Ayah Yudha masih terdiam membisu, beliau terlihat sangat terpukul dengan semua benturan musibah yang menimpa keluarga nya. Yudha menggenggam kedua lengan ayahnya ."Yah, Asta baik-baik saja kan?".
Salah orang polisi .Pak Iyslam namanya ."Asta masih dalam penanganan. Dia hanya mengalami benturan mental akibat dari suatu masalah yang tidak ingin dia terima .Dan dia menangani nya dengan meminum obat penenang secara berlebihan. Membuat dia memiliki kerusakan pada sistem saraf nya."
"Maksudnya?".Yudha menatap sesuai Pak Iyslam.
"Lebih baik kamu bersabar menunggu penjelasan dari doktor yang menangani Asta .Jika saya yang menjelaskan itu akan membuat mu semakin bingung."
Sesaat kemudian dokter yang menangani Asta keluar dari dalam ruang rawat Asta.
Baik Yudha ataupun Pak Faktur ayah Yudha langsung mendekat .
"Bagaimana dok, putra saya baik-baik saja kan?".Raut kekhwatiran terlihat sangat jelas dari raut wajah pak Faktur.
"Setelah banyaknya pemeriksaan. Saya menetapkan Asta Bramasta memilik penyakit mental berat .Banyak gangguan mental yang sudah menguasai dirinya .Dari mulai gangguan psikotik yang membuat dirinya selalu berhalusinasi, sulit membedakan antara yang nyata ataupun tidak .Gangguan kontrol Implus yang membuat dirinya selalu menyakiti diri sendiri secara di sengaja ."
"Saya tadi melihat banyak luka memar di tubuhnya, juga luka goresan yang baru dirinya buat ."
"Yang membuat mengalami depresi berat .Di tambah...".
Setelah mendengar semua penjelasan tentang masalah gangguan mental yang merusak kepribadian Asta .Kini Yudha duduk termenung di kursi panjang depan ruang rawat Asta .Walaupun Asta sudah siuman ,tapi tidak seorang pun dari keluarga yang di perbolehkan masuk untuk menemui Asta untuk saat ini .Membuat Yudha hanya bisa melihat keadaan Asta dari kaca tembus pandang yang terpasang di ruangan ini.
Walau begitu .Yudha tidak bisa melihat Asta lebih lama ,ia akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi ini.
Sedangkan Polisi-polisi tadi sudah berlalu pergi dengan ayah Yudha untuk mengurus sesuatu yang belum usai.
Masih di tempat yang sama .Yudha menatap sepasang sepatu yang ia kenakan cukup lama .Ia bahkan mengabaikan rasa perih dari bekas luka tusuk di perutnya.
Masih di posisi tertunduk."Maafkan gue Asta ."Bersamaan dengan telapak tangan besar menyentuh surai rambut Yudha .
Merasakan itu .Yudha segera mendongak menatap sesosok pria setengah paru baya ini ."Ayah...".Yudha segera beranjak memeluk erat ayahnya .Sosok kepala keluarga yang masih terlihat tegar ,setegar mungkin.
Dalam pelukan itu ."Ayah .Asta tidak akan pergi lagi kan?Asta akan pulang bersama kita kan, Yah?Ibu sangat menantikan kepulangan Asta Ayah ."
Menahan sekuat mungkin air mata nya .Pak Faktur mengelus lembut punggung dan Surai rambut Yudha ."Semua akan baik-baik saja. Saat Asta sembuh, dia akan pulang bersama kita ."
Masih di posisi yang sama."Jangan ceritakan ini ke ibu .Ibu mu tidak akan sanggup menerimanya ."
Yudha melepas pelukannya. Iya mengangguk ringan."Aarrrgghh....".Memegang perutnya.
"Sakit lagi...atau jangan-jangan kamu kabur dari rumah sakit."Suara pak Faktur yang jadi terdengar tegas .
Sedikit menahan sakit Yudha menggeleng ringan ."Tidak ,Yah. Ini hanya luka kecil ."
"Sudah jangan banyak bicara. Kamu duduk saja di sini ."
"Ayah tidak mengusirku untuk pulang kan?".
"Percuma ayah melakukan itu, kamu kan keras kepala Yudha .Lebih kami duduk diam saja .Ayah akan ke toilet sebentar...,"Memberikan ponsel miliknya kepada Yudha ,"Bawa ini."Pak Faktur berlalu pergi meninggalkan Yudha seorang diri kembali .
Belum lama setelah kepergian ayahnya. Ponsel milik pak Faktur bergetar. Yudha yang masih menggenggam ponsel itu melihat beberapa notifikasi chat di sana . Notifikasi chat dari Nini .Ibu angkat Asta .
Chat Nini
*Faktur maaf atas semuanya. Maaf sudah menjauhkan mu dari putramu. Maaf tidak bisa melindungi putra mu dari kekejaman suami saya .Maaf Faktur.
*Istri mu memang benar .Saya bukan ibu yang baik ,saya bahkan tidak bisa melindungi anak kandung saya sendiri. Saya sudah gagal menjadi seorang ibu ,karma ini memang pantas saya terima ."
*Saya sudah tahu Asta memiliki masalah pada ginjalnya ,tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa .Saya selalu melihat putramu kesakitan dan saya hanya diam saja ,saya memang ibu yang tidak berguna .Kata maaf tidak akan cukup untuk membalas semua kesalahan saya kepada keluarga anda dan Asta."
*Sebagai gantinya saya akan mendorong ginjal saya untuk Asta. Saya memohon sekali kepada anda .Tolong jangan tolak bantuan terakhir saya untuk Asta .Saya ingin Asta menjalani kehidupan normal seperti teman-teman nya ."
*Saya akan datang menemui anda besok ."
Setelah membaca isi pesan ini .Yudha segera beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan cepat menyusul ayahnya .
Sampai langkahnya terhenti tepat di ruang dokter .Yang ternyata itu ruangan dokter yang menangani Asta tadi .Yudha langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu .Tidak menyusul Ayahnya melainkan ingin mencari kebenaran.
"Ada yang bisa saya bantu?".Tanya dokter itu yang tengah bersiap memeriksa pasien lain.
"Jelaskan kondisi sebenarnya Asta?".
"Maaf ,tapi Pak Faktur tidak mengijinkan sa...".Memotong ucapan dokter ini .Dan mencengkram kuat kerah kemeja dokter ."...Jelaskan?".
"Okay....lepaskan ini."Setelah mendapatkan balasan itu Yudha baru melepaskan cengkeramannya.
"Pemeriksaan siang tadi membuktikan Asta mengalami gagal ginjal akibat fatal dari terlalu seringnya dia mengonsumsi obat penenang juga obat depresi .Dari sempel darah nya dia juga sering minum-minuman beralkohol .Penyebab utama kerusakan pada ginjalnya."
"Dia sudah pernah datang ke rumah sakit ini untuk memeriksakan keadaan nya .Namun dia menolak untuk melakukan pengobatan lebih dalam. Dia hanya memilih jalur obat-obatan tanpa mau melakukan transfusi darah .Padahal kerusakan pada ginjalnya sudah sangat parah."
"Tapi...tapi Asta terlihat sehat."
Dokter itu menepuk bahu Yudha."Dia selalu menahan sakit setiap waktu. Wataknya yang keras ,menjadikan dirinya pemuda yang kuat .Atau jahat pada dirinya sendiri."
"Kamu harus kuat untuk nya......Saya permisi ,ada pasien harus saya periksa."Dokter ini berlalu pergi meninggalkan Yudha seorang diri di ruang ini .
Yudha hampir tergolek lemas atas kenyataan pahit yang baru saja ia dengar. Secepatnya ia segera beranjak meninggalkan ruang dokter ini.
++++++
Melihat kedatangan putra sulung nya."Kamu dari mana Yudha?".Tanya pak Faktur.
Yudha masih terdiam berdiri tepat di depan ayahnya .Perhatian masih tertunduk, tangan kanannya meremas ponsel milik ayah nya.
Faktur yang melihat itu menyadari jika Yudha sudah mengetahui kondisi kesehatan sahabatnya sebenarnya.
"Maaf."
"Kenapa ayah mencoba menutupi ini dari kami .Ayah tidak faham bagaimana hancurnya ibu jika mengetahui yang sebenarnya....Terutama saya ."Yudha kembali menitihkan airnya .
Entah kenapa akhir-akhir ini Yudha menjadi pemuda yang sering menangis .Emosinya jadi tidak stabil beberapa hari ini .
"Bukan kepulangan Asta seperti ini yang ingin ku sambut .Asta sudah cukup menderita, bukan luka batin saja yang dia alami tapi luka fisik ayah....",mendongak memaksa dirinya untuk menatap kedua manik mata di depannya,"...Asta akan sembuh kan Yah?".
"Asta akan baik-baik saja Yudha .Dia akan sembuh, pasti sembuh .Dia akan segera berkumpul bersama kita."Pak Faktur berucap dengan ketegaran hatinya.
"Lalu apa maksud chat ini."Yudha menunjukan isi chat dari Tante Nini .
Faktur yang sudah mengetahui sejak awak niat Nini ."Tante Nini hendak mendonorkan ginjalnya untuk Asta ."
"Tap...". Memotong ucapan Yudha .".. Istirahatlah besok hari yang panjang. Kita harus menemani Asta melakukan pemeriksaan besok ."
"Operasi?".
"Jangan beritahu ibu mu .Biar ayah yang memberitahu ibu mu sendiri besok ."
++++++
Pukul. 23.38 Malam
Di sisi lain Yudha tidak bisa tidur dengan tenang .Mana mungkin Yudha bisa istirahat dengan tenang sementara di sana adik kembarnya tengah berjuang bertarung. Dan adik nya yang dua yang masih dalam keadaan koma di Rumah Sakit. Juga ketiganya yang tengah sakit demam di rumah ,Yang hanya di rawat oleh bibi asisten rumah tangga rumah nya .
Tentu tidak mudah untuk Yudha menenangkan diri di posisinya sekarang .Di tambah lagi ia adalah anak sulung di keluarga ini ,yang berarti dirinya memiliki kedudukan yang hampir sama dengan ayahnya.
Tidak jauh berbeda dengan Yudha .Nathan berusaha mengejar ketenangan .Masih di tempat yang sama bersama dengan Kenji .Di pinggiran sungai kota S.
"Ayo pulang, Nat ."
"Sekarang sudah jam sebelas malam .Ayo Nathan."
"Nat."
"Nat."
"Kak Riska akan marah."
"AAAAA.....URUSAIIIIU!!!".Nathan yang sudah frustasi dengan ocehan Kenji sejak tadi. Akhirnya dengan terpaksa ia menuruti keinginan Kenji untuk segera pulang ke rumah.
Dalam perjalanan ke rumah. Baik Nathan ataupun Kenji sama-sama hening menikmati jalanan di luaran sana yang sudah sunyi sepi .
++
Kembali ke Yudha .
Masih di tempat yang sama .Di malam sama .Yudha dan ayahnya masih menginap di lorong rumah sakit ini .Karena tidak ada satu orang pun yang di perbolehkan ada terlalu lama bersama dengan Asta di dalam ruang rawat .Membuat Yudha dan ayahnya hanya bisa mengawasi Asta dari luar kamar rawat .
Faktur menyodorkan segelas teh hangat untuk Yudha ."Minumlah."Lalu duduk di samping putranya .
Yudha menerima teh itu .Dan menggenggam nya dengan kedua tangannya. Tentu untuk memberi sedikit kehangatan pada tubuhnya .
Iya. Sebelum ini Yudha baru saja berlari ke toilet RS bukan untuk karena kebelet .Melainkan karena ia akan memuntahkan semua isi perutnya .Mungkin itu disebabkan karena Yudha terlalu memaksa dirinya .Padahal tubuhnya sendiri masih membutuhkan banyak istirahat setelah menjalani operasi. Di tambah lagi dengan efek transfusi darah yang ia lakukan kemarin ,selama menjalani operasi.
"Sadarkan kepada kamu ke bahu ayah .Kamu terlalu keras kepala Yudha."Ucap Faktur memberi ruang untuk putranya bersandar pada bahunya.
Yudha tidak bisa menolak lagi, ia tidak memiliki cukup tenang untuk membantah. Yudha sadarkan tubuh lelah nya di bahu lebar ayahnya.