
Indonesia.
Pukul. 13.00
Selasa
Duduk termenung seakan kehilangan jiwa .Iya, itu yang tengah dua pemuda ini lakukan. Jovan dan Nathan yang sama-sama duduk di jok bagasi belakang mobil yang dibiarkan terbuka untuk keduanya duduk beristirahat.
Kenji datang dengan membawa dua botol air mineral."Minum ."
Nathan langsung mengambil dan meneguk habis sebotol air mineral ini .Tidak jauh berbeda dengan Nathan .Jovan pun melakukan hal yang sama .
Melihat itu Kenji berucap ."Jika kalian minum seperti itu .Air laut akan surut dalam semalam."
Tidak menggubris basa basi Kenji. Keduanya masih sangat syok dengan kejadian tadi .Tidak terkecuali Jovan yang tidak tau apa-apa malah hampir meledak di dalam sana .
"Bagaimana bisa ada bom. Tadi ada kejadian apa?".Tanya Jovan yang atensi sudah terfokus pada Nathan.
"Lu tau Hidan?Dia anak om Fiji. Dan om Fiji punya saudara kembar .Namanya Tionar......".Nathan mulai menjelaskan kejadian yang baru saja ia alami. Di tengah-tengah banyaknya kepolisian yang tengah bekerja di sekitar mereka .Tentu untuk mengusut kejadian tadi ."....Om Bram ikut bergabung dengan mereka .Dia menjual barang haram itu .Dia bahkan menganti obat penenang yang biasa Asta minum dengan obat haram ....asitt...Asta .Kita harus segera ke rumah sakit .Asta dan Tante Nini pasti dalam bahaya."Buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu!Lu tadi bisa diikat kenapa?". Jovan yang masih belum puas dengan penjelasan Nathan tadi .
Di tengah-tengah itu ."Kalian harus tetap di sini."Ucap Iyslam yang baru saja ikut bergabung bersama ketiga pemuda ini.
"Kami mau pulang mas .Kami belum mandi."Ucap Nathan.
Kenji merasa dirinya ikut dibawa-bawa padahal dirinya sudah mandi ."Weew....yang belum mandi kalian bukan gue ."
Mengelus bahu Kenji ."Lu bersama kami berarti lu belum mandi ."Ucap enteng Jovan.
Menjinjing sebelah bibirnya ."Hii."
"Sudah berhenti...Terutama kalian berdua ,jika Riska mengetahui ini .Dia pasti tidak akan memberikan kalian berdua hidup."Iyslam yang sudah fokus kepada Nathan dan Jovan .
"Mas Slam ,hobi mas dari dulu nakut-nakutin .Enggak lucu lah."Nathan yang masih sanggup cengengesan.
Atensi Jovan fokus pada mobil milik Panji yang baru sampai di tempat ini .Ia menepuk bahu Nathan."Mati beneran."
"Wasga...".Nathan langsung terpaku.
Masih dalam awasan atensi Nathan dan Jovan dari tempat yang sama .Panji beranjak keluar dari dalam mobil ,ia mulai melangkah menghampiri Nathan dan yang lain .
Saat Panji sudah dekat."Langsung antar mereka bertiga pulang. Masih terlalu bahaya untuk mereka keluyuran."
"Iya ...Nanti pertemuan nya sesuai jam."Panji mengingatkan tentang pesan chat yang sudah tadi ia kirim ke Iyslam .
"Iya, detektif juga ikut turun tangan."
"Hem."Fokus pada tiga pemuda ini di belakang Iyslam."Ayo pulang.... Jovan, ayah mu menunggu mu."
"Astaga."Nathan yang justru kaget dengan pemberitahuan Panji .
"Kamu juga Nathan .Kamu di tunggu Kakak mu di rumah."
"Mati lu."Jovan kembali membalas .
Ketiga pemuda ini mengikuti Panji meninggalkan tempat kejadian .Tentu untuk kembali ke rumah nya masing-masing dengan di antar Panji. Karena entah Nathan ataupun Jovan pasti salah satu dari mereka berdua akan menjadi incaran para penjual barang haram itu. Tak terkecuali Nathan yang mengetahui segalanya .Ada ke mungkin besar mereka berdua menjadi Incaran para penjual barang haram itu .
++++++
Pukul. 14.20 Menjelang sore .
Menjelang sore .Mobil pribadi milik Panji sampai di kediaman rumah Jovan .Jovan langsung di sambut oleh Ayahnya yang sudah menunggu kedatangan di teras rumah .
Melihat raut ekspresi wajah murka dapat Jovan rasakan. Dari sorot mata yang tajam ayahnya .Otot-otot tangan kekar ayah yang terlihat siap melilit lehernya.
Jovan menelan paksa saliva nya. Ia berlahan-lahan membuka pintu mobil Panji .Nathan dengan enteng nya menepuk bahu Jovan .Dan berkata."Semoga lu tetap hidup."
Rasa ingin mengeprek Nathan .Namun Jovan lebih memilih sabar ,ia turun setelah menarik panjang nafasnya.
Panji membuka kaca mobil samping nya duduk."Kami pamit, om ."Pamit Panji pada Om Jeon. Ayah Jovan .Yang hanya di balas senyum hangat oleh Om Jeon .
Sementara Jovan sudah menurunkan pandangan nya .Ia tidak berani menatap atensi tajam pria dewasa di depannya.
"Lekas masuk .Mandi dan turun .Mama mu sudah membuat banyak makanan."Suara tegas nan berat Om Jeon.
Jovan hanya membalas dengan anggukan ringan tanpa mengangkat pandangan nya. Ia berlalu melewati ayahnya untuk masuk ke dalam rumah.
Baru saja melangkah di ruang tamu rumah ."MAS JOVAN ."Seru Fadil berlari cepat menghampiri Jovan .
"Mas Jovan baik-baik saja. Tidak telukan?".Urututan pertanyaan Fadil .
Jovan menggeleng dengan di susul senyum tipis."Tidak papa .Saya baik-baik saja .Mama di mana?."
"Mama di dapur ."Iya, Fadil telah di angkat menjadi putra ketiga keluarga ini .Setelah Richard sebagai kakak kedua .Walaupun begitu .Fadil jarang tinggal di rumah ini .Ia lebih sering tinggal bersama kakek dan nenek nya .Tentu itu iya lakukan untuk sekedar menemani dan merawat kakek neneknya.
"Umm."
"JOVAN."Seru Tante Tian berjalan cepat menghampiri Jovan.
Jovan mulai menghindar mengambil langkah mundur berlahan dari mama nya .Namun apalah dayanya .Mamanya lebih cepat dari yang ia duga untuk menjewer telinga kirinya."Aaaa....ma..mama sakit ."Rintihan Jovan menahan rasa perih kuping telinga nya .
"SIAPA SURUH KAMU MEMBUAT MAMA KHAWATIR PANIK CAMAS .MAMA TAKUT SEKALI BEBERAPA JAM YANG LALU. SANGAT CEMAS KARENA KAMU ."
"Iya kan apa salah Jovan ,ma?".
"MASIH TANYA KAMU."
"Aaa...maaf ma ..maaf."
Menarik baju Tian."Mama jangan lakukan itu .Mas Jovan kesakitan .Ma..". Mendengar ucapan lembut Fadil .Tian menghentikan menjewer telinga Jovan .
Jovan mengelus telinga memerahnya.
"LOH. KENAPA BELUM MANDI JOVAN?".Suara tegas Jeon di berdiri di ambang pintu utama rumah.
"Ini..otw ."Jovan buru-buru menaiki tangga rumah nya .
"Tidak akan, pernah."Fadil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tunggu tua?Tidak ya saya masih muda ."
"Ngaca, lihat wajah keriput mu ."Balas Tian tidak mau kalah dengan suaminya.
"Tak mau ."Tiba-tiba saja tingkah tegas dan menakutkan Jeon hilang ."Ayo Fadil .Papa antar beli peralatan sekolah. Sesuai janji ."Jeon tersenyum hangat pada Fadil .
Fadil mengangguk dan tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi-gigi bulat-bulat kecil-kecil nya .
"Tapi...".
"Biar mama yang antar kakek dan nenek cek kesehatan. Kamu pergi saja sama papa .Jarang-jarang kan bisa keluar sama papa."
Fadil mengangguk ringan."Hem...kami pergi .Assalamu'alaikum ."
"Wallaikum'salam."Balas Tian disusul senyum hangat nya .
Saut hal lagi .Walaupun sudah menjadi keluarga Lee .Fadil tetap menganut agama Islam. Dan tidak ada permasalahan dari keluarga Lee yang menganut agama Kristen.
Jadi tidak heran. Entah itu Tian, ataupun Jeon meningkatkan tentang solat .Atupun tentang salam saat keluar ataupun masuk rumah entah itu mengunakan tata cara Islam ataupun Kristen .Sedikit sulit untuk Tian dan Jeon mengajar itu .Tapi sebisa mungkin kedua orang tua ini mengajarkan sopan santun kepada Fadil tanpa memandang status agama .
*Karena Orang beragama belum tentu punya sopan santun (Good attitude)*
+++++
Pukul. 14.57 menjelang sore .
Di kediaman rumah Nathan .Pemuda ini tengah duduk di ruang tamu. Tentu tengah mengobrol dengan Riska .Kakak perempuan pemuda ini .
"Kamu sangat ceroboh. Bagaimana jika kamu mati meledak saat itu juga.... Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak. Kakak tidak pernah mengajari mu untuk bertindak gegabah Nathan ."Suara tegas Riska sebagai keluarga tertua yang menengai kesalahan keluarga termuda .
"Maaf."
"Maaf tidak akan mengembalikan semuanya jika kamu mati di sana ."Beranjak dari tempat duduknya."... Yasudahlah lekas bersihkan dirimu."Riska masih dengan nada suara tinggi.
Melihat kakaknya yang akan pergi dari rumah."Kakak mau kemana?".Tanya Nathan.
"Ada urusan."Cuek Riska berlalu keluar rumah yang di ikuti oleh Panji .
Selepas kepergian kakaknya .Nathan ikut beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah lesung naik ke tangga rumah nya .Tentu untuk pergi ke bilik kamar tidurnya.
Sementara Kenji masih duduk di tempat yang sama .Sova panjang ruang tamu yang tadi Nathan duduki .
Lama Kenji duduk termenung di sana .Mencerna situasi saat ini . Karena sampai sekarang ia masih belum faham dengan permasalahan apa yang tengah terjadi.
DrummDrummDrumm...Suara getaran panggilan telepon masuk ke ponsel.
...Tersambung...
*Hallo ."
*Hallo...Gimana kabar kamu di sana?".
*Baik Otou-san. Otou-san sudah kembali dari dinas kerja?".
*Belum .Otou-san sangat sibuk akhir-akhir....rasa ingin sekali segera pensiun dan melihat kamu mengantikan Otou-san."
*Masih kurang dua tahun lagi Otou-san harap bersabar."
*Ya..ya .... Bagaimana dengan nak Nathan?" .
*Semua baik Otou-san...".Kenji yang teringat dengan buah lezat yang ia makan kemarin ."..Otou-san satu .Kemarin saya makan buah yang tidak ada di Jepang .Buahnya sangat lezat sekali dan kulitnya berambut merah
lebat .Tapi daging buahnya sangat sangat enakk .Otou-san benar-benar harus mencoba nya ."
*Buah apa itu? Ada saja kamu." Terdengar tawa renyah Yoshi di seberang sana .
*Serius Otou-san. Saya akan bawakan oleh-oleh itu untuk Otou-san."
*Baiklah terimakasih... Otou-san tidak bisa lama-lama. Kamu jaga diri baik-baik di sana .Jangan bertengkar dengan nak Nathan."
*Ehm".
Panggilan di akhir Yoshi sepihak dari seberang sana .
Selepas mengakhiri panggilan telepon itu . Atensi Kenji terfokus pada Nathan yang baru saja keluar dari dalam Liv rumah. Masih dengan langkah santai Nathan berlalu ke ruang makan .
Mungkin Nathan akan makan malam sekarang .Toh dari tadi pagi sampai sore .Nathan belum memakan apapun.
++++++
Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat .Di sebuah rumah sakit Sakti Bakti. Lebih tepatnya di salah satu ruang rawat inap .Yudha tengah duduk termenung di kursi kecil dekat brankar pesakitan milik Asta .
Yudha genggam telapak tangan kurus Asta dengan kedua tangan yang."Maafin gue Asta .Maaf gue tidak bisa jaga lu dengan baik ...Memang benar kata lu ,gue tidak pantas di sebut sebagai Abang yang baik."
Iya .Sesaat yang lalu Asta sempat berontak .Halusinasi mulai mengambil alih dirinya. Ia bahkan menyakiti kulit kepalanya .Bahkan sempat kesakitan karena masalah pada ginjal kambuh .
Setelah memberikan sedikit obat penenang. Saat ini Asta dapat beristirahat dengan tenang. Wajah damainya membuat Yudha semakin merasa bersalah sebagai Abang yang tidak becus menjaganya.
Sedangkan Faktur. Beliau langsung meninggalkan ruang rawat inap Asta .Saat Asta sudah jauh lebih tenang .
Melihat Asta terikat di keranjang pesakitan seperti sekarang. Membuat beliau tidak setegar biasanya sebagai seorang ayah .
Faktur memilih duduk di kursi panjang depan kamar rawat inap putra keduanya. Atensinya terfokus pada layar ponselnya. Layar ponsel yang memperlihatkan nomer telfon istrinya di sana.
Faktur sangat ingin menghubungi istrinya. Tapi ia takut istri syok .Di kala beberapa hari ini istri sudah sangat bekerja keras balak balik rumah ,rumah sakit. Untuk merawat Brian, dan Beril yang sakit di rumah. Juga harus menjenguk Lintang yang dititipkan ke orang tua Alyah.
Membuat Faktur harus berpikir ulang untuk memberitahu keadaan sebenarnya Asta kepada istri.
Next...
"Lu kenapa masih disini?".Suara berat yang tak asing untuk Yudha dengar.
Yudha segera mendongak menatap sang sumber suara yang tidak melihat nya sama sekali.
Asta .Entah sejak kapan pemuda ini siuman .Yang jelas kedua Fokus yang sudah terbuka lebar ini tengah menatap langit-langit kamar rawat inap nya ."Gue sudah berbicara kasar sama lu .Lantas untuk apa lu tetap disini .Bukankah sudah jelas jika gue sangat membenci lu ."Ucapnya .