My Salvador

My Salvador
Eps.91 Nathan & Kenji



Osaka


Pukul. 06.20 Pagi


Kamis


Seperti hari-hari biasanya, kini kedua pemuda ini berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki beriringan. Namun bedanya untuk hari ini, kedua pemuda ini terlihat lebih bersemangat untuk segera berangkat sekolah.


Entah karena apa, tapi keduanya benar-benar bersemangat berangkat sekolah.


Cuaca pagi hari juga sangat mendukung semangat berapi-api kedua pemuda ini. Karena semalam sudah hujan badai salju, syukur pagi hari nya keadaan cuaca jauh lebih baik dari tadi malam.


Walaupun suhu dingin masih tetap ada. Namun langit yang cerah membentang cantik di atas sana .Sangat mendukung mode mood bagus kedua pemuda ini .


++++


Sesampainya di sekolah, kedua pemuda ini masih dalam keadaan mode mood full. Namun setibanya di kelas. Ukiran ekspresi wajah masam mulai terlihat dari wajah keduanya .


Baru saja sampai di ambang pintu masuk ruang kelas. Nathan dan Kenji langsung di sambut dengan pemandangan yang tidak mengenakan .Pemandangan yang langsung merusak mood full kedua pemuda ini .


Di dalam kelas ada Hiroyuki dan teman-teman cowok satu kelasnya, mereka sedang merapikan meja dan bangku kelas yang berantakan, tertata tidak rapi.Bahkan ada salah satu bangku yang kakinya patah.


Melihat itu Nathan sedikit mengepalkan telapak tangannya.


Sementara Kenji sudah terlihat sangat marah."Pasti ulah Monsutafaia."Geramnya .


"Sepertinya karena terpaan badai tadi malam, makannya berangkat."Basa-basi Mika yang mustahil Kenji akan percaya dengan ucapannya .


Melihat datar Mika ."Basa basi apaan itu."Hiroyuki berucap.


"Diem kecrup!".Merotasi bola matanya malas.


Kenji hendak beranjak keluar kelas. Namun dengan cekatan Nathan langsung mencengkram pergelangan tangan Kenji."Jangan gegabah, O'on."


"......Tenangin diri lu, dan ayo bereskan ini."Sambung Nathan yang masih sanggup bersikap tenang seperti Hiroyuki.


"Tapi ini sudah keterlaluan, Nat ."Kenji meninggikan nada suaranya.


Menatap datar manik mata pemuda di depannya."Lu pikir gue tidak berpikir begitu."Semakin dingin menatap manik hitam ini.".....Lu mau ke sana, terus lu marah-marah tidak jelas di sana. Buang-buang tenaga, Ken. Lebih baik tenangkan diri lu, dan ikuti cara main mereka."


"Tap......". Memotong kalimat yang belum terselesaikan Kenji."....Benar kata Nathan, Ken. Kita tidak boleh gegabah."Kata Hiroyuki .


Mendengar itu, Kenji membuang nafas nya dengan kasar. Dengan berat hati ia mengalah dan menurut keinginan kedua sahabatnya yang memang ada benarnya .


+++


Selang beberapa waktu kemudian, bersamaan dengan beresnya merapikan kelas. Guru pengajar di jam pelajaran pertama datang ke kelas, untuk mengajar .


Seperti biasa semua siswa siswi telah duduk dengan tenang di bangkunya masing-masing .Fokus mereka menatap ke depan, di mana guru Matematika tengah menjelaskan materi.


Dari semua yang sangat fokus dengan pelajaran yang diterangkan di depan. Hanya satu murid saya bermuka masam dengan tatapan malas melihat ke depan sana.


Karena sudah terlalu kesal dengan materi yang tidak ia fahami sama sekali. Nathan memutar bola matanya malas melihat keluar jendela kelas samping tempat duduknya."Eemm....merepotkan bung."Gumamnya .


Menyadari jika Nathan sedang mode 0% mood buruk."Sekarang yang lu pikirkan pasti kalimat merepotkan. Dasar cebong anak katak ."Batin Kenji dengan menatap bahu Nathan.


Entah sudah memiliki ikatan batin atau kabelnya yang kebetulan tersambung dengan benar. Nathan tanpa mengalihkan perhatian berucap pelan."Hanashi sugiru, kecipir kering".


(Banyak ba**cot).


Masih dapat mendengar dengan jelas."Nani!?".Batin Kenji menatap dengan manik mata tajamnya .


Nathan yang kini sudah terfokus pada Kenji .Dengan memainkan manik hitam lekat nya."Lu pikir gue tuli, sampai tidak mendengar mulut yang terlalu banyak bicara itu." Bentak Nathan dalam suara hati(Batin).


Kedua pemuda ini bertengkar melalui jaringan suara hati .Suara hati teman bukan suara hati istri. Ingat! itu!".


Masih menatap tajam Nathan."Syukur, kalau lu mengakui mulut lu cerewet." Batin Kenji tanpa mengeluarkan suara lisan .


Sama dengan Kenji."Lu o'on, bukan gue."Kesal Nathan sampai menjinjing-jinjing sebelah alisnya.


"Sama-sama, o'on. Tidak perlu banding-bandingkan, lu juga o'on plus be**go."


"O'on dan be**go sama saja, bang**sat."


"Sum.....".Suara batin Kenji terhenti dikala suara meja terpukul terdengar sangat menggema.


Brakkkk.......Meja Nathan dan Kenji mendapatkan pukulan telapak tangan yang cukup keras. Baik Nathan ataupun Kenji yang mendengar itu langsung menatap jegang manik coklat pria muda di depan mereka berdua.


"CEPAT BERDIRI!!".Bentak guru matematika .


Secepat kilat Nathan dan Kenji langsung beranjak dari tempat duduknya. Guru Matematika menatap tajam kedua pemuda ini berganti.


Sampai akhirnya, kedua pemuda ini berakhir disini .Berdiri di depan kelas, dengan satu kaki terangkat, kedua tangan bersilang menjewer telinga samping kawannya. Semacam Nathan yang sudah menjewer telinga sendiri, Nathan juga menjewer telinga Kenji. Begitu juga dengan yang Kenji lakukan.


"Ini semua karena lu yang cerewet, cebong."Kenji sangat kesal dengan situasinya saat ini .


Menarik daun telinga Kenji lebih kuat."Bukan salah gue saja, o'on. Lu juga salah, lu yang mulai duluan tadi."Geram Nathan.


Meringis kesakitan."Yamete, yamete, yamete, Nat .Itai, itai, ITAAAII, NATHAN!".Kenji sedikit meninggikan nada suaranya di akhir kalimat.


(Tidak2, sakit2 ).


Mengurangi ulah kejahilannya."Gomen, gue sengaja."


Membalas menjewer daun telinga Nathan dengan kuat."Itaaaiii."Merintih kesakitan Nathan yang ikut membalas .


"Aarrggghh.....". Membuat Kenji meringis kesakitan kembali .


"Hem."Sampai suara dehem kasar membuat keduanya menghentikan aktivitas bertengkar.


Membenarkan kacamata yang ia kenakan."Masih kurang hukumannya."Ucap Guru Matematika.


Nathan dan Kenji yang masih di posisi yang sama. Berkata cepat."Dame, dame, dame."


(Tidak, tidak, tidak).


Tersenyum miring."Dari tadi kalian sangat berisikan. Yang belajar di dalam sangat tergantung, karena ulah kalian berdua."


Terdiam sesaat menatap kedua pemuda yang tertunduk ini."..........Sekarang cepat ke perpustakaan, bantu petugas perpustakaan membereskan buku-buku. Setelah jam pelajaran ini usai, saya akan menyusul kalian ke sana."Tegas guru matematika.


Menatap tajam kedua pemuda ini."Jangan sampai tidak di bersihkan."Sedikit nada menggertak.


"Baik, Sensei. Permisi."Pamit keduanya berlalu pergi.


Selepas kepergian kedua pemuda resek ini. Guru matematika ini kembali masuk ke dalam kelas, untuk melanjutkan pembelajaran yang sempat tertunda karena ulah dua pemuda tadi.


+++++


Dan iya, kalian belum pernah tahu Sensei Hajime mengajar anak murid bukan. Atau memang saya belum pernah menulis episode itu.


Jadi disini saya hanya menyampaikan, jika Sensei Hajime adalah guru bahasa Jepang juga MIPA, iya sekaligus walikelas MIPA D.


Hampir semua guru bisa dalam gelas bidang mata pelajaran, namun SMA Sanshain menerapkan sistem satu materi berbeda guru. Ada yang bilang, agar siswa siswi tidak mudah bosan melihat guru yang sama tiap hari. Intinya untuk kenyamanan siswa siswi saja , supaya merasa nyaman dan tidak mudah bosan saat mata pembelajaran di mulai .


Oky, lanjut .....


Hiroyuki masih ada di dalam kelas untuk mengikuti mata pelajaran. Namun sejak tadi fokusnya hilang karena ulah dua makhluk resek di belakang yang kini tekena hukuman.


Melihat guru masuk setelah mengomel-gomel di depan. Hiroyuki mengusap wajah kasar."Duwo resek itu pasti dihukum lebih berat, dasar dua makhluk resek."Gumam pelan Hiroyuki yang tak semua orang mendengarnya jelas.


Sementara di kelas sedang melakukan pembelajaran, begitu juga dengan kelas-kelas lainnya. Kedua pemuda ini justru tengah berjalan santai di lorong luar kelas mereka.


Samar-samar terdengar suara yang memanggil nama keduanya. Nathan dan Kenji menghentikan langkahnya, berpaling kebelakang pelan untuk melihat si pembuat suara .


"Sini kalian."Suruh Tuan Hajime yang baru saja keluar dari ruang kelas MIPA A. Manik mata tuan Hajime sangat tajam melihat kedua pemuda yang tengah berjalan mendekat padanya.


Melihat berganti kedua pemuda yang tertunduk lesung di depannya ini."Kenapa tidak masuk kelas? Kalian mau kemana? Kalian membuat ulah?".Tanya berutum yang terlontar dari mulut Tuan Hajime.


Kenji masih di posisi tertunduk, ia menjaga jarak pandang kesopanan untuk tidak menatap mata walikelas secara langsung. Dan itu berbeda dengan Nathan yang kini sudah menatap walikelas secara langsung.


"Kami dihukum guru matematika, karena ulah kami sendiri ."Nathan kembali sedikit menurunkan pandangannya.


Terdengar suara sembuh nafas panjang yang kasar. Tuan Hajime berkata tegas."Sekarang kalian mau kemana?".


"Kami akan ke perpustakaan untuk membantu penjaga perpustakaan membereskan buku-buku yang berantakan."Jelas Kenji .


"Ehmm...Lain kali jangan di ulangi lagi. Kalian tahu kan. Bagaimana guru matematika, jika sudah marah."Tuan Hajime menatap sabar keduanya.".....Lain kali jangan diulangi, beruntung kalian cuma di hukum seperti ini. Dan beruntung nya kalian di luar tengah turun salju."


"Yasudah sana."


Masih di posisi tertunduk."Baik, Sensei .Permisi."Keduanya berlalu pergi .


Tuan Hajime masih berdiri di sana, ia masih setia menatap punggung kedua pemuda anak kelasnya."Hhhaaa.....selalu ada yang sama setiap tahun."Tuan Hajime menghela nafas lelahnya.


++++++++


Jam pertama pelajaran sekolah di mulai sejak jam 8 tadi. Dan kini masih berlangsung jam pembelajarannya .


Iya, walaupun semua siswa siswi berangkat pagi ke sekolah. Jam pembelajaran tetap akan di laksanakan pada ketentuan peraturan jam belajar .Yaitu pukul 8, di jam itu ngajar mengajar baru di mulai.


Jadi tidak heran setelah berangkat siswa siswi nya terkadang masih menghabiskan waktu di perpustakaan atau sekedar di kelas menjalin tugas rumah, ataupun bermain.


Kembali ke dua pemuda tadi. Kembali ke nasib sial Nathan dan Kenji yang keduanya sekarang tengah mengangkat-angkat tumpukan buku, menata, memilih, dan merapi, juga menyapu, dan mengelap meja-meja baca di sini .


Walaupun sudah ada petugas kebersihan sendiri, tapi karena hukum yang wajib keduanya laksanakan. Membuat keduanya mengantikan hampir semua pekerjaan petugas kebersihan perpustakaan ini.


"Merepotkan."Kalimat yang terus saja terlontar dari mulut Nathan. Setiap bekerja Nathan terus mengulang kalimat yang sama berulang-ulang kali.


Berbeda dengan Kenji yang menampilkan ekspresi wajah masam, dengan kelu beluk keringat yang bercucuran di mana-mana.


Musim dingin bukan berarti tidak ada orang yang tidak bisa berkeringat, ingat itu! Contoh nya Nathan dan Kenji .Keduanya sudah tidak mengenakan jaket yang tadi keduanya kenakan saat berangkat .Jaket itu keduanya tinggal di kelas. Jadi dari awal keluar gedung, keduanya hanya mengenakan kemeja dan jas khusus jurusan MIPA .


Dan sekarang jas itu juga tidak keduanya pakaian .Awal membersihkan memang keduanya masih memakai, karena suhu yang masih dingin .Tapi lama-kelamaan, atau semakin lama bekerja. Suhu yang dingin itu seketika pergi entah kemana. Yang kini menyisakan hawa yang sangat panas, membuat tubuh menjadi penghasil minyak terbesar, sampai mengalahkan Arab Saudi. Yasudah...lanjut....


Nathan yang tengah menyapu lantai."Gue heran sama petugas kebersihan. Bisa-bisanya mereka masih mengenakan pakaian hangat, sementara pekerjaan mereka menguras keringat banyak."Ocehannya tanpa henti dengan tetap menyapu lantai.".....Apa mereka tidak bisa merasa apa yang namanya gerah."


Dengan tumpukan buku tinggi yang tengah dalam genggaman kedua tangannya."Cerewet lu ,O'on."Umpatnya .


Kenji membawa tumpukan buku tinggi itu ke meja resepsionis. Kata resepsionis yang minta bantuannya tadi, katanya akan di lakukan seleksi pemeriksaan kelayakan baca kepada buku-buku kusam ini. Tapi yasudah, saya tidak faham dan saya tetap akan membantu. Karena resepsionis ini sudah mengangkat dua kali tumpukan buku yang tinggi-tinggi untuknya bawa ke meja kerja resepsionis.


Sementara Nathan yang masih di posisi menyapu lantai seluas ini."Aahhhaa... merepotkan be**go .Kak Riska, adik mu ini lapar."Gumamnya tersenyum masam.


Beberapa jam kemudian. Nathan dan Kenji tergeletak terduduk di bawah rak buku-buku sebagai sandaran punggung lelah keduanya.


"Aaaww...". Menutup mulutnya yang menguap .


"Jangan tidur, kecipir."Tegur Nathan melihat mata sayup Kenji .


"Baka."Ucap nada suara berat malam Kenji.


"Permisi."Suara penjaga(resepsionis perpustakaan) menghampiri Nathan dan Kenji yang tengah terduduk lesung, dengan posisi malas di lantai perpustakaan.


Kenji hanya terdiam menatap malas, dengan arti tatapan menunggu pertanyaan."Iya?".Nathan yang menyambut dengan posisi yang tidak berubah.


Memberikan dua gelas putih dengan pelet coklat."Minum dulu kopi hangat, kalian sudah sangat berkerja keras. Domo arigato gozaimasu, sudah membantu membereskan ruang perpustakaan ."


Belum menerima pemberian."He....Santai ,Onii-san .Karena yang kami lakukan atas dasar melaksanakan hukum."Mendengar perkataan Nathan. Petugas perempuan perpustakaan ini justru tertawa kecil."Heehh.....Saya sudah tahu, tapi tidak semua siswa siswi yang kena hukum melaksanakan kewajibannya dengan benar seperti kalian berdua ini."Kata nona perpustakaan ini.


".....Mereka yang mendapat hukuman biasa memilih tidur di sini sambil nunggu guru penghukuman datang."


"Nani!!".Nathan dan Kenji berucap bersamaan.


Memberikan dua gelas minuman hangat yang masih ia genggam."Sudah-sudah nanti saya akan coba bicara dengan guru matematika agar sedikit di beri keringanan.....".


"..... jika mendapat hukuman lagi."


Menerima gelas minuman hangat."Sudah terlanjur ,lahh... apes sekali hari ini."Nathan mendengus kesal .


Kenji semakin melorot tubuh, agar bisa di posisi sedikit tertidur."Buang-buang tenaga."Gumamnya.


"Nikmati saja istirahat kalian."Nona resepsionis perpustakaan berlalu pergi .


Kenji menaruh minum hangat tadi si samping .Sementara diri di posisi sedikit duduk tertidur ,kedua kelopak mata memejam .


Sementara Nathan, sudah beranjak dari sana dengan meningkatkan minum hangat itu tetap berada di sana .


Nathan pergi mengambil benda pipih yang tergeletak di saku jas sekolah. Sudah sejak tadi pagi tadi, Nathan mematikan data paket internet nya. Yang tidak biasanya ia lakukan .


Baru saja mengingatnya, Nathan langsung melesat mengambil benda pipih miliknya.


Belum lama ia menyalahkan data internet ,notifikasi Chat ,juga panggil tak terjawab ia dapat Begitu banyaknya.


"Aduh!".Ujarnya. Nathan segera menghubungi nomer yang terus-menerus menghubungi dirinya, akan tetapi tidak kunjung mendapat respon balasan darinya. Nomer itu tidak lain adalah nomor telfon kakak perempuannya.


Tersambung.


*Assallamuallaikum, kak."


*Waallaikum'salam."


*Maaf, kak Riska. Kemarin saya matikan data internet dan sampai pagi belum saya nyalahkan kembali. Baru ingat sekarang, maaf ya kak."


Merasa sangat bersalah sekali, telah membantu kakak nya mengkhawatir dengan keadaan nya.


*Iya, tidak papa. Kakak kemarin sudah di beritahu sama paman Yoshi. Soal keadaan kamu."


Melelahkan nafas lega.


*Kamu tidak sekolah? Sekarangkan masih jam pelajaran."


Dorr....serasa tertembak timah panas. Nathan yang baru saja bersikap tenang kini menjadi berkeringat dingin. Nathan kebingungan harus mencari alasan apa. Otaknya tiba-tiba membeku, tidak ada satupun die kebohongan yang terlintas dalam pikiran nya.


Merasa tidak ada jawaban dari adiknya. Riska di seberang sana kembali berucap.*Dik, are you okay?".


*E!..Ye-yes ,l'm fine ."


Balas terbatah-bata Nathan .


Dengan dengar suara hembusan nafas kasar di seberang sana.


*Don't be naughty there, sister doesn't like to see it."


*.......Sampai kakak tahu, kakak akan langsung memindahkan kamu ke sekolah asrama ." Lanjut Riska.


*What?".Ujar Nathan .


*Sudah dulu, kakak ada meeting."


*Jangan lupa sekolah yang bener."


Panggilan telepon di akhir sepihak oleh Riska di seberang sana .


"What?Kenapa harus asrama?". Batinnya mematikan kasar layar benda pipih ini.


Menaruh dua gelas minum di atas meja."Aaww....".Lalu melonggar otot-otot kaku nya. Merasa sudah nyaman, Kenji melihat ekspresi wajah kecut Nathan."Kenapa, cebong?".


Memasang wajah semasam mungkin."Kakak gue mengancam akan memindahkan gue ke sekolah asrama. Bahaya sekali kalau kak Riska sampai benar-benar tahu."


Menghembuskan nafas nya kasar. Kenji mendudukkan dirinya di kursi kosong depan Nathan."Tenang saja, gue akan pastikan Otou-san tidak pernah mengetahui kegiatan sebenarnya lu."


"Aahh..... merepotkan sekali."Nathan memutar malas bola matanya."......Dulu saat SMP gue mati-matian cari cara buat berhenti, sekarang harus terulang lagi hal yang sama."


Masih penasaran dengan masa lalu Nathan ,pemuda yang lebih muda setahun darinya ini."Emang seperti apa, lu dulu?".


"Gue dulu.....".Nathan mengingat akan masa SMP brandal nya. Lebih tepatnya dari SD ,iya .


*Past, Nathan.*


Kembali ke tahun 9 ,kelas lima SD. Pemuda dengan postur tubuh kecil, rambut hitam pekat lurus tergerai tak terlalu panjang. Berseragam sekolah merah putih yang sudah pemuda kecil ini kenakan dengan rapi.


"Kakek!!!!!!". Pemuda kecil ini, atau kurang lebih tuan muda kecil ini berlari kecil menghampiri pria tua yang akan masuk ke ruang makan.


Tuan muda kecil langsung merangkul, membawa sang kakek untuk menggendong nya."Jagoan sudah siap berangkat sekolah?".


"Sudah dong! Kakek tidak lihat, betapa gantengnya cucu mu ini."Entahlah, tapi anak laki-laki ini tidak seperti anak laki-laki pada umumnya. Tuan muda kecil ini terlihat lebih pandai di umur yang terbilang belum saatnya .


Menarik gemas hidup mancung cucu kesayangan ini."Ihhh.....kakek sakit tau."Dengus mengelus hidup memerah ceri ini.


"Makannya turun, tuyul. Kau ini sudah besar."Suara perempuan muda dengan pakaian khas anak kuliahan menghampiri kedekatan kakek dan cucu ini .


Masih berada dalam gendongan kakek."Kakek lihat kakak, masa sudah ganteng-ganteng gini di panggil tuyul ."


"Hhhhhhh............."Pelak........brakkk........Suara menggema gebrakan meja, juga tawa Kenji yang terbahak-bahak. Mendengar Nathan yang bercerita dengan terlalu polos sampai ke inti akarnya.


Yang di tertawa, menatap malas dengan dagu yang sudah tersangka oleh tangan kanannya.


"Tttsss....kalian berdua, jangan berisikan."Tegur tegas nona resepsionis perpustakaan.


"Ah gomen."Kenji mengayunkan tangannya naik turun.


Kenji kembali berpaling kepada Nathan."Lanjut.....".


"Tidak."Ketus Nathan .


"Gue janji tidak ketawa, sumpah."Menjunjung dua jari tangan nya .


"Bagaimana, kalian sudah selesai?".Sebuah suara pertanyaan yang membuat Kenji tersentak kaget.