
Osaka
Pukul. 09.31 siang
Kamis
Baru saja mengobrol melalui panggilan telepon dengan kakaknya .Nathan justru memperlihatkan ekspresi muka masam.
Kenji yang baru saja menghampiri Nathan yang terduduk masam. Bertanya-tanya beberapa pertanyaan sampai membuat tertawa terbahak-bahak. Tapi sayang karena terlalu loss tertawa Kenji jadi kena teguran dari nona resepsionis perpustakaan.
Di tengah obrolan keduanya sebuah suara membuat keduanya tersentak kaget.Tidak terkecuali Kenji yang sangat syok.
"Bagaimana, tugas kalian sudah selesai?".Suara tak asing itu berasal dari Guru Matematika. Guru yang memberi hukuman kepada Nathan dan Kenji.
Baru saja ingin membalas."....Kalian boleh kembali ke kelas."Kata Guru matematika.
Mengangkat sebelah alisnya."Serius, Sensei."
"Hem."
".....Kalian mau nambah hukumannya?".
Melambai-lambaikan kedua telapak tangannya .Nathan dan Kenji berucap bersamaan."Dame ,dame, dame ,Sensei."Sembaring beranjak dari tempat duduknya."....Permisi, Sensei."
"Tunggu."Menghentikan pergerakan keduanya .
".....Kemari."
Nathan dan Kenji Kembali mendekat, dengan perasaan yang sudah campur aduk. "Badan sudah capek-capek, masih saja di tambah". Batin keduanya .
"Tadi ada tugas dari saya, bab tiga kalian kerjakan halaman 12-30."Kata guru ini membuat mata Nathan terbelalak sempurna.
Bisa kalian tebak betapa frustasi nya dirinya ,mendengar tugas Matematika yang begitu banyaknya .
"....Kalian santai saja mengerjakan tugas itu ,karena tugas baru dikumpulkan setelah kalian masuk sekolah lagi."
"Syukur."Batin Nathan bernafas lega .
"Tapi libur sekolah cuma dua hari."Ucap Kenji membuat Nathan kembali frustasi."What?What?What?".Batin kebingungan Nathan .
"Soalnya cuma sedikit. Ini Sensei lakukan juga karena mengejar mata pelajaran yang tertinggal .Tiga Minggu ke depan, kalian sudah mulai ujian kenaikan kelas ."Jelas Guru Matematika.
"Baik. Permisi, Sensei."Pamit Kenji .Sementara Nathan hanya mengangguk memberi hormat saja sebelum beranjak mengikuti langkah kaki Kenji .
Mengangkat tangan mengepal nya."Ganbare!."Ucap Nona resepsionis yang berada di tempat kerja nya .Dengan tumpukan buku yang tersusun rapi di samping kanan kirinya .
(Semangat) .
"Ho!!Yy."Balas keduanya bersamaan tanpa melihat nona resepsionis perpustakaan.
Nathan dan Kenji berjalan keluar. Tidak lupa keduanya segera memakai jas sekolah kembali agar tidak kedinginan.
Berjalan santai melewati depan gedung senior nya yang masih sunyi sepi. Mungkin saat ini senior kelas keduanya masih dalam waktu pembelajaran .Jadi bisa di bilang, beruntungnya kedua pemuda ini.
Sesampainya di dalam gedung sekolah .Nathan dan Kenji kembali berganti sepatu khusus sekolah .Sebelum kedua berlanjut naik ke lantai atas lorong kelas MIPA.
"Benar-benar matematika, gue sudah bilang tidak suka, masih saja kejar-kejar gue ."Gumam Nathan yang tengah memasukkan sepatu memiliki kedalam loker .
Menutup pintu loker sepatu miliknya kembali."Nat."
Berdehem sembaring berpaling melihat lawan bicaranya."Maji ka yo!!!".Nathan tersentak Geli dengan ekspresi wajah Kenji.
Berubah dingin."Muka lu jelek."
"Oh! Weew."
Berjalan mendahului Kenji yang masih berdegup kesal dengan respon Nathan. Segera berlari menyusul Nathan."Nat, Nat."
"Nani, O'on?".
"Gue nyontek matematika lagi, boleh ya?."Kenji dengan ekspresi penuh harapan.
"Nandayo?!."
(apa-apaan?! ).
"Plisssss!!!!!!".
Melambai tangannya dengan berjalan lebih dulu."Ryokai. Gue takut lu nangis."
(Oke).
"Jika bukan karena matematika, gue......".Menyahut gumaman Kenji. Nathan sudah ada di kejauhan."...GUE MASIH DENGAR."
"Eehhmmmm."Geram Kenji menyusul si Nathan yang sudah jauh darinya .
++++++++
Pukul. 13.30 siang .
Jam pulang sekolah di percepat, agar siswa siswi dapat sampai rumah dengan cepat.
Ada kabar baik yang di samping memalui pengeras suara sebelum anak SMA Sanshain pulang. Kabar baik, jika besok mereka akan libur sekolah musim dingin .
Besok mereka akan libur dua hari, untuk menyambut musim dingin. Memang sudah terlambat, tapi tidak papa yang penting ada hari mengistirahatkan otak sejenak .
Seperti Nathan, Kenji, dan Benji .Mereka hanya pulang bertiga. Hiroyuki harus lekas pulang karena harus menjemput adik dan merawat ibunya juga neneknya. Ryo di paksa pulang dengan mobil oleh ayahnya, supaya Ryo dapat segera istirahat di rumah. Itu karena penyakit Ryo yang sering kambuh akibat musim dingin.
Tapi ketiganya tidak langsung pulang ke rumah .Nathan di ajak Benji dan Kenji berputar jalan ke pasar tradisional musim dingin. Nathan mengikuti saja, toh dia belum pernah jalan-jalan di tengah gundukan salju seperti ini .
Sesampainya di ambang pintu masuk pasar tradisional. Ternyata ketiganya sudah di tunggu oleh Hanaki .
Hanaki melambai-lambaikan tangannya kearah ketiga pemuda ini."Lama sekali kalian."Ucap Hanaki menyambut kedatangan ketiga sahabatnya.
Tidak mendapati kehadiran Hiroyuki di sana."Dimana Hiro?".Tanya Hanaki .
"Hiro harus merawat kedua kekasih."Balas Benji bermuka datar.
Mengerti dengan maksud perkataan Benji ."Oh."
"Kita cuma di sini, tidak ada acara masuk lihat-lihat gitu ."Nathan membuka suara di tengah keheningan.
"Iya, ayo."Ajak Hanaki .
Kini mereka menjadi berempat. Keempat pemuda yang tengah berjalan santai masuk ke dalam pasar tradisional.
Suasana pasar ini tidak terlalu ramai, beda dengan musim semi, dan panas(gugur). Festival kedua musim itu pasti sangat ramai, karena akan banyak sekali acara di pasar ini .
Tapi kalau musim dingin gini. Di pasar ini hanya ada pohon Natal kecil berjajar di beberapa depan toko, juga yang paling besar berada di tengah bersimpangan jalan pasar.
Kembali ke empat pemuda ini. Mereka berempat sama-sama hening, mungkin mulut mereka sudah membeku sampai tak ada satupun dari mereka membuka suara obrolan terlebih dahulu.
Hingga sampai di depan Greja. Hanaki masuk lebih dulu, yang baru di susul oleh Benji yang mengikuti langkah nya .
Sementara Kenji."Gue masuk dulu."Karena Kenji faham betul dengan kepercayaan apa yang Nathan anut .
"Oky."Balas Nathan melihat sekitar untuk mencari tempat nyaman untuk duduk .
Mendapatkan tempat ternyaman Nathan segera berjalan ke sana, jaraknya sedikit jauh dari Greja .Namun tak apalah, yang penting ada tempat nyaman untuk duduk.
Di tengah jalan, Nathan di sapa oleh sesosok pria tua yang mengenakan peci di atas kepalanya.
"Siang mas."Sapa pria tua ini.
Merasa terpanggil Nathan menghentikan langkahnya, berpaling sembaring menyungging senyum manisnya.
Dengan ekspresi wajah ramah."Kenapa tidak ikut masuk?".Tanya pria tua ini .
"Saya bukan penganut Nasrani."Balas Nathan dengan sopan .
"Oh! mas penganut ajaran Islam."Tebak pria tua ini.
Nathan terkekeh kecil."Hehe...iya, ojii-san ."
"Mau ikut sholat? Soal sudah menjelang waktu sholat ashar, sekarang."Tawar pria tua ini mengajak Nathan untuk solat berjamaah bersamaan nya.
"Eh! Ojii-san seorang muslim."Pria ini membalas dengan anggukan."Mau ikut?".
"Tentu ,mari .Silahkan anda jalan lebih dulu."Nathan mempersilakan pria ini untuk berjalan lebih dulu.
Merangkul bahu lebar Nathan sedikit."Sini, kamu jalan di samping kakek ."Kata pria tua ini .Membuat Nathan terkekeh geli.
Sementara di dalam, kedua pemuda ini akan memulai berdoa. Namun."Loh!Mana Nathan?".Tanya Hanaki yang tak mendapati kehadiran Nathan di sini .
Kenji yang sudah khusuk berdoa."Nathan non-Kristen ."
Hanaki ingin bertanya kembali, namun dengan cepat Benji berpaling dengan jari yang sudah menyentuh bibir nya sendiri. Gerakan sederhana yang menyuruh Hanaki untuk diam .
Melihat itu, Hanaki langsung terdiam. Ia kembali khusuk dengan doanya yang sempat tertunda.
++++++
Beberapa menit kemudian ketiga pemuda ini keluar dari dalam Greja. Hanaki yang tak mendapati kehadiran Nathan."Tuh anak kemana?".
"Jam berapa sekarang?".Tanya Kenji .
"Sekitar jam tiga lebih sepuluh."Balas asal Benji tanpa melihat apa-apa.
"Ayo ke sana."Ajak Kenji. ".....Nathan ada di sana."Sambungnya berjalan lebih dulu.
Berjalan beriringan dengan Kenji."Kenapa ke sana?".Tanya Hanaki .
Kenji hanya bergeming tak merespon pertanyaan Hanaki.
Pemuda itu mendengus kesal karena di abaikan sembaring tadi.
"Ikut saja."Benji yang berjalan di paling belakang.
+++++++
Pukul. 14.35 Siang
Sudah jam setengah tiga siang, jam masuk sholat ashar sudah tiba. Suara adzan mulai berkumandang.
Sudah lama sekali, sejak pindah ke Jepang untuk melanjutkan sekolah. Nathan tidak pernah lagi mendengar suara adzan. Boro-boro mendengar suara adzan, untuk melakukan sholat berjamaah pun ia sudah tidak pernah.
Nathan hanya melaksanakan sholat munfarid(sendiri di rumah), itu pun tidak lima waktu.
Terlalu sibuk nya Nathan, membuatnya terkadang mengabaikan kewajiban sebagai umat Islam.
Kini Nathan tengah mengambil air wudhu di tempat wudhu yang sudah tersedia. Nathan seorang diri di sini bersama beberapa orang asing yang tidak ia kenal, yang juga sama sepertinya. Mereka akan melaksanakan ibadah.
Kenapa sendiri? Dimana kakek tadi? Kakek tadi sudah selesai mengambil air wudhu lebih dulu di rumah, dan dirinya masuk ke dalam mushola lebih dulu. Karena kakek tadi adalah imam mushola ini.
Sementara di dalam Nathan melaksanakan kewajiban nya sebagai umat Islam. Di luar, Kenji ,Benji, dan Hanaki tengah terduduk di kursi panjang depan mushola ini. Jarak antara keduanya lumayan jauh, tapi masih bisa mengawasi aktivitas di halaman depan mushola sana. Dari jarak jauh.
Ketiganya duduk di kursi tralis besi taman. Kenji di samping kiri, Hanaki tengah, Benji samping kanan .Hanaki yang duduk di tengah tidak henti-hentinya mendengus kesal, karena harus berada di antara balok es .
Baik Kenji ataupun Benji sama-sama hening .Walaupun Hanaki berbicara panjang lebar sekalipun, Kenji dan Benji tetap hanya terdiam .Benji memang memperhatikan, namun tak menangapi ucapan Hanaki. Sementara Kenji ,sudah tidak memperhatikan, ia juga tidak merespon sedikitpun ucapan Hanaki. Sungguh dingin, anda cuek .
Karena, biasanya Hanaki selalu mengobrol dengan Hiroyuki. Tapi karena Hiroyuki tidak ada, ia tetap masih beruntung karena masih ada Nathan. Dan sayangnya sekarang Nathan tidak ada, yang membuat dirinya harus berbeda di posisi kecanggungan yang sangat Hanaki benci.
Mengerutkan keningnya."Kenapa gue bisa bersahabat dengan mereka berdua." Batin menangis Hanaki. Tersiksa berada di antara gunung es .
++++++
Beberapa jam berlalu, akhirnya langkah jengkal panjang itu terlihat melangkah keluar dari dalam mushola minimalis ini .
Bersamaan dengan dirinya yang fokus mengenakan sepatu sekolah kembali."Sering-sering sholat berjamaah di sini Mas."Kata Kakek tadi melembarkan senyum hangatnya.
Nathan mendongak keatas melihat sosok pria tua ini."Iya, Ojii-san."Balas ramah Nathan.
"Saya permisi duluan, Assallamuallaikum ."Kakek itu beranjak pergi lebih dulu dari sana.
"Ya, wallaikum'salam ,Ojii-san".Balas Nathan yang masih sibuk mengenakan sepatu hitam putih bertali miliknya.
Selesai itu, Nathan segera beranjak pergi dari sana .Sembaring melangkahkan kaki jengkalnya ,Nathan melihat sekelilingnya yang ramai dengan lalu lalang pejalan kaki .
Sampai sebelum tangan menepuk bahunya."Ayo."Ucap datar Kenji .
"Em! yok."Nathan berlalu pergi bersama ketiga pemuda ini .
Kini Hanaki memilih berjalan beriringan dengan Nathan."Anata wa Isuramu kyōtodesu!".
( Lu muslim! )
"Aku?".
"Hem."
"Iya."
Hening sesaat. Sampai di persimpangan jalan."Gue duluan."Pamit Hanaki .
"Ha'a!!".Balas mereka serentak .
Selepas kepergian Hanaki, ketiga pemuda ini melanjutkan perjalanan panjang mereka kembali .Karena ambil jalan memutar, makah ketiga pemuda ini harus menerima resiko berjalan kaki lumayan jauh. Apalagi Kenji yang rumahnya paling jauh, jika ia lewat jalan ini.
"Oh, gue lupa kasih tahu. Kemah nya di batalkan ,sang pemilik sibuk."
"Hem."Dehem Nathan dan Kenji merespon pemberitahuan Benji .
++++++++
Pukul. 19.20 sore .
Di sinilah kedua pemuda dengan pakaian santai yang mereka berdua kenakan. Duduk malas di atas Sova ruang keluarga. Dengan televisi yang di biarkan menyalah menonton kemalasan kedua pemuda ini .
Siapa lagi, kalau bukan Nathan dan Kenji .Keduanya hampir sebelas dua belas dalam kepribadian. Tapi sayangnya Kenji lebih waras dari Nathan yang terkadang kesetanan.
Dan, iya. Hari ini Kenji kembali menginap di rumah Nathan karena ayahnya masih dalam tugas kerja di Tokyo. Kenji memang ingin tetap tinggal di rumah ,tapi ayahnya tetap memaksa dirinya untuk menginap di rumah Nathan. Dengan alasan supaya Nathan dan dirinya tidak kesepian.
Posisi keduanya benar-benar sangat santai .Nathan duduk di sova persegi dengan kedua kaki yang terlentang lurus di atas meja berbahan dasar kayu depannya. Manik mata keduanya terfokus dengan layar ponsel dalam genggaman nya.
Entah tengah berbalas Notifikasi Chat dengan siapa ,dia. Sampai senyum-senyum tidak jelas .
Sementara Kenji tiduran di atas Sova panjang ,bantal hiasan Sova yang sudah tertata nyaman di bawah belakang kepala. Dan sebuah buku komik bergenre fantasi dalam genggamannya. Membuat posisi nyamannya sangat sempurna sekali.
Posisi yang sangat mendukung untuk bermalas-malasan.
Isi grup chat Bestfriend Nathan.
Jovan.
*Hallo istri ku, anak ku, emak ku."
*.... Selamat liburan tahu baru bro!!!".
Yudha.
*Kumat."
Kevin.
*Belajar guess. Biar makin be**go."
Jovan.
*Alhamdulillah emak ku makin pinter."
^^^Nathan.^^^
^^^*GGJK berkumpul.",^^^
Yudha.
*Gk perlu ribet-ribet, O'on. Apa artinya?."
*....Nyampai jelek, gue tambal mulut lu."
Kevin.
*Sabar mas Yudha."
^^^Nathan.^^^
^^^*Mas!?".Emot tertawa .^^^
Jovan.
*Aduh mas-mas."
^^^Nathan.^^^
^^^*Papa mama sudah akur, Jov."^^^
Jovan.
*Doa kita terhambul."
^^^Nathan.^^^
^^^*Terkabul, be**go."^^^
Jovan.
*Solly, o'lon ."
Kevin.
*Keyboard lu eror, kualat lu."Emot tertawa terbahak-bahak.
^^^Nathan.^^^
^^^*CK, emak jahat banget."^^^
Jovan.
*Anjing bulldog, sinyalnya jelek kayak kalian."Emot menangis .
*........Sudah jelek eror."
Yudha.
*Banting saja, Jov. Cepat beresnya."
^^^Nathan.^^^
^^^*Saran yang sangat bagus. Putra mu bangga pada mu, pa."^^^
Jovan.
*Matamu, terus nanti gue pakek ponsel apa?".
Kevin.
*Anak-anak, anak-anak, harap kendalikan emosinya."
^^^Nathan.^^^
^^^Emot tertawa terbahak-bahak.^^^
Yudha.
*Beli lagi, Jov."
Jovan.
*Tidak, ponsel kesayangan gue ini. Berat untuk melepaskan".
Yudha.
*Kalau sayang jangan ngeluh eror. Kalau ngeluh banting saja, kalau tidak mau beli tidak perlu main ponsel-ponsel." Savage Boy, Yudha keluar ya gini jadinya .
^^^Nathan.^^^
^^^*Vin, jangan biarkan Yudha ngetik."^^^
Kevin.
Justru membalas dengan emot tertawa terbahak-bahak.
Yudha.
*Nat, apa artinya GGJK?".Emot malas di akhir kalimat.
Jovan.
*Jawab, Nat. Hancur lu sampai tidak jawab."
Yudha.
*Lu dendam sama gue?".
Jovan.
*Cuma...".
Kevin.
*Tahan! Tarik nafas dalam, hembuskan berlahan."
^^^Nathan.^^^
^^^Emot tertawa terbahak-bahak.^^^
Yudha.
*Apa, CK?".
*LELET."
Jovan.
*Astaga serem."
Kevin.
*Untung Yudha tidak sekolah sama kita ."
Membaca isi balasan chat dari sahabat-sahabat grup WhatsApp nya membuat Nathan senyum-senyum sendiri menahan tawa .
^^^Nathan.^^^
^^^*Siapa yang tanya GGJK tadi?".^^^
Jovan.
*Basa basi, lu."
Kevin.
*Apa, Nat? Gue penasaran, anjir. Gue mati penasaran lu mau?".
Yudha.
*Mati saja. Penasaran juga derita lu."
Kevin.
*Tega lu, Yudha. Acit ati gue."
Emot menangis di awal.*Dahlah."
Jovan.
*Hoy!!Nathan mana? Nathan ilang CK."
Yudha.
*Kemarin gue mimpi dia di kejar-kejar brandal."
Jovan.
*Siapa, Yud?".
Yudha.
*Nathan."
Kevin.
*Jangan mengada-ada lu, Yud. Nathan di sana sendirian, Yud. Ahh.. lu buat gue khawatir muluk ,gue mati penasaran benar, CK."
Jovan.
*Tapi dia baik-baik saja kan, Yudha."
*....Yudha!!".
Kevin.
*Tuhh anak mana?Habis buat gue penasaran langsung ilang gitu aja. Anjing gk tanggu jawab banget ."
Jovan.
*Yang bernama Yudha dan Nathan harap segera hadir."
*Lohhh..... haaa.....".
Kevin.
*Kemana mereka berdua, Jov?".
Jovan.
*Mana gue tahu. Nathan udah off beberapa menit yang lalu. Yudha masih online, tapi tidak balas."
Kevin.
*Memancing marah gue mereka berdua."
*.....WOYY cepat keluar anjing. Kalian kalau ada apa-apa cepat bilang, jangan buat kejang-kejang."
Jovan.
*Yudha kerja mungkin, Vin."
Kevin.
*Kenapa tidak pamit, CK. Yudha biasa pamit dulu di grup, kalau mau off. Nathan juga. Bang**sat kalian kemana, bang**sat!!".
Jovan.
*Sabar Makk. Jangan marah-marah ingat anemia lu kambuh ."
Kevin.
*Bodoh."
Sementara di dalam grup chat WhatsApp masih terus berlanjut.Tanpa kehadiran Nathan dan Yudha yang menghilangkan entah kemana.
Black Nathan.
Sekarang pemuda ini sudah berada di luar halaman rumah. Nathan yang di bonceng oleh Kenji dengan sepada angin milik Nathan.
Sepeda angin ini melaju sangat cepat di jalanan beraspal yang tertutup tipisnya salju. Pasti jalanan saat itu sangat licik. Namun Kenji tidak menghiraukan itu sama sekali. Ia tetap mengayunkan medal sepeda ini dengan cepat ,sampai kecepatannya melebihi kecepatan sepeda angin pada umumnya.
Nathan yang berada di bonceng hanya bisa terdiam sembaring berpegangan pada teralis besi boncengan yang ia duduki.
Wwweerrr........Suara angin dari sepeda ini.
Seettt.......Kenji menghentikan sepeda ini mendadak saat sudah sampai pada tempat tujuan.
Keduanya sampai di lapangan tempat Nathan dan Benji pernah di keroyok. Lapangan tepi jalan kampung, nama sederhana nya.
"Sampai, juga kalian."Noritaka seseorang yang memegang kekuasaan di daerah ini.
Nathan beranjak turun dari boncengan. Manik hitam lekat nya, semakin membulat sempurna .Sorot mata dingin mulai terpancar mengerikan dari kedua bola matanya.