
Keesokkan Pagi nya. Di kebun teh milik almarhum kakek Nathan. Nathan yang sudah menjadi pewaris tunggal hampir seluruh perusahaan Salvador. Begitu juga dengan usaha kecil, seperti kebun teh yang luas ini.
Ia yang baru saja selesai menyelesaikan beberapa pekerjaan nya, dengan pengurus kebun teh miliknya. Menghampiri istrinya yang sejak tadi ia perhatikan dari kejauhan. Terlihat sangat ramah sekali berceramah dengan pekerjaan pemetik teh. Nathan yang memperhatikan nya ikut senang sampai menyungging senyum tipis beberapa kali.
"Ayo pulang."Ajaknya.
"Udah selesai?".
"Sudah."
Fokus Noemi pada para buruh pemetik teh,"Kami duluan pak Bu."Pamit Noemi di susul senyum ramahnya.
Next...
Berjalan beriringan dalam perjalanan pulang,"Orang-orang Indonesia ramah-ramah mas, kayaknya bakal betah kalau lama-lama di sini."
"Emang betah tinggal di desa?".
"Ini desa aku pikir kota."
"Hmm...".
Noemi membalas dengan tawa renyah.
Merangkul pinggang Noemi agar lebih dekat dengan nya,"Masak apa nanti?".
"Sup daging. Kemarin mas beli daging dan sayuran banyak sekali."
"Heheh..... biar gemuk."
"Tidak baik kalau sering-sering makan daging mas."
"Kan ada sayurannya."
"Tetap saja."
"Baiklah kalau pulang dari sini saya akan makan makanan sayur-sayuran saja."
"Hmm."
"Kenapa?".
"Kuliner nya belum terlaksana."
"Ku pikir apa?".
"Oh!".Melepas rangkulan tangan yang melingkar di pinggang nya."Itu penting mas."
"Terus bulan madu nya tidak penting."Kata Nathan,"Kita bahkan belum memulai apapun."
Noemi tertunduk malu. Lantas Nathan tersenyum puas ,ia kembali merangkul pinggang Noemi agar berjalan beriringan bersamanya kembali.
Next...
Makan malam telah usai. Nathan masih sibuk dengan pekerjaan nya di ruangan tengah Villa. Sejak makan malam usai tadi.
Noemi ada di kamar, ia menonton acara TV favorit nya. Kartu Upin dan Ipin yang ia kenal pertama kali saat pertama kali datang ke Indonesia. Kartu pertama yang tidak bisa ia tinggal acara nya.
Tidak berselang beberapa lama. Nathan masuk ke dalam ruangan. Ia sibuk membawa bekas-bekas kerja dan laptop nya. Selepas meletakkan dengan benar barang-barang nya di atas meja. Nathan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Mengabaikan Noemi yang sejak awal kehadirannya di dalam kamar, Noemi selalu memperhatikan dirinya.
Next.....
Nathan sudah duduk bersama Noemi di atas tempat tidur. Ikut melihat acara televisi.
Nathan yang terfokus pada acara televisi,"TV nya di depan bukan di samping."Kata Nathan pada Noemi yang memperhatikan dirinya terus.
Tidak merespon apapun. Noemi bergerak lebih mendekat pada Nathan. Merangkul pinggang Nathan dengan kedua tangan.
"Eh!".Nathan yang sedikit terkejut dengan respon Noemi.
Ia balik mengelus lembut surai rambut Noemi,"Besok kuliner apa dulu yang mau di beli?".Tanya Nathan.
Masih di posisi merangkul Nathan, dengan kepala yang masih tersandar di dada Nathan,"Entah."
Nathan mematikan lampu tidur kamar nya. Tidak lupa juga dengan acara televisi nya. Membiarkan suasana seisi ruangan gelap gulita.
Fokus kembali menatap wajah memerah dengan kedua kelopak mata yang terpejam rapat. Nathan mendekat wajah, menyelam pada leher Noemi. Memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Entah sejak kapan?Tanpa Noemi sadari baik ia ataupun Nathan sudah tidak mengenakan sehelai pakaian. Di sini Noemi menggenggam erat lengan Nathan tiba-tiba. Kelopak matanya terpejam rapat, sudut matanya berair.
Nathan mendekat wajah pada telinga Noemi,"Tahanlah sedikit, hanya sakit di awal."Noemi mengangguk ringan sembaring semakin mengeratkan cengkraman kedua tangannya.
++++++
++++++++++
Jam 9 siang. Hari sudah menjelang siang. Cahaya terang sang Surya sudah bersinar terang di luar sana. Akan tetapi tidak ada satupun dari cahaya itu yang berhasil menebus gorden tebal kamar tidur villa ini.
Sepasang suami istri yang menepati kamar ini masih terlelap dalam mimpi. Tanpa ada gangguan dari luar yang sudah bersinar terang menjelang siang.
Noemi terbangun membuka kelopak mata nya berlahan-lahan. Ia melihat sekeliling kamar sayup-sayup khas orang bangun tidur. Tangan kekar yang masih merangkul erat dirinya sulit membuat nya bangun.
"Mas."Panggil Noemi pelan,"Mas bangun."
"Mas sudah siang."
"Mas."
Semakin mengeratkan pelukannya,"Masih siang belum malam."Balas Nathan tanpa membuka kelopak matanya.
Namun tidak berselang lama Gemeruk.....Suara cacing di dalam perut Noemi terdengar menggema. Nathan yang mendengar lantas membuka matanya dengan di barengi tawa kecil. Ia sebenarnya sudah bangun sejak tadi, akan tetapi ia tidak ingin bangun karena tidak ingin membangunkan Noemi yang merangkul erat tangannya.
"Mandilah saya akan buatkan sarapan."
"Tidak biar say...". Memotong ucapan Noemi,"....Tidak menerima perintah. Lekas mandi."Tegas Nathan.
"Hmm."Noemi beranjak dari tempat tidur. Menarik selimut yang ia kenakan untuk menutupi tubuh.
Ia berjalan belahan ke arah kamar mandi. Tubuhnya tiba-tiba terangkat, ia di gedong oleh Nathan. Nathan membawa Noemi masuk ke dalam kamar mandi. Mendudukkan Noemi di samping bak mandi.
Nathan yang hanya mengenakan celana pendek menarik kaos putih yang tersampir di sana,"Tidak perlu turun setelah mandi, saya akan bawakan sarapannya ke atas."Pesan Nathan sebelum berlalu keluar kamar mandi.
Nathan lekas membereskan kekacauan kamarnya. Menganti seprai dan lainnya. Di susul berlalu pergi keluar kamar. Selepas memasuk beberapa pakaian ke dalam mesin cuci. Ia berlalu ke dapur membuat sarapan sederhana untuk nya dan istri nya.
Sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah seorang diri. Selepas mencuci Nathan bergerak cepat kembali ke dapur. Mematikan kompor, lalu menyajikan bubur nya ke dalam mangkuk.
Next....
Nathan kembali ke lantai atas kamarnya. Di sana ia mendapati istrinya sudah terduduk di Sova kamar depan televisi menunggu kedatangan nya.
Menaruh nampan makanan yang ia bawa,"Makan saja duluan."Ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Noemi hanya terdiam saja mengikuti perintah Nathan. Mengambil cara aman agar ia tidak mendapat tatapan dingin dari suami yang sangat menakutkan.
Next....
Selepas makan. Nathan duduk santai Sova ruang tamu seorang diri. Noemi yang baru turun menghampiri dirinya,"Tidak jadi jalan-jalan nya."
Fokus sudah pada istri"Sudah tidak sakit?".
Noemi menggeleng ringan,"Tidak lagian udah bisa cuci piring. Heheh...".Di susul tawa ringannya.
"Saya ambil jaket dan kunci mobil bentar."Nathan beranjak dari tempat duduknya hendak naik ke lantai atas.
"Mas". Panggil Noemi.
Nathan berpaling ke arah sumber suara, menunggu ucapan selanjutnya.
"Titip hp sama dompet juga."
"Hmm."
Noemi menyungging senyum hangat melihat tatapan itu.
Next...
Mobil hitam miliknya Nathan sudah dalam perjalanan menyusuri jalanan beraspal keluar daerah ini. Untuk pergi ke daerah kuliner terbaik daerah ini.