
Osaka
Pukul 20.31 Malam
Minggu
Selesai makan malam. Nathan segera membereskan ini dengan di bantu oleh Kenji atas paksaan dari nya. Kenji selalu menunda sesuatu ,membuat Nathan harus berkerja lebih keras agar Kenji membantunya. Membantu agar rumahnya tetap terlihat rapi dan bersih, tanpa kerja terlalu keras untuk membersihkan.
Lebih tepatnya, semacam Nathan sebagai seorang ibu yang tengah mengajari Kenji anaknya menjaga kebersihan rumah.
Selang beberapa waktu kemudian kedua pemuda ini tengah sibuk mengatur tempat istirahat di ruang keluarga agar dapat bergadang dan tidur bersama di sini .
Sova yang sudah terdorong sedikit menepi ke rak buku, dua kasur lantai yang sudah terbentang berserta dengan selimut penghangat nya.
Akan tetapi untuk meja kayu ini, Nathan tetap membiarkan pada tempatnya. Nathan membutuhkan meja ini untuk menaruh laptop dan alat MOS yang memudahkan bermain laptop.
Seperti sekarang Nathan yang kedua kaki bersilang sudah berselimut tebal, sudah duduk di atas kasur empuk. Nathan sudah fokus menyalahkan layar laptop, ia sudah di fokuskan memainkan layar laptop.
Bahkan Kenji yang sudah duduk di samping Nathan hanya terdiam membisu menatap layar laptop yang tengah di otak-atik Nathan.
Sampai tengah malam Nathan masih terjaga. Sementara Kenji sudah tepar di samping nya dengan berbalut selimut penghangat milik Kenji sendiri.
Melonggar otot-otot."Oohhhwww.......".Sendawa Nathan sembaring melirik sekilas ke arah Kenji."Buset kecipir kering, katanya bakal nemenin bergadang malah mati duluan."Gumam Nathan sedikit kesal.
Jika bukan rasa penasaran dengan orang dalam rekaman CCTV nya. Malas sekali mungkin bagi Nathan untuk tidur larut malam. Entah akan dapat melihat sosok ini lagi atau tidak, Nathan tetap akan bergadang malam ini.
Prinsip Nathan, jika ada tugas sekolah dan sesuatu hal yang membuatnya penasaran saja. Ia akan bergadang untuk mendapatkan inti jawaban dari rasa penasarannya. Tentu jawaban yang sangat jelas dari akarnya.
Lama Nathan menunggu, ia bahkan sampai habis beberapa ronde main game ff yang tengah dirinya mainkan. Dan selama itu Nathan membiarkan layar laptop nya tetap menyalah.
Dan di tengah rode puncak bermain game, tiba-tiba alarm penyusup dengan nada suara pelan terdengar dari spiker suara laptop nya. Nathan segera meletakkan ponselnya di atas meja tanpa mematikan nya.
Nathan fokuskan manik matanya pada layar laptop miliknya."Dia!?".Melihat sedikit jelas sesosok di luar sana. Nathan segera membangunkan Kenji.
Dengan setengah sadar Kenji segera ikut bangun beranjak mengikuti Nathan yang sudah berlalu pergi lebih dulu.
Nathan berlari secepat ke pintu depan rumah, ia ingin memergoki sosok ini dimalam ini juga.
Sudah mengenakan mantel hangat. Nathan segera membuka pintu depan rumah. Secepat mungkin Nathan segera berlari ke depan gerbang rumah yang tertutup rapat ini.
Tapi sialnya saat Nathan membuka gerbang ini .Menimbulkan bunyi yang membuat sesosok ini sadar akan kehadiran. Alhasil sesosok ini secepat mungkin lari menjauh dari sana.
Tidak sampai di situ saja. Nathan yang sudah keluar dari halaman depan rumah, segera berlari secepat mungkin menyusul sosok yang belum terlalu jauh dari jarah pandangan.
Kenji yang baru saja keluar gerbang."Nat....".Melihat Nathan yang sudah jauh dari penglihatan nya."...Sial, Nat. Jangan gegabah."Umpat Kenji segera menutup asal gerbang rumah ini. Sebelum dirinya menyusul Nathan yang sudah benar-benar hilang dari jarak pandangannya.
Malam salju. Di bawah salju yang turun dengan tenang. Nathan berlarian ke sana kemari mengejar sosok yang tengah berlari cepat di depannya.
Sementara Kenji yang sama-sama tengah berdiri di bawah salju yang turun dengan tenang kebawah sini. Kebingungan melihat dua jalan bercabang di depannya."Sial, kenapa situasinya selalu begitu."Umpat Kenji memasukkan tangannya kedalam saku celananya panjangnya."Astaga sial!!".Umpat Kenji kembali, namun kali ini dengan menjambak rambut kepalanya kasar. Kenji kesal dengan kecerobohan nya meninggalkan ponselnya tergeletak di atas meja ruang keluarga Nathan .
Sudah tidak ada waktu lagi untuk kembali ke rumah. Ia sudah sejauh ini dari rumah, dan jika ia kembali Nathan akan terlambat mendapatkan bantuan.
Alhasil dengan filing Kenji segera mengambil jalan kiri. Kenji berlari secepat mungkin ke jalanan yang tertutup salju ini. Ia berlari sembaring berharap Nathan lewat sini.
Sampai di tengah itu Kenji menghentikan langkahnya. Kenji berpikir tenang sembaring mengatur nafas yang tidak beraturan ini .Asap-asap putih berhamburan dari dalam mulutnya. Di rasa sudah cukup tenang."Bukan ini jalannya. Nathan lewat kanan, di sana....Di sana ada jejak kakinya tadi, Nathan lewat sana."Kenji secepatnya berputar arah .
Di sini Kenji tengah kebingungan menjari Nathan.
+++
Sementara yang di cari.........
+++++++
+++++++++++
Pukul 00.29 Tengah malam
Senin
Di sini Kenji kebingungan mencari Nathan. Yang di cari Kenji justru masih fokus mengajar sosok yang tengah berlari di depannya.
Nathan terus mengejar sesosok yang sudah sangat dekat dengannya, akan tetapi sulit sekali untuk ia dapatkan. Yang mau tidak mau Nathan harus terus mengejar sesosok ini yang tengah akan pergi ke mana.
Brakk....Suara tong sampah berukuran besar yang sengaja sesosok ini rubuhkan untuk menghambat bergerak Nathan .
Namun sayangnya, Nathan yang memiliki keahlian parkour anak jalanan dengan mudahnya ia meloncat menendang dinding di samping nya dengan satu kakinya .Lalu mendarat dengan sempurna melewati tong sampah besar ini.
Tidak ingin berhenti sejenak mengatur nafas .Nathan langsung berlanjut mengejar sosok yang lumayan jauh dari pandangan nya.
Berlari secepat mungkin Nathan berhasil menyusul pergerakan sesosok ini. Berhasil menyamai langkah kaki sesosok ini. Nathan dengan gesit langsung menghambat pergerakan sesosok ini.
Sssttt.....Nathan menendang dada sesosok yang lengah karena terlalu fokus memperhatikan dirinya .Bugkk.....Tubuh sesosok ini tersungkur ke atas tumpukan salju.
Melihat itu Nathan mengunakan waktu singkat ini untuk mengatur nafas dinginnya yang tidak teratur .Nathan terdiam dengan kedua manik hitam lekatnya tetap fokus pada sesosok yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.
Bila kalian tahu, sesosok ini mengunakan topeng berukir wajah rubah yang menutupi wajah aslinya .Jadi tidak heran, jika Nathan menyimpan rasa penasaran yang sangat besar kepada identitas sesosok bertopeng ini.
Sesosok ini sudah berdiri dengan baik, terlihat manik nya melihat Nathan."Apa tujuan lu memasang kamera tersembunyi di depan rumah gue?".Tanya Nathan menatap dingin sesosok ini.
"Hanya iseng."Sesosok ini membalas tidak kalah dingin pertanyaan yang Nathan lontarkan.
Nathan terdiam sembaring mengeratkan kepalan telapak tangannya yang menggenggam kuat.
Melihat apa yang tengah Nathan lakukan."Hemm..lu marah?".
Tersenyum manis andalannya, Nathan mengangkat tangan kanannya dan menggoyangkannya ke kiri kanan."Dame, dame ,dame, gue cuma kesal."
"Jihh......munafik."Mendengar jelas, Nathan hanya membalas dengan mengerutkan keningnya.
Tanpa aba-aba sesosok ini langsung melesat berniat menyerang Nathan yang belum siap untuk mendapatkan serangan."MUNAFIK!!".Teriak sesosok bertopeng ini.
Melihat arah serangan sesosok bertopeng ini ,sebisa mungkin Nathan segera menghindar sembaring menangkisnya. Plakkk.....Kedua lengan tangan keduanya saling bertabrakan.
Dengan gerakan secepat kilat sesosok bertopeng ini menarik kaki Nathan dengan satu kakinya .Sesosok ini bermaksud mengunci pergerakan Nathan. Karena Nathan tidak menyadari itu, tubuhnya menjadi terpelanting sebelum akhirnya mendapatkan tendangan keras di perut yang membutuhkan tubuhnya terpental ,jatuh di atas tumpukan salju.
"Aahh....".Nathan meringis mengelus perut ratanya.
"Lemah."Sesosok ini menatap Nathan datar sebelum berlalu pergi dari sana.
Menyadari itu Nathan berusaha untuk bangkit mengejar sesosok ini kembali. Akan tetapi bergerak terhenti oleh Kenji yang mencengkram kuat pergelangan tangan nya."BODOH, LU MAU MATI?".Bentak Kenji menatap manik hitam lekat pemuda ini tajam .Melepas genggaman nya."....Mengejar orang itu sama saja lu cari mati, lu tidak berpikir?!Bagaimana jika orang itu membawa lu ke markasnya. Lalu lu di kepung, di keroyok, lu mampus!?". Kenji memarahi Nathan seperti seorang ibu-ibu yang tengah memarahi anaknya yang nakal.
"Tadi tinggal sedikit lagi gue dapat melihat identitas."Nathan yang masih bersikukuh.
Karena sudah di batas kesabaran nya. Bguk....Kenji meninjau cukup kuat perut Nathan.
Perut yang masih sakit mendapatkan pukulan lagi .Alhasil Nathan langsung membungkuk badannya, dengan terbatuk-batuk.
Tidak kasih, Kenji justru melanjutkan omelan nya."Susah sekali bicara sama lu. Kalau lu masih terus ingin mengejar orang tadi, kejar saja. Tapi kalau ada apa-apa jangan bawa-bawa nama gue .Gue tidak mau ikut campur dalam urusan lu yang akan di marahi kak Riska dan Otuo-san."
Masih mencengkram perut ratanya."Sial, Kecipir kering. Perut gue makin sakit."Meringis menahan aduk-mengaduk dalam lambung nya.
Melihat Nathan yang terlihat pucat. Entah kedinginan atau kesakitan."Kenapa, Nat?". Ekspresi wajah panik Nathan.
Meremas pakaian bagian perutnya."Sakit, orang tadi baru saja tendang perut gue. Masih sakit lu tambahan lagi."
Menyingkirkan badan Kenji agar minggir dari jalannya."Minggir!".Dengan sedikit membungkukkan badannya Nathan berjalan tertatih-tati ke arah jalan pulang nya. Yang terlihat jalanan ini cukup jauh dari kediaman nya. Artinya Nathan pergi terlalu jauh dari kediaman rumah ,yang akan membuatnya harus berjalan cukup jauh untuk kembali ke rumah hangatnya.
Melirik sekilas Nathan yang masih terdiam membisu berjalan beriringan dengan nya."Lu baik-baik saja?".
Tanpa berpaling melihat lawan bicaranya."Tidak perlu tanya."Ketus Nathan.
Malam salju, semakin dingin. Kenji semakin memperdalam tangannya untuk masuk ke dalam saku mantel hangatnya.
Begitu juga yang tengah di lakukan Nathan, tapi sayangnya karena terlalu dingin perut sakitnya ini terasa sangat keram. Alhasil rasa mual mulai ia rasakan, membuat tangan kanan yang memerah kedinginan ini terpaksa keluar saku mantel hangat untuk tetap mengelus perut ratanya.
Sampai di bawah tiang lampu. Nathan menghentikan langkahnya, ia langsung berlari ke bawah tinga lampu sembaring mendorong Kenji agar tidak menjalani jalanan.
Melihat itu Kanji menjadi bersalah sekaligus khawatir. Ia menyusul Nathan yang tengah memuntahkan isi perutnya. Kenji elus lembut tengkuk Nathan.
Nathan mengusap bibirnya."Sial!". Umpatnya .Kembali berdiri dengan baik, namun tangan kirinya masih berpegang pada tinga ini untuk menopang tubuh lemasnya.
Tanpa melihat lawan bicaranya, Nathan bertanya."Masih jauh jalan pulang nya?".
"Masih."
".....Lu pucat, lu beneran baik-baik saja?".Kenji yang melihat wajah memucat kedinginan Nathan.
"Sakit dikit, mungkin ini karena tendangan dari orang tadi. Entah bagaimana, tapi tendangan kakinya sangat kuat perut ku seakan meloncat keluar dari dalam tubuh ku."Dalam keadaan seperti ini Nathan masih sempat membual.
Nathan kembali berjalan beriringan dengan Nathan .Kali ini Nathan berjalan dekat dinding pagar jalan, sementara Kenji yang di tengah jalan.
"Naik kereta, Kecipir."Ajak Nathan .
"Jam segini naik kereta, kereta apaan!?".Kenji yang berucap dengan nada kesalnya .
"Hantu....Iiihhh...".Nathan mendekap kedua bahunya.
Mendekap kedua tangan menggigil dalam saku mantel hangat."Gaya teri, nonton film nya saja lu takut. Pakek acara ajak naik kereta hantu."Kenji menghina kelemahan terbesar Nathan.
Mengangkat tangan kanan memerah menggigil."Gue berani!!".Nathan bersemangat.
"Jangan banyak gaya, sakit lagi perut lu tahu rasa lu."Kenji yang sudah kesal akan semua. Terutama suhu dingin yang sangat dingin ini. Yang akhirnya ia lepaskan pada Nathan .
Sementara Nathan yang sudah mendekap kedua tangan ke dalam saku mantel hangat."Berani!!".
"Mas....bantu saja pulang."Minta suara lembut yang membuat gendang telinga melengking merinding.
Baik Nathan dan Kenji langsung terdiam membisu seribu bahasa."Kecipir!Te-tengok belakang."Suruh Nathan tak berani mengerakkan kepalanya sama sekali.
Kenji pun sama."Lu saja! Lu kan berani."Nada mengejek Kenji .
Suasana jalanan yang mereka berdua lalu sangat sunyi sepi. Hanya ada beberapa penerangan cahaya saja. Di tambah suhu dingin ini membuat suasana semakin mencekam. Dan tiba-tiba terdengar suara seperti ini. Semakin mencekam merinding keduanya rasakan.
Yang jelas hanya wanita gila saja yang berani keluar di tengah malam, di subuh dingin seperti ini. Dan keluar di tempat sepi dengan redup cahaya seorang diri. Yang jelas tidak mungkin.
Cairan-cairan negatif mengalir deras dalam otak keduanya. Terutama Nathan yang sampai berkeringat di tengah suhu dingin.
"Putar badan bersama, kecipir."Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Dame, gue yang putar lu yang lari duluan."Kenji melirik sekilas Nathan tanpa melihat kebelakang.
"Tidak, lu pegang saja lengan gue nihh....kalau gue lari lu tarik saja."Nathan yang masih bergeming tanpa megerakan tubuhnya sedikit pun.
"Tasukete kuremasen ka".Tanya nada suara lembut redah wanita ini.
( Kalian tidak bisa membantu ).
"Ayo, satu, dua, ti....". Kedua sudah berbalik namun belum membuka kelopak mata kedua nya. Berlahan keduanya buka kelopak mata."Eh!?".Seru Nathan lebih dulu melihat wanita muda berparas manis, berpakaian hangat yang berdiri depannya dengan membawa koper besar berdiri di samping nya.
mendorong kasar lengan Nathan."Dia bukan hantu ,bodoh!".Gumam pelan Kenji kepada Nathan .
Mendengar itu Nathan hanya tertawa kecil. Lalu berucap."Mau di bantu apa, nona?".
"Tolong bantu bawakan koper saya, koper ini tidak bisa di tarik di atas tumpukan salju. Sangat berat jika di bawa."Kata wanita 156cm ini .
"Hemm, mari saya bantu."Kenji mengambil alih membawa koper ini.
"Nona jalan duluan, kami akan mengikuti."Nathan mempersilakan nona ini untuk berjalan lebih dulu.
Nathan dan Kenji mulai mengikuti wanita ini .Keduanya sama bergumam di belakang wanita ,entah wanita ini dengar ataupun tidak keduanya tetap berlanjut.
"Kecipir, perasaan gue tidak enak."Gumam Nathan.
"Salah lu, kenapa perasaan lu rasakan."Gumam Kenji membalas gumam Nathan.
"Gue serius kecipir kering."
"Emang gue tidak."
"Gue rasa, dia bukan wanita."
"Bodoh!Mata mu buta!".
"Eh! bukan gitu, maksu....".
"....Diem cebong cerewet."
"Dia bukan manusia, kecipir."
Gumam yang di tutup kalimat akhir Nathan ini membuat Kenji langsung membisu. Kenji yang sembaring tadi menenteng koper besar milik wanita ini, tiba-tiba maniknya terus memperhatikan koper besar yang ia bawa. Rasa penasaran dengan isi dalam koper ini membuat pikiran negatif melayang-layang.
Tidak ingin ada yang mengganggu pikirannya .Kenji langsung memberikan paksa koper ini kepada Nathan .
Saling dorong hanya karena sama-sama tidak ingin membawa koper ini."Kalian tidak mau membantu saya?". Wanita ini yang sudah menatap Nathan dan Kenji .
Kenji dengan cepat melepaskan tangannya dari koper ini membuat Nathan yang akhirnya membawa koper ini. Kedua juga berucap bersamaan."Dame, dame, dame, kami ikhlas membantu, juga seneng membantu."Senyum paksa keduanya tampilkan .
"Hemm."Dehem wanita ini sedikit tertunduk.
Nathan merasa tidak enak hati."Hehh.... rumah nona di mana?".Nada suara canggung.
"Sudah dekat dari sini."Balas wanita ini."....Kalian tidak perlu bantu lagi, saya bisa bawa sendiri."
"Dame, dame, kami masih bisa bantu."Balas kedua bersamaan. Namun di akhir kalimat Nathan bergumam sangat pelan."Serius, kecipir!?".Nathan yang masih ragu-ragu.
"Baiklah, mari."Wanita ini berjalan lebih dulu kembali.
Baru beberapa langkah."Perasaan gue campur."Gumam Kenji .
Menenteng koper besar berat ini."Dingin!!".Gumam Nathan yang memang sudah sangat kedinginan.
++++++
Selang beberapa waktu kemudian sampailah keduanya di depan pohon keringat berselimut salju. Dan di bawah pohon ini ada tiga tong sampah berukuran besar dengan warna yang berbeda .
Wanita ini terdiam di sini membuat Nathan dan Kenji kebingungan. Lalu Kenji tersadar lebih dulu ,segera merebut koper yang Nathan bawa .Kenji bergegas membuka isi koper ini .Namun sayangnya tidak bisa dibuka, karena koper ini memiliki kunci gembok.
Kenji yang kesulitan jarinya sampai lecet karena terus memaksa membuka kunci ini. Menyadari Nathan yang masih terdiam terpaku menatap pohon ini dengan tatapan kosong. Kenji segera bangkit. Plakkk......Kenji menampar Nathan.
Nathan menengok paksa, manik mata membulat sempurna."Sadar Nat, bantu buka koper ini. Gue penasaran dengan dalamnya."
"Wanita ini, dia kenapa?Kenapa diam saja menatap pohon ini?".Nathan masih melihat punggung wanita yang terpaku ini.
Kenji yang sudah sibuk dengan koper ini."Bantu gue, be**go. Jawabannya ada di dalam koper ini."Kata Kenji .
Tidak terlalu berpikir banyak .Nathan segera membantu Kenji. Nathan mengambil alih melihat kunci koper ini."Batu, cari batu."Kata Nathan.
Kenji ingin beranjak namun."Kunci."Suara wanita ini menghentikan bergerak keduanya.
Nathan dan Kenji langsung terpaku di tempat .Menatap punggung wanita ini. Terlihat tangan wanita ini menunjuk ke atas salah satu batang pohon yang tertutup salju."Kunci."Suara itu terdengar kembali.
"Atas."Ucap kedua bersamaan melihat ke atas batang pohon itu.
Nathan segera bangkit mendekati pohon ini, ia bermaksud memanjat pohon ini. Namun tiba-tiba."Aaaaaa......Han.....Han...Ken...Kenji!!!".Nathan terduduk tidak bergerak di bawah pohon ini .Maniknya membulat sempurna menatap wajah wanita ini. Nafas yang tidak beraturan, keringat dingin bercucuran di mana-mana. Tubuhnya juga bergetar hebat.
Kenji. Dia terpaku, tubuhnya seperti batu. Manik membulat sempurna, melihat kaki wanita ini tidak nampak."KENJI!!!!".Teriak Nathan.
Kenji secepatnya tersadar, ia segera bangkit membantu tubuh lemas Nathan."Lari ,lari ,Nat ,CEPAT BE**GO!!".Kenji yang membantu Nathan untuk bangkit.
Nathan berhasil berdiri, ia telan paksa saliva agar nafasnya sedikit normal."AYO, BE**GO! LU KENAPA DIEM SAJA, BANG***SAT!!".Bentak Kenji mencoba menarik tubuh mematung Nathan.
Nathan terdiam,namun tubuhnya bergetar hebat."Ken....".Menelan paksa salivanya .Merangkul kuat lengan Nathan."Apa be"*go!!??".Kenji yang sudah sangat ketakutan.
"Ki-kita harus..bantu wanita ini. Di.....".Menelan paksa saliva nya. Tubuh yang semakin bergetar hebat."..Dia tidak akan bebas sebelum koper itu terbuka."
"Nani!?".Kenji yang menatap tajam Nathan.
"Gue.. akan naik."Nathan dengan tangan bergetar melepas rangkulan tangan Kenji dari lengannya.
Nathan yang akan memanjat pohon ini."Saya akan naik, tolong jangan lihat saya.....".Nathan menahan tangis takut dengan terus menatap kulit-kulit pohon ini. Nathan terus memanjat tanpa berpaling sedikit pun menatap wanita ini.
Sementara Kenji yang ada di bawah semakin bergetar hebat. Ia benar-benar sangat ketakutan ,bahkan pikiran untuk lari meninggalkan Nathan pun sudah terlintas dalam pikiran nya .Akan tetapi tubuhnya sulit untuk di gerakan .Seakan sesuatu sudah memaku tubuhnya di sini .Kenji gumamnya."Mikir apa bodoh! Bisa pingsan membeku di sini kalau lu meninggalkan nya."
Nathan turun berlahan. Dengan langkah pelan ia mendekati Kenji dan memberikan kunci berganti boneka kucing ini kepada Kenji."Buka, be**go!!".
"What!?".Kenji membulat manik mata nya sempurna.
Memberikan paksa kunci itu."Gue sudah manjat be**go, sekarang giliran lu."Nathan sedikit meninggikan nada suaranya.".. Cepat gue sudah menggigil."
Kenji mengambil kunci yang jatuh ini. Tangannya mengambil kunci ini. Jantung berpacu semakin cepat, nafasnya sampai tidak teratur hanya karena malam salju ini.
Memulai membuka koper ini."Gue tidak akan keluar tengah malam lagi."Ucap bergetar bersamaan dengan terbukanya kunci ini.
Nathan yang berdiri di depan Kenji menelan saliva paksa memperhatikan ini.