
...(Flashback…)...
Setahun yang lalu…
Hujan deras dan suara petir begitu bergemuruh malam itu.
dibawah guyuran hujan itu, orang itu saling bertarung satu sama lain.
Sigadis Werewolf dengan bola mata kuning menyala sedang sangat emosi menghajar vampire itu sedangkan si laki-laki vampire hanya bisa mencoba untuk mengelak dari serangannya sejauh dia bisa karena tidak bisa melawan balik serangan si gadis yang marah dan sedih secara bersamaan karena Kehilangan seseorang yang sangat berharga.
...BRUUUK!!....
Emery Dasper…
vampire itu terjatuh ke tanah karena serangan Tania berhasil membuatnya tumbang ke tanah. Ia menyeka darah biru yang mengalir di sudut bibirnya.
Ia sudah sempoyongan karena serangan dan pukulan Tania yang bertubi-tubi tapi semua itu tidak cukup bagi Tania.
"Kumohon… biarkanlah aku bertemu dengannya".
"diam kau!! Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?!. Aku mengira kau mencintai sahabatku dan kami sudah berbaik hati padamu tapi kau mengkhianati kepercayaan kami dan cintanya dengan memberitahu dimana acara pertunangan ini diadakan, bahkan kau membunuh beberapa orang kami!".
...BUGH! BUGH!!...
Secara emosi, Tania melayangkan tinju di wajah Emery terus menerus sehingga darah biru muncrat dari mulut Emery dan luka fisik yang dideritanya sukar sembuh karena Serangan Tania telah membuat luka dalam baginya.
"a-aku moh-hon de-dengarkan aku… Uhuk-uhuk!. A-aku-".
"DIAAMM!!. JIKA KAU PIKIR AKU AKAN TERJEBAK DENGAN KEBOHONGANMU UNTUK YANG KEDUA KALINYA, ITU TIDAK AKAN BERHASIL!!. Semua ini gara-gara kau, serangan malam ini bukan hanya merebut kakakku, tapi juga menghancurkan perasaan Silvana… seharusnya aku menentang hubungan kalian…
beruntung Silvana sedang membantu Keira jika tidak, ia akan termakan kebohongan cintamu yang palsu. AKU AKAN MEMBALAS SAKIT HATI SAHABATKU! SAHABATKU!!".
dengan marah Tania mengambil sebuah batu yang berada di dekatnya lalu memukul kepala Emery bertubi-tubi. Emery yang sudah lemah hanya bisa pasrah saat Tania menghujam batu itu di kepalanya hingga akhirnya ia pun tidak sadarkan diri.
Kesadaranmu telah menghilang tapi aku tahu kau masih hidup. Sebagai seorang Werewolf, sudah pasti aku tidak akan membiarkan seorang vampire jahat hidup apalagi vampire pengkhianat sepertimu.
Tania melempar batu itu lalu dengan cakar kirinya yang ia munculkan, Tania akan merobek dada Emery dan mencabut jantung yang tidak berdetak itu namun belum sempat Tania melakukannya. Seorang vampire langsung melesat kearahnya dan saat Tania berbalik…
...JLEEB!....
Tania memuntahkan darah merah dari mulutnya saat seorang vampire menusuk bagian hatinya dengan belati yang dilapisi dengan perak dan Tania tidak sempat menghindar saat belati itu menusuk tubuhnya karena ia terlalu berfokus untuk membunuh Emery.
Tania roboh karena serangan itu.
Matanya berubah kembali menjadi warna Hazel menatap sosok vampire yang menyerang dirinya secara fatal.
"Sa-mu-el… Das-sper… aku akan membalas pe-per- bua-atan-mu padak-ku". Ucap Tania secara lirih saat ia menatap tajam sesosok vampire benama Samuel Dasper.
"jika kau masih hidup, Rhyes". Samuel tersenyum jahat saat melihat Tania meringis kesakitan yang rasanya seperti terbakar karena kandungan perak dalam belati itu dan yakin serangannya akan membuat Tania tewas.
Ia pun segera membopong Emery dan pergi meninggalkan Tania terbaring di tanah sendirian bermandikan hujan yang turun dengan derasnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa karena belati itu menguras tenaganya, Tania mencoba mencabut belati itu dari tubuhnya namun ia tidak sanggup untuk mencabutnya karena kesadarannya secara perlahan-lahan mulai menghilang.
...(Flashback end …)...
"aku kira aku sudah mati waktu itu tapi syukurlah takdir masih memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup.
Saat membuka mataku, aku menyadari bahwa aku berada dalam rumah sakit dalam rawatan dr. Jacob. Untunglah saat itu, Cio melihatku dan menyelamatkanku dan aku tidak tahu apakah aku beruntung atau kau yang bodoh karena menusukku dihati bukannya di jantung.
Tapi karena dirimu, selama sebulan aku berada di antara hidup dan mati dan yang kusesalkan saat aku membuka mata pada akhirnya, aku tidak bisa melihat jasad kakakku untuk yang terakhir kalinya.…
Aku tidak bisa melihatnya dimakamkan…
semuanya karena kau menusukku dengan belati perak yang kau lumuri dengan racun". Ekspresi wajah Tania berubah menjadi sedih saat mengingat terakhir kali Elias dihadapannya. Ia sangat sedih saat mengetahui kenyataan bahwa ia tidak dapat memeluk tubuh atau mencium pipi Elias untuk yang terakhir kalinya.
"Ka-kau be-beruntung Hanya sebulan. Se-sedang-kan Em-ery, kau bu-buat dia me-men-jadi coma sam-samp-pai sekarang!".
"Tapi dia masih hidup, bukan?". Bola mata Tania melirik ke laki-laki yang dia duduki lalu ia menekan belati yang menancap di jantung vampire itu sehingga ia kembali beteriak kesakitan karena tekanan dari belati Tania.
''apa kau penasaran dengan belatiku ini mengapa bisa membuatmu menjadi seperti ini?.
Karena aku baik, aku akan mengatakannya karena bagaimanapun juga kau pasti merasakannya. Harus kau ketahui, belati yang menancap di dadamu ini telah aku rendam semalaman dengan air yang berasal dari sari bawang putih lalu kukeringkan dibawah sinar matahari pagi.
Jika kita merendam senjata ini selama setahun lebih dari semenjak aku sadar, sudah pasti kandungan dua kelemahan kalian akan meresap kedalam senjata ini.
Seperti kau menusukku dengan belati perak, aku membalasmu dengan menusukmu dengan belati khusus ini. Setidaknya kau beruntung aku tidak memakai air suci untuk merendam belati ini, jika tidak mungkin kau langsung menjadi abu".
"ap-apa yang kau tunggu?!. Bu-bunuh sa-ja aku!. Tapi Saudara-saudaraku dan a-ayah-ku tidak akan tinggal dan a-".
"akan apa? menghabisiku?. Tentu Saja mereka akan dendam terhadapku tapi begitulah roda kehidupan, kita adalah musuh abadi karena perlakuan bangsa kalian terhadap kami.
Permusuhan ini akan berakhir bila salah satu dari bangsa kita ada yang musnah jadi bunuh membunuh tidak bisa dihindarkan. Aku su-".
...U i u aa jeng jeng wala wala beng beng......
...U i u aa jeng jeng wala wala beng beng....
''Aish, kita lagi berbicara malah ada yang menelepon''. Gerutu Tania saat nada dering di Smartphonenya berdering disaat yang tidak tepat sehingga ia pun terpaksa mengangkat ponselnya.
U i u aa-
...PIP...
''Halo Cio, ada apa kau menelepon?". Tanya Tania saat menjawab panggilan dari Cio.
Cio: "hei, kau nanti ke rumah utama atau yang di wilayah Utara nanti? soalnya aku di rumah sini".😑
''oh, rumah situ yah. Tentu saja aku bakalan kerumah Utara. Tapi sekarang ini aku ada urusan. Ngomong-ngomong, Plop dan anak-anaknya sudah kau bawa?"Tanya Tania yang masih sempat-sempatnya memikirkan guritanya yang lain tanpa terpikirkan lagi nasib si vampire itu.
"Sudah. Mereka sudah disini. Tiga anak-anak guritamu sedang tidur di akuarium sedangkan Plop…"
"Plop sedang apa?". Tanya Tania yang penasaran saat Cio menggantungkan kalimatnya.
Dasar perempuan sialan!. Masih sempat-sempatnya kau menanyakan kabar peliharaan. Samuel memelototi Tania yang sedang berbicara dengan saudaranya melalui ponsel dan mengumpat Tania karena gadis itu tidak teringat akan dirinya yang kesakitan.
"sedang mandi?. Kurasa begitu, ia sedang menggosok-gosok badannya dengan sabun cuci cair di dengan air mengalir?".😧
Sumpah dah. Sebenarnya kakak ini mengasih makanan apa ke gurita-gurita itu dan pelatihan apa yang dia lakukan untuk membuat seekor gurita bisa mandi layaknya seorang manusia di wastafel dapur??.Cio sungguh tidak habis pikir dengan hewan peliharaan Tania itu yang ternyata sungguh aneh tapi nyata.
''hm, pasti sabun cair yang kubeli mahal-mahal sudah habis. Nanti akan aku beli lagi deh".
''lalu, dimana yang jantan?. Bukankah ia bersamamu?".
"oh, Blop sedang kutitipkan kerumah Silvana sekarang karena ada urusan genting sekarang"
"huh? genting? kau sedang dimana sebenarnya?".
"dimana lagi?. Tentu saja aku sedang membantai anak buah Dasper yang memasuki wilayah Utara. Apalagi aku telah menyerang salah satu putra keluarga Dasper''. Jawab Tania yang memasang ekspresi biasa saja lalu melirik ke arah Samuel yang menatapnya marah.
"bagus ka- kau bilang apa?! Anak buah Dasper? anak keluarga Dasper?!! mengapa kau tidak memberitahuku?!"
"mengapa kau tidak bertanya dari awal?".
...PIP...
Tania memutuskan percakapannya setelah ia merasa selesai berbicara dengan saudara kembarnya yang terkejut mendengarnya melalui telepon tadi.