My Salvador

My Salvador
Eps.39 Hilang



Osaka


Pukul 17.47. Malam


Senin


Untuk beberapa minggu kemarin, adalah hari yang sedikit tidak menyenangkan untuk Nathan. Yang harus melakukan semuanya sendiri ,bahkan menjalani suasana di dalam rumah yang sunyi ,sepi tanpa kehadiran keluarga terdekat .Dan di hari ini adalah hari terbaiknya ,karena di hari ini makan malamnya sedikit spesial .


Iya, di malam ini Nathan tidak lagi makan malam seorang diri .Ia tengah menikmati menu makan malam bersama kakaknya ,di tambah lagi ia harus memakan masakan kakaknya yang enak-enak. Malam yang begitu sangat sempurna untuk Nathan.


Nathan yang menghentikan sejenak aktivitas mengunyah makanan ."Kak Riska kembali kapan?".


"Rabu pagi, saya akan kembali ke Seoul."Balasnya tanpa menatap adiknya .


Nathan menundukkan sedikit perhatiannya."Cuma sebentar."


Riska menyungging senyum hangatnya."Kenapa, dik?".


"Rumahnya akan sepi lagi ."Merenggut masam.


"Kan ada Kenji ,putra paman Yoshi."


".......Kamu minta saja sama dia buat sesekali menginap di sini .Biar kamu ada temannya."Riska yang kini fokusnya menatap adiknya.


"Ummm."


"........Saya akan tanya ,jika dia mau .Dia kan sedang sakit sekarang."Masih di posisi yang sama .


"Kamu mau pindah ikut kakak ke Seoul?".


Langsung di balas cepat Nathan ."Tidak-tidak, saya kan sudah janji sama almarhum kakek buat sekolah SMA disini .Dan jagain rumah ini ."


"Kalau gitu Nathan yang semangat, kalau suka disini .Lagian teman-teman kamu juga banyak tadi ."Ucap Riska yang masih di posisi yang sama .


"Iya ."


Masih dengan posisi yang sama ."Kenalin siapa saja nama teman kamu tadi, kakak belum sempat tanya-tanya nama mereka tadi."


Nathan mendongak kini fokusnya menatap kakaknya ."Yang rambut panjang di kunci sebagai tadi Benjiro, tapi teman-temannya panggil dia Bang Benji .Yang tinggi badannya sama dengan Benji ,Hiroyuki namanya ,tapi yang lain panggil dia Hiro ,kalau Nathan ,Yuki .Yang seragamnya berbeda tadi ,Hanaki ,tapi yang lain ada panggil dia ,Han. Yang pendek tadi ,Ryo."Jelas Nathan .


"Eh jangan bilang dia pendek ,dik. Tidak baik mengolok-olok fisik orang ."Riska yang masih di posisi yang sama .


Nathan terkekeh pelan , sembaring menyungging senyum tipis manisnya.


Riska membereskan bekas makanannya yang sudah habis ,yang di susul oleh adiknya yang juga ikut menyusul sudah selesai makan .


Nathan mengambil piring kotor kakaknya."Sudah kak, biar Nathan saja yang mencuci ."


"Baiklah."Riska memberikan piring-piring kotor kepada adiknya .


Selepas itu ia kembali duduk di kursinya tadi ."Teman-teman kamu sudah tahu ,kalau kamu lebih muda dari mereka?."Ia yang menatap punggung adiknya .


"Hem ,tidak ."Balas Nathan yang masih membelakangi kakaknya .


Masih di posisi yang sama.".. Masak mereka tidak tahu ,kalau saya lebih muda dari mereka ."


"Bisa jadi iya ,dengan tinggi kamu yang setiang listrik begini .Siapa yang akan tahu umur kamu yang sebenarnya."


Masih dengan posisi yang."Oh ,kakak jangan terlalu jujur .Adikmu ini tidak lebih tinggi dari Yudha ."


Riska tertawa kecil ,mendengar perkataan adiknya."Kalau Yudha wajar ,dik .Dia memang tinggi ,bukankah Yudha ikut ekskul basket ."


Nathan berpaling menatap kakaknya dengan membuang nafas dengan kasar ."Ee'hemm, adikmu ini juga ikut ekskul basket, kak Riska. "


"Em!".


".....Ah ,iya kakak lupa ."


Nathan memayungkan bibirnya ,dengan berbalik membelakangi kakaknya kembali .Ia berlanjut mencuci piring .


++++++++++++


+++++++


Osaka


Pukul, 06.30


Selasa .


Di hari terakhir kakaknya di sini .Nathan memutuskan untuk mengajak kakaknya berkeliling di sekitar daerah tersebut bersama .


Riska juga menyetujuinya ,di kala ia juga tahu tidak setiap hari ia bisa bertemu dengan adiknya. Yang bersekolah jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


Kini kedua kakak beradik ini tengah berjalan santai ke salah satu taman yang ada di dekat daerah tersebut .


Nathan yang seiringan dengan kakaknya."Kak Riska sekarang menjadi pemimpin perusahaan."Ucapnya .


".....Apa kakak tidak kesulitan, perusahaan keluarga kita kan banyak cabang .Apa tidak sebaiknya, kak Riska cari pacar gitu ,terus nikah biar ada yang bantu-bantu kakak ."


Nathan yang berjalan di depan kakaknya dengan memperhatikan kakaknya ."Gimana kak?".


Adiknya menghalangi langkah pun mendorong pelan tubuh adiknya agar sedikit bergeser dari hadapannya."Tidak."Ucapnya berlanjut berjalan.


Masih dengan langkah yang sama mendahului adiknya."Membuat hubungan ikatan pernikahan tidak semudah itu ,dik. Apa dengan kita menikah masalah kakak akan terselesaikan dengan mudah, dan beban kakak yang berat mengurus perusahaan keluarga kita akan langsung berkurang ."


Nathan yang kini sudah terdiam di samping kakak berdiri ,mengangguk-angguk ringan dan menggeleng-geleng ringan.


Riska mengerutkan keningnya."Seandainya kakak menikahi seorang dengan alasan untuk membantu kakak menjalankan perusahaan. Itu sama saja bukan pernikahan, dik."


".....Lalu seandainya kakak mendapatkan laki-laki yang ternyata hanya ingin memanfaatkan kakak untuk mengambil harta kita saja, hanya ingin menguras harta kita saja, bagaimana?."


".........Setelah mengambil semua harta kita, lalu dia menyingkirkan kita .Kamu siap, kita hidup apa adanya?".


Nathan menggelengkan kepalanya."Hidup sederhana Nathan siap ,tapi halau harus kehilangan rumah satu-satunya peninggalan orang tua kita .Nathan tidak akan siap ."


Dengan cepat ia berlanjut berkata."........Kalau gitu jangan nikah dulu, kak .Cari saja yang benar-benar menyayangi kakak ,bukan harta kakak ."


Riska hanya terkekeh pelan melihat respon adiknya, sebelum berlanjut melajukan langkahnya. Belum juga terlalu jauh, Riska kembali menghentikan langkahnya."Tunggu di sini ,kakak akan beli minuman."Ucapnya sembaring beranjak pergi .


Nathan hanya mengangguk ringan membalas perkataan kakaknya, sembaring mendudukkan pantatnya di pembatas pohon yang rindang .


Balum lama ia terduduk di sana ,melepas penatnya. Tiba-tiba ,tiga pemuda bertubuh tinggi ,dan salah satu dari pemuda bertubuh gempal tinggi .Membuat Nathan menjinjing alisnya menatap ke tiga pemuda di depannya.


Dan tiba-tiba salah seorang pemuda ,menarik kerah baju belakang Nathan. Nathan yang menyadari itu langsung menepis tangan pemuda itu sebelum menyentuh kerah bajunya. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya."Kalian siapa?".


"Lu tidak kenal kita?".


"Enggak!".


"Lu punya urusan sama kita, ikut gue lu."


"Siapa gue lu, sampai harus menuruti keinginan kalian."Nathan yang melawan perkataan pemuda di depannya.


Alhasil Nathan hampir saja mendapatkan bogem mentah dari pemuda yang bertubuh gempal. Hampir, karena Nathan berhasil menangkis kepalan tangan pemuda ini yang membuatnya berhasil menghentikan kepalan, sebelum mendarat di pipi mulusnya.


Masih dengan posisi yang sama,Nathan menepis tangan pemuda bertubuh gempal ini."Mau apa kalian?".Tanya kembali dengan nada suara yang berat nan dingin .


"Gue mau lu menyelesaikan masalah lu ,sekarang."Ucap pemuda yang berdiri di antara kedua temannya.


Chiko ,pemuda yang membuka percakapan dengan Nathan sembaring tadi .


Dengan ekspresi wajah yang datar ."Okeh, gue ikut kalian."Balasnya .


Akhirnya Nathan mengikuti ke tiga pemuda tadi ,yang akan membawanya entah kemana.


Lengan Nathan yang ingin di genggaman dengan salah seorang pemuda yang berpostur tinggi badan sama dengannya. Langsung Nathan tepis tangannya dengan kasar ."Gue bisa jalan sendiri."


Tanpa menjawab atau merespon dengan gerakan tubuh .Nathan hanya terdiam sembaring berjalan lebih dulu di belakang Chiko yang mengawali jalan mereka .


++++++++


Sesaat kemudian. Riska yang baru saja keluar minimarket membawa sekantung kecil belanjaannya .Berjalan kembali ke tempat di mana adiknya menunggunya .


Sebelum ke sana ,ia sempat terdiam sejenak di atas trotoar untuk melihat keadaan jalanan yang akan diseberangi .


Ia yang sudah menyebarang jalan segera berjalan kembali ke tempat tadi .Dari kejauhan Riska sudah tidak mendapati adiknya di tempat tadi. Alhasil ia langsung mempercepat langkahnya, mendekati tempat tadi .


Riska yang sudah ada di tempat tadi."Kemana Nathan, katanya masih tidak enak badan.Tapi pergi-pergi tidak bilang-bilang."Gumamnya.


Risaka mencoba menghubungi adiknya, akan tetapi tidak kunjung ada jawaban. Walupun telfonnya tersambung, namun tidak kunjung di angkat oleh adiknya di seberang sana .


Riska semakin khawatir dengan adiknya yang keadaan badannya masih belum membaik dengan benar .


Alhasil ia berlalu pergi dari sana untuk mencari keberadaan adiknya .Riska berjalan berlahan menyusuri jalan setapak didepannya ,dengan sembaring mencoba menghubungi ponsel adiknya.


Panggilan telepon yang sejak tadi tidak kunjung di angkat oleh Nathan di seberang sana."Kemana anak ini, awas saja jika ketemu."


"......Beraninya tidak mengangkat panggilan telfon saya."Riska dengan raut wajah geramnya .


+++++++


Pukul ,08.20


Kini Nathan sudah berada di salah satu lapangan yang sudah lama di tinggal kan .Bahkan sebagian dari sisi lapangan sudah di tumbuhi oleh rerumputan ilalang (rumput liar) .


Nathan lihat sekeliling yang tidak ada satupun orang di sana yang ia kenal .Oh, ia hanya mengenal Chiko dan Yasuhiro yang berdiri tidak terlalu jauh darinya berdiri sekarang.


Tidak ada Hanam di sana ,karena Hanam juga bukan dari anggota geng tersebut .Jadi untuk apa jika Hanam ikut berkumpul di sana .Bahkan saat ini ,entah Hanam tahu atau tidak ,jika Nathan tengah ada di markas geng Monsutafaia.


+++++


Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat. Pemuda yang tengah terduduk di bangku kelasnya, fokus dengan pelajaran yang tengah di terangkan di depan sana .


Tiba-tiba pemuda yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan langkah mengendap-ngedap ,menghampiri tempatnya duduk Hanam. Pemuda itu membisikkan sesuatu yang membuat Hanam langsung memperbesar bola mata hitamnya, menatap tajam ke depan.


Iya, pemuda yang tengah mengikuti pelajaran sekolah ini adalah Hanam .


"Pergi duluan gue akan nyusul."Ucap Hanam tanpa berpaling melihat pemuda yang memberikan berita.


Dengan beranjak berdiri."Sensei."Panggilnya kepada guru pengajarnya .


Guru itu berbalik melihat siapa murid yang memanggilnya ."Ada apa?".


"Ijin ke toilet."


"Iya, cepat kembali."


Hanam hanya mengangguk ringan membalas perkataan gurunya .Lalu segera berlari kecil keluar kelas.


Hanam pemuda dengan tinggi badan 182cm ini ,berlari kecil melewati lorong-lorong kelasnya yang kebetulan masih sepi dari murid-murid yang lain yang masih mengikuti pelajaran di dalam kelasnya masing-masing. Ia turun tangga sekolah dengan kaki jengkelnya yang panjang.


Hanam yang berhasil keluar dari gedung sekolah kelas 12 .Segera mempercepat berganti sepatu,dengan terburu-buru .Dengan sesekali melihat sekitarnya untuk memastikan tidak ada penjaga sekolah yang melihatnya .


Selesai berganti sepatu, ia segera berlari kecil ke halaman belakang sekolah .Ia yang sudah ada di dekat dinding pagar belakang sekolah yang menjulang tinggi .Memberi ancang-ancang mundur beberapa langkah ,sebelum ia berlari secepat mungkin dan melompat dengan tangan kanannya yang sudah menggenggam erat dinding atas pagar .Ia genggam dinding pagar ini dengan kedua tangannya ,untuk menarik tubuhnya ke atas dinding pagar .Sebelum akhirnya ia melompat turun ,keluar dari halaman belakang sekolahnya .


Hanam yang sudah ada di luar pekarangan sekolah, segera melepas jas sekolah yang ia kenakan. Sembaring berlari secepat mungkin menjauh dari sana ,ia juga melonggar lingkar dasi sekolah yang ia kenakan.


+++++++++


Pukul, 08.22


Kembali ke Nathan yang masih ditempat yang sama. Kini ia yang sudah berdiri di antara pemuda-pemuda yang berdiri melingkarinya. Nathan masih terdiam mematung dengan raut wajahnya yang datar. Mantap ke empat pemuda di depannya.


Yasuhiro mendekati Nathan dengan langkah pelannya ."Gue suka dengan tindakan yang lu lakukan, kemarin-kemarin."


"......Tapi sayangnya, lu selalu datang di waktu yang tidak tepat ."


Dengan menyungging senyum miringnya ."Gue ingin lu bertarung melawan gue sekarang!".


Masih dengan ekspresi yang sama,dan posisi yang sama ."Gue tidak mau."


"..... Buang-buang tenaga gue ngelawan lu, yang permasalahan tidak jelas."Lanjutnya menatap pemuda di depannya tanpa rasa takut sedikitpun yang terukir di wajahnya .


Mengambil ancang-ancang untuk menyerang."GUE BENCI PENOLAKAN, BAKA!!". Yasuhiro yang langsung melayangkan pukulan ke wajah Nathan.


Akhirnya mau tidak mau Nathan harus meladeni Yasuhiro, agar dirinya tidak sampai di buat babak-belur oleh Yasushi.


Dengan tenaga yang belum pulih dengan baik, dengan keadaan tubuhnya yang masih sakit seperti ini .Nathan hanya bisa banyak menghindar dari pada melawan balik .


Mereka berdua yang tengah asik berkeliling dan yang lain asik menonton. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dan tegas memanggil nama Nathan."NATHAN!!!".Suara itu .


Kedua pemuda yang tengah berkelahi ini langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka berdua sama-sama terdiam sembaring mengatur nafas. Tidak terkecuali Nathan yang sangat ngos-ngosan mengatur nafasnya ,juga jantungnya yang berdeyut lebih cepat .


Di tambah dengan Nathan menyadari itu suara siapa membuatnya semakin hilang kendali. Tidak bisa bergerak lagi selain terdiam mematung menatap ke arah barisan pemuda yang membuka jalan .


Benar saja dugaan Nathan ,itu adalah kakaknya yang tengah bersama dengan Hanam. Entah bagaimana mereka bertemu, yang jelas saat ini mereka berdua ada di sana bersamaan.


Dengan langkah cepat. Riska berjalan ke tengah kerumunan pemuda-pemuda ini tempat ada guritan takut di wajahnya .Ia tidak perduli dengan tatapan mereka. Ia tetap berjalan ke tengah kerumunan dengan tatapan manik hitamnya yang terfokus menatap adiknya di seberang sana yang tengah tertunduk tidak berani menatapnya balik dirinya.


Ia yang menyadari Hanam mengikutinya, pun merentangkan tangannya yang membawa kantung belanjaan tadi."Ambil ini ."Tanpa berpaling melihat Hanam atau berhenti .Riska yang memberikan kantung belanjaannya tadi kepada Hanam yang berjalan mengikutinya .


Tanpa menjawab, Hanam yang hanya terdiam langsung berlari kecil mengambil kantung plastik belanjaan Riska .


Hanam terdiam karena ia sedikit mengetahui bagaimana kakak Nathan jika sudah marah. Apapun akan di terrabas atau di te**basnya habis.


Riska yang sudah dekat dengan adiknya langsung mencubit lingkar perut adiknya.Sampai Nathan meringis kesakitan."Aaaa, kakak. Aaa, sakit kak .Beneran kak sakit!!".Dengan memasang wajah memohon kepada kakaknya untuk menyudahi mencubit lingkar perutnya .


"HOY!!Lu siapa ikut campur urusan kita?."Yasuhiro yang langsung di sambut senyum paksa oleh Hanam yang menyaksikan ini.


Riska langsung melepaskan adiknya."Cepat pulang, CEPAT PULANG NATHAN."Suruhnya dengan nada suara tidak bersahabat lagi.


Nathan hanya mengangguk ringan, sembaring beranjak pergi .Riska memperhatikan langkah adiknya sembaring mengikuti langkah kaki adiknya.


Yasuhiro kembali berucap dengan membentak."LU SIAPA AN**JING? TIDAK PUNYA TELINGA, Lu?."


Seketika langkah Riska langsung terhenti.Ia balikan tubuh ke arah sumber suara yang sembaring tadi menggema."Jangan ucapan mu."


Sembaring melangkah mendekati pemuda yang nyerobot tadi ."Siapa namamu?".Tanya Riska yang kini terfokus menatap pemuda di depannya yang pakaiannya sudah acak-acakan .


Nathan yang kini sudah berdiri di dekat Hanam, memperhatikan apa yang di lakukan kakaknya."Aduh kak Riska."Gumamnya membuang nafasnya dengan kasar .


"Nyawa dia terancam ."Saut Hanam yang sangat antusias terfokus melihat ke depan.


Masih di posisi yang sama."SAYA TANYA SIAPA NAMA KAMU?".


".......KAMU TIDAK PUNYA MULUT?".Riska yang mengunakan nada suara yang tidak bersahabat .


Sampai salah seorang pemuda yang ada di dekat sana membuka suara ."Lu cewek lemah kenapa ikut kesini, kalau mau latihan balet bukan disini tempatnya, be***go ."Yang menyindir apa yang di lakukan Riska tadi kepada Nathan .Yang bersikap seakan sok kuat dan sok berani .


Tanpa berpaling melihat pemuda yang berucap barusan ."TUTUP MULUT!?Saya tidak ada urusan dengan ucapan tidak berguna mu."Ucap Riska.


Pemuda yang berkata barusan, langsung mengepalkan tangannya. Ia berlari ke arah Riska dengan siap untuk memukul .


Bugruk.......


Tubuh pemuda ini tersungkur ke tanah ,dengan sekali tendangan kaki kecil memutar Riska. Yang sangat menyakiti jika sudah bertindak .


Di tambah lagi ,saat ini Riska tengah mengenakan pakaian olahraga yang membuat geraknya semakin lincah .


Yasuhiro dan pemuda-pemuda yang lain yang ada di sana di buat melongo ,kaget dengan tindakan yang baru saja di lakukan oleh perempuan didepan mereka.


Sementara itu Hanam ."Benarkan dugaan ku."Gumamnya .