My Salvador

My Salvador
Eps.96 Guci antik pecah



Nathan hentikan sepeda, ia menyeberang ke seberang jalan sana untuk berputar arah. Semakin dekat dengan dua sosok yang menarik perhatiannya. Nathan mengehentikan sepeda tepat di samping kedua sosok ini."Permisi bibi."Sapa ramah Nathan .


Sesosok wanita dewasa ini berpaling melihat sang sumber suara, begitu juga dengan sang putra kecil nya .


Tanpa turun dari sepeda, Nathan sedikit menunduk perhatian nya."Adik mau beli ramen?".


Anak laki-laki mengangguk canggung.


Nathan tersenyum tipis, sebelum ia keluar beberapa lembar uang dari dalam saku celana panjangnya. Nathan memberikan dua lembar uang kepada anak ini."Ambil, buatlah beli ramen favorit kamu."


Anak laki-laki ini masih terdiam mendongak melihat ibunya yang masih terdiam.


Menyadari itu, Nathan meraih tangan anak ini dan memberikan uang ini. Lalu ia berpaling menatap sang ibu anak ini."Semoga pemberian saya dapat membantu, bibi."Ucap Nathan.


"Ar-Arigatogozaimashita, tuan."Ibu ini tersenyum lebar saking lebarannya kedua matanya terlihat seperti terpejam .


"Ye, iie, douitashimashite". Nathan tersenyum ramah sebelum berputar arah lagi untuk kembali ke jalur pulang ke rumah nya .


(Ya, sama-sama).


Dan tanpa Nathan sadari ada seorang dari kejauhan yang memperhatikan aktivitas Nathan sembaring tadi. Seseorang ini tersenyum tipis ,sembaring bergumam."Baik juga dia."


++++


Nathan kembali mengayunkan medal sepeda pada jalur pulangnya. Kali ini ia mengayunkan sepeda miliknya dengan kecepatan di atas normal. Nathan melakukan agar lekas sampai di rumah. Dikala ia melihat suasana malam yang semakin larut malam dan dingin.


"Buset!!Kalau di Indonesia bingung dengan banjir ,jika musim hujan tiba. Di sini bingung cari solusi buat menghangat diri kalau musim dingin tiba."Gumam Nathan terus mempercepat memayungkan medal sepedanya.


Ada beberapa getaran dalam saku jaket, namun ia mengabaikan itu. Ia memilih terus melanjutkan perjalanan agar lekas sampai rumah dan menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku.


++++++


Pukul. 16.59 Sore menjelang malam


Setelah bergelut dengan suhu dingin di luar sana ,kini Nathan tengah terduduk santai di ruang keluarga yang penghangat ruangan nya sudah dalam keadaan menyalah.


"Aahhh......". Hembusan nafas panjangnya nyamannya terdengar .


Sampai dirinya teringat dengan benda pipih yang ada di dalam jaketnya yang tadi bergetar beberapa kali.


Secepat Nathan bangun untuk duduk dengan baik. Ia raih jaket hitam yang tergeletak tertindih dengan mantel hangat nya. Nathan ambil jaket ini, ia rogoh dalam sakunya untuk mengambil benda pipih yang menganggu perjalanan nya tadi.


Nathan nyalakan layar ponselnya, ia lihat beberapa panggilan tak terjawab dari Jovan. Nathan sempat bingung, kenapa sahabat sampai membuat panggilan sebanyak ini. Tidak seperti biasanya. Biasanya yang hanya membuat satu panggilan, jika tidak terjawab akan meninggalkan pesan. Tapi ini tidak meninggalkan pesan sama sekali, sahabatnya hanya meninggalkan beberapa panggilan yang tidak ia jawab .


Dan kini giliran Nathan yang kesulitan menghubungi Jovan. Sampai akhirnya ia memilih untuk menelfon Yudha di seberang sana, yang katanya hari ini akan di undang makan malam di rumah Jovan. Di hari natal(hari raya bagi umat Kristian)


Iya, walaupun keluarga Yudha berbeda keyakinan dengan keluarga Jovan. Tapi karena kedekatan kedua ayah mereka membuat keluarga Yudha diwajibkan menghadiri undangan khusus dari ayah Jovan langsung.


Sebenarnya jika Nathan di Indonesia pun .Nathan juga pasti akan di undang. Karena almh ibunda Nathan sangat dekat sekali dengan ibunda Jovan .Namun karena posisi tidak di Indonesia ,Nathan harus terima nasib tidak dapat makanan gratis.


Tersambung.


*Hallo, Yud."


*Hem."


*Yud lu di rumah Jovan?".


*Hem."


*Jovan ada di sana?".


*Hem."


Nathan yang khawatir dengan keadaan Jovan, di tambah mendapatkan balasan seperti ini dari Yudha. Merubah dirinya menjadi membara.


*Anjing, tidak ada balasan lain selain hemmm.....".


*Iya."


*Aaaahhhhh."


*......Sudah cukup, Yud. Gue titip pesan saja buat Jovan, nanti kalau sudah selesai acaranya suruh telfon gue."


*Hem."


Panggilan cepat-cepat di akhir oleh Nathan sepihak.


Nathan segera duduk santai sembaring mengatur nafasnya yang naik turun karena ulah Yudha yang kelewat cueknya .


"Lu anjir, Yud. Gue memang belum tahu lu nikah sama siapa, tapi gue benar-benar berdoa semoga cewek yang nikah sama lu kuat. Lu dingin banget ,Yud. Gue akan berdoa semoga cewek itu tidak mati membeku, muda ."Ngedumel Nathan seorang diri.


Sekian lama ada di sana, bahkan sempat tertidur pulas. Kini Nathan sudah berpindah di dapur untuk menata semua barang belanjaannya.


Selesai menata semuanya, Nathan beralih membuka sup tahu untuknya makan malam .Memang terlalu malas untuk masak, tapi jin perutnya terus meronta-ronta membuatnya kewalahan menahannya.


Alhasil akhirnya Nathan memilih membuat menu sederhana yang terpenting mengenyangkan.


+++++++


++++


Pukul. 23.40 Malam .


Sabtu


Sudah menjelang malam, semua pintu rumahnya sudah tertutup rapat, sebagai lampu ruangan juga sudah ia matikan. Dan kini Nathan sudah duduk dengan sedikit rebahan di atas tempat tidurnya .Rebahan sembaring membaca sebuah buku yang ada dalam genggamannya tangannya.


Sudah lama sekali Nathan di posisi itu, dan entah sudah berapa halaman berhasil ia tuntaskan. Yang jelas saat ini ia masih nyaman dengan posisi ini.


Hingga di detik akhir sebuah nada suara panggilan telepon membuyarkan semuanya. Nathan segera mengambil ponselnya yang tergeletak di samping nya .


Secepat ia geser nada sambung panggilan telepon ini .


Tersambung.


*Gue pikir lu sudah tidur, Nat."


*Belum, nanggung dikit kelar tamat kan episode novel ini ."


*Hem."


*Btw acara lu baru selesai?".


*Sudah dari tadi, tapi gue harus bantu beres-beres jadi baru beres. Ya gitu...".


*.....Hem. Mau ada keperluan apa lu sampai telfon gue berkali-kali?".


*Hemmm."Jovan yang justru bersendawa di seberang sana .


Membuat Nathan segera mematikan panggilan telepon ini, dan secepat berganti ke panggilan VedioColl. Yang membuat dapat melihat jelas situasi di seberang sana .


Tersambung VedioColl.


*Ada apa, Jov?".


*Kalau seandainya gue mati, kira-kira siapa yang bakal jagain mama papah gue, ya Nat?".


Menatap tajam Jovan dari layar ponselnya.


*ANJING LU, mulut lu lentur banget kalau ngomong." Bentak Nathan .


*Bukan gitu, Nat. Gue......". Memotong kalimat yang belum terselesaikan Jovan .


*....Bodoh, bodoh, Jov. Lu jangan ngomong atau memikirkan hal kayak gitu lagi. Emang lu mikir apa sih, Jov .Sampai mikir kayak gitu?." Nathan yang tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat dekatnya ini.


Mendengar itu Jovan hanya tertawa renyah kecil.


*Heheh.....gue juga tidak tahu kenapa. Gue tiba-tiba kepikiran saja, lu kan tahu gue anak tunggal di keluarga ini. Lah jika seandainya gue pergi duluan, siapa yang bakal jagain mereka sementara gue tidak punya saudara."


Nathan membuang nafasnya dengan kasar.


*Intinya lu harus jaga kesehatan supaya tidak sampai sakit. Merokok lu tuh, hentikan. Agar lu berumur panjang."


*Orang mati bukan karena sakit saja, Nat. Ada juga penyebab lainnya kan."


*.....Tapi lu teneng saja, gue sudah berhenti merokok."


*Sudahlah, Jov. Lu jangan bicara kayak gitu, lu mau ninggalin gue sendirian. Nanti kalau gue butuh teman curhat, gue akan curhat ke siapa, Jov. Terus kalau gue sedih karena rindu nyokap bokap, siapa yang bakal hibur gue?." Nathan menatap serius Jovan dari layar ponselnya.


Iya, selama ini jika Nathan sedang terpuruk merindukan pelukan hangat dari dua orang yang mustahil ada untuknya. Jovan lah sesosok yang selalu ada untuk menghibur, seakan Jovan merasakan betul apa yang tengah Nathan rasakan saat itu .


Jadi bisa dibilang kalau sahabat pertama Nathan adalah Jovan. Teman masa kecil nya .


*Kan lu masih ada kak Riska, ada Kevin juga Yudha buat teman curhat lu."


*Beda, lu sahabat gue dari kecil, lu yang lebih faham dari mereka tentang gue. Kak Riska, gue tidak mau nambah bebannya lagi." Nathan tertunduk lesung.


*Iya, sih. Kalau seandainya itu terjadi lu datang saja ke makam gue, tapi jangan curhat saja bawakan gue bunga mawar merah juga."


*ANJING, LU. Jangan ngomong kayak gitu lagi an**jir."


*Iya, iya, Nat, sorry."


*......Gue selalu di sini, Nat. Banyak yang harus gue jagain, tidak mama dan papah saja .Tapi ada Fadil ,kakek dan nenek juga ."


Nathan tersenyum tipis melihat itu .


*Sudah dulu, Nat .Di sana pasti mau tengah malam ,lu harus istirahat. Lu tidak ada kegiatan besok?".


*Ada, padat."


*Hem, bye. Gue vc kapan-kapan buat main game ,bro."


*Oke, beres. Siap setembai."


Jovan tersenyum tipis sebelum mengakhiri panggilan telepon ini .


Bersama dengan ini tersimpan rasa mengganjal dalam hati Nathan tentang ucapan Jovan tadi. Tapi Nathan mencoba untuk tetap berpikir positif, ia memilih untuk segera mematikan lampu kamar dan segera beristirahat untuk besok.


+++++


++++++++


Osaka


Pukul. 04.10 Malam menjelang pagi


Minggu .


Suasana di luaran sana masih terlalu gelap. Namun Nathan sudah bangun dari alam mimpi nya. Kini ia telah membuat roti sandwich dan steak dada ayah di dapur .Makanan sederhana untuk sarapan paginya.


Lama sekali dirinya membuat makanan sederhana ini, karena pergerakan dirinya yang sangat malas .Definisi malas tapi lapar yang seperti ini contoh nya .


Semenit kemudian akhirnya jadilah, steak dada ayah dengan roti sandwich. Nathan menikmati makanan di dapur.


Karena di dapur juga ada meja untuk makan .Makah dirinya memutuskan untuk menghabiskan makanan ini di sini. Toh terlalu malas juga harus pergi ke ruang makan terlebih dahulu yang hanya mengulurkan dan menguras-nguras tenaga nya saja .


++++++++


Pukul. 07.31 pagi


Seperti kemarin. Nathan yang sekarang juga bermalas-malasan. Namun kali ini tidak rebahan di tempat tidur, melainkan duduk melamun di ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan pintu kaca yang gordennya sengaja ia buka lebar-lebar.


Pintu kaca ini menampakkan halaman depan samping rumahnya yang tertutup tebalnya salju.


Tadi malam salju turun kembali, membuat pagi ini tumpukan putih kembali terlihat naik di mana-mana. Mungkin di luaran saja juga hampir sama. Dan mungkin lebih parah.


Menjadi penyakit malas Nathan kambuh. Nathan hanya berdiam di ruangan ini tanpa melakukan apapun. Bahkan berniat untuk mengundang teman untuk memberantakan seisi rumah pun tidak ia lakukan. Boro-boro mengundang teman, untuk beranjak masak makan pagi pun tidak ia lakukan .Sehingga tadi pagi. Nathan hanya makan dua potong roti sandwich dengan steak daging dada ayam saja .


"Aaahhh...... gini-gini kalau ada Jovan pasti seru ,main game seharian. Olahraga seharian ,sepakbola, basket, voli, kasti ohh kasti rindu terlempar bola kasti sampai benjol."Ngedumel Nathan dengan dirinya sendiri .Sembaring perhatian memperhatikan titik-titik kecil putih yang masih berjatuhan di luar sana .


Sampai tiba-tiba saja ada sambung telfon masuk ke dalam ponsel. Nathan mendengar itu secepat mungkin melesat mengambil benda pipih yang tergeletak di atas meja.


Tersambung.


*Jovan!!".Saru sumringah Nathan di dalam sambungan ini.


*Ha!!."


*......Jovan siapa, baka?". Suara Kenji the dengar serah di seberang sana .


*Oh, lu. Ada apa?".Nathan bernada malas.


*Matematika."


*Belum."


*Besok sudah masuk, Nat."


*Terus!?".


*Gue nyontek."


*Nanti, gue males." Nathan mengakhiri panggilan telepon ini sepihak.


Nathan segera melempar sembarangan ponselnya ke samping dirinya duduk. Belum genap lamanya ia menikmati kemalasan. Tiba-tiba benda pipih ini kembali berbunyi. Membuat Nathan berdehem kasar, sebelum ia ambil mengangkat nada sambung panggilan telepon.


Tersambung.


*Atode itta, Kenji! Atode sūgaku o oshiemasu." Nathan yang langsung berucap dengan nada suara tinggi dalam sambungan ini.


(Gue bilang nanti, Kenji. Nanti gue beri jawaban matematika nya.)


*Naze damatte, baka! ? Atode hayaku tojite kudasai!".


(Kenapa diem, bodoh!? Tutup cepat, nanti saja!)


Jovan di seberang sana yang tidak tahu apa-apa terdiam sembaring loading lama.Lekas sadar Jovan segera membentak.


*GUE JOVAN, O'ON. Lu ngomong bahasa apaan ,an**jir. Lu buat gue makin be**go."


*Loh! Jov." Nathan langsung menjauhkan benda pipih ini jauh dari telinganya. Berganti ia nyalahkan spiker agar terdengar jelas.


*Lu ngomong apaan, tadi. Terjemahan CEPATTT!!!".


*Gue lupa artinya."


*Hem."


*Lu mau apa, Jov?". Mengalihkan pembicaraan ke topik lain .


*Game, gue bosen di rumah sendirian. Hujan tidak redah-redah, seakan gue tidak di perbolehkan keluar lahh anjing."


*Hujan adalah anugerah."


*Ba**cot lagi gue simpul mulut amis lu." Ngegas Nathan .


"Lah lu kenapa, Jov? Lu pms, atau lu mimpi basa lagi?


*MATA**MU."


*Jadi gini, Jov .Semalam lu ngelantur bahas-bahas yang membuat gue khawatir setengah jantung .Dan sekarang lu ngegas-ngegas tidak jelas. Are you okay?".


*Hemmm."


*Are you okay?".


*Iya, gue fine ."


*......Mau tidak game?".


*Okeh."


*......Bentar gue ambil laptop di atas."


*Ok."


Tanpa mematikan panggilan telepon ini. Nathan langsung saja beranjak pergi dari ruangan ini untuk pergi ke lantai atas meninggalnya benda pipih tetap hidup sendirian di ruang keluarga.


Di saat Nathan mengangkat laptop abu-abu ini ,atensi maniknya langsung terfokus dengan setumpuk buku yang berantakan di atas meja belajarnya.


Nathan ingat jika tadi malam, sebelum dirinya rebahan cantik membaca novel. Ia sempat bergelut mengerjakan soal matematika ini dengan usahanya sendiri. Namun boro-boro bisa, sampai jam 10 malam lebih ia hanya dapat tiga jawaban dari banyaknya soal-soal yang ia coba untuk kerjakan .


Dan kini Nathan kembali teringat dengan soal matematika ini lagi. Nathan kemas buku ini dan peralatan tulisnya. Ia bawa laptop dan peralatan sekolah ini bersamanya .


Di ruang keluarga ia kembali duduk santai, namun kali ini ia duduk di atas karpet bulu sembaring tersandar dengan Sova panjang di belakang nya.


Nathan ambil ponsel yang tergeletak di atas meja kayu ini. Melihat layar ponselnya yang mati, ia segera menyalahkannya ."Lehh, kenapa di matikan?...Yasudahlah lebih baik gue kerjakan ini."


Nathan meletakan ponselnya kembali di atas meja ,ia beralih dengan buku-buku tugas sekolah yang belum terselesaikan.


Lama sekali Nathan bergelut mengerjakan satu persatu soal ini dengan meloncati beberapa soal yang cukup sulit untuk nya kerjakan.


Di detik terakhir pertempurannya dengan soal-soal ini nada sambung Videocall membunyikan ponselnya.


Nathan lirik sekilas layar ponselnya untuk melihat nama sang pengaju sambungan. Jovan!.


Ia segera mengambil ponselnya untuk menggeser gagang telfon yang bergetar-getar ini.


Tersambung Videocall.


*Sorry, Nat tadi gue tinggal jemput mama."


Sama-sama dapat saling lihat dari layar ponselnya masing-masing .


*Hemm, santai."


*......Tapi gue tidak jadi main game, gue lupa kalau ada tugas sekolah yang harus gue selesaikan."


*Yehhh...".


*Ini gue mau telfon Kevin buat minta bantuan heheh....". Cengar-cengir tawa renyah Nathan .


*Pr Matematika?".


*Yes."


*Parah!! Sana kerjakan, gue mau bobok cantik."


*An**jir.....". Tututututtt....Panggilan di akhir Jovan sepihak dari seberang sana .


Melihat layar ponselnya."Jovan ada nama Matematika dalam topik, langsung set-set lenyapnya."Gumam Nathan sembaring menyalahkan layar laptop nya. Nathan sambungkan Videocall dengan Kevin di seberang sana melalui sambungan dari laptop nya.


Lama menunggu akhirnya. Tersambung Videocall.


*Bang Lingga!?".Ucap Nathan di seberang sini saat melihat Lingga yang muncul di layar laptop bukan Kevin .


*Salamnya, Nat."


*Eh, iya. Assallamuallaikum, Bang."


*Waallaikum'salam. Ada apa?".


*Kevin mana, bang?".


*Baru saja keluar sama ibu yang minta antar belanja."


*.....Mau ada keperluan apa?".


*Heheh....minta di ajarin tugas matematika, bang." Cengengesan di awal kalimat.


Melihat itu Lingga tersenyum tipis. Lalu berkata.*Biar saya saja, mau?".


*Bang Lingga mau?".Nathan yang terlihat sumringah sekali melihat anggukan ringan dari Lingga ia semakin tersenyum senang bukan main.


*Tunggu bentar, Abang bawa ke kamar dulu cari kertas coret-coret."


*Okeh, bang."


Tanpa mematikan sambungan ini, Lingga beranjak dari kursi ruang makan tempat duduknya. Ia berjalan keluar dari sana untuk naik ke kamar tidur miliknya.


Di posisi yang sudah nyaman.*Yang mana soalnya?".


*Bentar, bang. Ku kirim foto nya."


Ting....Sebuah foto soal matematika telah masuk ke dalam ponsel Kevin .


Lingga yang melihat rembetan soal ini.*Banyaknya." Menjinjing alis sebelahnya.


*Heheheh.....bang Lingga bisa bantu kan?".


*Coba dulu." Lingga mulai fokus mengerjakan soal dari foto ini .


Sembaring menunggu itu. Nathan juga mencoba membuat beberapa coretan mengerjakan soal-soal yang muda untuknya kerjakan.


+++++++