
Azuma adalah pemuda yang sangat menanti kehadiran Mirai saat itu. Karena ia pernah berucap ,atas keinginannya yang sangat ingin memiliki adik perempuan .Namun dirinya justru memiliki adik laki-laki, yaitu Ryo. Berbeda dengan Azuma ,abangnya Ryo. Ryo justru menjadi yang paling mengabaikan kelahiran Mirai. Waktu itu, Ryo masih sangat kecil .Ia sangat takut, jika adiknya lahir dirinya akan di abaikan."Saya tidak mau punya adik, nanti kalian tidak sayangi lagi sama Ryo".Ucap Ryo kecil.
Dulu kalimat itu membuat Bang Azuma tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa adiknya berpikir sampai situ. Akan tetapi sebuah musibah melunturkan kebahagiaan keluarga besar ini.
Di malam menjelang musim dingin, mobil yang di naiki bang Azuma mengalami kecelakaan hebat .Dalam kecelakaan itu, bang Azuma yang menyetir mobil seorang diri selamat. Akan tetapi dirinya mengalami koma tiga Minggu lamanya. Tidak sekedar koma, bang Azuma juga memiliki kerusakan serius pada organ hati nya. Membuat dirinya harus segera mendapatkan donor hati secepatnya.
Wakatobi sebagai kepala keluarga segera mengambil kesimpulan dan keputusan secepat mungkin. Bahwa dirinya yang akan menjadi pendorong hati untuk putra pertamanya. Belum juga operasi di lakukan. Bang Azuma sudah sadar dari komanya lebih dulu.
Entah karena ikatan batin yang kuat antara ayah dan anak atau apa. Saat semua keluarga ada di sisinya. Bang Azuma berucap dengan senyum renyah dalam ukiran bibir pucatnya.Tersimpan arti lain dari senyum menyakitkan yang ia perlihatkan .Bang Azuma mengangkat tangan kanannya yang berbalut plaster infus dengan susah payah, ia letakkan telapak tangan di atas dada kirinya."Sakit ."Ucapnya lirih .
Masih di posisi yang sama."Hati Azuma sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja. Azuma mohon kepada Otou-san, Okaa-san, jangan pernah melakukan donor apapun."Ucap lirih Azuma seakan sudah mengetahui semuanya. Membuat keluarganya terdiam mematung.
Nyonya Emma sudah tidak dapat membendung kesedihan lagi. Bui-bui bening itu mengalir sangat deras membasahi pipi mulus.
Wakatobi yang berada di sisi istrinya, merangkul pinggang istrinya agar sang istri dapat berusaha tetap terlihat tegar.
Disini Wakatobi juga sangat ingin sekali menangis sejadi-jadinya. Namun ia berusaha tetap tegar, ia tidak ingin keluarganya melihat sisi rapuh dalam dirinya.Teruma Azuma putra pertamanya .
Tubuh Azuma penuh dengan luka. Baik wajah ataupun kaki dan tangannya.Tidak hanya luka hati yang sakit, tapi fisik Azuma juga sangat sakit. Kaki kanan kiri yang mati rasa, tangan kiri yang patah ,wajah dan tubuh yang penuh luka memar dan goresan. Separah itukah kecelakaan mobil yang di alami Abang Ryo.
Tentu terbilang sangat parah, karena mobil yang di kendarai Bang Azuma sudah tidak bisa di sebut sebagai mobil. Mobilnya benar-benar dalam keadaan ringsek, rusak parah .
Lama keheningan itu terjadi, hanya suara tangis dari Nyonya Emma dan Ryo kecil saja yang terdengar.
Walaupun di awal Ryo sudah di perbolehkan masuk ruang steril ini. Ryo kecil tetap bersikukuh untuk memaksa masuk. Yang akhirnya, ia ikut mengenakan pakaian media kecil ditubuhnya untuk bisa masuk ke dalam ruang rawat kakak nya.
Suara Bang Azuma kembali terdengar."Jaga hati otouchan dan okaachan baik-baik, jangan berikan hati itu kepada Azuma. Walaupun Azuma melakukan donor hati sekalipun , Azuma tetap tidak bisa bertahan lama. Hati ......".
Memotong kalimat putranya."....Hentikan Azuma."
".....Kamu akan baik-baik saja, Otou-san akan pastikan kamu sembuh."Tegas Wakatobi.
Azuma memperlihatkan senyum manis. Manis yang terlihat sesak menahan tangis."Tidak ,Otou-san. Saya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tolong ikhlas Azuma Otou-san."
"*Berhenti!".Tegas nyonya Emma dalam nada suara bergetar menahan Isak tangis."Kamu mau ninggalin Okaa-san, kamu tidak sayang lagi saya Okaa-san."
Azuma terdiam ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat sang ibu bersedih. Ia menurunkan perhatian sebentar sembaring mengatur nafasnya berlahan*.
Berpaling melihat si kecil yang terus saja menangis."Ryo."
Ryo mendongak dengan wajah yang sudah basah akan air matanya .Bahkan Isak tangis anak ini sangat terdengar jelas.
"Abang titip putri kecil kita. Maaf, Abang tidak bisa menemani kamu menjaganya. Abang serahkan keselamatan putri kecil kesayangan kita sama kamu. Abang percaya kamu akan tumbuh menjadi pemuda yang sangat kuat melebihi Abang ."
".......Ryo mau kan janji sama Abang."Mulut Ryo terbungkam dengan Isak tangisnya. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala cepatnya .Sembaring ia genggam lengan tangan abangnya yang dingin .
Azuma bergantian menatap seluruh keluarga."Azuma wa tsukarete imasu. Azuma wa yasumu koto ga dekimasu ka? ".
( Azuma lelah. Bolehkah Azuma istirahat? )
Rasa sesak sangat terasa, hati serasa tertancap parang berukuran besar menusuk dalam di sana .Wakatobi menghembuskan nafas beratnya. Setetes bui kecil keluar dari sisi matanya."Hai ,azuma wa yasumu koto ga dekimasu."Suara berat Wakatobi yang bergetar menahan tangis.
( Iya, Azuma boleh istirahat.)
Belahan-lahan Azuma tutup kembali kedua kelopak matanya. Raut wajah damai sangat memenengkan ia perlihatkan. Namun kali ini ia memejamkan matanya tidak untuk beberapa detik ,menit ,jam ,hari, melainkan ia memejam untuk selamanya. Karena bersamaan dengan itu ,suara monitor yang sembaring tadi berirama indah ,kini sudah tidak berirama. Tali lurus, hanya tali lurus yang terlihat di layar monitor itu. Suara nyaring melengking menusuk gendang telinga terdengar sangat jelas.
Wakatobi secepat kilat menekan tombol di atas brankar pesakitan putranya. Ia masih tetap merangkul pinggang istrinya yang semakin melemah. Karena posisi Nyonya Emma saat itu tengah mengandung enam bulan, mengandung seorang adik yang sangat Azuma tunggu-tunggu kehadirannya .
Dokter juga beberapa perawat langsung berlari masuk ke dalam ruangan ini. Dokter ini langsung mengambil tindakan cepat.
Memasang denyut jantung dengan berharap keajaiban bisa datang .Berkali-kali Dokter ini mencoba hasilnya tetap nihil di akhir. Garis lurus ,suara melengking ini tetap terdengar sama .Tidak ada suara irama ,ataupun garis irama lagi yang terlihat di layar monitor pendeteksi denyut jantung Azuma.
Senin, 22-09-2011 .Wakatobi Azuma menutup usia nya, di umur ke 21 tahun .
"ONII-CHAN, ONII-SAN, BANGUN , ONII-CHAN. RYO JANJI TIDAK AKAN MINTA YANG ANEH-ANEH LAGI, RYO JANJI TIDAK AKAN NAKAL LAGI, RYO AKAN RAJIN BELAJAR ,ONII-CHAN BANGUN.....HIKS....HIKS .......ONII-CHAN BAIK-BAIK SAJA KAN?ONII-CHAN CUMA TIDUR SAJA KAN?".Ryo menangis sejadi-jadinya. Ia terus bertanya-tanya kepada seorang perawat yang menjaga dirinya saat itu.
Sementara nyonya Emma. Jangan di tanya lagi soal keadaannya, karena setelah itu ia langsung tidak sadarkan diri .
Wakatobi segera menggendong tubuh istrinya ke ruangan lain untuk segera mendapatkan perawatan. Wajah cemas terlihat jelas dari raut wajah pria ini. Cemas akan keadaan istrinya ,anaknya yang belum lahir, duka yang belum usai......Ya, hari itu. Tidak ada habisnya musibah yang menimpa keluarga ini.
Karena saat Wakatobi menemani istinya yang tengah di tangani dokter kandungan. Wakatobi mendapat kabar buruk lagi, kabar soal keadaan putra keduanya.
Ryo, Takanori Ryo sedang dalam keadaan keriting di ruang IGD. Karena tiba-tiba saja Ryo mengalami kesulitan bernafas. Sampai tidak sadarkan diri.
"Putra anda mengalami kesulitan bernafas. Dari pemeriksaan dokter, putra anda memiliki penyakit asma."Jelas perawat ini .
Wakatobi langsung terdiam, mulutnya membisu. Ia remas rambut kepala dengan kedua tangannya .Sembaring mengambil langkah mundur sampai tubuhnya membentur dinding di belakang.
Tangisnya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Bui bening melangsir deras membasahi pipinya. Ia menangis dalam diam .Dengan sesekali berucap."Kenapa menjadi seperti ini, Tuhan?".
"Tuan, anda baik-baik saja? Tuan."Panggil perawat ini, yang tidak mendapatkan respon sedikit pun dari Wakatobi.
"Permisi."Sebuah suara pria seusia Wakatobi mendekati dirinya yang masih tertelungkup di lorong rumah ini.
Pria ini menepuk bahu Wakatobi, sembaring berjongkok di depan nya."Tegakkan kepala mu ,Tobi. Ingatlah masih ada Emma dan Ryo yang harus kamu jaga ."Pria ini adalah Yoshi, ayah Kenji.
Ekspresi kacau, Wakatobi menatap dalam kedua manik hitam pria di depannya."Kenapa semua datang bersamaan? Ryo masih terlalu kecil, Yoshi."
"Ryo akan baik-baik saja, dia putra mu Tobi. Dia adalah pemuda yang kuat seperti kamu."Beranjak dari tempat nya jongkok .Yoshi mengulurkan tangannya."....Ayo berdiri, Tobi. Jangan lemah disini, kamu mau kehilangan lagi?".
Wakatobi terdiam sejenak, loading. Sebelum akhirnya ia menerima uluran tangan ini."Jaga istri mu, saya dan Kenji akan menjenguk Ryo dan mengurus pemakaman Azuma. Jika semua sudah usai, akan ku hubungi."
"Arigato, Yoshi."
Yoshi menepuk bahu sahabat sekilas, sebelum berlalu pergi dari sana .
Sejak kejadian itu, Wakatobi menjadi pria yang pekerja keras. Ia juga menjadi pria yang tegas, juga ramah dengan kedua anaknya .
Sementara Ryo, menjadi anak yang lebih dewasa lagi, di depan adiknya. Kalimat dewasa masih belum berlaku di depan sahabat-sahabat nya .Karena Ryo hanya akan terlihat seperti seorang pemuda dewasa, jika ada adik nya saja .Jika tidak tingkah kekanak-kanak, dan banyak tingkah nya akan muncul tidak karuan.*
Wakatobi melihat putri kecil nya, ia langsung menggendong putri kecil itu untuk naik ke pangkuan sang kakak.
Mirai yang sudah berada dalam pangkuan Ryo ,langsung memeluk erat pemuda yang masih berpakaian kemeja rumah sakit ini.
Dalam pelukan hangat sang adik, Ryo mengingat semua kejadian beberapa tahun yang lalu .Membuat dirinya hampir saja menitihkan air mata.
Seperti pepatah ikat batin sedarah pasti sangat lah kuat. Itu yang tengah di rasakan Wakatobi. Pria ini juga mengingat musibah bertubi-tubi yang menimpa keluarga beberapa tahun lalu.
Sampai tangan halus menepuk bahunya ."Mas ganti baju dulu sana, terus makan."Suara Nyonya Emma.
"Ho! Otou-san belum makan."
Mendengar suara itu. Wakatobi hanya terkekeh kecil."Otou-san bohong, katanya sudah makan."
"Bagiamana bisa makan, sejak tadi malam ayah kamu sudah ada disini menemani kamu. Semalam Okaa-san tidak bisa datang, karena salju turun lagi .Tidak mungkin untuk Oka-san meninggalkan....".Memotong kalimat yang belum terselesaikan ibunya ."....Oh!! jangan Okaa-san .Jangan pernah tinggalkan putri kecil ini sendirian."
Mengelus gemas pucuk kepala putranya."Kamu ini!! Makannya jangan sakit-sakit lagi, biar ada yang jaga Mirai ."
Memayungkan bibirnya."Tau Mirai ditinggal terus."Suara kesal Mirai kecil .
".....Pokoknya. Minggu besok Abang harus janji ,bakal ajak Mirai lihat pertandingan karate."
"Emang ada?".Sang kepala keluarga ikut menyahut.
"Ada, Otou-san. Minggu depan di gedung Sakamoto, ada pertandingan umum untuk semua kelas taekwondo luar negara Asia ."
"Benarkah!?Wahh pertandingan besar ini. Otou-san ikut boleh?".
Masih dalam pangkuan sang kakak."Boleh biar ramai."
"...... Okaa-san juga akan ikut?".
"Tidak-tidak, Oka-san tidak suka lihat gitu. Kasihan orang yang kalah."
"Yahhh....".Dengus Ryo .
"Okaa-san akan masak makan yang enak saja di rumah, jika kalian pulang bisa langsung makan enak-enak."
"Wweew.... Arigato, Okaa-san."Ryo menjadi yang paling girang di sini mengalahkan Mirai yang lebih muda darinya .
++++++++
Pukul. 11.10 Siang
Sayup-sayup Nathan membuka kelopak matanya .Dengan pandangan yang masih kabur ia lihat sekeliling nya ."Syukur, gue masih di rumah."Batinnya mencoba menggerakkan tubuhnya yang berat .
Seakan tubuhnya tengah tertindih karung beras berukuran besar. Nathan melirik kebawah sana ,tempat di mana barang berat itu terasa."Pantas."Ujarnya memutar bola mata malas.
Di bawah masih ada Kenji yang tidur merangkul pinggang. Tanpa rasa iba melihat wajah lelah Kenji ,Nathan langsung saja menepis kasar tubuh Kenji.
Dengan langkah sedikit sempoyongan."Waah.....indahnya dunia berputar."Gumamnya mencari pegangan sebelum tubuh tumbang .
Masih sedikit pusing setelah bersandar di dinding kamarnya. Nathan tetap melanjutkan langkahnya pelan dengan badan sempoyongan untuk bergegas masuk ke dalam kamar mandi .Walaupun sudah tidak memakai kaos dan jaket kotor semalam, tetap saja badan Nathan sangat lengket .Membuat nya ingin cepat-cepat mandi bebersih diri, agar tubuh lebih segar dan bersih.
Karena ulah Nathan tadi, Kenji menjadi terbangun dari mimpinya. Kenji terduduk dengan tatapan kosong untuk mengumpulkan nyawa yang masih berterbangan, sesekali ia juga menguap.
Belum cukup sadar Kenji beranjak dari atas tempat tidur . Kenji mendekati pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat secepat mungkin.
Mengetuk pintu kamar mandi. Tokk...Tok...."Nat lu di dalam?".Suara serak khas orang bangun tidur.
"Ha'a!".Saut Nathan sedikit berteriak.
"Hemm."Kenji kembali mendekati tempat tidur. Ia kembali duduk di sana. Oh! Bukan, Tapi Kenji tengah mengatur posisi tidurnya kembali.
Menyelimuti dirinya dengan selimut milik Nathan sampai menutupi seluruh tubuhnya. Kenji kembali memejamkan kedua matanya .
++++++
+++
Next...
Nathan yang sudah diam lebih awal karena fokusnya sudah melihat ke arah layar ponselnya yang menyalah .Sampai ia beranjak dari tempat duduknya ."Permisi ."Pamitnya berlalu pergi .
Terfokus melihat sang nenek ."Saya tidak bisa tidur di sini ,Obaa-chan .Saya harus kembali ke rumah sakit ,kata dokter kalau tidak besok pagi. Malam ini Okaa-san akan siuman ,karena tadi Okaa-san sudah menjalani perawatan pemulihan kembali."
"Syukur kalau keadaan Okaa-san sudah lebih baik."Kata Nenek Suki sedikit merasa lega keadaan ibu dari cucu-cucu sudah lebih baik ."...Nanti kalau sudah siuman kamu langsung telfon Obaa-chan, Hiroyuki." Lanjutnya .
"Iya, Obaa-chan ."
"Kamu juga jaga kesehatan ,nanti di sana istirahat lah .Jangan tidur larut malam ,tidak baik untuk kesehatan kamu ."Tutur kata nenek Suki.
"Iya , Obaa-chan."
Terfokus kepada kedua adik laki-laki yang sembaring tadi menyimak obrolan nya dengan neneknya ."Kalian jangan nakal ,terutama kamu Chi .Jangan merepotkan Kazuo-kun dan Nathan-kun ."Pesan Hiroyuki untuk si bungsu banyak-banyak .
"Iya , Onii-chan ."Balas Kenichi membuang nafas dengan kasar .
Beranjak dari tempat duduknya .Hiroyuki segera berpamitan dengan nenek dan kedua adiknya .Sebelum akhirnya ia berlalu pergi keluar dari rumah Nathan .
Sementara untuk di luar .Nathan tengah sibuk ngobrol di dalam sambungan telepon di seberang sana dengan kakak perempuan nya .
*Iya, iya, iya, kak. Saya tidak nakal di sini, saya juga tidak ikut-ikutan geng-geng atau gerombolan apapun. Lagian kalau iya ,Oji-san pasti langsung hubungi kak Riska dan memberitahu semuanya." Kata Nathan dalam panggilan telepon.
*Baiklah ,saya percaya dengan kata-kata kamu.Tapi lihat saja, jika kata-kata kamu tidak sesuai dengan Nyatanya." Wanti-wanti Riska di seberang sana .
*Hehehhe.....iya kakak .Tolong jangan galak-galak dengan adik sendiri ya, kak Riska cantik."
*Saya tidak galak, dik .Kakak hanya sedikit tegas dengan kamu ,karena di usia kamu ini adalah usia di mana kamu suka coba-coba melakukan hal-hal nyeleneh. "
*Hhh......ya tidak kak Riska .Kak Riska tahu kan kalau obat-obatan sekarang itu mahal-mahal ." Ucap enteng Nathan tertawa kecil.
Riska yang mendengar itu berdehem dingin .
*Jangan coba-coba, dik .Sampai saya tahu kamu pemakai ,saya pasti kepala kamu berpisah dengan tubuh mu ." Gertak tegas Riska .
Ucapan Riska membuat Nathan di seberang sini bergidik ngeri dengan keringat dingin yang sedikit keluar .
*Sudah sana istirahat. Kak Riska titip salam untuk nenek Suki ,semoga lekas sembuh ."
*Siap, Bu bos ."
Panggilan di akhir oleh Riska sepihak dari seberang sana .
Nathan mematikan layar ponselnya ,bersamaan dengan itu sebuah suara terdengar." One-chan yang telfon?".Tanya Hiroyuki yang sembaring tadi sudah berdiri di belakang tidak terlalu jauh dari Nathan .
Nathan berpaling ke arah sumber suara."Iya."
".....lu mau ke rumah sakit?".
"Iya."
Berjalan melewati Nathan ."Gue pergi dulu, besok pagi-pagi sekali gue kesini lagi .Gue akan antar kedua adik gue sekolah ,biar lu tidak terlambat sekolah."
Nathan yang sudah menatap punggung lebar Hiroyuki yang membelakangi nya ."Lu tidak sekolah lagi besok?".
Hiroyuki yang sudah duduk di atas motonya."Tidak dulu ,Nat .Gue mau fokus dengan pemulihan kesehatan Okaa-san dan Obaa-chan dulu ."Katanya .
Dengan mesin motor yang sudah menyalah."Tidak mungkin kan keluarga gue terus-menerus tinggal di sini ."Ucapnya tersenyum hangat .
"Hemm lu ."
".....Lu kan tahu kalau gue justru lebih suka kayak gini, tapi yasudah lah terserah lu ."Ucap Nathan .
Hiroyuki yang merepotkan dengan senyum hangatnya, sebelum ia tancap gas keluar dari halaman depan rumah Nathan.
Selepas kepergian Hiroyuki .Nathan segera menutup gerbang depan rumahnya ,sebelum ia kembali masuk ke dalam rumah.
Saat Nathan berjalan ke depan pintu depan rumah. Kazuo kecil tiba-tiba keluar dari sana membuat dirinya sedikit kaget .
"Kazuo! Astaga Onii-san kaget ."Ujar Nathan mengelus lembut dadanya .
Masih dengan ekspresi datar."Obaa-chan sudah istirahat di kamar."
"...Kata Obaa-chan ,Onii-san di suruh istirahat saja ."
Nathan mengelus lembut pucuk kepala Kazuo."Okh ,ayo masuk .Onii-san akan kunci pintu ini dulu ."
Nathan yang tengah mengunci pintu depan rumah nya ."Kenichi sudah naik?".
"Iya."
"Oh."Nathan yang kembali mengelus pucuk kepala Kazuo."Ayo naik ,dan istirahat."Ajak Nathan .
Keduanya berjalan beriringan naik ke lantai atas bersama-sama .Nathan yang berjalan di samping Kazuo ,berjalan dengan langkah sedikit pelan untuk menyamakan langkah kaki dengan Kazuo.
+++++
Sampai di lantai atas .Kazuo mengucapkan salam kepada Nathan sebelum dirinya masuk ke dalam bilik kamarnya .
Setelah melihat Kazuo sudah masuk ke dalam bilik kamarnya sendiri .Nathan pun segera beranjak masuk ke dalam kamar tidur nya sendiri .
Di dalam kamarnya sendiri .Nathan langsung mendekati meja belajar untuk melakukan kewajiban sebagai siswa sekolah .Apa lagi kalau tidak mengerjakan pr atau sekedar belajar untuk pelajaran besok .
Baru saja membuka buku benda pipih yang ia lempar sembarangan di atas tempat tidur tadi tiba-tiba berbunyi. Terlihat di sana ,jika sebuah panggilan telepon telah masuk ke dalam ponsel selulernya .
Dengan ekspresi malas Nathan mendekati benda pipih ini .Dalam genggaman, Nathan geser gagang telepon yang bergetar-getar ini .
Tersambung Videocall.
*Anjing itu bukan telfon, be**go." Ngegas Kevin di seberang sama dengan suara cempreng nya .
Nathan yang mendengar itu segera menjauhkan ponselnya dari telinga nya .Karena ia masih sayang dengan gendang telinga nya
Sembaring menata layar ponselnya tepat di depannya agar wajahnya dapat di lihat oleh Kevin di seberang sana .
*Corry ,Vin .Gue tidak fokus tadi ." Kata Nathan .
*Hemm."
*Ada apa telfon gue?Eh!Ada apa VC?".
Kevin memperlihatkan senyum kecutnya .Sementara Nathan sibuk kembali duduk di kursi belajarnya .
*Corry ,Vin .Tidak fokus lagi ." Nathan memperlihatkan senyum paksa nya .
*.....Jadi ada apa, Vin?".
*Lu kenapa? Dari tadi bilang tidak fokus-fokus .Tidak fokus kenapa?".
*Tidak ada apa-apa, Vin .Gue capek saja ,mau tidur tugas sekolah gue belum beres ."
*Oh ."
*Ada apa Videocall, Vin?".
"DIK ,MAKAN .DI TUNGGU AYAH ,IBU DI BAWAH."Suara lantang Lingga .Pria yang sudah berdiri tersandar di ambang pintu adiknya .
Ekspresi Kevin berubah malas ."Bang ,biasa tidak kecil volume suara mu. Adikmu tidak bud**eg seperti yang kau bayangkan."Ucap Kevin .
"Oh."
"Duluan sana, saya akan menyusul."Ngegas Kevin menatap datar abangnya.
"Vc sama siapa?".
"Kepo?".
Tanpa menunggu jawaban atau basa-basi lagi .Lingga langsung berjalan mendekati adiknya ,dan mengambil paksa ponsel dalam genggaman adiknya .
Melihat layar ponselnya.*Hallo ,Nat."
Nathan yang sudah menahan tawa sembaring tadi .Berucap dengan guritan manisnya .*Hoy ,bang .Apa kabarnya?".
Tidak memperdulikan adiknya yang berusaha mengambil ponselnya yang ada di atas sana .Iya, ukuran tinggi badan Lingga jauh dari tinggi badan Kevin Membuat Kevin sekarang kesulitan untuk merebut paksa kembali ponselnya .
*Baik, kalau ka..aaaaahhhh!!!"Lingga yang merintih kesakitan di kala kaki nya di injak paksa oleh sang adik .
Kevin yang melihat kesempatan bagus ,segera mengambil, merebut paksa ponselnya kembali ."KENAPA SIH ,BANG?Gangguan idup saya muluk .Apa karena kamu tinggi saya pendek, kamu seenaknya saja jahil saya. "Bentak Kevin yang kesal dengan sifat kakaknya .".....KELUAR-KELUAR SANA ,CARI PACAR ATAU ISTRI SANA .GANGGUAN DIA SEUMUR IDUP KAMU ,JANGAN GANGGUAN SAYA LAGI ."Kesalnya langsung nyelonong berjalan keluar kamarnya meninggalkan Lingga seorang diri .
Dengan berjalan sedikit tertatih .Lingga berjalan menyusul sang adik yang sudah meninggalkannya karena kesal dengan kejahilan nya ."Punya adik satu saja menyiksa ,sekali .Emang cari bini mudah apa ."Gumamnya .
+++
Nathan di seberang sana yang masih memperhatikan layar ponselnya yang masih tersambung dengan videocall. Yang kamera ponselnya hanya menangkap pergerakan kaki Kevin dam gambar-gambar tidak jelas di seberang sana .
Masih di posisi yang sama ."Hemm...Kevin lupa matikan vc nya. Dahlah gue lanjut belajar."Nathan menaruh ponsel sembarangan di samping tanpa mematikan layar ponselnya yang masih tersambung dengan layar ponselnya.
Walaupun kameranya hanya mendapatkan gambar gelap. Namun Nathan masih dapat mendengar suara obrolan di seberang sana .
Seperti sekarang .
"Jadi gimana sekolahnya ,Kevin ?".Suara berat seseorang pria setengah paru baya di seberang sana. Terdengar seperti suara ayah Kevin .
"Beres ,Yah."Nathan yang fokus menyantap menu makan malam nya .
'Kalau Abang ,kerjanya aman?".
"Aman ,Yah. Insakaallah lusa saya ada kerja keluar kota lagi untuk tiga bulanan ."
"Sekalian saja tidak perlu kembali ,bang ."
"Nasib punya adik laknat ."
".......Kalau Abang benar-benar pergi, kamu akan menjadi orang pertama yang paling menyesal ."
"Huss, bang .Jaga bicaranya."Lerai suara wanita .
"....Sudah diam lanjut makannya ,tidak boleh debat lagi ."
Oberolan berakhir ,tidak terdengar suara apapun lagi .Sampai beberapa menit lamanya berlalu .Kembali terdengar suara lagi .
"Langsung istirahat Kevin jangan bergadang."Pesan sang ayah .
"Okeh."Balas Kevin beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan okeh, okeh saja, Kevin ."Tangas sang ayah dengar sedikit meninggi kan nada bicaranya."....Kamu punya anemia, beberapa hari ini kamu sering merasa pusing kan. Jangan anggap ayah sibuk kerja terus tidak tahu kondisi kesehatan kamu ,Kevin .Ayah juga sering lihat kamu belum tidur ,padahal sudah jam 1 malam .Jam satu malam kamu masih belajar ,belajar apa ,Vin? Ayah memang senang melihat kamu pintar ,jagoan menguasai bidang akademik .Tapi ayah sangat tidak suka melihat kamu sakit .Ayah tidak mau salah satu putra ayah sakit ,karena terlalu memaksakan dirinya ."
"Jika kamu begitu terus ,ayah lebih suka punya anak bodoh tapi sehat dari pada pintar tapi sakit sakitan ."
"Ayah."
"Hemm."Dehem dingin sang kepala keluarga.
Nathan yang masih mendengar itu .Menyangga dagunya sembaring bergumam."Jadi gini ya rasa sakitnya iri sama kebahagiaan orang lain .Apa lagi sama harmonis nya keluarga yang lengkap."Tersenyum miring kecut .
"Bu, lihat ayah .Masak iya ayah suka anak bodoh."Merengek Kevin mengadu kepada sang ibu yang tengah sibuk menata piring kotor yang akan di bawa pembantu untuk di bawa ke dapur.
"Sana tidur ,Kevin .Benar kata ayah kamu ."Mengelus pucuk kepala putranya yang tengah merangkul pinggang dari belakang."Jaga kesehatan sayang, istirahat yang cukup jangan terlalu memaksakan diri melakukan apapun. Jadi orang apa adanya saja, buat apa juga jadi orang luar biasa hebat kalau memiliki keadaan kesehatan yang buruk."Kata Ibu Kevin .
*Kondisi ketika darah tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup.
Anemia yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merah atau sel darah merah yang tidak berfungsi di dalam tubuh. Ini menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh.
*Gejala
Membutuhkan diagnosis medis
Gejala dapat berupa kelelahan, kulit pucat, sesak napas, pusing, limbung, atau detak jantung cepat.
Di salah satu kursi duduk makan ."Gitu saja terus ,ingat masih ada satu lagi anaknya .Anak bukan satu tapi dua ."Gerutu Lingga seperti seorang anak kecil yang iri akan kasih sayang yang di berikan kedua orang tuanya.
Ayah Kevin tertawa kecil mendengar itu .Bagaimana tidak tertawa ,putra sulung sudah dewasa sekarang .Tapi tingkah seperti anak TK yang baru masuk sekolah .
"Yasudah sini, Abang mau di peluk juga ."
"Eh ,jangan Bu sesak. Badan bang Lingga besar banget .Nanti Kevin kejepit ,Bu ."
Kedua orang setengah paru baya ini tertawa kecil mendengar interaksi lucu kedua putranya. Yang selalu berebut mendapatkan kasih sayang lebih dari kedua orang tua ini .
"Sudah sana tidur .Lepas pelukannya, cepat tidur atau belajar sekarang biar tidak tidur larut malam ."
"Siap, Bu ."
"Malam, Yah ,Bu ,Bang...".Di akhir kalimat terdengar seperti suara tidak enak di dengar .
"Tuh Yah ,Bu .Adik laknat."Lingga yang bersikap seakan dirinya yang paling di nistain di sini.
"Abang juga istirahat sana ,jangan tidur malam-malam .Katanya besok mau berangkat ke bandara."
"Iya, Yah ."
Kevin tidak terlalu memperdulikan itu, ia segera mengambil ponselnya yang semenjak tadi tergeletak di atas meja makan .Ia genggam ponselnya, ia bawa berlalu pergi begitu saja meninggalkan ruang makan ini .
Sampai setiap di kamar .*VIN!!!!!".Teriak Nathan di seberang sana yang membuat Kevin kaget bukan makan . Dikarenakan seingat Nathan sedang tidak ada di Indonesia,tapi kenapa suaranya sampai kesini .
"Anjing siapa itu?".Kevin melihat sekeliling nya yang kosong .
*VC BE**GO ,MASIH NYALAH ." Ucap Nathan masih dengan nada suara meninggi di dalam panggilan Videocoll ini .
Kevin segera mengangkat layar ponselnya, ia hadapkan kamera depan ponselnya ke arah wajahnya .*Maaf, Nat .Gue lupa matikan."
*Hem ."
*Matikan saja ,Nat."
*Lu belum jelaskan tujuan lu telfon gue."
*Oh, besok saja Nat .Gue sudah lupa ."
*Ehmm....".
*Maaf ,Nat ."
*Iye ,malam bro ."
Nathan mengakhiri panggilan Videocoll ini sepihak.
Nathan mematikan data ponsel ,ia beranjak dari atas tempat duduknya .Nathan berjalan mendekati tempat tidur ,ia taruh ponselnya di atas meja kecil dekat tempat tidur nya .
Sebelum ia hempaskan tubuh lelahnya di atas kasur empuk ini .Dengan tubuh yang sudah tidur terlentang ,dan perhatian mata yang fokus melihat atap kamarnya . Langit-langit kamar yang terlihat membosankan untuk di perhatikan .
Dalam lamunan tatapan kosongnya .Dalam hati Nathan berucap ."Entah kenapa saya ingin sekali bertemu dengan ayah dan bunda."Menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas dalam."Sebentar saja ,atau beberapa menit saja .Saya hanya ingin merasakan kedekatan dengan kalian. Cukup beberapa menit saja, sudah sangat cukup, Yaallah. Bisakah keinginan kecil ini terkabul."
+++++++
+++++++++++
Dengan satu handuk yang melingkar di pinggang ,menutupi jantannya. Nathan keluar dari dalam kamar mandi. Nathan lihat-lihat beberapa pakaian yang terlipat rapi ,juga tergantung di depannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil kaos lengan panjang dan celana panjang training Adidas .
Selesai mengenakan pakaian. Nathan mengantuk handuk setengah basah ini di depan pintu lemari yang tertutup rapat. Perhatian Nathan sembaring tadi terfokus dengan kemeja putih yang tak terlipat rapi tergeletak begitu saja di atas kursi kecil di dalam ruang ganti ini.
"Benar-benar lu, Ken. Gue suruh gantung saja sulit benar. Kayak idup lu, ribet bener."Geram Nathan frustasi melihat betapa berantakan nya barang-barang milik Kenji di dalam ruang ganti ini .
Namun pada akhirnya. Dengan penuh kesabaran Nathan memilih membereskan ini dari ia harus stres melihat kacaunya ruangan ganti miliknya karena Kenji.
Nathan masukkan seragam sekolah Kenji menjadi satu dengan seragam sekolah miliknya yang baru saja ia masukkan ke dalam wadah pakaian kotor.
Nathan membawa keranjang pakaian kotor ini keluar dari kamar ganti. Mendapati Kenji kembali terlelap."Bangkai."Ujarnya nyelonong pergi meninggalkan kamar nya .
Nathan turun ke lantai bawah dengan membawa keranjang pakaian kotor tadi. Ia bawa keranjang ini ke ruang cuci baju.
Nathan langsung memasukkan semua pakaian ke dalam mesin cuci. Sebelum ia beralih mengambil sabun cuci pakaian.
Dengan tangan yang menggenggam wadah sabun cuci pakaian. Di posisi jongkok Nathan pantengin terus dalaman mesin cuci yang sudah terisi penuh pakaian kotor.
Sekian lama loading di sana ."Be**go!
Lupa!".Menaruh sabun cuci pakaian di samping nya. Lalu mengeluarkan kembali pakaian kotor ini."Seragam putih harus di cuci khusus."Ucapnya kepada diri sendiri.".... Kayak ini kalau ada bibi Rani bisa-bisa di omelin gue sampai tahun depan pun bibi akan sanggup."Lanjut kembali mengoceh sendiri.
Selesai memisahkan pakai putih dengan pakaian yang berwarna. Nathan segera menyalahkan mesin cuci ini .Sembaring menunggu mesin ini bekerja, ia berlalu pergi dari sana.
Karena ruang cuci dekat dengan dapur. Jadi Nathan tidak perlu sulit untuk memeriksa.
Kini Nathan sudah berada di depan lemari es yang terbuka lebar. Nathan kembali loading cukup lama di sana. Menatap bahan-bahan masak yang tertata rapi di dalam sana."Hemmmm.....".Suara sendawa yang Nathan keluar.
Lamanya pantengin bahan masakan. Nathan justru menutup kembali lemari es ini tanpa mengambil apapun dari dalam sana.
Nathan beralih membuka lemari kecil atas dapur nya mengambil pop-mie gelas satu. Ia masak air ,duduk menunggu air itu mendidih .
Beberapa menit menunggu air mendidih, ia tuang kedalam gelas pop-mie. Ia kupas bumbunya, ia aduk rata sebelum kembali di tutup .
Nathan tinggalkan pop-mie itu di atas meja. Ia berlalu pergi untuk melihat cucian nya. Nathan ambil semua pakaian, ia gantung dengan cepat .Lalu memasukkan kemeja putih yang sudah ia rendam dalam air sabun ke dalam mesin cuci.
Selesai mengantungi, dan menyalahkan mesin cuci kembali. Nathan kembali ke dapur, duduk tenang di kursi makan yang tersedia di sana untuk menikmati pop-mie buatannya.
++++++++
Pukul. 14.20 siang
Jam dua siang, Nathan terduduk santai di Sova ruang tamu sembaring membaca buku novel dalam genggaman kedua tangannya.
Sementara ponselnya di biarkan tergeletak di atas meja marmer.
Karena terlalu mengabaikan ponselnya. Tiba-tiba saja terdengar suara nada sambung telfon. Nathan segera melirik malas layar ponselnya. "H!". Dengan cepat Nathan bangun untuk duduk setelah melihat nama si penelepon. Kak Riska.
Tersambung.
*Kamu kemana, dik? Kenapa akhir-akhir sulit sekali menghubungi kamu?".
*Maaf, kak. Nathan baru bangun, tadi malam Nathan bergadang nonton film sama Kenji."
*Hem."
Mengalihkan pembicaraan.
*Emang ada keperluan apa, kak?".
*Kapan kamu libur panjang lagi?".
*Belum tahu, tapi sekarang Nathan libur sekolah."
*Berapa hari?".
*Cuma dua hari."Nada suara rendah, tersenyum masam.
*Okh."
*....Emang mau ngapain, kak?".
Mengabaikan pertanyaan Nathan.
*Sudah dulu, dik. Kakak ada rapat."
*Tap....".
Tutututtuuttu........ Panggilan di akhir sepihak oleh Riska di seberang sana .
"Hemm."Dehem Nathan tersenyum masam.
++++++
Pukul. 14.23 Siang
Jum'at
Masih di hari yang sama. Selesai mengakhiri panggilan telepon dari kakaknya. Nathan beralih menyalahkan data internet .
Cletuk......Cletuk ....Cletuk...Suara notifikasi chat WhatsApp yang terus menyerang. Begitu juga suara notifikasi nada sambung telfon yang tak terjawab.
Melihat itu di layar telfonnya."Loh..lohh ponsel apaan ini, berasa artis terkenal, anjay."Gumam Nathan terkekeh renyah.
Pertama kali Nathan buka chat WhatsApp dari grup random sahabat nya .
Isi Notifikasi Chat
Grup Bestfriend
Yudha.
*................".
Kevin.
*Jangan mengada-ada lu, Yud. Nathan di sana sendirian, Yud. Ahh.. lu buat gue khawatir muluk ,gue mati penasaran benar, n**jirr."
Jovan.
*Tapi dia baik-baik saja kan, Yudha?".
*....Yudha!!".
Kevin.
*Tuhh anak mana? Habis buat gue penasaran langsung ilang gitu aja. Anjing gk tanggu jawab banget ."
Jovan.
*Yang bernama Yudha dan Nathan harap segera hadir."
*Lohhh..... haaa.....".
Kevin.
*Kemana mereka berdua, Jov?".
Jovan.
*Mana gue tahu. Nathan udah off beberapa menit yang lalu. Yudha masih online, tapi tidak balas."
Kevin.
*Memancing marah gue mereka berdua."
*.....WOYY cepat keluar anjing. Kalian kalau ada apa-apa cepat bilang, jangan buat kejang-kejang."
Jovan.
*Yudha kerja mungkin, Vin."
Kevin.
*Kenapa tidak pamit, an**jir. Yudha biasa pamit dulu di grup, kalau mau off. Nathan juga. Bang**sat kalian kemana, bang**sat!!".
Jovan.
*Sabar, Makk. Jangan marah-marah ingat anemia lu kambuh ."
Kevin.
*Bodoh."
Jovan.
*Astagfirullah."Dengan Emot mengelus dada .
Karena kesal akhirnya Kevin off begitu saja.
Jovan.
*Ya Tuhan! gue ditinggalkan."
Pukul. 03.30 Pagi Osaka, kemarin. Yudha baru hadir di grup.
Yudha.
*Sorry, bro .Kemarin adik gue tiba-tiba sakit, gue langsung melesat ke RS soalnya nyokap bokap tidak di rumah ."
Pukul. 14.24 Osaka .Hari ini.
^^^Nathan.^^^
^^^*Corry, Vin, Jov. Kemarin ada sedikit kendala."^^^
Yudha.
*Kendala apa?".
^^^Nathan.^^^
^^^*Kendala biasa."^^^
Yudha.
*Lu dikeroyok sekelompok pemuda."
Nathan yang membaca tebakan benar Yudha.
^^^Nathan.^^^
^^^*Benar!!Lu tau dari mana?".Emot kaget lebay.^^^
Yudha.
*Firasat mimpi."
*......Btw lu enggak papa tapi?".
^^^Nathan.^^^
^^^*Aman."^^^
^^^*Lu tidak siap-siap sekolah?."^^^
Yudha.
*Libur, O'on. Bentar lagi tahun baru, juga hari natal ."
^^^Nathan.^^^
^^^*Gue lupa, astaga be**go banget."^^^
^^^*Jovan banyak rejeki nihh bentar lagi."^^^
Yudha.
*Gue di undang makan malam di rumah Jovan."
^^^Nathan.^^^
^^^*Pamer, mentang-mentang gue jauh. Pamer aja, it's okey."^^^
Yudha.
*Bukan gitu."
^^^Nathan.^^^
^^^*Dahlah."^^^
Jovan.
*Kenapa?Ada apa?Beb, Yang?".
^^^Nathan.^^^
^^^*Lu adakan makan-makan tidak undang gue."Emot menangis di akhir kalimat.^^^
Jovan.
*Sini-sini gue buatkan yang spesial."
^^^Nathan.^^^
^^^Striker kentut.^^^
Jovan.
*Btw adik cowok atau cewek lu yang sakit, Yud? And sakit apa adik lu?".
Yudha.
*Cewek, sakit perut salah makan."
^^^Nathan.^^^
^^^*Jujur-jujur nihh, gue pernah mimpi gantikan posisi Yudha punya tiga adik. Gue seneng banget ,an**jir .Rumah gue kayak pasar tradisional baru buka. SUMPAH GILAAAA!!!!".^^^
Jovan.
*Ah lu, gue justru pingin banget mau punya Abang atau kakak ,kayak bang Lingga atau kak Riska .Enak banget mungkin ya, apa-apa di belikan seperti Kevin, juga lu. Intinya gue pingin punya kakak!!".Emot menangis lebay .
Kedua anak tunggal, dan anak bungsu saling menghalu. Mengutarakan akan keinginan terbesar keduanya yang mustahil terkabul.
Yudha.
*Kalian belum tahu rasanya jadi kakak."
Kevin.
*Kelian belum tahu betapa frustasi gue jadi adik ."
Jovan.
"Hemmmm."
^^^Nathan.^^^
^^^*Hemmm."^^^
Yudha.
*Kalian tahu apa keinginan terbesar gue."
^^^Nathan.^^^
^^^*Apa?".^^^
Belum juga Yudha membalas.
Kevin.
*Jangan balas, Yud. Gue ngerti ko, gue sudah faham dan mengerti, sumperr!!".
Yudha.
*Balas biar seneng ati mereka berdua."
Kevin.
*Monggo....gue mau sungkem!!".
(Silakan.....gue mau minta ampun).
Yudha .
*Melinting leher Jovan dan Nathan sampai mati ."
Kevin.
*Sudah ku duga!".
Balasan sama Nathan dan Jovan.
*Leher, gue!!!".
Kevin.
*Gue pergi, beb."
Jovan.
*Mak mau kemana?".
^^^Nathan.^^^
^^^*Mak udah off."^^^
Jovan.
*Yudha juga."
^^^Nathan.^^^
^^^*Terus kita ngapain, Jov?".^^^
Jovan.
*Vc, Nat ."
^^^Nathan.^^^
^^^Emot jempol.^^^
Obrolan chat berakhir. Kini berganti ke panggilan Videocoll.
Tersambung. Dengan Nathan yang memulai Videocall lebih dulu.
*Lu dimana, Jov?".Ujar Nathan yang melihat Fadil di sana bukan Jovan .
*Assallamuallaikum, mas Nathan." Sapa Fadil yang mengambil alih panggilan ini .
Melihat bukan Jovan di sana.*Waallaikum'salam."
*.....Jovan mana, dik?".
*Mas Jovan di suruh Tante buat angkat galon Aqua, mas ."
*Oh!Emang Jovan sudah sembuh."
*Terpaksa mas di rumah tinggal mas Jovan saja yang kuat."
Nathan tertawa renyah sebelum berkata*.
*Fadil tinggal di rumah Jovan?".
*Tidak, mas. Fadil tinggal di rumah yang mas Jovan belikan, saya kesini sama nenek buat bantu-bantu buat persiapan makan-makan."
*Hemm."
*Mas Nathan tidak ke sini?".
Nathan tertawa renyah.*Hehe..tidak. Mas tidak di Indonesia,dik."
*Umm."
*Gimana sudah mendingan sakitnya?".
*Sudah dong, Fadil gitu loh pasti cepat sembuh nya."
Nathan terkekeh kecil melihat tingkah anak laki-laki ini .Anak yang mengingatkan nya akan masa lalunya yang selalu terlihat gembira walau sedang bersedih, menyimpan kerinduan terbesar akan kasih sayang kedua orang yang mustahil ia dapatkan.
Dengan antusias Fadil membuka pertanyaan kembali.*Mas, mas, kata mas Jovan mas Nathan jago masak. Apa benar?".
Nathan mengangguk ringan membalas pertanyaan itu. Tidak lupa dengan senyum manis adalan nya .
Jovan mendekati Fadil ke balkon kamarnya yang tengah asik mengobrol dengan sahabat dekatnya di seberang sana.*Sudah bahas apa saja ,bro?".Ikut gabung dalam Videocall ini.
*Datang juga, lu."
*Buset beratnya bukan main, bro. Untung kaki dan tangan gue tidak copot lagi."
Dengan gaya sombong.*Enteng!Emang lu nya saja yang punya otot lembek."
Ingin rasanya Jovan mengumpat, tapi di sini ada Fadil yang membuat dirinya membungkam menahan amarah.
Nathan yang menyadari gelagat Jovan. Menjinjing alis sebelahnya.*Kenapa, bro?".Tak lupa dengan senyum jahil adalan nya.
Menatap manik mata Fadil."Fadil bisa ambilkan mas camilan di dapur, sebentar?".
Dengan polos Fadil segera mengangguk ringan ,dan segera melesat pergi dari sana .
Menatap punggung anak itu yang sudah terlihat lagi. Jovan langsung menatap tajam layar ponselnya.
*Mata**mu, Nat."
Mencari alasan menghindar.*Aduh, Jov. Gue pergi dulu mau bobok siang."
*Terserah."
Panggilan di akhir sepihak oleh Jovan yang sudah membara di seberang sana .
Mendapati panggilan VedioColl telah berakhir .Nathan segera membaringkan tubuh lelahnya di atas Sova panjang ini lagi .
Memejamkan kedua kelopak mata kembali untuk menikmati ketenangan dari hiruk pikuk drama dunia.
Belum lama menenangkan diri."Nat, Nat, Nat."
Membuka matanya malas."Hem?".
"Meja makan ko kosong."
"Buat pop-mie aja, gue males masak."
"Oh."Kenji yang langsung melesat pergi meninggalkan Nathan yang masih terlentang di atas Sova ruang tamu.
+++++++++
"NATHAN! NATHAN BANGUN! BANGUN ,NATHAN!".Riska dengan nada suara tinggi, ia bahkan sampai menimpuk adiknya dengan bantal Sova ini .
Membuat Nathan langsung terbangun linglung khas orang bangun tidur .Bingung campur aduk dengan kaget akan suara bentakan dari sang kakak.
"Bangun, dik."
Menatap manik hitam ini ."Ehm! Kak Riska!? Kapan kakak datang?".
"Gimana bohongnya enak?".Tegas Riska menatap tajam sang adik .
Bingung akan pertanyaan kakaknya."Bohong!?".
"Bohong soal apa?".Batin Nathan bertanya entah pada siapa.
"Kamu ikut brandal-berandal itu lagi, Nat .Benarkan?Kamu sudah tidak bisa bohong lagi Nathan. Kakak sudah tidak percaya dengan kamu."Riska yang sangat marah besar dengan adik laki-laki nya."....Sudah cukup, kamu akan ikut kakak. Kakak akan pindahkan sekolah kamu."Tegah Riska .
"Tap......". Kalimat Nathan terputus di kala tangannya di tarik paksa Riska .
Riska menarik paksa adiknya keluar dari dalam rumah ini tanpa menunggu penjelasan dari adiknya terlebih dahulu.
Mencoba menahan untuk menghentikan paksaan kakaknya."Kak pliss dengarkan dulu, Kak pliss ,kak."
Riska tidak menggubris perkataan adiknya sama sekali. Riska terus menarik paksa adiknya untuk keluar di rumah ini .
Di teras rumah sudah ada Kenji juga Yoshi yang siap mengantar Riska dan Nathan .
"Tu-tunggu, Onee-san."Kenji ragu-ragu mencoba menghentikan.
Masih mencengkram kuat pergelangan tangan adiknya. Riska berpaling menatap tajam Kenji yang berkeringat dingin.
Nada suara gugup."Nat-Nathan tidak salah apa-apa, Onee-san .Nathan cuma korban, iya melakukan itu untuk keselamatan dirinya."
"Hem."Riska menatap datar."....Saya tidak perduli dengan alasan apapun. Karena apapun yang Nathan lakukan tetaplah salah."
Diam, Kenji langsung terdiam menatap kepergian Nathan bersama Riska. Yoshi segera mengantar Nathan dan Riska ke bandara.
Sepanjang perjalanan Nathan hanya terdiam menatap keluar jendela mobil yang tertutup rapat .Begitu juga dengan Riska membisu.
+++
Lima jam lamanya Nathan menempuh perjalanan dari mulai naik pesawat ke Korsel ,lalu kembali lagi naik pesawat pribadi keluarga terbang ke Arab Saudi.
Setibanya di sana Nathan langsung di bawa kakak ke asrama sekolah atau lebih tempat pesantren (Pesantren mewah) .Membaca nama tempat ini membuat Nathan menelan saliva nya paksa .Nathan memang suka pelajaran agama, tapi bukan berarti ia suka pergi ke tempat ini apalagi menetap disini.
Nathan kembali merengek segemoy mungkin agar kakaknya bisa luluh dengan kata-kata manis."Kak Riska pliss jangan di sini, sekolah di Korsel saja tidak papa. Tapi jangan disini kak, pliss pulang yuk."Memohon-mohon semelas mungkin.
Berkali-kali Nathan coba tapi tidak meluluhkan hati kakaknya sama sekali. Riska tetap bergeming dan terus mengurus pendaftaran sekolah di sini.
Sampai selesai pendaftaran pun Riska tetap terdiam mengabaikan sang adik yang terus saja merengek seperti seorang anak kecil yang tak di beri uang jajan .
Melepas genggaman tangan adiknya dari lengannya."Sudah, dik. Cepat masuk sana, jaga kesehatan kamu di sini. Sebulan sekali kakak akan menjenguk kamu ."Datar Riska berlalu begitu saja.
Menatap kepergian kakak perempuannya."Tidak ,tidak, tidak, gue tidak mau sini, gue mau pulang, gue harus pulang."Batin Nathan bersiap berlari mengejar kakaknya yang sudah jauh dari pandangannya. Namun nihil ,karena belum juga mengejar dua penjaga sudah mencengkram kuat lengannya .Menarik paksa dirinya untuk masuk ke dalam .
Nathan meronta-ronta untuk melepaskan diri."TIDAK, TIDAK, INI BUKAN ASRAMA, TIDAK!!!!".
".....GUE HARUS PULANG LEPAS KAN GUE."
".....KAK RISKA INI PENJARA BUKAN PESANTREN ATAUPUN ASRAMA KAK. KAK RISKA JEMPUT NATHAN ,KAKAK!!!!".Teriak-teriak histeris Nathan berusaha sekeras mungkin untuk lepas dari situasi ini.
"KAK!!!!!". Teriak histeris Nathan segera bangkit untuk duduk. Nathan yang sudah duduk di atas Sova segera mengatur nafasnya yang tidak beraturan."Ehmm....Ehm...syukur cuma mimpi."Ujarnya mengelap keringat keningnya.
"HOY!!".Bentak Kenji menatap datar Nathan.
Dengan ekspresi kaget akan bayang-bayang mimpinya tadi. Nathan berpaling berlahan ke arah sumber suara yang ada di samping nya duduk .
Kenji berjongkok di sana, ia menatap datar Nathan .Sementara yang di tatap malah memperlihatkan senyum manis adalan nya .
Menepis kasar genggaman tangan Nathan."ORIRO ,BAKA!!".
(Lepaskan, bodoh!! ) .
Meringis kesakitan mengelus punggung tangannya yang ditepis kasar Kenji."Eettmm....".
"....Kasar lu."
Menuju lengan tangan yang penuh dengan tanda merah cap jari tangan."Itai, baka!!".
(Sakit, bodoh!!) .
"Eh....ko bisa kayak gitu!?".Nathan belum mengetahui kalau itu karena ulahnya.
Beranjak berdiri dari sana."Ini semua karena lu."
".....LU MIMPI APAAN, O'ON. SAMPAI TERIAK HISTERIS TIDAK JELAS, TANGAN GUE DI TARIK, DI CAKAR-CAKAR, DI REMAS-REMAS ,SAKIT BE**GO!!".Bentak Kenji yang terlihat marah besar.
Cengengesan."Hehehe....gomen, Ken. Gue tidak sengaja."
"Hemm."Dehem Kenji .
"Sebagai gantinya lu harus traktir gue makan di luar."Ucapnya .
Masih terduduk di sana. Nathan menjinjing sebelah alisnya."Nani!!".
"Lu tuli!?".
Bangkit dari sana."Yaya, ayo berangkat sekarang."
"Pinter."Kenji melesat pergi dari sana untuk mengambil pakaian hangat. Yang di susul oleh Nathan berjalan malas menaiki anak tangga.
++++++++
Pukul. 17.08 sore menjelang malam.
Suasana di luar semakin dingin. Akan tetapi kedua pemuda ini justru keluar rumah untuk sekedar menikmati suasana sore menjelang malam.
Nathan di posisi duduk, di bonceng Kenji dengan sepada angin miliknya, merapatkan serapat mungkin pakaian hangatnya agar tubuhnya bisa tetap hangat di tengah suhu membeku ini.
Sementara Kenji, entah sudah terbiasa dengan suhu dingin atau memang sudah kebal dengan suhu dingin .Ia dengan santainya mengayun medal sepeda dengan tenang menerabas jalanan yang sepi ini.
Sepeda ini terus melaju sampai terhenti di depan kedai makanan. Nathan segera beranjak turun .Kenji segera memarkir sepeda ini dengan benar di tempat yang sudah tersedia di depan kedai.
Sesudah memarkir sepeda dengan benar. Kenji segera beranjak masuk ke dalam kedai makan ini ,yang di susul oleh Nathan yang mengikuti langkah Kenji dari belakang.
Kenji segera mencari tempat duduk yang nyaman di kedai makan ini. Sudah dapat tempat nyaman .Kenji segera berjalan duduk sana. Seperti di awal masuk .Nathan hanya terdiam sembaring mengikuti langkah Kenji .
Belum lama mereka berdua duduk seorang pelayan kedai makan ini datang menghampiri dengan selembar kertas daftar menu kedai ini.
Melihat menu ini secepat kilat."Saya ramen tokusuna, dia sup daging sapi tokusuna."
Pelayan ini segera menulis pesanan Kenji.
"Minum kopi pahit satu, kopi susu satu. Hangat."
Selesai menulis pesan."Silakan buat diri anda nyaman, pesanan akan segera sampai."Ucap pelayan ini tersenyum ramah sebelum beranjak pergi.
Menggosok-gosokkan kedua telapak tangan untuk mendapat sensasi hangat ."Ken gue kan......".Memotong kalimat belum terselesaikan Nathan."....Tenang saja ini kedai halal, pemilik orang Muslim."Ucap Kenji.
".......Makanannya enak-enak."Sambungnya .
Beberapa menit kemudian, makanan pesanan keduanya sampai. Ramen istimewa kesukaan, dan Kopi hangat pahit kesukaan Kenji. Sup daging sapi ,dan kopi susu hangat kesukaan Nathan .
"Arigato."Kenji berterimakasih dengan ramah kepada pelayan kedai makan ini.
Pelayan ini mengangguk ringan sebelum berlalu pergi.
Nathan segera mencicipi menu sup pesanan Kenji."Heemm!! OISHII, BAKA!!".
( Enak, bodoh! ).
"Gue bilang juga apa."Kenji yang juga sangat bangga dengan rasa rame istimewa pesanannya.