
Keitha yang sedang menyeka air matanya berhenti saat Keira menatapnya curiga. Saat itu Keitha sadar bahwa tanpa sengaja dia mengatakan sesuatu yang membuat Keira curiga.
"jawab aku, Kak Keitha. Apa maksudnya jika seandainya anda bersamaku?". Keira menatap Curiga pada Keitha.
****!!. laki-laki itu merutuki dirinya dalam hati karena bisa-bisanya ia telah membuat Keira curiga.
"ma-maksudku, jika aku adalah teman atau saudaramu saat itu, aku pasti akan memasangkan badan untukmu dan memaki balik orang itu.
dia jahat. Kurasa dia cemburu padamu karena permainanmu lebih baik daripada dia". Keitha mencoba untuk mencari alasan namun dalam alasan itu, terdapat kebenaran didalamnya.
Andaikan Keitha ( Kevin) tahu bahwa ibu mereka seperti itu, ia pasti akan membela Keira karena ia juga tidak mau impian adiknya hancur hanya karena ejekan seorang ibu yang meremehkan dan cemburu pada bakat sang anak.
Keira terus menatap Keitha dengan tatapan curiga namun setelah Keitha memberikan sebuah penjelasan, Keira tidak lagi mencurigainya namun bukan berarti rasa kecurigaan itu bisa menghilang begitu.
Ada sesuatu dari sana, Keira tidak tahu apa itu namun rasa itulah yang membuat rasa curiga itu masih ada.
"Keira".Sebuah suara memanggilnya, tetap saat Keira akan bersuara. Keira mengenali suara itu dan juga aroma tubuhnya sehingga ia menghela nafasnya secara berat.
"Alex, kau belum pulang?".Tanya Keira melirikkan bola matanya kearah Alex yang dibelakangnya. Terlihat Alex merasa cemburu saat Keira berbicara dengan laki-laki lain walaupun senior dan kepala klub musik itu sendiri namun ia tidak menunjukkan rasa cemburu itu.
"bagaimana bisa aku pulang sedangkan kau masih disini. Bukankah kita sudah janji untuk makan diluar".Alex mengingatkan Keira dengan mulut manyun.
"Aish, bukankah sudah kubilang bahwa aku sedang latihan di klub?". Keira mengingatkan Alex bahwa ia tidak bisa pergi bersama dengan Alex.
"ng Keira... mendingan kamu pergi saja dengannya. Gak apa-apa kok". Keitha menyilahkan Keira untuk pergi bersama dengan Alex apalagi hal itu menjadi kesempatan bagus baginya karena dengan begitu, Keira tidak akan bertanya apapun mengenai hal tadi.
"kak Keitha merasa terancam dengan orang ini ya?".Tanya Keira sembari menunjuk ke arah Alex.
"hei, aku tidak mengancam tahu. Setidaknya belum".Alex menyangkal saat Keira menuduh dirinya mengingat sekolah tempat mereka menimba ilmu adalah milik Alex, lebih tepatnya keluarganya dan Alexlah yang menjadi pewarisnya.
Tidak heran jika Keira berburuk sangka terhadap Alex karena Alex bisa menggunakan kekuasaannya sesuka hatinya. Tapi, memang yang dikatakan Alex memangla
"tapi kau memang berniat melakukannya'kan?".
"💢".
"tidak Keira. Dia tidak melakukan apapun padaku. Kebetulan aku ada janji seseorang dan rasanya tidak enak jika kamu sendirian disini apalagi berdua bersama…".Keitha menggantukan kalimatnya namun matanya melirik ke arah Alex dengan tatapan waspada.
Alex yang tahu dirinya ditatap tahu arti tatapan itu melainkan ia merasa familiar dengan tatapan mata itu.
Ugh, dia! dia pikir aku akan Macam-macam dengan Keira disini?. Selain itu, kenapa rasanya tatapan itu mengingatkanku pada saudara Keira yang menjengkelkan itu?!.
"oh, baiklah kalau begitu. Keira pulang duluan ya kak Keitha".Keira bangkit lalu membungkuk hormat pada Keitha. Setelah Keira menyimpan biolanya dalam kotak biola, Alex mengajaknya pergi sambil bergandengan tangan.
Saat Keira menjauh, ia tersenyum namun juga sedih secara bersamaan.
"dasar, kamu ini-. Eh?". Saat Keira ingin mengomel, mendadak Alex memeluk Keira secara mendadak. Saat Keira dipeluk, wajahnya menjadi merah merona karena mencium aroma tubuh Alex. Apalagi ia takut jika ada orang lain atau musuh-musuhnya melihat mereka berpelukan walaupun mereka berpelukan dipakiran dan kendaraan para murid sudah tidak ada.
"Aku rindu padamu".
"huh?".Keira bingung, Alex melepas pelukannya lalu, dengan mulut manyun Alex mencubit pelan pipi Keira.
"hei!".
"ini karena kamu nakal". Ucap Alex sembari berhenti mencubit pipi Keira.
"emangnya salahku apa?".Tanya Keira bete.
"salahmu, hm… kau membuatku menunggu sangat lama. Jadi jika kau lama datang, aku akan mencubit pipimu ini".Ucap Alex sambil mencium kedua pipi Keira.
Keira diam saja namun dalam hatinya, ia beteriak malu karena perlakuan Alex telah sukses membuat jantungnya berdetak kencang.
"aish, kan sudah kubilang".
"aku tahu tapi aku khawatir. Kau makan sedikit tadi saat makan siang, lalu lalu kau sendirian bersama dengan orang itu sedangkan saudaramu dan temanmu yang menyebalkan itu malah pulang duluan".
"tentu saja mereka duluan, jam segini waktunya twins bell buka. Selain itu, dia seniorku dan ketua klubku, setidaknya salah satu dari kami ada yang hadir bukan?."
"aku tahu tapi…".
"kau cemburu ya?".goda Keira. mendengar ucapan Keira, wajah Alex menjadi merah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sedangkan Keira terkekeh melihat ekspresi Alex yang glagapan.
"a-aku-".
"hm, sangat menyenangkan melihat wajahmu seperti itu. Mungkin sekali-kali aku membuatmu cemburu, ya". Alex cemberut mendengarnya sedangkan Keira tertawa melihatnya.
"kyaaa, Alex. hihihihi".Keira tertawa karena rasa geli yang ditimbulkan Alex saat Alex menggelitiki pinggangnya.
"gadisku nakal, ayo minta maaf".Ucap Alex tersenyum gemas sambil menggelitiki pinggang Keira.
"hahahaha, ti-tidak ma-".
"hei! JANGAN SENTUH ADIKKU!!".Alex berhenti menggelitiki pinggang Keira dan Keira berhenti tertawa, saat kedua orang itu mendengar suara seseorang dengan nada tinggi. Mereka menoleh kearah sumber suara.
saat melihat orang yang berdiri dihadapan mereka, kedua ekspresi wajah mereka berubah. Jika Keira dengan wajah yang gembira, lain lagi dengan Alex. Dia memasang wajah masam. Super masam".
"kakak".