
Jam 11 malam. Nathan baru sampai di rumah. Padahal ia sudah bilang tidak akan pulang larut malam. Tapi ia malah pulang ke rumah jam 11 malam.
Nathan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Ia langkah kakinya masuk ke dalam rumah yang beberapa ruangan sudah gelap gulita.
Sesampainya di lantai atas tempat kamarnya berada. Ia membuka belahan pintu kamar ini agar tidak sampai membuat Noemi terbangun, jika Noemi sudah tidur.
Ceklek......,"Akhirnya pulang."Ucap Noemi tiba-tiba membuat Nathan sedikit terkejut.
"Kenapa tidak tidur?".
"Nunggu kamu pulang. Kan katanya mau cari bakso."
Menghela nafas,"Besok tidak sekarang. Kamu seharusnya sudah istirahat tidak perlu menunggu ku. Bagaimana jika kamu sakit karena kurang istirahat."Nathan yang justru menaikan nada bicara marah.
Mendengarkan dengan baik. Noemi yang masih berdiri di depan Nathan terdiam tertunduk.
Nathan memijat sekilas keningnya,"Maaf."
"Aku sangat lelah, lebih baik kamu istirahat saja duluan."Nathan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Next.....
Keesokan paginya. Nathan sangat lelah masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Tanpa perlu dengan jam berapa sekarang.
Sementara itu. Ayumi sudah ada di lantai bawah, ia ada di dapur bersama bi Mina membuat beberapa camilan yang bi Mina ajarkan pada nya.
Menggeliat sayup-sayup melihat jam dinding di depannya,"Sial kesiangan."Umpat Nathan sadar kesiangan akan tetapi tepat masih enggan untuk cepat-cepat beranjak dari tempat tidur.
Selang beberapa menit kemudian. Ia baru terburu-buru mandi, berganti pakaian. Dan lekas turun ke lantai bawah.
Ingat ada yang kurang, Nathan berlalu pergi ke dapur. Noemi yang tengah sibuk membuat adonan ote-ote sampai membulatkan manik mata jengkal karena Nathan yang tiba-tiba datang mencium keningnya, dan tiba-tiba pergi meninggalkan nya.
"Aku ke kantor bentar."Pamitnya.
Noemi merasa sangat malu sekali, di kala di sana juga ada Bi Mina yang melihat nya.
Next....
Tidak lama kemudian. Jam 10 siang Nathan kembali pulang. Tidak lupa dengan membawa oleh-oleh untuk Noemi.
Ia langsung pergi ke ruang keluarga, atas pemberitahuan dari bi Mina yang ia temui di depan.
"Assalamualaikum."
Masih duduk di Sova panjang ruang keluarga. Fokus Noemi berpaling pada sumber suara,"Wallaikumsalam."
Menunjukkan kantong plastik yang ia bawa,"Bakso."Kata Nathan,"Kamu ambil mangkuk."
Noemi segera beranjak dari tempat duduknya,"Bentar."Berlalu pergi mengambil mangkuk dan peralatan makan lainnya.
Melihat suaminya yang tengah membukakan bungkus plastik bakso untuk nya,"Buat Bi Mina mana?".Tanya Noemi.
"Sudah ku kasih duluan sama pekerja yang lain."
"Umm."
Fokus pada lawan bicara menunggu,"Besok kita harus kembali ke Korsel, maaf liburan nya tidak bisa lama dan maaf juga tidak bisa membawa mu ke makam kakak mu."
"Masih ada lain waktu, tapi janji tetap pergi ke sana."
"Iya, terima kasih sudah memahami posisi ku."
"Dan terima kasih walaupun kamu sibuk kamu tetap menyempatkan membelikan bakso."Di susul senyum hangatnya.
Nathan yang fokus melihat nya,"Begini iya rasanya punya istri."Batinnya.
Selepas acara makan-makan dan beres-beres tadi siang. Sore harinya Noemi yang di bantu oleh Nathan mulai mengemas beberapa barang yang akan di bawa besok.
Iya, Besok pagi-pagi sekali Nathan dan Noemi akan terbang kembali ke Korsel. Karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa Nathan tinggal terlalu lama.
Next.....
"Nanti kamu akan di antar Kenji."Kata Nathan yang duduk bersebelahan satu mobil dengan Noemi yang dalam perjalanan ke bandara internasional.
"Tidak pulang dulu?".
"Tidak aku harus segera ke kantor."
"Hmm."
Next.....
Sesampainya pesawat mendarat dengan baik di bandara internasional Korsel. Noemi langsung ikut bersama Kenji untuk di antar pulau. Sementara Nathan pergi dengan mobil pribadi ke Kantor Salvador.
Sampai di kediaman rumah Salvador. Noemi langsung di sambut oleh Riska seorang.
"Nathan tidak ikut?".Tanya Riska.
"Langsung berangkat ke Kantor."
"Anak itu."Gumam geram Riska. Merangkul Noemi agar berjalan beriringan dengan nya,"Paman tolong bawa masuk barang-barang nya. Kenji terima kasih."
"Iya, kak ."Kenji tersenyum tipis sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaannya membantu menurunkan beberapa barang dari dalam bagasi.
Selepas itu, ia langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumah keluarga Salvador.
++
Brakk.....,"CK sialan."Umpat Nathan kesal sampai memukul keras meja kerjanya.
Jovan duduk tenang di Sova tidak lupa dengan kedua kaki yang tindih,"Seperti nya yang ini tidak bisa di remehkan. Cara pikir dan cara kerjanya sangat rapi."
Setelah hening beberapa lama,"Terpaksa ambil resiko."Kata Ezawa berganti melihat tiga pemuda yang berkumpul di ruangan ini,"Menyuruh orang tepercaya untuk pergi menyelidiki, dengan resiko nyawanya jika tertangkap."
Nathan, Jovan, dan Kenji terdiam cukup lama loading memikirkan masalah yang semakin membesar ini. Masalah yang berusaha mereka sembunyikan dari Riska, jadi bisa di bilang Riska tidak mengetahui apapun.
"Baiklah, lalukan rencana itu. Karena tanpa itu kita tidak mendapatkan informasi apapun."Kata Nathan setelah berpikir panjang lebar.