
Indonesia
Pukul. 10.20 Siang
Senin
...Utamakan bertanya jika tak mengerti. Jangan terlalu gengsi jadi orang....
...Karena di permalukan jauh lebih baik ,dari pada diam seperti orang faham yang faktanya tak faham apa-apa ....
Masih dalam perjalanan .Nathan menghentikan mobilnya sejenak di depan toko buah untuk membeli parsel buah untuk Yudha.
"Btw, ini toko buah yang dulu tempat gue dan yang lain beli buah buat lu." Jovan yang berjalan beriringan dengan Nathan. Sementara Kenji menyusul di belakang keduanya .
Tetap melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam toko ."Ilih!!Buahnya kalian makan sendiri."
"Siapa suruh lu tidur."
"Dahlah ."
"Selamat siang .Mau beli buah apa ,mas?".Tanya paman penjaga toko .
"Parsel buah, paman ."Balas Nathan .
Menunjukkan keranjang buah."Mau yang model apa, Mas ."
Menunjuk keranjang buah yang lumayan besar."Yang ini saja paman .Buahnya terserah ,paman. Tapi kalau bisa variasinya yang banyak paman ."
"Baiklah mas tunggu sebentar."Paman penjual Toko mulai berkeliling tokonya membawa keranjang buah untuk mengambil beberapa buah yang akan ia kemas dalam parsel .
Nathan yang baru menyadari Kenji tidak ada di samping nya ."Jov ,mana Kenji?".
"Tuhh."Menoleh kearah Kenji tanpa menghilangkan fokusnya dari tumpukan buah manggis di depan.
Nathan berlalu menghampiri Kenji yang tidak terlalu jauh darinya ."Lu jangan jauh-jauh, o'on .Lu hilang gue repot ."Omel Nathan.
Kenji yang tengah mencium aroma buah yang sangat asing untuknya kenal."Ini buah apa, wangi tapi berambut, warnanya merah banget ."
"Itu rambutan ,bang**sat....",jadi memperhatikan buah-buah salak ini,"....lu mau?".
"Bisa di makan?".Pertanyaan polos Kenji .
Nathan menatap Kenji dengan atensi malas."Bisa."
"Mau....Penasaran rasanya ko berambut gini...Lebat ."Masih memperhatikan bentuk buah rambutan yang ia genggam.
"Aaa...astaga. Untung kakak mengajari ku bersabar..Jika ti....". Menghentikan gumamnya. Nathan berlalu mengambil keranjang belanja buah .Jovan yang melihat Nathan mengambil keranjang buah. Yang faham betul apa yang selanjutnya terjadi .
Seru Jovan."Nathan."Memasang mimik wajah secomel mungkin.
"Apa?".
"Gue juga."
"Ambil."
Mendengar itu Jovan bersemangat mengambil keranjang buah. Untuk membeli beberapa buah yang akan ia makan sendiri tentunya.
++
Sesaat kemudian. Tahap menghitung harga semua buah yang Nathan beli .Paman yang selesai menghitung semua semua total harga yang harus Nathan bayar .
"889.000 ribu ,Mas ."Ucap paman pemilik toko .
Nathan mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa uang kes di sana ."Untung kemarin sudah ambil uang. Coba belum ,gue jual kalian berdua."Nathan memberikan beberapa lembar uang ke pada penjual .
"Sensi bener ,lu pms?".
Ingin sekali Nathan mengumpat. Tapi ia ganti dengan menatap tajam Jovan .
Sudah mendapatkan uang kembalian .Nathan melengos pergi meninggalkan toko."Bawa."Nathan yang hanya membawa parsel buah cantiknya saja .
"Iya, iya."Mengambil kantung buah muliknya."Terimakasih, paman."Jovan tersenyum ramah .Begitu juga dengan Kenji sebelum menyusul Nathan yang sudah keluar toko lebih dulu.
"Anak-anak muda jaman sekarang."Gumam paman penjual toko geleng-geleng kepala.
+++++
Nathan menaruh parsel buah miliknya di kursi yang seharusnya Jovan duduki .Jovan yang baru saja membuka membuka mobil ."Gue....".Memotong ucapan Jovan ." ..Belakang."
"Sabar."Membuang nafas selembut mungkin .Jovan berlalu ke kursi tengah mobil ,duduk bersama Kenji .
Perjalanan pun berlanjut ke tujuan awal .Rumah sakit tempat Yudha di rawat .
+++
Pukul. 11.00 siang
Tepat pukul sebelas siang .Nathan ,Jovan, dan Kenji sampai di rumah sakit .Ketiganya langsung beranjak turun untuk segera masuk ke dalam rumah sakit .
Di dalam lobi ketiga pemuda ini bertanya kepada penjaga resepsionis rumah sakit tempat Yudha dirawat .Sesudah mendapatkan nomer kamar Yudha .Ketiga pemuda ini segera berlalu masuk ke dalam live .
Sesampainya di lantai tempat Yudha di rawat .Ketiganya hanya tinggal mencari nomer kamar Yudha .
Sudah dapat .Tidak salam atau mengetuk pintu lebih dulu .Nathan dan Jovan langsung nyelonong masuk .Kenji yang hendak mengingat ,ia urungkan di kala kedua pemuda di depannya sudah terlanjur masuk lebih dulu .
Namun di saat Kenji hendak menyusul masuk ,tiba-tiba Nathan dan Jovan keluar kembali."Sorry, Yud, Sorry ."Ujar Nathan langsung menutup pintu kamar ini kembali .
Tubuh yang masih tersandar di depan pintu kamar rawat yang sudah tertutup rapat kembali .Dengan sepasang manik mata Jovan yang membulat sempurna.
Kenji yang belum mengetahui apa membuat kedua pemuda ini merasa syok ."Ada apa?".
"Yudha ganti baju."Balas Jovan terlihat tenang."Oh my god ,Yudha , Alyah!!." Tidak dengan batinnya yang super heboh.
"Ada istrinya, aduhh salah sekali kita."Timpal Nathan ."..Tapi tidaklah....itu kan Alyah. Musuh gue."Namun berbeda dalam hati."Aduh mengganggu, aduh hama sekali gue." Batin Nathan berkata lain .
Di tengah kebisingan ini. Pintu kamar rawat inap Yudha, tiba-tiba terbuka ."Kalian boleh masuk."Alyah mempersilakan.
Baik Nathan ataupun Kenji dan Jovan membalas dengan anggukan kepala ringan .Ketiganya melangkah masuk mengikuti langkah kecil Alyah.
Baru ingat dengan parsel bawaan nya ."Oh!Al..".Seru Nathan kepada Alyah yang berjalan di depan nya .
Menghentikan langkahnya. Alyah berpaling melihat Nathan."Dari kami."Nathan menyerahkan parsel buah bawaan nya .
Menerima parsel buah dari Nathan."Thanks .Dan terima kasih sudah membantu Yudha ."Alyah yang biasanya hanya bertengkar dengan Nathan setiap bertemu .Tiba-tiba saja lebih terlihat lebih dewasa dari biasanya.
Merasa itu ."Hem... sama-sama."
Duduk di kursi kecil dekat brankar pesakitan pesakitan Yudha ."Udah baikan bro?".
"Lumayan. Besok sudah boleh pulang."Balas Yudha ."..Tidak mau terlalu lama, pekerjaan gue numpuk. Belum bantu rawat Adik gue juga."
"Brian masih koma?".Tanya Nathan yang sudah ikut bergabung .
"Masih, belum ada perkembangan. Beril juga ikut sakit kata ibu ."Yudha sedikit tertunduk lesung .Cemas akan keadaan kedua adik kembarnya .
Tidak ingin membuat sedih. Nathan bertanya topik lain ."Lu akan tuntun Asta?Dia sudah sangat keterlaluan kali ini".
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Nathan .Yudha justru berpaling menatap Alyah ,dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sementara Alyah yang menyadari. Hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis, yang terlihat sangat tipis .
Sama-sama penasaran dengan makna tatapan itu. Jovan dan Nathan saling tatap ,bertanya satu sama lain melalui obrolan batin .
Sampai Yudha tiba-tiba berucap yang membuat Nathan dan Jovan sangat terkejut."Asta kembaran gue."
Baik Nathan ataupun Jovan langsung terdiam .Mau dibilang tidak percaya, tentu iya .Itu jelas menjadi pertanyaan di benak keduanya .Karena jika di lihat-lihat Yudha dan Asta tidak memiliki kemiripan sedikitpun .Baik sifat ataupun fisik .Berbeda dengan Brian dan Beril adik laki-laki kembar Yudha yang terlihat sama-sama kemiripan. Sementara Yudha dan Asta? Yasudahlah lanjut ....
Masih tidak percaya."Kepala lu kemarin ikut terbentur ,Yud?".
"Gue serius .Asta memang kembaran gue .Kita terpisah saat kami masih berusia 3bulan. Waktu itu perekonomian ayah dan ibu tidak mendukung untuk merawat kita berdua. Ayah takut tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan kami.....Lalu ada teman kerja akrab ayah yang sudah lama menikah tapi tidak juga di karuniai seorang anak....Om Bram menawarkan diri untuk merawat Asta .Setelah berpikir panjang ,ayah dan ibu memutuskan untuk menyerahkan Asta ,adik gue .Kepada teman ayah ,Om Bram .Baik ayah ataupun ibu tidak meminta imbalan apa-apa .Ayah dan ibu hanya ingin di beri kesempatan setiap waktu untuk tetap bisa menjenguk Asta ."Cerita Yudha .
"Namun......Semakin lama Om Bram semakin berubah. Om Bram selalu saja mencari beribu alasan agar ayah dan ibu tidak bisa menemui Asta .Sampai di waktu itu .Asta yang sudah mengetahui yang sebenarnya, justru salah faham dengan kami .Asta marah dengan kami ,iya menganggap kami telah membuangnya ."
"Jadi waktu itu?".Jovan yang ingat waktu pertama kali kerenggangan pertemanan mereka dengan Asta .
"Iya, Asta bukan dendam kepada kalian karena kematian Arga .Melainkan karena dia sudah tau gue kembarannya. Dan dia dendam dengan gue...". Menundukkan pandangan."Asta benci keluarga gue yang sudah membuangnya, pikir Asta .Yang faktanya om Bram lah yang memisahkan jarak di antara kami."
"Btw, Bukankah Arga adik kelas kita dulu itu anak kandung Om Bram."Tebak Jovan.
"Hem."
"Pantas saja perlakuan Om Bram sedikit berbeda , sedikit kasar. Mungkin Om Bram menyalahkan Asta atas kematian Arga. Toh waktu itu yang salah kan..."Timpal Nathan tidak melanjutkan ucapannya.
Mendengar itu Yudha segera terfokus pada Nathan."Maksud lu?".
"Kejadiannya sudah lama ,gue tidak tau perlakuan Om Bram masih sama atau tidak ."Kata Nathan ."Satu Minggu setelah kematian Arga .Kakak gue ada acara dinner dengan sesama pebisnis ,salah satunya ada om Bram di.sana .Gue perhatikan sifat yang di tunjukkan om Bram ke Asta sangat berbeda .Akhirnya gue membututi diam-diam om Bram saat menarik kasar Asta keluar dari restoran. Karena sebelum itu Asta hanya diam saja tanpa menyapa para tamu. Mungkin om Bram marah karena di abaikan Asta .Atau entahlah karena itu atau hal lain....Lu tau apa yang di lakukan om Bram setelah itu?".Nathan yang mulai bercerita sembaring mengingat betul kejadian beberapa tahun lalu .
"Om Bram memukul Asta di luar restoran ,gue jujur pukulannya sangat kuat. Asta hampir terjatuh dari tangga pintu masuk...". Menjedah kalimatnya ."Tapi syukurlah Tante Nini datang membantu Asta .Perlakuan Tante Nini jauh berbeda dengan apa yang di berikan om Bram kepada Asta .Tante Nini sangat lembut dan menyayangi Asta seperti anak kandungnya sendiri. Aahh jadi ingin anaknya ."
Sudah serius-serius mendengarkan"Nat."Seru Jovan menatap datar Nathan .
"Sorry, sorry ,soalnya waktu itu Tante Nini sangat membantu Asta ,jika saja Tante Nini tidak datang tepat waktu .Mungkin Asta... yasudahlah .Setelah pertengkaran itu Asta langsung pergi entah kemana ..Dan lu ingat hari Rabu waktu itu .Asta kan tidak masuk sekolah. Ya di hari itu Asta mendapatkan perlakuan tidak baik dari om Bram."
Hening sesaat setelah Nathan bercerita."Gue harus membawa Asta kembali, ibu dan ayah sangat merindukan nya .Sekarang ayah sedang berjuang mengeluarkan Asta dari penjara. Gue juga harus ikut membujuk Asta .
"Om Bram."Seru Jovan .
"Gue tidak tau dia di mana .Ayah tidak bisa menghubunginya, yang membuat ayah memilih turun tangan menangani kasus Asta sendiri."
"Semoga Asta mau berkumpul dengan keluarga lu lagi."
"Semoga."Yudha yang sebenarnya sudah mengetahui kalau Asta memang tidak pernah mendapatkan perlakuan tidak baik dari om Bram .Yudha tidak tau betul sejak kapan itu terjadi .Yang jelas untuk saat ini ,Yudha hanya ingin Asta segera kembali pulang untuk Ibunya yang selalu menanti kepulangan Asta ke rumah.
*Om Bram dan Tante Nini adalah orang tua angkat Asta Bramasta. Dan almarhum Arga Bramasta putra kandung Om Bram dan Tante Nini. Arga tutup usia di umur 11 tahun .Saat iya baru menginjak sekolah SMP .*
*Brian Vikramaditya dan adik kembarnya Beril Valentino .Kedua nya adalah adik Yudha Kurniawan. Dan yang paling kecil .Milena Lintang Annora .Satu-satunya saudara perempuan Yudha yang saat ini berusia 6 Tahun .*
+++++
Pukul. 14.29 Sore
Sepulang dari rumah sakit dan mengantar Jovan pulang lebih dulu langsung ke rumahnya. Dengan alasan Jovan harus segera menjemput nyokap nya . Menjadikan Jovan meninggalkan motor miliknya di kediaman rumah Nathan .Dan itu sudah menjadi pemandangan biasa untuk Nathan .
Kini Nathan hanya berdua saja dengan Kenji dalam perjalanan pulang. Namun tiba-tiba Nathan berucap."Cari makan di luar, Ken."
"Terus bibi, beliau pasti sudah masak .Tidak baik ji...". Memotong ucapan Kenji ."Gue sudah bilang ke bibi tidak perlu masak ."
"Ehm ".
Masih fokus mengemudikan mobil."Gue ada rekomendasi warung nasi bebek enek poll."Nathan menyungging senyum lebarnya .
"Ikut saja, gue tidak tau itu makanan apa ."Ucapan polos Kenji kembali terdengar.
"Aaahhh....anak orang."
+++++
Harusnya Nathan sudah sampai di warung bebek yang ingin ia kunjungi sejak tadi ,jika seandainya dia tidak memutari kota S .Seakan mau membakar mesin mobil .Karena Nathan berputar-putar berkali-kali sampai hari menjelang gelap .
Bahkan Kenji yang seharusnya tidak tau jalan .Menjadi hafal jalanan kota S dalam sehari karena ulah Nathan si gabut.
"Nat, bensinnya habis nanti .Masih jauh rumah makannya?".Kenji yang sudah lelah melihat jalanan yang sama sejak tadi. Lelah duduk juga .
Dengan entengnya Nathan berucap."Oh maaf ,langsung beli makanan, laper."
Sampai di warung nasi bebek .Melihat mobil yang sudah terparkir dengan baik .Kenji segera beranjak turun. Fokusnya melihat warung nasi bebek yang lumayan ramai ini ."Nih rumah makan sudah gue lewatin 20 kali. Dan ini warung tidak terlalu jauh dari rumah sakit tadi ."Batin Kenji ngedumel.
Nathan yang baru turun ."Ayo o'on, lapar."
"Yeah...".Kenji menyusul Nathan .
"Cari tempat yang masih kosong, gue akan pesan."Nathan berlalu meninggalkan Kenji .
Melihat meja yang masih kosong. Kenji langsung mendudukkan bokong nya di sana ,sembaring menunggu Nathan .
Selesai memesan. Nathan langsung duduk di kursi kosong depan Kenji .Ia langsung mengeluarkan gawai nya .Untuk bermain game tentunya.
Melihat Nathan yang fokus bermain game ."Nat."Seru Kenji .
Fokus pada ponsel."Hem?".
"Mereka kenapa?". Kurang faham dengan pertanyaan Kenji .Nathan pun mendongak melihat arah pandangan Kenji yang hanya melirik sekilas.
Sudah tau apa suasana yang mengganggu Kenji .Nathan tersenyum miring."Biasa saja....mereka kagum sama lu dan gue. Lu belum kenal cewek-cewek sini, mereka emang seperti itu kalau lihat yang bening dikit."Ucap pelan Nathan fokus pada layar gawainya.
Sesaat kemudian pesanan keduanya datang ke meja .Kedua mulai memakan nasi bebek pesanan Nathan .Walaupun ada kesulitan dari Kenji sebentar. Kesulitan Kenji yang mencari sendok .
Nathan bahkan sampai tergelak tawa karena Kenji yang benar-benar tidak mengenal budaya makan mengunakan ceker ajaib. Karena Nathan yang baik-baik hati ,akhirnya ia menunjukkan cara makannya kepada Kenji.
Kenji yang pertama kali mencoba ,juga ikut tergelak tawa merasakan lembek-lembek tekstur nasi putih ini .Namun saat berhasil memasukkan ke dalam mulut."Wow!Enak."
"Enak."Syok yang lucu Kenji membuat Nathan tidak berhenti tergeletak tawa .