My Salvador

My Salvador
Eps.244



Nathan telah sampai di Kantor. Mengerjakan pekerjaan kantor dengan cepat. Sebelum akhirnya ia bergegas pergi meninggalkan kantor nya.


"Ken undur jadwal meeting hari ini."Pesan Nathan sebelum berlalu pergi dari sana.


"Nat..".Urung memanggil Nathan, Kenji kembali duduk di kursi kerjanya,"Perasaan ku sangat tidak enak sialan. Dan perasaan ini karena Nathan".Gumamnya gelisah tidak jelas.


Ia menarik gawai nya menghubungi seseorang di seberang sana.


Tersambung.


*Kalisa."


*Iya."


*Ian di mana?".


*Sedang bermain dengan Yohan."


*Yohan ada di sana."


*Ehm."


Tututttu......Kenji langsung mematikan panggil telfon nya. Beralih ke Nomer lain.


Next.....


Langsung nyelonong masuk ke dalam ruang kerja pribadi kakak iparnya,"Ezawa."Teriak Nathan memanggil kakak iparnya.


"CK sudah hampir setahun tidak bisakah ada peningkatan cara panggilan sopan untuk ku."Duduk tenang di kursi kerja pribadi nya di kantor nya.


"Kau sudah telfon kak Riska?".Mengabaikan basa basi Ezawa.


"Tidak, Riska ada acara."


"Acara apa?Di mana?".


"Restoran nya."


"CK aku baru dari sana Kakak tidak ada di sana."


Ezawa mulai terlihat panik. Ia dan Nathan langsung tancap gas meninggalkan kantor Ezawa untuk mencari Riska.


Nathan yang menyetir mobil, dan Ezawa berusaha terus menghubungi Riska yang tidak kunjung ada balasan.


Menyadari Ezawa yang terus gagal menghubungi kakak perempuan nya,"Angkat Kak Riska."Batin Nathan meronta khawatir dengan fokus tetap menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.


Sstt....Nathan menghentikan mendadak mobil nya di depan apartemen mewah Gangnam. Baik Ezawa ataupun Nathan bergegas masuk ke dalam.


Sampai di depan rumah apartemen yang di tujuh. Ezawa langsung menekan tombol bel yang tersedia.


Pintu terbuka belahan menampilkan Kalisa di sana.


Langsung tode poin,"Riska ada di sini?".


"Kak Riska tadi kesini sebentar, terus langsung pergi setelah menitipkan Yohan di sini."


"Yohan ada di sini?".


"Iya."


Nathan mengambil langkah sedikit maju,"Ikut saya ke rumah. Akan jauh lebih aman kau ada di rumah kami."


"Tunggu akan ada apa?Bahaya kenapa?".


"Kenji akan menjelaskannya, kau hubungi Kenji di jalan saja. Ayo cepat bersiap."Kata Nathan.


Kalisa masuk ke dalam rumah di ikut oleh Ezawa. Sementara Nathan tetap ada di depan pintu. Benar saja dugaan Nathan tepat saat ada di lantai bawah. Ia melihat jelas seseorang yang sangat ia kenal dari kejauhan. Seseorang itu tidak sadar jika Nathan sudah mengetahui. Seseorang misterius itu hanya kesal lalu berlalu pergi, karena melihat Yohan di bawa pergi lebih dulu.


Kalisa di antar ke rumah. Sementara Di rumah sudah ada Kenji yang di jalan mendapatkan telfon dari istrinya langsung tancap gas ke kediaman rumah Nathan.


"Kenji titip Yohan. Kalian tetap di sini."Pesan Ezawa sebelum bergegas pergi,"Nathan kau naik mobil sendiri mencari bantuan, aku akan pergi ke sana lebih dulu."


Nathan mengangguk ringan,"Kak Ezawa."Serunya untuk pertama kali memanggil Ezawa dalam sebutan kakak,"Jaga kak Riska."Pesan Nathan.


Ezawa tersenyum tipis sebelum beranjak masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan pekarangan rumah lebih dulu.


"Hati-hati Nat."Pesan Kenji yang hanya bisa berdoa dari kejauhan. Tanpa tindakan membantu Nathan langsung.


"Titip keponakan gue."Nathan sebelum berlalu pergi mengendarai mobil pribadi milik nya.


Next......


Sstt.....Sampai di kediaman rumah Byung Choon. Yang sesuai dengan dugaan Ezawa jika Byung Choon masih hidup. Lantas apa hubungannya dengan hilang nya Riska? Faktanya Byung Choon lah dalang dari semua drama ancaman terbesar keluarga Salvador.


Ezawa tanpa rasa takut berjalan cepat melewati yang berjejer bodyguard-bodyguard yang bertubuh besar-besar.


"Di mana istri ku?".Tanya Ezawa pada pria dengan bekas luka bakar di separuh wajah nya. Seperti bekas luka itu karena kejadian waktu itu.


Byung Choon hanya terduduk tenang di Sova menikmati minuman wine.


Brugk......Sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh dari tempurung kepala belakang nya. Ezawa remas Surai rambut kepala untuk mengembalikan kesadaran akan tetapi gagal. Terlalu kerasnya pukul yang ia terima membuat kesadarannya hilang.


"Paman."Seru Nathan terkejut dengan kehadiran Baek Dae-Hyun.


Beranjak dari tempat duduknya,"Bolehkah Kakek tua ini ikut serta membantu?".


"Tidak aku tidak mau mengambil resiko."


"Aku tidak ikut tapi dia yang akan ikut."Kata Paman Baek Dae-Hyun. Bersamaan dengan munculnya Jen Xin-ki.


"Mohon bantuannya Tuan."Kata Jen Xin-ki salah satu ketua bodyguard tersembunyi pelindung keluarga Salvador.


"Aku menyerahkan tugas ku kepada Jen Xin-ki. Sampai sini aku baru bisa beristirahat menikmati masa tua ku dengan tenang."Kata Paman Baek Dae-Hyun,"Mohon bantuan nya Tuan Jen Xin-ki."


Jen Xin-ki membalas dengan anggukan ringan.


Fokus pada Nathan,"Permisi Tuan Nathan. Paman harap Tuan tetap sama seperti dulu setelah hari ini berakhir".Baek Dae-Hyun berlalu. Bersamaan dengan Nathan yang membungkuk sekilas kepada Baek Dae-Hyun yang sangat ia hormati.


Next.....


Setelah menjelaskan situasi saat ini. Nathan dan Jen Xin-ki juga bodyguard yang lain langsung tancap gas ke tempat tujuan.


Sayangnya sesampainya di sana. Nathan tidak mendapati siapapun selain Ezawa yang tubuh terikat penuh luka.


Nathan langsung melepaskan ikatan tali yang melilit tubuh Ezawa,"Kita harus segera menyusul mobil itu."Ezawa berusaha bangkit dari tempat duduknya.


Sakit luar biasa sempat membuat Ezawa hampir tersungkur kembali. Akan tetapi demi keselamatan sang istri Ezawa memaksa fisiknya untuk tetap terlihat kuat.


Ia menurunkan tangan Nathan yang membantu menyangga keseimbangan tubuhnya,"Ayo pergi."


Ingin melarang. Tapi tidak ini tidak mungkin karena tanpa bantuan Ezawa sulit untuk Nathan menyelamatkan Riska.


Next......


Nathan mengemudikan mobil satu mobil dengan Ezawa. Sementara Jen Xin-ki menyusul di belakangnya.


Berlahan-lahan hari berganti malam. Akan tetapi pengejaran ini tetap berlanjut. Tepat saat sampai di berlabuh kapal. Mobil Nathan yang sudah terparkir dengan benar di parkiran pelabuhan.


Ezawa dan Nathan langsung mengatur strategi cepat untuk melangkah mendekat. Di dekat pelabuhan kapal.


"Kau tetap di sini. Aku akan menjadi umpan saat bodyguard itu menjauh cepat selamatkan Riska."Kata Ezawa yang di balas anggukan ringan dari Nathan yang mengikuti saja. Seakan-akan cara kerja cerdik sudah terhenti tepat saat ia melihat semua kejadian buruk yang tak kunjung usai sejak tadi siang. Seperti bukan Nathan yang biasanya.


Next....


Sstt.....Ezawa mencengangkan leher salah satu bodyguard dengan lengan kekarnya sampai kehabisan nafas, menyadari sasaran sudah pingsan. Ia bergegas menarik bodyguard ini menjauh dari sana.


Berlari kembali di sela-sela kegelapan malam,"Siapa itu?".


"Cepat keluar?".


Sial pergerakan Ezawa di sadari oleh salah satu bodyguard yang berjaga. Dengan tenang Ezawa berjalan keluar dari kegelapan.


"Penyusup."Teriak Bodyguard ini menarik perhatian yang lain. Semua berlari mengelilingi Ezawa. Bersiap mengeroyok Ezawa yang sendirian.


Shett...Bruk...Ezawa menangkis serangan pertama dengan gerakan yang cukup bagus.


Sementara di posisi ini keadaan memanas. Nathan yang mengawasi dari atas kotak-kotak besar pengiriman barang. Bersiap turun untuk melancarkan peranannya.


Nathan berlari, melompat dari satu kotak ke kotak yang lain dengan gerakan yang halus. Sampai di titik tujuan. Ia beranjak turun, mengawasi sekitar sebelum berjalan lebih mendekat ke area markas.


Bek.... Sedikit saja lengah mungkin nasib Nathan akan berakhir sama dengan Ezawa. Akan tetapi Nathan berhasil menghindar dari para Bodyguard yang berjaga itu.


Ia bergerak cepat mencari jalan lain untuk masuk. Berhasil ada di dalam, ia bergegas mencari keberadaan kakak perempuan nya.


Tapp.....Tapp...... Terdengar suara langkah kaki mendekat, ia yang sangat panik harus bersembunyi di mana.


"Tuan benar-benar marah aku kasihan dengan perempuan itu."


"Huss....Tutup mulut mu jika tuan Byung Choon mendengar tamat riwayat mu."


Ucap dua pelayan ini berlaku tanpa menyadari kehadiran Nathan di atas mereka berjalan.


Nathan langsung turun saat dua pelayan itu sudah terlihat olehnya lagi, ia bergegas ke arah datangnya pelayan tadi.


Mencengkeram erat rahang wanita yang sudah sangat lemah ini tanpa belas kasihan,"Rasa sakit ini tidak seberapa dengan sakit kehilangan semuanya ******."


"Keluarga mu menghancurkan keluarga ku. Ayah ku mati bunuh diri di penjara, dan ibu ku ikut mengakhiri hidupnya karena depresi. Itu semua karena keluarga mu."


"Aku akan membuat mu menderita, tidak untuk membunuh mu."


Byung Choon hendak mencabuli Riska ia melepas semua pakaian Riska kasar, merobek semuanya. Brukk.....Byung Choon langsung menengok ke arah datangnya pukulan itu.


"Beraninya kau."Mengepalkan kedua tangannya kuat. Byung Choon langsung menyerang Nathan.


Brugk.....Depp....Nathan belum sempat menghindar ia mengunakan tongkat pemukul nya sebagai tameng membuat tubuhnya membentur dinding besi kuat.


Terjadi saling dorong mendorong di sana. Sementara Riska, dia sangat kacau. Sela-sela surai rambut mengalirkan darah segar sejak tadi membasahi pelipis dan keningnya. Sementara tubuhnya hanya duduk mematung dengan tatapan kosong lurus.