
Sebelumnya…
"aku mau ke toilet ". Pamit Tania beranjak dari kursinya.
"oke".Ucap Danny tersenyum lalu, dengan ekspresi biasa Tania berjalan pergi memasuki toilet.
Didalam toilet, sambil duduk di wc duduk sambil melaksanakan panggilan alam, Tania sedang termenung memikirkan sesuatu.
Sebenarnya, aku bisa saja menyingkirkan dia agar rahasiaku bisa aman dan tidak perlu menuruti permintaannya.
Tapi, kenapa aku tidak melakukannya?.
Hm, Apakah karena aku baru memikirkannya sekarang atau mungkin karena tidak tega saja mengingat Tuan dan nyonya Nash hanya memiliki satu anak walaupun anaknya sungguh menyebalkan?.
Aish, aku benar-benar pusing memikirkan semua ini. Apa lagi gara-gara dia mengajakku ke hotel ini, membuatku berpikir…
Aish, ini memang salahnya. Karena membawaku ke tempat ini jadi membuatku berpikir sesat begitu. Pikir Tania.
...DOOR!...
"Eh? ".
DOORDOORDOOR!! DOOR! DOORDOORDOORDOORDOORDOORDOOR
"eh? eehhhh!? suara apa itu?!!!". Tania terkejut saat ia mendengar suara tembakan dan teriakan yang berasal dari restoran dalam Hotel.
Astaga, Danny masih disana. Aku harus memastikannya tapi…. Pikir Tania saat teringat akan Danny yang masih di dalam restoran itu. Ingin bangkit Dan memastikan keselamatan Danny namun tidak bisa ia lakukan mengingat sekarang ini ia masih dalam proses BAB.
"Aish, mengapa disaat lagi begini malah ada kejadian begini!".
Beberapa saat kemudian…
Setelah BAB yang tidak bisa ia nikmati rasanya isi perut keluar dari siklus alam dan cuci tangan tergesa-gesa di wastafel, Pelan-pelan ia membuka pintu toilet untuk memastikan keadaan. Saat melihat, ia melihat genangan darah di lantai bahkan di meja dan kursi.
Bagian bar, terdapat beberapa botol minuman dan gelas yang telah pecah akibat ditembakin peluru.
Danny…
Pelan-pelan ia keluar dari toilet dan benar saja Ia melihat terdapat lima sampai enam pria dengan jas hitam tergeletak dengan darah membasahi kemeja putih dan luka tembak tepat didada bahkan ada dikepala.
"apa yang terjadi disini?". Tania bertanya-tanya dengan pemandangan yang dia lihat lalu ia melihat seorang pelayan dengan senjata ditangannya berjalan ke arahnya.
Pelayan itu, kenapa memegang senapan?. Pikir Tania saat pelayan itu menghampiri dirinya.
"Maaf nona harus melihat hal ini. Sebentar lagi akan kami bereskan kekacauan ini".
Kekacauan? ini pembunuhan!. Bagaimana bisa tempat ini menjadi tempat kejadian perkara?!.
dan mengapa pelayan ini Tenang-tenang saja dengan kejadian ini dan untuk apa seorang pelayan memegang senapan?
Apakah ini kebijakan baru di setiap restoran bahwa setiap pelayan boleh memegang senjata bagi pengunjung yang tidak bayar?.
ah, tidak tidak tidak. Biasanya paling hukumannya hanya cuci piring atau dipukul tukang pukul jika ada yang tidak bayar.
Sebenarnya ada apa ini?!!!!!.
dan juga… sepertinya aku melupakan sesuatu tapi apa ya?
Disaat Tania mengikuti pelayan itu sambil berpikir, mereka berdua berhenti disebuah meja VIP. Saat itu Tania melihat Danny duduk menikmati makanannya sambil melambaikan tangannya kearahnya.
ah iya, aku lupa tentang dia😒. Masih hidup.
"tolong bawakan pesananku ya".Titah Danny kepada pelayan itu.
"baik tuan muda". Pelayan itu pergi. Disaat dia sudah pergi, Tania melotot dan langsung menghampirinya.
"tenang Tania. Aku akan mengatakannya tapi kau harus duduk dulu dan tenang ya".Bujuk Danny lalu ia bangkit dari kursinya lalu ia pun menyilahkan Tania untuk duduk sehingga mereka kembali duduk secara berhadapan.
"begini, Tadi aku mengatakan aku ada urusan disini kan?".Tania mengangguk iya.
"nah, orang yang datang mengatakan Hai padaku".
Eh? tunggu dulu? apa maksudnya?. Pikir Tania yang tidak mengerti sama sekali maksud ucapan Danny.
"hahaha, kau pasti tidak mengertikan? 😄".
"menurutmu?💢".
"begini, maksudku. Urusan bisnis. Orang itu mengira kami tidak tahu bahwa dia selama ini curang terhadap jumlah barang dan keuangan juga ternyata ia menjual Obat- obat telarang kepada anak-anak remaja tanpa sepengetahuan aku dan ayahku padahal, ia tahu jalan yang kami jalani ini sangat bersih".
"maksudmu? kalian sebagai mafia tidak menjual obat telarang?".
wah, aku baru tahu ada mafia seperti ini, biasanya di film, menjual obat telarang adalah bisnis terbesar dalam mafia. Pikir Tania.
"bisnis dan organisasi yang kami jalani sangat bersih sehingga kami, keluarga Nash tidak menjual barang haram itu. lagipula, mengapa kami harus menjual barang itu jika kita tahu bahwa barang itu hanya akan merusak pikiran dan masa depan generasi muda.
dan yang dilakukan Bajingan ini telah mencoreng reputasi kami yang selalu bersih".Ucap Danny sembari melirik tajam ke arah orang yang tergeletak di lantai bersimbah darah itu. Tania mengikuti arah Mata Danny melihat dan saat ia melihat Danny menatap mayat itu dengan tatapan dingin dan penuh kebencian, ia merasa yakin bahwa orang itu adalah orang yang dimaksud Danny.
ditambah lagi, dari semua mayat-mayat itu, hanya orang itulah yang memakai jas berkualitas baik dan berwarna lain dan memakai cincin besar.
Darimana Tania tahu? tentu saja dari televisi.
"bagaimana dengan protistusi?".
"apa?".
"Protistusi".
"tidak. Tapi kami memang memiliki wanita-wanita yang bekerja pada keluarga kami seperti di barat. Kau tahu memberi hiburan pada laki-laki yang kesepian".
Maksudmu melayani?. Kenapa tidak berkata melayani mereka saja? kau pikir aku tidak mengerti hal itu?. Aku bukan orang yang bisa kau bodohi tahu.
"dan mengenai wanita-wanita itu, kami tidak pernah memaksa kehendak mereka untuk berkeja sama kami. Kami menerima asalkan mereka mau karena keinginan mereka sendiri dan tidak dibawah umur. Selain itu mereka berkeja dengan upah yang mampu membuat mereka hidup layak".Danny menjelaskan.
"oh😑".Ucap Tania karena ia tidak tahu harus menjawab apa untuk penjelasan Danny.
"oh ya, mengenai cerita orang itu, apa yang terjadi setelah kau mengetahui pekerjaan busuk yang dia lakukan dengan mengatasnamakan keluargamu?".
" Aku menyuruhnya datang kemari dan kemudian Aku menunjukkan bukti dan langsung memecatnya saat ini juga karena aku tidak mau ada orang sialan yang melakukan hal lain yang akan merusak reputasi keluarga Nash. Bahkan aku mengatakan padanya bahwa aku akan memberikan semua bukti kejahatannya kepada polisi".
"lalu?".
"lalu, setelah mendengar aku memecatnya dan mengancamnya, dia tidak Terima sama sekali karena aku membongkar kebusukannya dan akan membuat dia dipenjara sehingga ia pun mengancamku untuk menghabisiku. Ia dan anak buahnya menodongkan senjatanya padaku.
Sibodoh itu berpikir bahwa aku hanya anak ingusan yang bisa dia ancam? Jangan bercanda!. Aku sudah menduga bahwa hal seperti itu akan terjadi makanya aku memberitahunya untuk datang kemari.
Ia sungguh bodoh datang kemari, ia tidak sadar bahwa orang-orang yang bekerja di hotel ini merupakan anak buah keluarga kami.
Saat mereka menodongku, para pegawai langsung menodong balik kearah mereka.
Ia marah melihat ketenangan ku dan senyum yang terukir di wajahku yang tampan ini seakan aku berkata (kau sudah terkepung, nah bagaimana tikus menyedihkan seperti mu bisa keluar dari para kucing yang mengepungmu?)".
"dan kemudian, disaat itulah terjadi tembakan?".
"yep. Maaf atas ketidaknyamanan yang dialami kepadamu.Jangan khawatir, sibrengsek ini sudah mati, dan sekarang kita bisa menikmati kencan kita dengan tenang".Ucap Danny tersenyum kearah Tania sembari melihat mayat itu telah diseret pergi sehingga yang tersisa di lantai hanyalah lantai yang telah dibasahahi oleh darah.
"eh? kencan?. Memangnya kita sedang berkencan?".Tanya Tania terkejut saat mendengarnya.