
Indonesia
Pukul. 15.49 Sore
Selasa
Gedung rumah sakit Sakti Bakti .Rumah sakit terbesar kedua di kota S. Rumah sakit ini lebih terkenal dari pada rumah sakit tempat Nathan pernah di rawat inap .Rumah Sakit Tulip biru .
Keduanya sama-sama canggih dan profesional dalam menangani pasien nya .Namun Rumah sakit Sakti Bakti jauh lebih lama berdiri dari pada rumah sakit Tulip biru. Membuat banyak orang jauh lebih nyaman dan percaya dengan perawatan rumah sakit Sakti Bakti . Walaupun tata letak Rumah Sakit ini lumayan jauh dari pusat kota .
Next...
Tanpa Yudha sadari .Asta sudah siuman dari efek obat penenang yang dokter tadi suntikkan ,ia jauh lebih tenang dari yang tadi .Walaupun saat ini tubuhnya masih terikat rapat oleh sabuk tempat tidur pesakitan tempat Asta terbaring .
Asta kembali berucap tanpa melihat lawan bicaranya."Gue sudah berbicara kasar sama lu .Lantas untuk apa lu tetap disini .Bukankah sudah jelas jika gue sangat membenci mu ."Ucapnya .
Yudha melepas genggaman tangannya dari tangan Asta yang mengepal .Ia tersenyum tipis .Sangat tipis ."Gue tidak tau .Yang jelas gue ingin tetap di sini ngerawat lu sampai sembuh."
Tidak ada jawaban dari Asta yang memilih terdiam. Ia lebih memilih mengalihkan perhatian pada tirai tebal kamar rawat nya yang tertutup rapat.
Mengikuti arah perhatian atensi mata Asta."Di luar dingin jadi gue tutup tirai nya."Basa basi Yudha .
"Bagaimana keadaan bunda?".
"Bunda?". Sedikit loading. Namun Yudha segera menyadari nya ."Tante Nini masih di ruang khusus IGD .Beliau masih belum bisa di jenguk siapapun."Yudha lebih memilih berkata jujur kepada Asta tentang kondisi sebenarnya Nini yang semakin hari semakin memburuk.
Hening sesaat."Sejak kapan kamu mengonsumsi obat-obatan itu?".Tanya Yudha dengan nada suara tenang.
Tidak ada balasan dari Asta yang masih memperhatikan tirai yang menutupi jendela kamar rawat inap nya.
"Gue tidak mau operasi. Jangan pernah mengurus apapun....Hidup atau mati pun semua sama saja bagi ku ."Pelakkk..... Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Asta .
Yudha .Bukan Yudha pelakunya. Karena pemuda ini masih terdiam terpaku di tempatnya.
Asta yang sampai menengok paksa .Mulai berlahan-lahan mengalihkan perhatian ke arah pelaku yang menamparnya.
"Jaga ucapan mu Asta .Nini berjuang mati-matian untuk merawat mu .Dan ini balasan kamu sama Nini .Kamu tidak ingin merawatnya .Kamu tidak ingin membalas budi baiknya sebagai seorang ibu yang baik ,mau merawat kamu sampai dewasa ."
"Kamu boleh membenci kandung mu yang tidak becus merawat mu .Kamu boleh membenci ibu .Tapi jangan pernah katakan untuk menyerah nak ."Dania .Ibu kandung Asta .Yang berarti ia adalah ibu kandung Yudha.
Tangis yang Dania tahan sejak tadi .Akhirnya pecah .Ia menangis tersedu-sedu di depan Asta .Yudha beranjak dari tempat duduknya ,ia elus lembut lengan payah ini ."Ibu..kenapa ibu disini .Ibu dud.....". Memotong ucapan Yudha yang mempersilakan ibunya untuk duduk di kursi tadi ."...Maafkan ibu Asta...kamu jangan pergi lagi ya...Kalau kamu tidak mau bertemu dengan ibu .Ibu akan wujudkan itu ,tapi jangan katakan itu lagi .Ibu tidak bisa melihat kamu benar-benar.....".
Menarik nafasnya untuk mengurangi rasa sesak di ulu hatinya."Kamu harus sembuh Nak....Ibu yakin kamu pasti sembuh. Dan ibu akan mengabulkan permintaan kamu. Ibu akan pergi jauh, sejauh mungkin. Ibu tidak akan berusaha untuk menemui lagi ."
Tanpa perlawanan. Dania genggaman tangan Asta .Tangan yang awalnya mengepal kuat ini berlahan mulai merenggang .Dania sudah duduk di kursi kecil yang tadi Yudha duduki."Ibu akan merawat kamu dengan baik sampai kamu sembuh."Dania sedikit menurunkan perhatian nya untuk mencium punggung tangan Asta.
Baik tangan ataupun tubuh Asta tidak bisa di gerakkan dengan baik karena sabuk pengikat ini .
Suasana sudah jauh lebih tenang. Yudha juga sudah keluar ruang rawat inap. Karena ajakan dari sang ayah .
Faktur sengaja melakukan itu. Agar Dania bisa mengobrol dengan baik oleh Asta yang sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dari sosok seorang ibu .
"Kamu sudah makan?".Tanya lebut Dania yang tidak ada respon apapun dari Asta .
Tidak mendapatkan respon dari Asta .Dania ,ibu berhati lembut ini kembali berkata."Tiga Minggu setelah kepergian mu .Bram masih mengizinkan ibu melihat mu ,menjenguk mu .Namun hari semakin hari .Bram selalu membuat banyak alasan agar ibu tidak bisa menemui mu ."
"Di usia kamu yang ke lima tahun. Ibu nekat memaksa menemui mu .Tanpa sepengatahuan ayah mu ataupun Bram......Ibu berhasil masuk ke dalam rumah Bram .Ibu melihat kamu tengah bermain dengan Arga di ruang keluarga .Tapi...Bram yang mengetahui kehadiran ibu justru meneriaki ibu maling .Ibu melihat kamu memperhatikan ibu dari kejauhan. Waktu itu ibu sangat berharap kamu berlari memeluk ibu...."Menjedah ucapannya".....Namun orang-orang itu menarik paksa ibu keluar rumah ,mereka bahkan membawa ibu ke kantor polisi waktu itu."
"Ibu menginap semalam di kantor polisi. Yudha Abang mu langsung jatuh sakit waktu itu. Tapi keesokkan harinya ibu sudah di bebaskan. Sejak saat itu ayah mu mewanti-wanti ibu untuk tidak ikut mencampur usahanya untuk menarik mu kembali pulang ke rumah. Ibu mengiyakan nya ,ibu hanya fokus merawat Abang mu ."
"Semakin kamu tumbuh dewasa .Begitu juga Abang mu .Saat mengetahui kamu satu sekolah dengan nya .Abang mu sering menunjukkan beberapa foto aktivitas mu saat di sekolah kepada ibu .Ibu sangat senang walaupun itu hanya sekedar foto .Ibu tetap seneng, sangat senang karena setiap harinya ibu bisa melihat senyum mu dari foto itu ."
Asta tetap tenang ,terdiam membisu. Tidak membalas apapun perkataan ibu nya .
"Ibu selalu berdoa agar anak-anak ibu selalu sehat-sehat semua dan limpahkan banyak kebahagiaan. Begitu dengan kamu .Ibu akan selalu berdoa agar Asta panjang umur dan selalu mendapatkan banyak kebahagiaan. Karena sejak kematian Arga ibu tidak pernah melihat kamu tersenyum kembali."
Hening sesaat.
Dania bangkit dari tempat duduknya. Ia membenahi selimut yang menutupi tubuh Asta .Sebelum ia kembali duduk di kursi tadi."Sekarang kamu tidur yang nyenyak .Besok ibu bawakan bubur yang enak untuk Asta ."
Masih setia di sana .Mengelus lembut punggung tangan Asta sampai pemuda ini benar-benar tertidur lelap.
++++++
Pukul 22.29 Malam
Hampir setengah sebelas malam .Namun Nathan masih strong terjaga .Sesaat yang lalu ,ia baru saja mengakhiri obrolan telfonnya dengan Yudha di seberang sana. Dan sampai sekarang ia belum memejamkan matanya sama sekali.
Sampai suara ketukan pintu dari luar pintu kamarnya .Membuat atensi Nathan terfokus pada pintu kamar yang tertutup rapat.
"Dik kamu sudah tidur?".Suara Riska dari luar kamar.
Mendengar itu Nathan segera menyahut."Belum .Kak Riska masuk saja ."
Pintu kamar Nathan belahan terbuka. Riska melangkahkan kakinya masuk masih dengan penampilan yang sama seperti tadi sore .Terlihat jelas jika Riska baru pulang kerja .
Riska dudukkan pantat nya di atas tempat tidur ini."Maaf soal tadi siang ."
"Hem.....kenapa kak Riska minta maaf kan yang salah Nathan .Tidak seharusnya saya membuat kak Riska khawatir seperti tadi .Kak Riska pasti takut sekali tadi ."Nathan yang menyadari kecerobohan nya .
"Lain kali jangan melakukan kesalahan yang sama. Kakak tidak melarang kamu membantu orang lain. Tapi kamu juga harus ingat dengan keselamatan diri kamu sendiri. Ingat ada keluarga yang selalu mengkhawatirkan....,"Menjedah ucapannya,"...Besok kak Riska akan terbang ke AS."
"Harus besok?".Nathan sedikit tidak suka akan kepergian kakaknya.
"Seharusnya kemarin malam .Tapi kakak tunda ,mau tidak mau besok siang kak Riska terbang ke AS."
"Umm."
Mencoba mencairkan suasana ini ."Kamu pernah cerita ketemu ayah dan bunda .Bagaimana ceritanya kakak ingin dengar .Kakak tidak pernah mimpi ketemu dengan mereka .Tidak adil ."Riska Memayungkan bibir kesal .
"Mungkin ayah dan bunda kesal sama kak Riska yang selalu meninggalkan putra tamvan nya ini sendirian."Nathan tidak kalah bertingkah kekanak-kanakan nya .
"Lah kakak yang salah ."
"Ehmm...". Hening sesaat."Bunda berpesan kak Riska kalau makan jangan pilih-pilih makanan .Jangan telat makan .Jangan bekerja terlalu keras ,jaga kesehatan dengan baik ."
Kedua manik mata Riska tidak bisa berbohong atas kerinduan terbesarnya dengan kehadiran kedua orang tuanya."Terus pesan untuk kamu."
"Eh belum selesai. Bunda juga berpesan kak Riska jangan galak-galak jadi perempuan."
Tersenyum jahil ."Paling juga itu kata kamu ,dik."
"Tidak."
"Yasudah istirahat sana .Jangan tidur malam-malam."Riska beranjak dari tempat duduknya."Satu lagi .Besok kamu jangan keluar rumah sendirian. Kalau mau kemana-mana ajak Panji bersama mu .Jangan sendirian."Riska menekankan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
"Merepotkan."Memayungkan bibir seperti biasa.
"Ho! Merepotkan?Kamu yang memulainya, ikut terlibat dalam kasus ini .Jika kamu tidak ikut-ikut mungkin kamu akan bebas ."Riska sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Ehmm....kak."
"Hem."
"Jangan pergi dulu masih banyak pertanyaan yang sangat ingin saya tanyakan."
"Baiklah."Riska kembali duduk di tempat nya semula untuk mendengarkan celometakan pertanyaan-pertanyaan yang adiknya lontarkan untuk nya .