
"Kalau gini jadi tidak bisa bantu kak Riska ngerawat baby boy."Mengerut muram.
Riska yang merangkul bahu Noemi,"Itss kau tidak suka kan kau hamil?".
"Bukan gitu."
"Hmm."
"Kak Riska."
"Ya sudah ikut aku melihat baby boy."
Nathan yang masih ada di sana memanggil kakak perempuan nya yang hendak berlalu pergi,"Kak."
"Jadi pakek nama apa kak?".
"Entah."
Bersemangat seperti lupa kalau sudah dewasa,"Boleh tidak aku yang kasih nama?".
"Tidak."Saut Ezawa yang baru saja pulang ke rumah.
Menyungging pelet belas kasih. Ezawa yang melihat itu berpaling ke arah Riska yang hanya merespon dengan kedipan kedua bahu.
Menghela nafas kasar mengalah,"Baiklah. Kau yang kasih nama belakang aku yang nama belakang."
"Lah."
"Sudah di izinkan masi.....".
"Iya, iya, beri aku kesempatan untuk mencari nama terbaik."
"Besok pagi."
"Singkat sekali."
"Tidak jadi nih.."
Riska dan Noemi yang lelah melihat drama tidak berguna ini pun berlalu pergi bersama meninggalkan kedua pria beradu argumen ini.
Next.....
Namun selepas kepergian dua nyonya rumah. Nathan dan Ezawa langsung berganti suasana serius dengan cepat.
"Anak buah ku berhasil mendapatkan informasi kita bisa bergerak kapan pun untuk melumpuhkan nya."Kata Ezawa.
"Aku akan mengatur strategi berikut, besok jam makam siang datang saja ke kantor."
"Iya."
"Hem."Kakek Mamoto yang tiba-tiba sudah ada di ruang tengah,"Apapun yang kalian lakukan jangan sampai memantu dan cicit ku tekena imbasnya. Ingat cara pintar bukan cara emosional."
Kedua pria ini hanya terdiam mengangguk. Sementara Kakek Mamoto berlalu pergi dari sana.
++++++++++
+++++++++++++++++
Keesokan pagi setelah sarapan pagi bersama. Nathan yang sudah siap berangkat ke Kantor ia yang masih duduk tenang di kursi makan,"Aku sudah mendapatkan namanya."
"Apa?".
"Iya kau duluan baru aku."
Ezawa hanya terdiam,"Yohan."Timpal Riska.
"Narendra."
"Bagus. Yohan Narendra."Kata Riska yang terfokus pada suami.
Ezawa yang terfokus pada manik indah itu,"Cocok."
"Mulai sekarang Kakek panggil cicit dengan nama Yohan iya."Saut Kakek Mamoto.
"Iya. Kakek jangan lupa minum vitamin nya."Kata Ezawa.
Membuang ekspresi lelah,"Iya."
Next.....
Brakk...... Tendangan mau Nathan lempar pada pria ini. Byung Choon putra seseorang anak tunggal dari masa lalu musuh bebuyutan keluarga Salvador. Ayah Byung Choon yang mati mengenaskan bunuh diri di dalam penjara menumbuhkan Dendam Byung Choon pada keluarga Salvador.
Padahal ayah Byung Choon mati karena....
"Aku ku pasti dendam ku berjalan tidak sia-sia."Byung Choon meringis terduduk menahan sakit.
Nathan hendak memberikan pukulan nya kembali, akan tetapi Ezawa segera menarik Nathan pergi dari sana.
Di luar Ezawa dengan ekspresi wajah datar. Ia melempar korek api menyalah ke dalam bangunan tua ini. Yang di dalam nya masih ada Byung Choon.
Domm..... Bangun meledak dan terbakar habis.
"Semua sudah berakhir."Ezawa fokus melihat bangunan yang sudah terbakar habis itu.
Fokus yang sama,"Jika dia tau ayahnya yang salah kenapa dia sangat membenci keluarga ku?".
"Kasih sayang yang membutakan semuanya."Ezawa yang tau betul posisi seperti itu, di kala hidupnya juga besar tanpa seorang orang tua yang meninggal karena koban pembunuhan.
Next.....
Semenjak kejadian hari itu ke hangat keluarga Salvador berjalan dengan baik. Sampai ke hamil Noemi menginjak 5 bulan.
Di siang bolong ini. Yohan tengah duduk santai Sova panjang ruang keluarga bersama dengan Noemi.
Beberapa kali Yohan memperhatikan perut buncit tantenya. Karena insting penasaran seorang anak kecil sangat dalam. Mata bulat ini mendongak melihat Tante nya yang fokus menonton acara televisi.
Merasa di perhatikan Noemi berpaling pada Yohan,"Ada apa Yohan?".
Menunjukkan perut buncit Noemi,"Tuttu..".
"Boleh elus ."Seakan mengerti Yohan menaruh jari telunjuk nya pada perut buncit Noemi sekilas. Lalu ia jauhkan bersamaan dengan tawa kecil.
Noemi yang gemas ikut tertawa kecil bersama Yohan. Malaikat kecil yang beberapa hari ini sering menemani dirinya di rumah. Karena Riska dan anggota keluarga yang lain sibuk dengan urusan di luar. Dam Noemi hanya di suruh diam di rumah sebagai ratu.
+++++++
+++++++++++
Hari ini Nathan sengaja mengambil kerja di rumah hanya untuk menemani istri keluar. Noemi sangat ingin sekali kuliner walaupun sebenarnya ia ingin kulinernya di Indonesia. Tapi karena perut buncit dan kesehatan nya yang tidak boleh terlalu capek.
Walau sebenarnya ada pesawat pribadi. Dan Noemi bisa mengunakan itu. Tapi ia memilih jalan dan kuliner di sini saja. Lagian keinginan juga sudah di kabulkan oleh Riska yang kemarin membuatkan bakso.
Dress biru motif bunga-bunga Noemi kenakan. Berjalan-jalan santai beriringan dengan Nathan.
"Beli apa dulu ya?".Tanyanya entah pada siapa.
"Emang mau apa dulu?".
"Ummm."Berhenti sejenak fokus Noemi melihat ke seberang jalan sana,"Toko itu."
"Ramen?".
"Ehm."Berpaling ke arah belakang tempat nya berhenti,"Sebelum itu aku mau beli ini."
"Es krim?".
"Mas."
"Baiklah."
"Aku tunggu duduk di situ ya."Menunjuk bangku tralis besi di bawah pohon pinggir jalan.
"Baiklah duduk saja jangan kemana-mana."
"Iya, iya."
Nathan belum masuk ke dalam toko es krim untuk membeli kam es krim pesanan istir nya. Dan Noemi duduk seorang diri di kursi tralis besi ini melihat lalu lalang pejalan kaki yang melewatinya.
Ting......,*Jangan lupa mampir ke toko bunga."Notifikasi chat misterius yang masuk ke dalam ponsel Nathan.
Ssstt...Brakk...... Mendengar benturan keras Nathan langsung berlari keluar toko meninggalkan pesanan nya.
"Noemi."Ujar Nathan melihat truk pengantar barang menabrak kursi panjang tempat Noemi duduk tadi.
Nathan segera berlari mendekat, mencari keberadaan istirnya. Manik mata yang sudah memarah berair. lututnya tiba-tiba melemah tertekuk di sana, tangannya meraih tubuh berlumuran darah di depannya. Menarik ke dalam pelukannya,"Noemi."Batin Nathan yang tidak dapat berucap sepatah kata pun. Melihat tubuh berlumuran darah istri nya.
Mobil pengangkut barang yang rinsek menandakan betapa kerasnya benturan tabrakan.
"Nathan."Riska yang langsung berjalam cepat mendekati tubuh lemah adiknya. Menariknya ke dalam pelukannya.
Nathan terdiam di sana tanpa mengatakan sepatah kata pun. Walaupun pelukan hangat ini ia dapatkan.
Riska mengelus Surai rambut kepala Nathan,"Menangis lah keluar sakitnya."Tanpa suara isak tangis Nathan mengeluarkan buih bening nya. Mengalir deras tanpa ia suruh.
Di lorong rumah sakit ini adalah saksi betapa Nathan sangat tidak ingin kembali lagi ke sini.
Next.....
Keesokan harinya. Dengan sesuai keinginan Nathan. Peti jenazah Noemi dan putranya yang belum lahir di bawah tebang ke Indonesia. Nathan memutuskan untuk mengebumikan istrinya di samping makam ayah dan bunda nya di Indonesia.
Semua teman-teman dekat Nathan di Indonesia ikut menghadiri pemakaman tidak terkecuali Jovan. Sayangnya Riska tidak ikut serta hadir karena ia tidak bisa meninggalkan Yohan terlalu lama di kala ia juga tidak pernah menyewa Beby sister untuk Yohan.
Ezawa yang selalu menemani Nathan sepanjang acara pemakaman sampai selesai.
Semua pelayat telah kembali ke kediaman nya masing-masing menyisahkan Jovan dan Ezawa.
"Ayo kembali, masih ada waktu lain untuk kembali berkunjung."Ajak Jovan.
"Seharusnya bukan Noemi seharusnya aku yang jadi sasaran."Nathan terlihat menyalah dirinya sendiri atas apa yang menimpa istri nya.
"Yang tejadi biarlah tejadi, biarkan mereka pergi dengan tenang. Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan mereka akan ikut sedih jika melihatnya."Kata Jovan,"Seingatku kau bilang seperti itu."
Nathan mendongak melihat senyum hangatnya sahabat nya. Langkah beratnya akhirnya melangkah pergi dari sana. Meninggalkan pemakaman kedua orang tersayang nya. Bukan!Tapi keempat orang tersayang nya.
++++++
+++++++++++
Semenjak kejadian itu. Sikap dingin Nathan kembali lagi. Ia hanya tersenyum di depan orang-orang tertentu. Dan itu sangat jarang sekali ia perlihatkan.
"Om."Panggil Yohan dalam gendongan Ezawa. Yohan menujuk Nathan yang sudah bersiap berangkat kerja.
Tanpa di suruh pun Nathan langsung mengambil alih menggendong Yohan,"Om."
Tersenyum hangat,"Yohan mau di belikan apa?".
"Ayahh Undah dan Om Teten."Ucap Yohan fokus melihat Nathan.
Riska mendekat mengambil alih menggendong Yohan,"Ayo pamitan Om mau berangkat kerja."