
Pemuda berjaket biru bercelana panjang berwana hitam mempercepat langkahnya ,kaki jengkalnya masuk ke dalam gedung rumah sakit .
Setibanya di lantai 15 di mana kamar rawat kakaknya berada .Nathan langsung membuka paksa pintu kamar rawat kakaknya.
Satu dokter laki-laki sedang menangani Riska yang mulai mengejang kesakitan ,yang di bantu dengan satu perawat di sana .
Paman Baek Dae-Hyun berdiri tidak terlalu jauh dari sana ,ia yang menyadari kedatangan Nathan .Langsung berpaling ,memperlihat mimik wajah seduh .
Nathan hanya melihat pamannya sekilas ,kini manik hitam lekatnya terfokus dengan wanita memejam damai didepannya .
Pemuda itu mencengkram kuat kedua telapak tangannya. Hatinya sangat sakit ,alat pendeteksi denyut jantung didepannya mulai melemah .Dokter itu semakin fokus menangani keadaan pasiennya .
Hati pemuda itu semakin teriris .Bukan!Bukan teriris lagi ,tapi seakan sudah berhenti terasa sangat sesak sekarang .Manik hitam lekat pemuda itu membulat sempurna .Dokter di depannya juga sudah berhenti bekerja.
Di hari itu dunianya terasa sangat gelap gulita. Dengan langkah bergetar ,pemuda ini berjalan mendekati ranjang tempat kakaknya berbaring. Air matanya sudah tidak terkendali lagi ,berlian cair ini mengalir dengan dengan deras membasahi pipinya .Tangan yang bergetar nya merangkul tubuh tidak bernyawa kakaknya .
Senyum manis Riska tidak akan pernah Nathan lihat lagi. Omelan-omelan cempreng kakak nya tidak akan pernah Nathan dengar lagi. Wajah cantik ini kini sudah memucat terpejam damai.
Tangis Nathan semakin pecah ."Kak ,kak Riska bangun ,kak ."
".....kakak jangan tinggalkan Nathan ,kak."Tangisnya histeris .
"Maafkan kami tuan ,kami sudah berusaha semampu kami ."Ucap Dokter pria itu yang masih berdiri di belakang Nathan menunduk seduh .
Nathan justru menatap tajam ke arah dokter itu .Ia tarik kerah baju dokter pria itu ."TOLONG SEMBUHKAN KAKAK SAYA, DOK. KAKAK SAYA MASIH BISA Sembuh ."Ucapnya dengan nada suara sedikit merendah di akhir kalimat.
Pama Baek Dae-Hyun segera merangkul bahu Nathan ke dalam pelukannya ."Tuan muda yang tabah. Tuan muda ikhlas kepergian Kakak."Air matanya yang ikut mengalir tanpa ia suruh .
Nathan menangis histeris dalam pelukan pamannya ,ia tidak peduli dengan pandangan mereka tentangannya saat ini. Yang jelas saat ini dirinya benar-benar sangat kacau ,hatinya sangat sakit. Ia membuatkan pelukan ini untuk menumpahkan semua tangisnya .
Nathan kembali berpaling melihat kakaknya yang sudah tidak mengenakan alat-alat rumah sakit ,seluruh tubuhnya juga akan ditutup selimut oleh perawat tadi .Akan tetapi Nathan segera menepis selimut itu ."APA YANG KAU LAKUKAN?Kakak saya tidak meninggal .kenapa kau lakukan ini?".Bentaknya menatap tajam ke perawat tadi .
Perawat itu hanya menunduk ia tidak ingin membalas tatapan pemuda didepannya. la mengalah karna sadar pemuda didepannya emosinya sedang tidak stabil karna kepergian keluarga saat ini.
"Tuan muda ,biarkan mereka membawa nona."Kata pama Baek Dae-Hyun mengusap punggung Nathan .
"Tidak paman ,nanti keadaan kak Riska akan semakin memburuk jika di bawa keluar ,paman."Tatapannya yang sangat memohon kepada pamannya .
"Nona sudah meninggal, tuan muda ."Jelas Paman Baek Dae-Hyun dengan suara tenang dan tatapan tenangnya membalas tatapan pemuda didepannya .
Perawat itu menutup kembali seluruh tubuh Riska dengan selimut ,lalu mulai mendorong brankar pesakitan itu keluar kamar rawat.
Nathan semakin histeris, ia cengkram kuat brankar tempat tubuh tidak bernyawa kakaknya berbaring. Dengan tatapan memohon kepada semua orang di sana untuk tidak membawa kakaknya pergi .
Paman Baek Dae-Hyun segera melepas paksa cengkram tangan Nathan dari brankar ."Tuan muda tenang kan diri anda ."Ucapnya yang di hiraukan oleh Nathan yang masih di posisi sama .
Nathan benar-benar kacau, ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia benar-benar sedih sekarang ,ia tidak ingin ini terjadi ,hatinya sesak ,sakit sekali. Sampai dirinya meracau dengan nada bicaranya tinggi."KUMOHON JANGAN BAWA KAKAK SAYA ,KAKAK SAYA AKAN BANGUN ,KAKAK SAYA TIDAK AKAN MENINGGALKAN SAYA SEPERTI INI ,KAKAK SAYA HANYA ......"
"TUAN MUDA STOP!". Bentak Paman Baek Dae-Hyun yang mulai kesal dengan perilaku tidak terkendali Nathan .
Ia pegang wajah Nathan ,ia bawa tatapan pemuda didepannya ke dalam tatapan hangatnya ."Tenang tuan muda. Tuan muda harus mengikhlaskan nona pergi ."Kata paman Dae-Hyun.
Nathan sedikit lebih tenaga ,ia berpaling melihat ke ambang pintu ,brankar kakaknya yang mulai tidak terlihat dari pandangnya.Tangisnya kembali pecah ,kini ia tertunduk tertelungkup ke lantai rumah sakit.
Paman Baek Dae-Hyun yang ada di sana hanya bisa mengelus lembut tengkuk punggung Nathan dengan menahan buih air putihnya agar tidak keluar .
"KAK ,KAK RISKA!!". Tariknya mengeluarkan semua kesedihannya .
Brugk.......
Suara tubuh pemuda yang terjatuh cukup keras dari atas tempat tidur.
"Ah!".Rintihan pemuda yang masih mengenakan piyama abu-abu .
Ia buka berlahan-lahan matanya ,ia lihat sekeliling kamarnya dengan tangan kanan yang mengelus lembut rambut kepalanya ."KAK RISKA!".Serunya langsung bangkit .
Nathan raih ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidurnya,ia cari nama kakaknya di sana .Setelah menemukannya ,ia langsung nekan nomer itu .
Lama menunggu panggilan telfon tersambung ,sampai akhirnya .
Tersambung.
*Kak Riska!".
*Kak Riska baik-baik saja?Kak Riska sedang sakit?Kak Riska tidak terlukakan?Kak Riska sedang tidak ada masalah apa-apa kan?Benar kan?".
Tanya beruntun Nathan di dalam panggilan telfon kepada kakaknya. Tanpa membiarkan sedikit waktu untuk kakak nya membalas pertanyaan lebih dulu.
*Kamu ini kenapa ,dik?".
Balas Riska di seberang sana ,heran .
*Nathan tadi...."Ucapnya yang terhenti di seberang sana .
*Kenapa?".
*Tidak-tidak, bukan apa-apa ."
*Kak Riska beneran tidak papakan ?".
Nathan yang masih teringat-ingat dengan mimpinya .
*Saya baik-baik, dik .Kamu ini kenapa?Kenapa tiba-tiba kayak orang panik sekali gini ."
*Mimpi buruk ya."
Riska di seberang sana yang mulai sedikit khawatir dengan adiknya .
*Hehe, tidak papa kak ."
Nathan yang justru membalas dengan terkekeh pelan di seberang sana .
*Sudah makan, dik?".
*Ehm ,belum .Saya baru bangun. "
*Kak!".Serunya kepada kakaknya di seberang sana .
*Iya ,kenapa dik?".
*Kak Riska tidak akan pernah meninggalkan Nathan sendirian disini kan?".
*Hhh ,kamu ini kenapa?Ya jelas tidak dik ,kamu kan adik jelek kesayangan kakak satu-satunya."
Balas Riska di seberang sana dengan terkekeh kecil .
*Kak Riska! Nathan serius ."
*Tidak dik ,yasudah sana mandi terus makan.Jangan sampai sakit ,jaga kesehatan .Oky!".
*Hem ."
*Kak!".Serunya kembali kepada kakaknya di seberang sana .
*Kenapa?".
*Kalau seandainya Nathan tiba-tiba ingin telfon kak Riska. Bolehkan Nathan langsung telfon?".
*Boleh ,kamu telfon saja ."
*Tidak mengganggu pekerjaan kakak kan?".
*Kalau untuk kamu ,tidak ada kata mengganggu .Masak iya telfon dari adik sendiri di abaikan ."
*Makasih, kak."
*Yasudah sana makan ."
*Kak Riska juga makan ,jaga sampai sakit."
*Kakak sudah makan dari tadi ,sekarang kak sedang di taman menanam di kebun belakang rumah ."
*Kak Riska tidak kerja ?".
*Kan libur, jadi waktu kakak sedikit longgar ."
*Oh iya lupa ."
*Yasudah ya kak ,nanti Nathan telfon lagi ."
*Iya ."
Ulang pertanyaan yang sama Nathan kepada kakaknya di seberang sana .
*Hem ,saya beneran baik-baik saja ,dik .Kamu habis kenapa sih?".Kesal Riska di seberang sana.
*Tidak-tidak ,yasudah kak .See you ."
*See you too ."
Panggilan di akhir oleh Nathan .
Selesai menutup telfon ,Nathan langsung merentangkan tubuhnya di atas tempat tidur."Aarrrgg ,syukurlah cuma mimpi ."Ujar Nathan menatap langit-langit kamarnya dengan bernafas lega ,walaupun masih terselip rasa takut di sana .
Pemuda yang masih berpakaian piyama abu-abu bercelana pendek itu beranjak turun dari atas tempat tidur .Ia melangkah kecil masuk ke dalam kamar mandi .
Sesaat kemudian Nathan yang sudah mandi dan berganti baju ,beranjak turun ke lantai bawah untuk pergi ker dapur .
++++++++
Sementara itu di lain tempat .
Kenji yang masih setia tidur terlentang di atas tempat tidur ,menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya .
"Ken!".Panggil ayahnya yang sudah berdiri di ambang pintu masuk kamarnya .
Kenji tidak menjawab ia masih setia dengan lamunannya ." Ken bangun ,cepat turun .Ayo makan bersama ."Ajak Ayah Kenji.
"Saya mandi dulu ,nanti akan menyusul."Balasnya tanpa berpaling melihat ayahnya.
"Baiklah cepat ."Yoshi ayah Kenji yang langsung berlalu pergi meninggalkan kamar putra tunggalnya .
Dengan malas Kenji segera beranjak dari tempat tidurnya .Ia segera pergi turun untuk pergi ke kamar mandi .
Selang beberapa waktu kemudian ,ia berjalan kecil ke meja makan yang sudah di tunggu ayahnya di sana .
Kenji mendudukkan pantatnya di atas kursi dekat meja makan tanpa menyapa ayahnya terlebih dahulu.
"Makan, Ken."Yoshi yang mulai menyantap makanan di depannya .
Kenji membalas mengangguk ringan ,dengan mulai sedikit demi sedikit memakan makanan di depannya .
"Setelah ini kamu ke rumah Nathan, bisa?".Tanya Yoshi kepada putranya .
Hening ,Kenji hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan ayahnya .Selera makannya langsung menghilang. Ia taruh makanannya yang belum habis itu."Saya sudah ada janji dengan teman-teman. "Ucapnya beranjak dari tempat duduk .
"Teman siapa?".
"Bukan urusan ayah ." Balasnya tanpa berpaling menatap ayahnya .
"Tunggu, Ken." Panggil Yoshi .
"Kamu ini kenapa ,Ken?". Sambung beranjak mendekati putranya .
Kenji langsung berpaling menatap ayahnya."Ayah yang kenapa? Seharunya Kenji yang tanya sama ayah ,kenapa ayah membantu dia .Anak yang keluarga sudah membuat ibu meninggal, AYAH!! ."Dengan nada suara sedikit meninggi
"......Ayah mikir tidak ,ayah itu membantu orang yang jelas-jelas telah membunuh ibu. MEMBANTU MUSUH AYAH SENDIRI."Lanjutnya semakin membentak ayahnya diakhir kalimat.
Yoshi hanya terdiam mematung, manik hitam lekatnya terfokus kepada putranya .
"Saya bisa menerima kepergian ibu ,tapi saya tidak bisa menerima jika ayah membantu dia."Ucap Kenji langsung beranjak pergi dari sana ,meninggalkan ayahnya yang masih terdiam .
Kenji berjalan kecil keluar rumah ,ia berjalan menjauh dari rumahnya .Meninggalkan ayahnya yang sendirian di rumah .
+++++++++
Selesai makan. Nathan ingin menghubungi paman Yoshi untuk meminta tolong mengantarnya berbelanja kebutuhan rumah. Akan tetapi ,ia mengurungkan niatnya .Nathan memilih untuk berangkat belanja sendiri dengan mengendarai sepeda Polygon Sierra Lite warna hitam peninggalan neneknya yang ia lihat di dalam garasi mobil.
Ia yang sudah membersihkannya. Kini ia ayunkan medal sepeda itu dengan kecepatan sedang melaju di jalanan perumahan ,ia sedikit keluar jauh untuk pergi belanja kebutuhan rumah sekalian untuk berjalan-jalan menikmati hari minggu .
++++++++++++
++++++++
Seoul
09.35 ,menjelang siang .
Hari ini ,hari minggu .Jadi Riska memiliki banyak waktu luang untuk beristirahat ,sekalian ia juga ingin beristirahat sejenak melupakan kejadian penembak kemarin .
Kini Riska yang sibuk merawat tanaman yang tiba-tiba aktifitasnya terhenti dengan nada dering ponselnya yang tergeletak di atas meja yang tidak terlalu jauh darinya .
Ternyata ia mendapatkan telfon dari adiknya ,adiknya yang terlihat sangat khawatir kepada keadaannya di seberang sana .
Riska sedikit heran ,juga sedikit khawatir jika adiknya juga memiliki ikatan batin dengannya .Mungkin adiknya ikut cemas karna ia baru saja mengalami kejadian buruk kemarin .Walaupun begitu ,Riska tetap menjawab semua pertanyaan adiknya dengan tenang .Ia tidak ingin membuat adiknya khawatir dengan keadaannya .
Dan walaupun tidak berkata sejujurnya, ia bersyukur adiknya percaya dengan jawabannya .
Sekarang Riska yang sudah selesai berkebun segera mencuci tangan dan kakinya sampai bersih .Selesai dengan itu ,ia berjalan kecil memasuki rumahnya .Ia masuk ke dalam dapur ,ia ambil segelas air putih untuk ia teguk.
"Permisi noona".Sapa bi Yun .
"Ada apa, bi?". Fokusnya menaruh gelas tadi ke atas wastafel untuk mencucinya .
"Nanti malam nona mau di buatkan makanan apa?".
Menaruh gelas tadi pada tempatnya."Terserah bibi. Apapun makanan yang bi Yun masak, saya akan makan ."Balas Riska menyungging senyum tipisnya .
Beranjak pergi ."Saya naik dulu, bi ."Pamitnya berlalu pergi meninggalkan dapur .
Bi Yun membungkuk sekilas dengan menyungging senyum tipisnya ."Saya suka dengan Noona Riska .Benar kata Kang Yong-See ,noona Riska sangat baik sama seperti ibunya ."Gumam bi Yun setelah kepergian Riska dari sana .
Di dalam kamarnya ,ia ambil laptop miliknya yang ada di atas meja kerjanya. Riska buka layar laptopnya untuk ia nyalakan .Untuknya mengerjakan pekerjaan kantornya .
Tangan mungil dengan lincah berlarian ke sana kemarin mengetik ,menggeser ,dan menulis apa yang seharusnya ia salin .
Sungguh terlihat sempurna sekali .Wajah yang cantik ,senyum yang manis dengan memperlihatkan his dimple ,otak yang pinter ,diri yang berani ,dan juga tegas .Sungguh wanita yang sangat sempurna .Wanita yang sangat tangguh .
Cukup lama manik hitam lekatnya terfokus kepada layar laptop ,sampai suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya .
Tok......tok.....
"Masuk." Suruhnya masih terduduk di meja kerjanya .
Bi Yun masuk dengan membawakan jus buah jambu untuk Riska ."Di minum nona ,agar lebih semangat kerjanya ."
"Ehm ,terimakasih bi."Menyungging senyum tipisnya.
Bi Yun mengangguk ringan ."Saya permisi dulu."Pamitnya berlalu pergi membawa nampan yang ia bawa tadi .
Riska hanya membalas dengan anggukan ringan .Sembaring terus fokus dengan layar laptopnya .
+++++++++++
++++++++
Osaka
10.30 ,siang .
Selesai membeli barang kebutuhan rumah .Pemuda berjaket biru bercelana panjang itu melangkah keluar supermarket dengan dua kantung belanjaan kain berukuran sedikit besar ,ia bawa di kedua tangannya.
Ia taruh kantung belanjaan yang sedikit berat di dalam ranjang sepeda ,dan yang ringan ia gantung di setir kiri .
"Syukurlah, tadi saya bawa kantung belanja sendiri ." Batinnya beranjak naik ke atas sepeda .
Nathan kembali mengayun medal sepedanya dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran sepeda halaman depan supermarket ,pusat pembelanjaan.
Ia mengendarai sepeda dengan nikmat kembali suasana daerah yang sangat damai di sana. Walaupun di sana banyak orang-orang yang tetap sibuk di hari minggu ,banyak orang-orang pejalan kaki yang berlalu lalang di trotoar jalan .Dan hanya sedikit mobil yang berlalu lalang di jalan raya.
Nathan mempercepat mengayun medal sepedanya ,sampai tiba di atas jembatan yang tidak terlalu besar ,jalan lain untuk masuk kedalam perusahaan elit .
Di tengah jembatan sungai itu. Nathan memperlambat laju sepedanya .Ia berhenti sejenak ,manik hijau lekatnya terfokus kepada pemuda berkemeja biru dengan kancing yang tidak tercantum membuat kaus hitamnya terlihat yang terduduk melamun di kursi panjang dekat sungai .
Alhasil ,Nathan mengayun sepedanya kembali .Ia bawa sepeda itu menyeberangi jembatan ,lalu ia berbelok ke kiri untuk mendekati pemuda berkemeja hijau yang sedang melamun itu .
"Kenchii." Seru Nathan yang sudah menghentikan sepedanya di dekat kursi panjang dimana Koya Kenji yang masih terduduk .
Nathan beranjak turun dari atas sepeda ,ia parkirkan sepeda itu di sana ."Kenapa duduk sendiri disini?".
Tanya Nathan yang sama sekali tidak di perduli dengan Kenji yang masih fokus menatap aliran sungai didepannya ,yang airnya bergerak dengan tenang .