
Begitu juga Kenji. Pemuda dingin ini memasang ekspresi datar menatap malas kelompok ini.
Memberi abah-abah agar kelompok membuka jalan, untuk menampakkan pemuda tertelungkup tak berdaya di atas tumpukan salju.
"Ryo."Seru Kenji mencengkram kuat telapak tangannya.
Iya, pemuda tak berdaya itu adalah Ryo. Dengan beberapa luka lebam di wajahnya. Ryo sudah tertelungkup pinggang di sana. Kedua kelopak mata kedua pemuda ini sudah dalam keadaan terpejam.
Nathan mengibas-ngibaskan tangannya. Untuk mengatur pemanasan otot-otot tangannya .Kretekk...kretekk....Suara otot-otot berinteraksi Nathan. Maju satu langkah di depan Kenji."Lu sanggup, Ken?".Tanya Nathan tanpa berpaling pada lawan bicaranya.
Kenji tersenyum miring."Tentu, mari hancur mereka."
Nathan menyungging senyum sinis."Aaaaa....".Teriak Nathan berlari secepat mungkin kearah gerombolan pemuda-pemuda didepannya.
Jika di lihat dari jumlah. Jumlah gerombolan ini lebih dari 30 orang. Ha! Lebih dari 30 orang melawan vs dua orang .Entah berakhir bagaimana nasib kedua pemuda ini, nanti.
Karena jumlah yang tidak seimbang, membuat Nathan dan Kenji menjadi kewalahan.
Pukul saling pukul ia mereka berdua lakukan, untuk melindungi diri dari kelompok ini.
"HAH! KALIAN!".Suara lantang Hiroyuki membuat atensi mereka yang tengah berkelahi terhenti.
Dengan langkah santai, tatapan dingin. Hiroyuki bejalan mendekati sang pembuat ulah, Noritaka.
Kini kedua sudah saling berhadap-hadapan."Hemm.... ketua Hiryojin. Ketua yang katanya kuat, dan cerdik. Saking cerdiknya ,dia sampai kecolongan satu rekannya."
"TUTUP MULUT MU!!!".Plak......Satu dengan memutar kaki Hiroyuki berhasil mendarat tepat di pipi mulus Noritaka.
Noritaka tersungkur. Namun ia lekas bangkit kembali, ia hapus bekas kotoran di pipi memerahnya. Sembaring tersenyum tipis miring.
Plak.....plak....plak....."Senang rasanya bisa bertemu langsung dengan ketua Hiryojin."Sebuah suara muncul dari belakang kerumunan ini.
Kerumunan ini terbuka memberi jalan. Berjalan diantara kerumunan ini dengan santai dan tatapan datar.
Genki Yamada menatap sinis Hiroyuki yang terlihat sangat marah."Sayangnya gue tidak tertarik dengan tahta kekuatan lu."Ucap Genki. Ia berpaling menatap Nathan yang masih terdiam di seberang sana."....Gue lebih tertarik dengan lu."
Nathan yang mendengar itu langsung memperlihatkan wajah julid nya."Oh!! weeww, lu ngomong apa, bangs**at!".Sewotnya .
"Gue ingin lu bertarung melawan gue, sekarang."
"Dame!".
"...... buang-buang tenang, dan merepotkan sekali kalau gue harus berkelahi tidak jelas dengan lu."Nathan berucap dengan tegasnya.
"Oh!".
".....lu lupa sana dia."Genki menunjuk kearah Ryo yang sudah terkapar pucat di sana.
Nathan mengeratkan tangannya."Oky gue mau, tapi biarkan salah satu teman gue membawa Ryo pergi dari sini."
"Kalau tidak?".
"Jika tidak, lihat apa yang akan gue lakukan."Nathan menatap membunuh kearah Genki yang jelas-jelas lebih tua darinya .
Genki terdiam sejenak."Oky, tapi lu harus bertarung melawan gue sendirian. Tidak ada satupun dari teman lu yang boleh membantu."
"Baik."Dalam hati berucap."Merepotkan anjing."
"Ken, lu bawa Ryo ke rumah sakit. Biar gue saja yang di sini."Kata Hiroyuki.
Kenji mengangguk ringan, namun perhatian masih terfokus menatap punggung lebar Nathan. Ia berjalan mendekati Nathan menepuk pundak Nathan sekilas, sebelum ia berlalu.
Dengan di bantu oleh Hiroyuki. Kenji menaiki motor Hiroyuki, dengan Ryo yang duduk di bonceng belakang. Hiroyuki mengikat tubuh lemah Ryo pada Kenji agar tidak sampai terjatuh, ia mengikat Ryo dengan kemeja kota milik Hiroyuki. Agar Ryo selamat di bonceng sampai di rumah sakit .
Hiroyuki sudah memberikan kemejanya kepada Ryo. Kini pelindung tubuh dari hawa dingin hanya tinggal dua lapis. kaus dan Jaket.
"Ken, tolong Ryo. Gue serahkan keselamatan dia sama lu."Pesan Hiroyuki yang terlihat sangat berat sekali untuk tetap di sini sementara sahabat dalam keadaan seperti ini . Ia di tutut untuk tidak egois, karena selain keselamatan Ryo .Disini juga ada Nathan yang akan bertarung nyawa berkelahi dengan Genki Yamada.
"Iya, lu fokus saja sama yang di sini. Gue percaya lu adalah pemimpin yang berhak di akui sebagai ketua terkuat Hiryojin."
Hiroyuki hanya menggapai dengan anggukan ringan.
Kenji segera menyalah mesin motor milik Hiroyuki .Dengan kecepatan sedang ia segera melesat meninggalkan tempat ini .
++++++
Pukul. 22.41 Malam
Senin
Semakin malam suhu udara semakin dingin, beku rasanya. Hawa yang sangat dingin sangat menusuk kulit.
Namun gerombolan ini masih setia berada di tempat yang mengelilingi Nathan dan Genki yang ada di tengah-tengah mereka .
Dengan jarak yang tak terlalu jauh, Nathan kini sudah berdiri tepat di depan Genki lawan duelnya.
"Ingat, Nat. Sebisa mungkin lu menghindar darinya sampai beberapa jam, selama itu lu harus bertahan .Genki jago karate, orang yang jago karate memiliki kelemahan. Mereka sangat strong di awal dan akan lemah di akhir, jadi lu harus bertahan sampai beberapa jam lamanya. Dan dia akan berubah lemah di akhir-akhir. Gue tidak tahu kenapa, tapi dari gue tahu hampir semuanya orang jago karate seperti itu."
"Nani? beberapa jam itu berapa? Jangan sampai 10 jam lebih. Gue bisa mati beku disini."
"Sudah menjadi resiko."
"Aahhh...... Hiro gantikan gue ."
"Jika bisa, yang ini tidak bisa."
"Hemmm."
Ingatan Nathan sebelum di posisi sekarang."Emm...merepotkan."Batinnya.
"Jika lu kalah, maka terima konsekuensinya."Genki sengaja menjeda kalimatnya."......Kalau Hiryojin akan menjadi babu Monsutafaia selamanya."
"Sial."
"....Gue jadi ragu."Nathan kekeh kecil.
Mengambil ancang-ancang berlari ke arah Nathan."MATI LU!!".
"Aaaaahhhh.....".
Nathan berusaha menghadirkan pukul secepat kilat Genki. Kecepatan bergerak Genki hampir melampaui Nathan. Membuat Nathan sangat kewalahan.
Brukk.....Tubuh Nathan terhempas cukup jauh."Aarr......".Erangnya menahan sakit.
"Nathan."Seru Hiroyuki berekspresi sangat panik sendiri. Bahkan tangannya terus mengepal kuat sembaring tadi. Nathan yang berkelahi, tapi dirinya yang tegang .
Nathan segera bangkit kembali. Ia genggam dada nya terasa sedikit nyeri. Tidak ingin terlalu lama terdiam. Nathan kembali menyerang, kali ia lebih serius dari di awal.
Semua pemuda yang menonton ini di buat tegang bukan main dengan aksi dua pemuda ini.
Plakk.....Nathan memukul kuat wajah Genki .Bruk.....Menangkis serangan Genki .
+++
Sementara di sini tejadi ketegangan. Di lain tempat justru tejadi kepanikan, khawatir bercampur menjadi satu.
Kenji, ia tengah mondar-mandir di depan ruang IGD yang masih tertutup rapat sejak tadi."Yare ,yare ,yare, jangan buat gue cemas Ryo."Gumam Kenji .
Selang beberapa waktu kemudian."Permisi."Ucap seorang dokter organ dalam yang baru saja keluar dari ruang IGD tempat Ryo di rawat.
*Hakuma Zu, nama dokter pria spesialis organ dalam ini.*
Kenji langsung antusias."Gimana keadaan sahabat saya? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada luka dalam kan? Gimana, dok. Jangan diam saja?".
Dokter memperlihatkan senyum tipisnya."Dia baik-baik saja, tapi terlambat sedikit saja. Mungkin kamu akan kehilangan sahabat kamu untuk selamanya."
"Yokatta, Ryo."Batin Kenji bernafas lega .
"Apakah sebelum ini sahabat kamu memiliki penyakit serius?".Tanya Dr. Zu . Membuat Kenji kembali serius."... Penyakit dalam!?".
"Iya, dari pemeriksaan keseluruhan tadi. Ada kelainan di sistem pernafasan sahabat kamu .Sepertinya sahabat kamu memiliki penyakit pernafasan."
Kenji yang baru ingat sesuatu."Iya, kemarin dia bilang kepada kami kalau dirinya memiliki asma."
"Pantas."
"Tapi semua baik-baik saja kan, dok?".
"Semua baik, kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap."Kata dokter. Zu."....Tolong hubungi salah satu keluarga dekatnya untuk mengurus asuransi pembayaran."
"Baik."
Dokter itu berlalu pergi, meninggalkan Ryo tetap di dalam bersama beberapa perawat.
Osaka
Sudah hampir jam 11 malam. Namun Ryo masih setia memejamkan matanya. Memang kata dokter tadi, Ryo akan pingsan sampai pagi. Dan baru akan siuman besok .
Kenji masih setia terduduk di kursi kecil dekat brankar Kenji berbaring. Cukup lama ia sendirian di sini, karena kedua orang tua Ryo belum kunjung datang menjenguk anaknya.
Iya, saat Kenji menelfon ayah Ryo. Kenji langsung saja di beri nomer rekening untuk pembayaran semua perawatan anaknya. Ayah Ryo juga berpesan kepada Kenji untuk menjaga putra nya sampai dirinya datang ke sana.
Namun sampai sekarang baik ayah ataupun ibu Ryo belum kunjung datang. Alhasil Kenji hanya bisa tetap terdiam di sini. Walaupun ia duduk tenang, tapi tidak dengan isi pikirannya. Pikiran Kenji masih memikirkan banyak hal, teruma soal Nathan dan Hiroyuki yang ia tinggalkan cuma berdua di sana.
Kenji membawa ponsel, tapi ponsel miliknya sangat tidak membantu di situasi seperti ini .Karena selepas menelfon ayah Ryo, baru saja ia ingin menelfon Benji. Ponsel miliknya keburu mati ,mati daya karena baterai ponsel nya habis .Membuat posisinya sangat kacau kali ini.
+++
Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat .Luka memar dan sobek sudah tergores di wajah Nathan. Pemuda yang berpenampilan kacau, kaus abu-abu yang sudah ada bercak darah segar. Tepat di dada depannya.
Nathan berdiri sendiri membungkuk untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah."Sial!".Meludah darah sembarangan.
Bersiap menyerang lawannya yang sudah sangat lelah."Sedikit lagi, be**go."Batin teriak Nathan berlari secepat mungkin, sebelum mengambil ancang-ancang melompat setinggi mungkin.
Plak.....Genki langsung terpental jauh .
Setelah melakukan segera itu, Nathan ikut tersungkur ke tumpukan salju ini. Dengan sisa tenaga nya, Nathan berusaha bangkit kembali.
Nathan tatap sinis Genki yang terkapar penuh belas darah di bajunya. Genki bangun untuk duduk dengan sisi tenaganya yang sudah terkuras habis."Gue harap bisa bertarung melawan lu ,lagi."Genki yang masih sempat-sempatnya menawarkan pertarungan kembali. Dengan keadaan yang sudah tidak terlihat baik-baik saja.
"Ogk, cukup sampai sini. Lu sudah kalah, sesuai perjanjian semua batal."
"..... Sekarang keinginan gue, jangan ada anggota Monsutafaia yang menganggu anggota Hiryojin."
Bangkit dari tempat."Gomen, soal itu gue tidak bisa jamin. Karena gue bukan lagi anggota resmi Monsutafaia."
"NANI!?".Ujar Nathan .
Dengen ekspresi santai dan tenang."Gue balik ,terima kasih senang-senang nya."Genki berjalan menjauh dengan langkah tertatih-tatih nya .
Nathan berbalik malas melihat Hiroyuki yang berdiri tidak jauh darinya. Tersenyum masam, sebelum dirinya tumbang tidak sadarkan diri.
+++++++
+++++++++++++
Osaka
Pukul. 09.10 siang
Sejak kejadian tadi malam. Sampai sekarang Nathan masih setia memejamkan matanya di atas tempat tidur miliknya.
Raut wajahnya terlihat sangat damai. Walaupun beberapa luka memar dan goresan, karena perkelahian semalam masih ada di sana. Bisa di bilang wajah damai ini penuh dengan plester luka yang Kenji pasang untuk menutupi luka sobek di beberapa bagian wajah Nathan.
Dan karena terlalu lelah merawat Nathan semalaman. Kini di posisi badan sedikit tidur tertekuk. Bantal perut rata Nathan, Kenji tidur lelap merangkul pinggang Nathan .
++++
Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat .Hampir sama dengan Nathan dan Kenji .Hiroyuki juga masih terlelap dalam balutan selimut hangatnya dengan pakaian yang sama seperti semalam.
Hiroyuki sampai di rumah apartemen nya pukul 12 malam. Karena semalam ia harus membantu Kenji merawat luka-luka Nathan. Setelah selesai itu ia baru pulang ke rumah membuat dirinya sampai di kediaman tengah malam .
Kenichi yang tengah duduk di depan televisi yang menyalah."Onii-chan tidak bangun?".Tanyanya kepada sang ibu.
"Biarkan Onii-chan istirahat."
"....... Kenichi pergi sana, bantu Onii-chan Kazuo membantu Obaa-chan."Suruh ibu Hiroyuki.
"Ehm."Kenichi mengangguk ringan lalu bangkit dari tempat duduknya.
++++++++++
Masih di jam yang sama. Dan belaian tempat kembali. Lebih tempatnya, berganti ke tempat Ryo yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
Sudah sejak tadi pagi, Ryo sudah siuman dari pingsannya. Akan tetapi tubuhnya sangat lemah untuk di gerakan. Bahkan setelah infus pernafasannya di lepas, dada langsung nyeri juga sesak untuk bernafas, dan tenggorokan nya yang terasa sangat kering. Alhasil Ryo hanya berbaring di atas brankar pesakitan tanpa melakukan apapun. Karena mengeratkan tubuh ataupun berucap sangatlah sulit untuknya.
*Wakatobi Sakai, nama ayah Ryo. Takanori Emma ,nama ibu Ryo. Ryo bukan anak tunggal di keluarga ini. Ryo memiliki saudari perempuan, putri kecil kesayangan Ryo. Adik perempuan nya yang masih berusia empat tahun.
Lebih dalam mengenal keluarga Ryo. Ryo bukan anak sulung di keluarga ini. Ia adalah putra kedua keluarga ini. Ryo memiliki kakak laki-laki yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.*
Ryo masih di tempat yang sama. Di atas brankar pesakitan yang sedikit di buat ke atas, agar Ryo bisa di posisi sedikit terduduk.
"Ryo makan ya, dari tadi siang kamu belum makan apapun, nak."Suara berat milik sang ayah .
Beruntung ayah Ryo seorang pengusaha, membuat ayahnya tidak sulit jika ingin mengambil cuti kerja .Dan kebetulan juga, hari ini libur musim dingin. Membuat ayah Ryo memiliki banyak waktu untuk putra keduanya yang kink tengah sakit.
Ryo masih bergeming dalam posisi awal. Maniknya terus menatap jendela kaca kamar rawat inap nya yang tertutup rapat .
Wakatobi mengelus lembut pucuk kepala putranya."Makan Ryo, kamu mau meninggalkan Otuo-san seperti Onii-chan."Wakatobi tertunduk lesung. Ia mencoba untuk tetap tegar di depan putra keduanya ini.
Entah sejak kapan Ryo melihat ayahnya, yang jelas saat ini ia sudah terfokus menatap dalam ayahnya."Otou-san tidak kerja?".
Wakatobi mendongak menatap manik hitam Ryo."Tidak. Sekarang libur awal musim dingin, Ryo."
Tekek kecil."Hehhe....iya, Ryo lupa."
"Makan ya, Otou-san suapi?".
"Tidak, saya bisa makan sendiri."
Wakatobi beranjak dari tempat duduknya untuk mendorong meja makan ini mendekat pada brankar pesakitan putranya.
Sementara ayahnya mengambilkan dirinya makanan, Ryo dengan sisa tenaga nya berusaha untuk bangun dan duduk dengan baik.
Ryo mulai memakan makanan yang tersedia di atas meja di depannya. Sedangkan ayahnya masih setia duduk di kursi kecil dekat brankar pesakitan Ryo.
"Kemarin malam, kamu mau pergi kemana?".Wakatobi mencoba membawa putranya kepada obrolan santai.
Tidak ada balasan dari Ryo.".....Jawab santai saja ,Otou-san tidak akan marah."
Masih fokus yang sama."Saya hanya keluar jalan-jalan."
"Hemm......Yokatta, Kenji segera membawa kamu ke rumah sakit."Wakatobi membuat nafas lembut nya.
Ragu-ragu Ryo bertanya."Ap-apa Kenji seorang diri yang membawa saya ke sini?".
"Iya, dia pinjam motor milik Hiroyuki."Balas Wakatobi mencoba tetap tenang, agar anaknya mau berkata dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
"Otou-san tahu?".Ryo menatap dalam manik mata pria setengah paru baya ini.
Menatap penuh pertanyaan."Ehem!?".Wakatobi menggeleng, bersikap seolah belum mengetahui apapun .
Ryo sedikit menundukkan pandangan nya."Kemarin malam memang saya jalan-jalan untuk pergi ke tempat kerja....".Ryo menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas panjang."......Akan tetapi tiba-tiba ada sekelompok pemuda Monsutafaia menyerang saya. Setelah berkelahi cukup lama, saya kalah .Dada saya terasa sangat sesak, sulit sekali untuk bernafas. Yang akhirnya membuat saya kalah ,dan pingsan di sana."
"Tapi sebelum saya kehilangan kesadaran, saya melihat Kenji bersama dengan Nathan datang ketempat itu."Kata Ryo cepat.
"Nathan? Siapa dia?".
"Nathan teman baru, Ryo. Nathan satu kelas dengan Hiroyuki dan Kenji."Jelas Ryo .
"Ehmm, Otou-san sudah tahu semuanya. Kenji sudah ceritakan semuanya tadi malam."Wakatobi memperlihatkan senyum hangatnya.
Tertunduk lesung."Otou-san tidak marah?".
"Maunya iya, tapi lebih baik ditunda."Wakatobi yang terkekeh kecil di akhir kalimat.".....Sebenarnya Otou-san ingin kamu berhenti berkelahi, saya ingin kamu fokus menjaga kesehatan kamu. Tetap berteman dengan mereka, boleh saja. Asal jangan pernah ikut-ikutan berkelahi-berkelahi lagi."
Menatap hangat putra yang tertunduk lesung."Dokter bilang Ryo harus cukup istirahat ,jaga pola makan, olahraga dengan baik ,dan yang terpenting. Ryo tidak boleh terlalu capek."
"Aahh.....".Ryo membuang nafasnya dengan kasar .Ia sangat tidak suka di posisi yang bukan sifat sebenarnya, dari dirinya sendiri. Di paksa ada di posisi ia harus tetap berjalan tenang, sementara yang lain lari-lari kencang. Yang seharusnya ia berlari kencang, dan temannya yang berjalan tenang .
"Bisakah, Ryo?". Wakatobi menatap dalam kedua manik mata ini.
Ryo menggeleng ringan."Ryo tidak bisa janji ,Otuo-san."
Terdengar hembusan nafas kasar dari Wakatobi.
"Permisi."Suara kecil imut terdengar. Membuat atensi keduanya berpaling melihat sang sumber suara lucu itu.
"Mirai-chan."Saru Ryo memperlihatkan wajah sumringah senang memilih kedatangan sang putri kecil kesayangannya .
"Onii-chan."Mirai langsung berlari kecil mendekati brankar tidur milik kakak.
*Wakanori Mirai, atau Mirai .Putri kecil kesayangannya Ryo. Mirai adalah adik perempuan yang paling Ryo sayangi .
Mirai adalah gadis kecil titipan pesan terakhir dari Abangnya. Almh Wakatobi Azuma .