My Salvador

My Salvador
Eps.116 Pulang RS



Korsel


Pukul 18.02 Malam


Kini Joo Zon-jun dan Riska tengah duduk berjajar di meja makan .Untuk menikmati menu makan malam tentunya.


Joo Zon-jun begitu lahap menikmati menu makan malam ini. Ia bilang, ingin cepat dewasa harus makan yang banyak agar lekas tubuh dewasa dan menjadi orang hebat seperti ayah nya.


Sampai panggilan telepon tiba-tiba tersambung dengan benda pipih yang tergeletak di samping nya .


Riska melihat benda yang bergetar-getar dengan bunyinya ini. Ia ambil untuk menggeser gagang telfon warna hijau yang bergetar-getar ini .


Tersambung.


*Malam nona Riska."


*Malam."


*Sebelumnya saya mau minta maaf.........saya...............................".


*Ya tidak papa. Kamu fokus saja menyelesaikan masalah mu."


*Baik terimakasih, sudah mau menjaga putra saya."


Panggilan berakhir.


Riska letak ponsel ini di tempat semula, sebelum berpaling melihat Joo Zon-jun sudah terfokus melihat."Yang telfon tadi ayah?".


"Iya, ayah kamu bilang tidak bisa mengajak kamu bermain dulu. Di RS banyak pekerjaan yang belum ia selesai kan ."Mengelus lembut surai rambut belakang Joo Zon-jun."Lanjutkan makannya setelah itu ayo belajar, Tante ajarin ."


Joo Zon-jun mengangguk ringan sembaring melanjutkan menikmati menu makan malam ini.


+++++++++


++++++++++++++++


Osaka


Pukul 20.21 Malam .


Sabtu


Tiga hari setelah Nathan siuman. Kini ia sudah di perbolehkan pulang. Dan Nathan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.


Di sinilah kesialan kedua orang berlangsung .Karena kepulangan kedua pemuda ini langsung di sambut oleh Yoshi .Ayah Kenji yang terlihat menatap keduanya dengan ribuan kecurigaan manik hitam terpancar tajam.


"Kalian dari mana?". Mendengar lontaran pertanyaan ini. Baik Nathan ataupun Kenji langsung menelan paksa saliva dengan fokus yang campur aduk melihat-lihat ke sisi lain ruangan untuk menghindari tatapan manik tajam Yoshi.


Berjalan lebih mendekat."Saya tanya kalian. Kalian dari mana?Tidak mungkin kalian berdua dari kediaman rumah kedua orang tua Hanam. Saya baru pulang dari sana."


Dek..... Keringat dingin membasahi tubuh Kenji yang sudah mematung. Sementara Nathan.


"Oji-san, Oji-san, maafkan saya Oji-san. Oji-san jangan bilang apa-apa ke kak Riska, saya mohon Oji-san. Saya tidak mau masuk asrama, saya tidak mau pindak sekolah Oji-san. Maafkan saya Oji-san ,maaf sudah bohong."Tidak ada lagi yang dapat Nathan lakukan selain. Mendudukkan lututnya di ubin keramik ini .Menundukkan perhatian menatap kedua kaki beralasan sandal selop ini. Nathan mengucapkan semua permohonan dan maaf nya dengan setulus mungkin agar ia tidak terlibat lebih jauh lagi .Ataupun sampai berhadapan dengan kakak perempuan nya.


Melihat itu Kenji segera mengambil posisi yang sama agar hati ayah nya bisa luluh.


"Otou-san, Otuo-san maafkan saya, ini semua karena kecerobohan saya yang membiarkan cebong ini keluar seorang diri."


Yoshi tetap berdiri di tempat yang sama."Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?".


"Cerita."Tegas Yoshi tanpa menyuruh kedua pemuda ini beranjak dari tempat nya duduk bersimpuh di depannya.


Dengan pandangan sama-sama tertunduk .Keduanya berlahan-lahan mulai bercerita tentang kejadian semalam.


+++++++++


Pukul 00.00 Tengah malam


Sampai di akhir cerita pun .Yoshi hanya menanggapi dengan hembusan nafas kasar nya.


Mendengar respon itu. Nathan memberanikan diri mendongak melihat Yoshi ."Tolong bantu Hanaki ,Oji-san. Bantu dia keluar dari penjara, dia tidak salah, Oji-san."Nathan merendahkan nada bicaranya akhir kalimat sembaring kembali tertunduk lesung.


Setelah lama menunggu jawaban .Akhirnya Yoshi mengemukakan suara nya."Lihat besok. Lebih baik sekarang kalian berdua istirahat. Teruma Nak Nathan, kamu baru saja keluar dari rumah sakit."Dingin Yoshi langsung melangkah pergi begitu saja, meninggalkan kedua pemuda yang tertunduk lesung .


Melihat langkah kaki yang sudah jauh dari ambang pintu depan rumah ini. Nathan membuang nafas lega nya sembaring beranjak dari tempat nya .Tidak lupa ia juga sedikit meringis sakit memegangi pelipis kepala, menahan rasa penih di kepalanya yang tiba-tiba saja menyerang.


Harap di maklumi saja sih. Karena kepala Nathan baru saja mendapatkan pukulan keras dari benda berat. Yang sudah dapat di jelas rasa sakit pasti masih terasa. Apalagi dengan perban luka yang masih melilit keningnya.


Menyadari Nathan tegah menahan pusing Kenji segera menenteng tas ransel ini dan secepatnya menggenggam lengan Nathan."Jangan pingsan di sini, be**go."


Menoleh secepat kilat dengan tatapan tajamnya."Diem bang**sat."Nathan menepis tangan Kenji. Sembaring mulai melangkah pergi mendekati anak tangga rumahnya, untuk ia segera pergi ke bilik kamar miliknya.


Kenji terdiam sesaat mencerna berubah sifat Nathan kepada dirinya barusan. Lama ia loading di sana(lebih tepatnya ngebung cukup lama di sana) Ia segera tersadar untuk secepatnya berjalan menaiki tangga rumahnya menyusul Nathan .Tentunya untuk memberikan tas ransel Nathan yang masih ia bawa bersama tas ransel miliknya sendiri .


++++


Sudah berada di depan pintu kamar tidur Nathan .Kenji mengetuk pelan pintu kamar Nathan Tokk.....Tokk......"Nat ,gue masuk ya?". Menyadari tidak ada balasan dari dalam .Kenji membuka berlahan pintu kayu di depannya ini.


Berlahan-lahan ia langkahkan kaki nya masuk ke dalam ruang kamar yang tertata sangat rapi dan terjaga kebersihannya ini. Kenji melihat sekeliling ruangan ini, bahkan ia sempat melihat ke ranjang kamar ini yang terlihat masih sangat rapi. Yang berarti Nathan belum beristirahat sedikit di sana.


Kenji m langkah lebih masuk lagi."Nat gue taruh di sini tas lu."Ucapnya menaruh tas ransel ini di atas tempat tidur.


Sampai di depan pintu keluar kamar Kenji yang belum mendapatkan jawaban sama sekali .Menghentikan langkahnya, ia berpaling kembali melihat sekeliling ruangan yang ternyata sunyi sepi.


"Nat."Serunya pelan.


"Lu dimana?". Kenji berjalan mendekat ke pintu kamar mandi kamar ini yang tertutup rapat."Lu mandi?".


"Lu marah sama gue?Kenapa lu tidak jawab perkataan gue?". Kenji melontarkan pertanyaan-pertanyaan nya. Namun hasilnya tetap nihil. Karena ia belum mendapatkan balasan dari Nathan sama sekali.


Merasa khawatir dengan keadaan Nathan. Kenji mencoba membuka pintu kamar mandi ini yang ternyata tidak terkunci sama sekali. Pintu sudah terbuka Kenji langsung melangkah masuk."Maaf Nat gue nyelonong."


Di dalam kamar mandi pun nihil. Kenji tidak mendapati kehadiran Nathan sama sekali .Menyadari itu Kenji bergegas keluar kamar mandi dengan tergesa-gesa .Berugkk.......


"Aarrrgghh.....". Rintihan Kenji yang hampir saja terjungkal ke belakang.


Nathan langsung terdorong paksa sampai terduduk di lantai, disitu ia merintih kesakitan ."Iiiissstttt......sial kepala."Mencengkram kelapa berdugem-dugem akibat tabrakan.


Melihat Nathan yang terjatuh di depannya Kenji langsung berjalan mendekat."Lu dari mana saja ,o'on?".


"Tidak minta maaf, nyerocos saja. Berisik lu!".Nathan berusaha bangkit kembali. Ia yang sudah berdiri."Keluar lu, masuk kamar orang tidak permisi, nyelonong-nyelonong. Keluar lu!".


"Tap....". Ucapan Kenji langsung diputus oleh Nathan."Keluar be**go!."


Kenji membuang nafas mengalah, ia membawa tas miliknya dan berlalu meninggalkan kamar tidur Nathan.


"Tutup pintu!."Pesan Nathan menatap punggung Kenji .


Kenji membalas dengan dehem malasnya .Beranjak keluar dan tak lupa menutup pintu kamar ini kembali sebelum berlalu pergi ke bilik kamar sebelah.


+++++++


Selepas kepergian Kenji. Nathan secepat masuk ke dalam kamar mandi .Sesaat kemudian ia keluar dengan pakaian yang sudah berbeda.


"Lupa."Nathan melihat pintu kaca balkon rumahnya yang belum sempat ia tutup tadi. Mungkin sudah tidak bisa di tahan lagi yang membuatnya buru-buru lari ke kamar mandi sampai tidak melihat kehadiran Kenji di sana, waktu tadi.


Sudah menutup pintu balkon. Nathan mendekatkan dirinya ke meja belajar. Ia bermaksud untuk meluangkan waktu sedikit belajar. Akan tetapi tubuhnya bertolak belakang dengan keinginan nya. Rasa sakit di kepalanya terasa kembali membuat diri harus segera beristirahat.


Saat ia duduk di tepi tempat tidur. Nathan lirik jam dinding kamarnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 01.00 .Waktu tubuhnya untuk istirahat yang sudah terlewatkan cukup lama .


Ia baringkan tubuh lelah ini. Tidak lupa ia juga matikan lampu tidurnya .Membiarkan seisi ruangan kamar ini gelap gulita tanpa cahaya .Di tempat berbaring ini .Nathan lihat langit-langit kamar nya yang gelap dengan mimik wajah muram .


Lama ia melamun di sana sampai kedua kelopak mata ini, ia paksa memejam tidur ."Tidak perlu memikirkan masa lalu, bodoh."Gumamnya.