My Salvador

My Salvador
Eps.101 Hampir saja



Pukul. 10.10 Siang .


Selesai menghabiskan waktu hampir seharian dengan sang putra. Kini Jee Ghie-hye tengah mengajak Joo Zon-jun untuk menemui temannya.


Dalam perjalanan ke rumah teman ayahnya. Joo Zon-jun yang duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan ayahnya."Teman Abeoji cewek atau cowok?".


"Cewek."Balas Jee Ghie-hye yang fokus mengemudi mobil.".....dia lebih muda dari Abeoji ,jadi panggil saja kakak atau Tante terserah Zun-jun."


"Masih cantik dong, Abeoji."Suara polos Joo Zon-jun.


"Hemm......".Jee Ghie-hye sembaring tertawa kecil.


"Tapi janji sama Abeoji. Zon-jun jangan nakal ,jangan membuat report teman Abeoji."


"Siap, Abeoji."


Menundukkan lesung."....Kalau seandainya teman Abeoji galak ,bolehkan Zon-jun minta di jaga bibi pengasuh saja?."Minta Joo Zon-jun.


Jee Ghie-hye melihat putranya sekilas sembaring menyungging senyum hangatnya."Boleh."


Joo Zon-jun mendongak dengan senyum sumringah."Teman Abeoji siapa namanya?".


"Nanti kamu kenalan sendiri."Jee Ghie-hye menyungging sudut bibirnya memperlihatkan senyum hangat miliknya.


+++++++


Sesaat kemudian masuklah mobil Maserati Levante warna putih milik Jee Ghie-hye ke dalam pekarangan rumah yang berdiri megah mewah ini.


Mobil nya terhenti tidak terlalu jauh dari pintu depan besar rumah ini. Jee Ghie-hye segera beranjak turun setelah selesai memarkir mobil nya dengan baik. Ia berjalan ke sisi lain mobil untuk membuka pintu mobil putranya.


Joo Zon-jun berjalan mendekati pintu depan rumah ini dengan tangan kecilnya mengandeng jari kelingking ayahnya .


Sampai di depan pintu, manik mata kecil nya melihat bel pintu rumah yang ayahnya tekan dua kali. ****Ting......Ting****.....


Tidak perlu waktu lama untuk menunggu dua pintu besar ini terbuka. Karena setelah itu seorang wanita setengah paru baya membuka pintu ini.


"Selamat siang."Sapa ramah bibi Yong-see.


"Siang, nona Riska ada di rumah? Saya ingin bertemu dengan nya."Kata Jee Ghie-hye.


"Dengan dr. Jee Ghie-hye?". Mendengar itu Jee Ghie-hye mengangguk ringan.


"Oh, silakan masuk."Bibi Yong-see memberikan jalan lebih lebar agar dua tamu ini dapat masuk ke dalam .


Sudah menutup pintu besar ini kembali."Mari saya antar."Bibi Yong-see berjalan lebih dulu yang di ikuti oleh dia tamu ini.


Sampai di ruang tengah (ruang tamu) Jee Ghie-hye dan putranya di persilahkan untuk duduk di Sova yang tersedia. Sementara dirinya berlalu untuk memanggil Riska .


Joo Zon-jun yang sudah duduk dengan baik bersebelahan dengan ayahnya."Abeoji."Mendengar itu Jee Ghie-hye menatap lekat putra nya.


"Zon-jun beneran akan tinggal di sini? Saya takut hilang di sini, Abeoji."Suara polos Joo Zon-jun membuat Jee Ghie-hye tersenyum gemas.


"Kalau tersesat panggil Tante saja."Sahut Riska yang baru saja sampai di ruang tamu .


Iya, Jee Ghie-hye akan menitipkan putranya kepada Riska. Sebelum ini Jee Ghie-hye sering bertemu Riska .Sewaktu Riska masih menjalani kontrol sakit nya. Dan selama itu keduanya menjadi teman akrab. Sampai di waktu kemarin Jee Ghie-hye tiba-tiba membahas soal putranya. Dan Riska dengan senang hati mengajukan diri untuk menjadi pengasuh Joo Zon-jun.


Kebetulan tadi Jee Ghie-hye mendapatkan kabar tidak enak tenang putranya. Yang membuat tekad nya untuk menitipkan Joo Zon-jun kepada Riska sudah bulat. Ia akan menitipkan Joo Zon-jun kepada Riska sampai urusan nya dengan sang istri selesai.


Riska duduk di Sova tunggal, sembaring menatap lawan bicaranya."Jadi ini yang namanya Joo Zon-jun. Kamu lebih manis dari yang di foto, saya harap kita bisa jadi sahabat akrab."


"Tante juga cantik sekali!".Joo Zon-jun tersipu malu menggenggam erat lengan ayahnya .


Riska tersenyum manis memperlihatkan dimple."Benarkah?Terimakasih."


Yang di tawari justru menatap ayahnya yang tidak melihat nya. Jee Ghie-hye yang menyadari di perhatikan."Ikut saja, biar tidak tersesat."Goda Jee Ghie-hye.


Joo Zon-jun tertawa renyah, sebelum beranjak mengandeng tangan bibi Yong-see yang menunggu nya dengan senang hati.


Selepas kepergian Joo Zon-jun dan bibi Yong-see dari ruang tamu. Kini di ruang tamu hanya menyisakan Jee Ghie-hye dan Riska seorang.


"Riska bolehkah saya menitipkan Zon-jun di sini ,setidaknya sampai masalah ku dan istri ku usai. Saya benar-benar tidak ingin Zon-jun mengalami hal sama seperti yang saya alami dulu."Kata Jee Ghie-hye.


"Selesaikan masalah mu sampai selesai, kamu tidak perlu kekhawatiran Zon-jun. Dia akan saya jaga dengan baik di sini."Kata Riska tersenyum tipis.".... Zon-jun juga anak yang sangat manis, juga pintar seperti kamu. Dia pasti bisa mengerti dengan baik maksud Abeoji nya ."


"Saya harap kamu tidak pernah menyembunyikan apapun dari Zon-jun, agar tidak ada kesalahan faham di masa depannya nanti."


Jee Ghie-hye terdiam sejenak .Sampai."Abeoji ,Abeoji, di sana ada kolam renang besar sekali."Joo Zon-jun berucap sembaring memperagakan apa yang baru saja dirinya lihat.


"Jadi Zon-jun suka dong tinggal sama Tante?".Riska memperlihatkan senyum manis nya.


Joo Zon-jun mengangguk malu. Lalu Jee Ghie-hye yang sudah menatap lekat wajah polos sang putra."Zon-jun mulai hari tinggal sama Tante ,pakaian ganti Zon-jun besok Abeoji bawakan."


"Zon-jun jangan nakal di sini, jangan merepotkan Tante Riska. Dan jangan lupa belajar yang benar ,sekolah juga yang rajin."


"Abeoji kapan menjemput Zon-jun kembali? Abeoji tidak akan meninggalkan Zon-jun seperti Ommaa kan?". Mendengar itu hati kecil Jee Ghie-hye sangat teriris, ia sangat takut perlakuan yang di berikan istri untuk Joo Zon-jun berdampak buruk pada kesehatan mental anaknya di masa depannya.


"Abeoji jawab?".Joo Zon-jun menatap lekat manik mata pria yang berkaca-kaca ini.


Jee Ghie-hye elus lembut surai rambut Joo Zon-jun."Jika Abeoji ada waktu luang, Abeoji akan datang ke sini mengajak Zon-jun jalan-jalan."


"Maaf Zon-jun, Abeoji takut kamu tidak akan bisa menerima perpisahan Abeoji dengan Ommaa .Abeoji melakukan juga karena kamu ,Zon-jun. Abeoji harap kamu mengerti."Batin Jee Ghie-hye berucap untuk putra.


Joo Zon-jun tersenyum, ia mengantar ayahnya keluar rumah bersama dengan Riska. Sampai ayahnya berlalu pergi mengendarai mobil, Joo Zon-jun masih setia di sana sembaring melembarkan senyum manisnya kepada sang ayah yang berlahan menjauh .


"Ayo masuk, diluar dingin."Ajak Riska kepada Joo Zon-jun.


Joo Zon-jun hanya mengangguk ringan sembaring mengandeng tangan Riska. Berjalan masuk beriringan."Zon-jun sudah tahu, akan tidur di kamar mana?".


"Belum."Balasnya pelan .


"Disini banyak sekali kamar, Tante jadi bingung harus memilih kamar mana yang cocok untuk kamu tempati."Kata Riska ."....Tapi kalau kamu tidur di kamar dekat kamar milik Tante, mau kan?Supaya Tante muda membantu kamu, jika kamu membutuhkan bantuan."


"Zon-jun ikut Tante saja."Balas Joo Zon-jun.


Keduanya masuk ke dalam Liv untuk mempercepat sampai di lantai lima. Dimana kamar pribadi Riska berada .


Di dalam Liv Riska kembali membuka percakapan agar Joo Zon-jun tidak terlalu canggung juga takut berbicara dengan nya .


"Kalau seandainya ada adik Tante, Zon-jun pasti ada teman bermain."Kata Riska .


Mendongak melihat sang sumber suara."Tante punya adik?".


"Iya, adik cowok. Namanya Nathan."


"Terus kak Nathan sekarang di mana?".


"Nathan tengah melanjutkan sekolahnya, di luar negeri."Balas Riska ."... Nathan sangat suka basket .Zon-jun juga suka bermain basket?".


"Saya tidak pernah bermain basket."Zon-jun tertunduk lesung."... Abeoji sibuk kerja, setiap pulang terlihat sangat lelah, tapi Abeoji tidak pernah mengeluh. Dan saya...jadi berpikir untuk tidak mengganggu, Abeoji."


Riska tersenyum tipis sembaring mengelus lembut surai rambut Joo Zon-jun.


Bersamaan dengan itu, pintu Liv terbuka. Riska segera mengantar Joo Zon-jun ke kamar tidur yang akan dia tempati .