
Nathan yang tengah sibuk mengerjakan tugas kantor di kamarnya, tiba-tiba di hampir oleh kakak perempuan.
Riska duduk di Sova, sementara Nathan duduk di depan Sova. Di sini lah Riska memulai membuka obrolan.
"Bagaimana dengan Noemi?".
"Hah?".Nathan yang langsung berpaling melihat kakak perempuan nya.
"Kita memang tinggal di negara orang yang orang berlainan jenis tinggal bersama no problem. Tapi tetap saja agama kita....."
"Jadi bagaimana rencana selanjutnya?".
Nathan masih terdiam,"Belum tau, aku belum memikirkan untuk memiliki keluarga secara ini."
"Kalau gitu mulai besok Noemi akan tinggal di apartemen lama kakak dulu."
"Tunggu!Kenapa?".
"Lupa atau tidak pura-pura lupa."Riska beranjak dari tempat duduknya,"Lekas mandi dan turun untuk makan malam."
"Kak Riska."Panggil Nathan menghentikan langkah kaki kakak nya.
"Aku tidak ikut makan malam. Mungkin aku akan makan malam di luar dengan Noemi."
Tidak ada pertanyaan lain selain,"Iya, jangan pulang larut malam. Ingat besok kau masih kerja."
"Iya."
Next......
Membukakan pintu mobil untuk Noemi yang akan ikut pergi bersamanya. Sebelum akhirnya Nathan ikut masuk ke sisi lain mobil.
Tanpa basa basi Nathan tancap gas meninggalkan pekarangan rumah nya.
"Eeehh....kau mau makan apa?".Nathan tiba-tiba jadi canggung dengan Noemi karena obrolan nya dengan kakak perempuan nya tadi.
Masih fokus mengemudikan mobil,"Ayolah jawab, aku sangat benci situasi ini. Anggap saja kau sedang mengobrol dengan sahabat mu. Just relax."
Masih tertunduk,"Saya tidak memiliki sahabat."
Sempat berpaling sejenak. Namun akhirnya Nathan menepi kan mobil. Untuk masuk ke dalam parkiran mobil.
Next.....
Sampai di sini. Nathan Noemi berganti berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang masih ramai dengan aktivitas malam hari.
Nathan mengajak Noemi berkeliling sekilas sebelum akhirnya singgah di rumah makan untuk makan malam. Di sini pun Nathan dan Noemi tetap sama-sama terdiam. Tidak ada satu pun dari kedua nya yang berniat membuka obrolan lebih dulu.
Next.....
Tepat jam 9 malam. Nathan masih menemani Noemi yang ingin melihat bintang malam. Yang kebetulan sekali saat itu langit malam sangat cerah menampilkan banyak sekali kerlap kerlib bintang di atas sana.
"Maukah kamu menikah dengan ku, Bivatigirni Noemi?". Mendengar jelas itu Noemi langsung berpaling cepat ke arah sumber suara. Yang ternyata tengah menatap lekat dirinya.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Akan tetapi saya harap kamu segera menjawabnya."
Memalingkan pandangannya ke arah lain,"Saya hanya seorang pembantu, saya bahkan hidup sebantang kara. Saya tidak memiliki tahta tinggi seperti mu."
"Jauh lebih baik jika kamu mencari perempuan lain. Perempuan yang jauh lebih baik dari saya".
Masih fokus pada lawan bicaranya,"Yang cantik banyak, yang kaya raya juga banyak, yang lebih baik juga banyk, tapi yang ber good attitude limited edition lah yang istimewa dan hanya satu di dunia. Yaitu kamu."
"Saya tidak melihat fisiknya, saya melihat attitude nya."Kata Nathan masih fokus pada lawan bicaranya,"Buat apa cantik jika tidak memiliki good attitude."
Memegang kedua bahu Noemi untuk mengarahkan Noemi menghadap dirinya. Di susul memeluk tubuh Noemi,"Saya tidak pernah memiliki rencana untuk memiliki keluarga secepat ini. Namun setelah mengenal kamu saya yakin kalau kamu lah orang yang berhak untuk menjadi ibu dari anak-anak ku."
Noemi awalnya hanya terdiam tidak memabalas pelukan Nathan. Justru langsung memeluk erat Nathan bersamaan dengan bui bening yang mengalir deras membasahi pipi nya.
"Terima kasih, Terima kasih."Dua jenis kalimat yang terucap dari mulut Noemi.