The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 93 : 3 In 1



"tu-tunggu dulu" Ucap Alex.


"ti-tidakkah ini terlihat...". Ucap Noah.


"kalian berdua kenapa?. Pegangan yang erat yah".😃 Ucap Silvana mengingatkan kedua laki-laki itu Sambil memutar kunci sepeda motornya sedangkan kedua laki-laki itu menjadi malu bukan main.


mengapa tidak?. Kondisi kedua laki-laki itu dalam keadaan yang tidak menyenangkan namun menimbulkan tawa bagi yang melihat dimana mereka bertiga naik sepeda motor Silvana yang menjadi masalahnya adalah, Silvana yang mengemudi dan kedua laki-laki itu yang dibonceng bahkan menimbulkan kesan yang tidak nyaman bagi Alex dan Noah dimana Noah sangat senang saat ia memeluk erat pinggang Silvana tapi dia juga merasa geli dan risih bersamaan saat Alex memeluk pinggangnya.


Mengenai Alex, ia merasa risih dan malu saat ia terpaksa memeluk pinggang Noah dengan erat layaknya pasangan apalagi dia sendiri adalah pewaris Fallen Group. Bayangkan jika seseorang mengambil fotonya diboncengi Silvana sambil memeluk pinggang Noah lalu menjadi berita besar, bagaimana reaksi Harold nanti?.


ngomong-ngomong soal bagaimana bisa mereka menjadi bonceng tiga?. Semua ini dikarenakan…


sebelumnya di dalam kapal Silvana…


"aku tidak pernah tahu bahwa pacarmu tinggal di kapal. Sudah berapa lama kau tahu?".


"lima hari yang lalu. Sehingga saat aku tahu, aku pun langsung membeli sebuah kapal agar aku bisa dekat dengannya dan pesananku akan selesai dua hari lagi".


"begitu rupanya. Kulihat, ada empat belas kapal lain yang bertetangga dengannya. Saat mencari yang mana kapalnya. Tapi aku penasaran mengapa kau membeli kapal mengingat kau tidak punya pelatihan dan surat izin berlayar?".


"ini karena aku cemburu".


"cemburu?".


"yup. Di antara lima belas kapal, hanya Silvana yang satu-satunya perempuan dan diantara empat belas kapal lainnya, lima diantaranya adalah laki-laki tampan yang masih semuda kita".


"oh, kau cemburu karena kau tidak rela laki-laki lain mendekatinya?".


"tentu saja. Dia adalah pacarku. Gadis yang kusukai, aku tidak mau mereka mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya. Jika kau jadi aku, kau pasti akan melakukan hal yang sama". Ucap Noah.


"kau benar…aku pasti akan-".


"ini tehnya". Silvana datang membawakan teh dan snack di atas nampan. Ia meletakkan nampan itu di atas meja lalu ia menuangkan teh lemon buatanya di teko kedua cangkir bercorak pohon Willow Dan meletakkan snack di dekat kedua teh itu.


"terima kasih sayang". Ucap Noah meminum teh buatan Silvana sambil mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat pipi Silvana tersipu-sipu. Mereka berdua saling tersenyum malu-malu saat saling bertatapan sehingga membuat Alex risih karena merasa dikacangin.


"oh yah, kenapa kau kemari, Alex?".


"oh, Keira memintaku untuk mengantarkan Alex ke rumahnya jika Alex ingin kesana". Jawab Silvana yang memotong pembicaraan kedua laki-laki itu.


"benarkah? tapi mengapa harus dirimu sayang?. Mengapa tidak Alex sendiri saja?". Tanya Noah yang merasa tidak senang jika Silvana mengantarkan Alex walaupun Alex adalah sahabatnya dari kecil.


Mengapa? karena dia ingat dalam kode pacaran yang harus diketahui setiap pasangan yaitu jangan mempercayai sahabat didekat sang pasangan sendiri maupun itu duduk dan semacamnya karena sahabat itu terdapat dua jenis, yaitu setia atau berkhianat dan kita tidak bisa menebak sahabat itu berada di sisi yang mana.


"hihi. Karena rumahnya berada di dalam hutan dan hanya aku yang tahu sisi beluk hutan selain Tania dan Keira dan Alex bisa tersesat di dalamnya".


Jawab Silvana sembari tersenyum kepada Noah walaupun dia tidak menyadari bahwa Noah sungguh cemburu.


"Lalu mengapa tidak Keira saja? atau Temanmu yang satu lagi Tania".


"… mereka tidak bisa karena… hari ini mereka pergi memperingati hari kematian Elias". Jawab Silvana yang langsung ekspresi wajahnya menjadi sedih. Mendengar ucapan Silvana membuat Alex menyadari Mengapa Keira tidak masuk sekolah hari ini sehingga ia tahu bahwa pasti hari ini Keira sedang sedih.


"siapa itu Elias?". Tanya Noah yang tidak tahu tentang Elias. Hanya Alex yang tahu selama ini.


"dia adalah kakak tertua Tania dan-".


"dan juga tunangan Keira". Jawab Alex memotong ucapan Silvana dengan perasaan kalut dalam pikirannya.


"tunangan? wah aku tidak tahu bahwa pacarmu dulu punya tunangan. Pantas saja dia susah sekali untuk kau dapatkan. Jika tunanganya mencintainya sampai akhir hayat, pasti Keira akan susah move on".


"… kau benar".


"Noah, jangan berkata begitu.. "


"mungkin ya, mungkin tidak, tidak ada yang tahu tentang perasaannya padamu tapi, apakah kau akan menyerah mendapatkan cinta dari sahabatku?."


"tentu saja tidak. Aku tidak menyerah begitu saja".


"baguslah kalau begitu. Kau sudah tahu kalau Keira mengunjungi makam Elias, kau masih mau datang kerumahnya?".


"tentu saja. Dirumahnya membuatku merasakan kenyamanan dan kehangatan dibandingkan dengan rumahku yang…". Alex tidak menyelesaikan kalimatnya karena dia tidak sanggup Mengatakan betapa dirinya sendiri sungguh menyedihkan di rumah yang tidak ada kehangatan di dalamnya. Ia merasakan kedinginan dan kesepian dirumah yang besar dan hangat.


Ayah yang jarang pulang dan menomortigakan keluarganya…


kedua kakak yang memilih tinggal di luar negeri karena ayahnya…


dan ibu yang sedang terbaring tak berdaya karena ayahnya…


Apakah semua itu bisa disebut dengan keluarga bahagia?.


"aku dengar, dia pulang hari ini yah?".


"yah. Tapi aku sangat malas untuk berjumpa dengan kambing tua itu. dia selalu pergi dan hanya pulang setahun sekali, Mengapa aku harus merepotkan diriku untuk berjumpa dengannya?".


"eh? kambing tua?".


"kambing tua adalah panggilan sayang Alex untuk ayahnya". Bisik Noah menjawab kebingungan Silvana.


Kambing tua? aku rasa nama itu lebih condong untuk mengejek daripada sayang.


Pikir Silvana dan ia benar. Noah memberikan separuh kebenaranannya ke Silvana agar Silvana tidak terlalu tahu tentang kehidupan Alex yang memiliki persamaan, sama-sama memiliki kehidupan yang tidak bahagia bersama dengan keluarga.


Tidak lama kemudian…


"huh? kau mau ikut kami??". Silvana terkejut saat Noah mendadak ingin ikut bersama dengannya dan Alex.


"yup. Aku mau lihat juga". Ucap Noah berbohong. Sebenarnya ia tidak mau jika harus melihat atau memikirkan Alex memeluk pinggang Silvana di atas sepeda motor.


"hei, memangnya apa maumu ikut kami?". Tanya Alex dengan nada bete yang tidak suka jika ada laki-laki lain yang tahu rumah Keira selain dirinya.


"hei, suka-suka aku dong. Dia'kan pacarku. Tentu saja aku harus ikut pergi dengannya. week". 😛


"hei, berhentilah untuk berdebat. Kau boleh ikut tapi, aku menyadari bahwa baik kau dan Alex datang kemari sama-sama tidak naik sepeda motor melainkan naik mobil sedangkan mobil kalian sendiri tidak bisa lewat nanti di sana. kau yakin masih mau ikut? satu-satunya cara adalah boncengan bertiga Tapi aku yang mengemudi"


Silvana memberikan sebuah saran yang cukup membuat kedua laki-laki kaya itu merinding karena pertama kalinya mereka merasakan naik sepeda motor bonceng tiga dan yang menjadi masalah bagi mereka berdua adalah posisi mereka duduk nanti jika Silvana yang mengendarai.


Bagaimana ini?. Jujur saja aku merasa geli jika aku ditengah dan Alex memeluk pinggangku tapi… aku tidak mau Alex yang ditengah dan memeluk pinggang Silvana sedangkan aku malah memeluk pinggang Alex. Jika aku memutuskan untuk tidak ikut, yang ada malah enaknya di Alex, menang banyak. Pikir Noah yang merasa sulit memutuskan karena pilihannya sama-sama enak dan tidak enak.


Cih, aku tidak sudi jika Noah sampai memeluk pinggangku selain itu, mau taruh dimana wajahku nanti jika orang-orang melihatku bonceng tiga?.😧 selain itu, aku tidak Mungkin Mengatakan bahwa aku tidak jadi karena hatiku sangat ingin menemui Keira dan jika tidak pergi, terpaksa aku harus menyambut kedatangan si kambing tua dengan senyuman palsunya.


Pikir Alex yang masih memikirkan harga dirinya namun ia juga memikirkan hatinya sehingga membuat Alex merasa pusing untuk memikirkannya.


"Jadi, bagaimana?".Tanya Silvana sembari memberikan dua helm cadangan untuk Alex dan Noah pakai.


"ng…kami…".


(Flashback end…)


Begitulah Mengapa mau tidak mau mereka menurunkan harga diri mereka berdua dimana yang satu sisi cemburu sedangkan sisi yang lain memikirkan hati dan harga diri.


BROOM BROOM


"Nah, kalian berdua pegangan erat ya". Ucap Silvana memperingatkan dan saat kedua laki-laki itu berpegangan erat, Silvana memacu gas lalu sepeda motornya melaju dengan kecepatan yang tinggi menuju tujuan.