My Salvador

My Salvador
Eps.247



Setibanya di rumah sakit. Jovan beranjak turun lebih dulu, baru ia menurunkan dua penumpang nya. Yang duduk di Baby Car Seat kursi tengah penumpang mobil.


Jovan menurunkan Yohan terlebih dahulu, baru ia susul dengan Iyan. Selepas mengunci pintu mobil kembali. Jovan yang mengendong Ian dan membawa tas tempat makan, ia juga mengandeng pergelangan tangan Yohan.


"Om."Panggil Yohan yang berjalan beriringan dengan Jovan.


"Om Nathan sakit?".Tanya Yohan yang di balas dengan diamnya Jovan.


"Iya karena dia jarang makan, makanannya kemarin om bujuk kamu untuk makan."Jovan kembali mengatakan kata-kata berbohong nya.


"Umm."


Sesampainya lobi rumah sakit. Jovan langsung di sambut oleh Kenji menunggu di kursi panjang lobi rumah sakit.


Kenji mengambil alih menggendong Ian. Yang di susul dengan Jovan yang juga memberikan tas yang berisi bekal makanan untuk Kenji.


Jovan beralih mengendong Yohan karena perjalan ke kamar rawat Nathan menaiki Liv rumah sakit.


"Ayah."Seru Ian pada Kenji.


Tersadar dari lamunannya,"Tadi mama masak apa?".Kenji berjalan pergi ke kantin rumah sakit. Sembaring tetap mengendong Iyan.


Next.....


Sampai di depan pintu kamar rawat Nathan. Jovan membuka pintu kamar ini belahan. Sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam.


"Lama sekali, aku sudah menunggu sejak tadi."Nada bicara yang tidak asing untuk di terima gendang telinga membuat Jovan langsung terfokus pada ranjang pesakitan Nathan.


Yohan langsung meronta turun dari gendongan Jovan. Ia berlari kecil mendekati ranjang pesakitan Nathan. Sayangnya kaki Nathan yang cidra membuat masih sulit untuk bergerak.


Jovan baru ada di dekat ranjang pesakitan mengangkat tubuh Yohan membantu Yohan naik ke atas ranjang pesakitan Nathan.


Yohan yang sudah duduk di pangkuan Nathan,"Kenapa ayah dan bunda tidak bilang kalau om sakit ke Yohan. Om tau Yohan bebelapa hali, hari ini tidak bertemu ayah dan bunda. Yohan, Yohan di rawat ama Tante Kalisa dan Iyan."


Mendengarkan cerita Yohan atensi Nathan berpaling ke arah Jovan. Sementara yang di tatap langsung berpaling ke arah lain.


"Om."Panggil Yohan pada Nathan yang tidak merespon cerita nya.


Mengalihkan topik pembicaraan,"Yohan tadi sudah makan?".


"Om jangan mengalihkan topik pembicalaan."Yohan si jenius kecil dengan nada bicara lucu .


Nathan tertawa kecil,"Ayah dan bunda ada di mana Jov."


"Di tempat yang istimewa mewah."Timpal Jovan.


"Ko tidak ajak Yohan, ayah dan bunda udah tidak sayang Yohan."


Nathan hendak menimpalkan pertanyaan Yohan pada Jovan. Akan tetapi Jovan langsung lenyap secepat kilat dari hadapan Nathan. Yaitu pergi ke kamar mandi.


Fokus Nathan kembali pada Yohan,"Karena Ayah dan Bunda Yohan sayang pada Yohan lah mereka pergi tidak mengajak Yohan."


"Yohan di tinggal sendirian?".


"Tidak,"Menujuk hati Yohan,"Ayah dan Bunda selalu ada di sini, dan doa-doa perlindungan mereka berdua selalu ada bersama Yohan. Doa yang di kirim dari kejauhan tidak pernah gagal."


"Kalau gitu Yohan mau ikut ayah dan bunda biar doa nya dekat degan Yohan."


"Tidak boleh Yohan."Kata Nathan berusaha untuk tetap menutupi kematian orang tua Yohan dari Yohan,"Yohan harus tetap disini, kerena ayah bunda Yohan membutuhkan balasan doa-doa mereka."


"Balasan?".


"Yohan udah pernah sholat?."Yang di balas anggukan ringan dari Yohan,"Udah Ayah yang ajarin."


"Ayah bilang sesibuk apapun kita jangan pernah tinggalkan Sholat."


"Pernah sholat apa sama ayah?".


"Isak, subuh."


"Sholat sebenarnya ada berapa?".


Merentangkan lima jari kecilnya,"Lima. Subuh, duhur, ashar, Magrib, Isak."


"Nanti kita solat bersama."


"Kaki om bagaimana?".


"Masak tadi loh om tidak bisa bergerak."


"Lu jangan cari gara-gara Nat."Jovan yang baru kembali bergabung menatap datar Nathan.


"Hm."


Next....


Beberapa Minggu kemudian Nathan sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Walaupun ia masih membutuhkan satu tongkat bantu sebagai penjaga kesembilan tubuh saat berjalan.


"Om Nathan."Yohan berlari secepat mungkin ke arah Nathan. Meloncat ke dalam pelukan Nathan.


Sampai tubuhnya hampir terdorong ke belakang, akan tetapi ia tahan baik mungkin agar Yohan tidak sampai terluka.


"Akhir Yohan tidak sendirian."


Nathan yang sebenarnya sudah mengetahui kalau Ian sudah tidak tinggal di sini. Di karena Iyan sakit cacar dan Kalisa tidak ingin Yohan ikut tertular. Alhasil hanya Kenji yang setiap pagi datang untuk melihat Yohan dan membawakan sarapan pagi terkadang.


"Emang Iyan kemana?".


"Iyan sakit om."


"Yohan sudah makan siang?".


Menggeleng ringan,"Mau om buatkan makanan?".


"Om bisa masak?"


"Bisalah. Guru chef om tuh kak Riska."


"Bunda, iya deh Yohan pingin cicip."Di susul tawa kecil nya.


Semenjak kacau besar yang telah menimpa keluarga Salvador. Nathan berusaha semaksimal mungkin untuk mengganti dua peran sosok seorang yang sangat Yohan rindukan.


Kakek Mamoto yang sempat ikut drop di Jepang. Kini beliau yang sudah kembali sehat langsung kembali ke Korsel untuk membantu Nathan menjaga Yohan.


Hampir setiap hari Nathan di sibuk di kantor dan bisnis-bisnis kecil-kecil milik kakak perempuan nya dan kakak iparnya. Syukurlah selama ia koma di rumah sakit ada Jovan yang mengartikan sebagai posisinya di kantor untuk sementara..


Jovan sangat berjasa besar untuk Nathan. Karena selain membantu perusahaan tetap berjalan dengan normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Jovan juga ikut turun tangan langsung mengurus pemakaman Ezawa dan Riska.


Sadar apa yang akan di lakukan Nathan. Jika ada di posisi nya, Jovan memakamkan Ezawa dan Riska di pemakaman keluarga di Indonesia. Riska dan Ezawa di makamkan satu liang kubur dengan Ezawa, sama seperti kedua orang tuan Nathan.


Next....


Belum lama semua berangsur-angsur membaik. Kejadian yang tidak terduga kembali menimpa Nathan. Satu peristiwa yang akan Nathan ingat seumuran hidupnya. Peristiwa yang tidak akan pernah Nathan lupakan sampai kapan pun.


"Om beneran mau ke Jepang?".Yohan yang duduk di tepi tempat tidur Nathan sembaring memperhatikan Nathan yang sibuk menata beberapa perlengkapan yang akan ia bawa.


Beberapa menit ia mengabaikan Yohan. Nathan yang sudah selesai menutup rapat koper yang siap di bawa besok. Beranjak dari tempat nya berjongkok, berganti posisi jongkok di depan Yohan.


"Kalau Yohan ikut nanti Kakek sama siapa?Yohan tega meninggalkan Kakek sendirian di sini?".


"Ehem."Menggeleng ringan,"Tapi om cepat kembali iya jangan seperti bunda dan ayah."


"Iya, setelah pekerjaan om selesai om langsung pulang."


Menyodorkan jari kelingking nya,"Janji."Nathan mengalungkan jari kelingking tangan nya di jari kelingking kecil Yohan.


Berganti mengeluarkan surai rambut Yohan,"Dah sekarang lekas tidur. Yohan mau tidur di sini?".


Menggeleng ringan di barengi ingin beranjak turun. Melihat itu Nathan segera membantu Yohan untuk turun dari atas tempat tidur.


"Selamat malam om."Ucap Yohan melangkah pergi keluar kamar Nathan.


Kamar Yohan satu lantai dengan Nathan. Mempermudah Nathan untuk melihat Yohan atau datang ketika Yohan membutuhkan bantuan nya.


"Selamat malam."Balas lirih Nathan melihat kepergian Yohan.


Nathan berlalu keluar kamar untuk mastikan Yohan sudah benar-benar masuk ke dalam kamar nya. Selepas itu ia kembali ke kamarnya. Menutup pintu kamar tanpa menguncinya agar Yohan dapat masuk dengan mudah saat membutuhkan bantuan nya.


Sayangnya saat sampai di samping tempat tidur, Nathan justru berlutut duduk di lantai. Menekuk kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan yang menyilang.


"Maaf kak, tidak semudah itu untuk Yohan mengetahui yang sebenarnya. Maaf untuk saat ini biarkan aku berkata bohong."Batinnya berucap, batinnya yang lelah.