The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 209 : Emery & Silvana



"kurasa disini saja".Keira berhenti lalu dibawah pohon besar maple, ia membaringkan Noah yang masih tidak sadar itu secara perlahan di tanah. Keira menatap nanar laki-laki itu, ia merasa kasihan terhadap manusia yang telah terluka parah itu karena konflik kisah cinta Silvana yang rumit.


Jika bisa Noah seperti ini karena berhubungan dengan Silvana… bagaimana dengan Alex?.


Apakah mereka bakalan tahu tentangnya?.


Bagaimana jika 'dia' juga tahu akan Alex ?.


Alex pasti akan dalam bahaya. Gumam Keira dalam hati sembari menyembuhkan luka yang ada pada Noah dengan mananya yang bersinar sama dengan warna bola matanya.


Walaupun ia hanya bagian dari Keira alias bayangannya tapi Hati mereka terhubung dengan Keira yang sesungguhnya sehingga Keira bisa satu pemikiran dengan dirinya yang lain.


Dari dirinya yang lain, Keira bisa melihat bagaimana keadaan Noah sekarang dan Keira pun juga mulai memikirkan hal yang dipikirkan oleh dirinya yang lain.


"Keira, apakah kau baik-baik saja?".Tanya Abel bernada khawatir saat menyadari adanya perubahan dari raut wajah Keira seakan ia tahu gadis itu sedang memikirkan sesuatu.


Keira hanya diam saat Alex bertanya kepadanya. Ia hanya menatap Alex dengan tatapan sedih dan sendu.


Sungguh, ia mencintai Alex sekarang namun ia sungguh-sungguh sangat takut jika Alex akan mengalami nasib yang sama dengan Noah.


Atau lebih buruk, Keira sangat takut jika Alex juga berakhir seperti Elias.


"! Keira?". Alex terkejut saat Keira mendadak memeluk dirinya. Ingin ia bertanya ada apa namun ia urungkan karena ia tahu Keira pasti tidak ingin membicarakan apa yang mengganggu dirinya saat ini melainkan ia memutuskan untuk menunggu sampai Keira yang mengatakannya kepadanya sehingga ia memeluk Keira balik dan mengusap Kepalanya.


"Jika Ada yang ingin Kau katakan, katakan saja padaku namun jika kau tidak ingin mengatakannya, aku akan menunggu dengan sabar sampai kau mengatakannya padaku dan yakinlah, aku akan selalu ada untukmu". Bisik Alex secara lembut di telinga kiri Keira.


Aku berjanji akan melindungimu Alex…


aku berjanji tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti dirimu… Keira berjanji dalam hatinya sambil tetap memeluk pinggang Alex.


Sementara itu…


Emery kembali terpental kuat sampai punggungnya menabrak sebuah pohon maple besar hingga membuat pohon itu tumbang karena kekuatan Silvana.


sebenarnya entah Silvana yang kuat atau Emery yang tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya karena tidak tega melawan Silvana atau kekuatannya belum pulih sepenuhnya sehingga, apapun itu, Emery Benar- benar dalam situasi yang terdesak.


"Tunggu!!".Teriak Emery memohon sehingga mendadak Silvana berhenti menyerangnya.


"…kumohon… biarkan aku berbicara sebentar…".


Sambil terbatuk mengeluarkan darah biru Emery memohon untuk berbicara.


Cih! sejujurnya aku tidak sudi untuk mendengarkanmu akan tetapi…


..."cepat, apa yang ingin kau katakan?". Tanya Silvana bernada dingin dan memandang Emery yang terluka dengan benci tanpa simpati didalamnya....


"ak…aku tahu aku bersalah… aku tahu aku mengkhianati dirimu akan tetapi… perasaanku kepadamu benar-benar jujur dan tulus…


apakah kau telah melupakan pengorbanan yang telah aku lakukan untukmu?." Ucap Emery lirih mengharapkan Silvana akan mengingat kebersamaan mereka dulu saat menjadi kekasih.


"Cih! hanya itu yang bisa kau katakan padaku?. Kau pikir kau yang berkorban dalam hubungan kita?".Ucap Silvana dingin dan memandang Emery dengan jijik.


"Silva-".


"AKULAH YANG BERKOBAN DISINI!! AKULAH YANG MEYAKINKAN SEMUA ORANG BAHWA KAU BISA DIPERCAYA! SAHABATKU, SAUDARAKU… GURUKU… AKU TELAH MATI-MATIAN MEYAKINKAN MEREKA SAAT MEREKA MENENTANG KARENA TIDAK YAKIN AKAN DIRIMU.


AKU MENGORBANKAN WAKTUKU DENGAN SAUDARA DAN SAHABATKU SENDIRI DEMI DIRIMU YANG TIDAK SUKA AKU MEMBAGI WAKTU DENGAN ORANG LAIN SELAIN DIRIMU!


BAHKAN… AKULAH YANG MENYERAHKAN SEMUANYA DEMI KEPUASANMU. WAKTU, INFORMASI, BAHKAN… aku membiarkanmu meniduri diriku…


semuanya… untuk PECUNDANG BRENGSEK SEPERTIMU!!!". Silvana menggigit bibirnya sendiri sampai setetes darah menetes dari sudut bibirnya. Kedua tangannya terkepal menahan amarah yang meledak dalam hatinya.


Hatinya sungguh sakit, ia percaya pada seseorang dari bangsa vampir, ia percaya jika hubungan mereka akan membawa kedamaian bagi dua bangsa yang bermusuhan, ia percaya sampai ia pun memberikan segalanya termasuk makhota yang dia miliki dulu.


Sampai ia sadar bahwa cintanya hanyalah alat dari sebuah rencana yang jahat dari orang yang telah ia berikan segalanya.


Silvana tersenyum miris saat mengingat berapa menyedihkannya dirinya dahulu sebagai gadis yang percaya pada orang yang dia hajar sekarang ini. Silvana tidak berhenti menyalahkan dirinya saat itu karena gara-gara dia, dia telah membuat sahabatnya Keira dan Tania kehilangan Elias.


"Silvana… maafkan aku… aku menyesal". Ucap Emery lirih saat mendengar ucapan Silvana.


Mendengar Emery meminta maaf membuat Silvana semakin marah.


"JIKA KAU MENYESAL, KENAPA KAU MENYAKITI NOAHKU?!!".Teriak Silvana lalu melemparkan salah satu pedang sai miliknya yang dibaluri dengan energinya tepat kearah Emery.


Senjata Silvana itu langsung melesat bak anak panah tapi sayangnya Emery langsung mengelak sehingga pedang Sai itu menancap di sebuah pohon yang didekat Emery sehingga pohon itu meledak dan tumbang.


Sadar bahwa ia akan benar-benar dihabisin, Emery melesat kabur akan tetapi Silvana mengejarnya, ia tidak akan membiarkan Emery kabur untuk perbuatannya terhadap Noah.


Terjadilah saling mengejar. Silvana terus mengejarnya hingga Silvana melemparkan senjatanya lagi ke arah Emery dan kali ini pedang Sai itu berhasil mengenai kaki kiri Emery.


Emery terjatuh teguling dan hampir saja ia jatuh kejurang yang berada dihadapannya itu. Ia tidak sadar bahwa ia belari ke jurang.


"Argh!". Emery merasa sakit di bagian kaki kirinya akibat senjata milik Silvana. Ia mencabut senjata itu dan melemparkannya ke sembarang arah.


perlahan Emery berdiri. Ia dalam keadaan linglung, Ia memantau sekitarnya.


Sial! lukaku parah. Akan sulit bagiku untuk kabur sekarang. Satu-satunya pilihanku sekarang, adalah melawan Silvana.


Kenapa tidak Alpha sialan itu saja yang melawanku?. Jika dia, mungkin aku tidak akan setengah- setengah mengerahkan kekuatanku.


"Emer!". Emery menatap ke arah yang memanggilnya, ia bisa melihat Silvana berada dihadapannya. Ia tidak bergerak, ia berharap gadis itu akan iba melihatnya luka parah sekarang ini karena masa lalu mereka yang penuh dengan cinta pasti akan ada di dalam dasar hati gadis itu.


Emery mengira hati seorang perempuan itu rapuh sehingga rasa kasihan itu ada namun ia tidak menyadari bahwa tidak semua perempuan memiliki hati yang rapuh.


Tidak semua perempuan yang tersakiti akan iba terhadap orang yang menyakitinya.


Melainkan yang tersakiti menjadi kuat dan perasaannya baik kasihan atau iba akan orang yang menyakiti akan tersisihkan, karena mereka tahu yang menyakiti akan menganggap yang tersakiti itu masih ada perasaan didalam hatinya dan mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk membuka kembali perasaan yang telah terkunci dalam kotak hati yang dilupakan.


Tidak untuk Silvana.…


perasaannya akan kasihan dan iba tehadap Emery telah ia singkirkan.


Kesalahan yang terjadi dalam hidupnya menjadi pelajaran baginya untuk tidak memaafkan orang yang telah menorehkan lika dalam hatinya.


Ia tidak peduli orang itu mati atau sekarat baginya, perasaan itu tidak penting saat berhadapan dengan orang yang dibenci, sudah saatnya ia membalas perbuatan orang-orang yang menyakiti dirinya tidak peduli orang itu telah memberikan sesuatu padanya.


"ada Kata-kata terakhir, Emer?". Tanya Silvana dingin sembari mencengkram leher Emery dengan tangan kirinya. Emery menatap teduh gadis yang menatap dingin dirinya itu. Ia tidak pernah menyangka akan membuat gadis yang dia cintai menjadi orang yang ingin menghabisi dirinya.


Padahal, dia melakukannya demi keluarga dan bangsanya.


Ia merutuki dirinya sendiri, jika masa lalu bisa diulang, ia tidak akan membantu keluarga Oerloom yang terancam jika putri Lestat menikah dengan putra Hara.


Ia tidak akan membantu sahabatnya itu yang tidak ingin putri Lestat dimiliki oleh putra Hara.


Sebuah cinta egois yang telah menyakiti semuanya dan ia menyesali membantu mereka.


"ada yang… ing-ingin kutanyakan… apakah…".Emery tidak menyelesaikan kata-katanya, melainkan Silvana tahu maksud Emery saat tangan kanan Emery yang berlumuran darah birunya itu menyentuh perutnya.


"tidak ada. Aku bersyukur aku meminum pil sebelum tidur denganmu". Ucap Silvana kemudian Emery menutup kedua matanya saat Silvana mendorongnya jatuh ke jurang.


Saat Emery jatuh ke jurang, Silvana melihat kebawah jurang bahkan saat tubuh Emery jatuh di dalam laut ia melihatnya juga dengan tatapan sedih hingga air mata menetes di sudut matanya. Ia tidak tahu karena Melihat Emery tenggelam di laut atau hal lain.


Ini aneh…


aku membenci dirimu namun aku malah menitikkan air mata untukmu…


padahal aku tahu kau tidak akan mati segampang ini…


Mungkinkah karena… Silvana menyentuh perutnya. Ia tersenyum getir mengingat saat Emery menyentuh perutnya.


kurasa bagian dari diriku yang berada di tempat mencegahku untuk menghabisimu.


Sudah setahun…


Kau jahat namun kau juga bagian dari dirinya.


Kurasa itulah penghalangku untuk menghabisimu, Emery…


Sungguh, aku merasa lemah saat sebuah status lain menyandang diriku… Gumam Silvana dalam hati.


"ah… seharusnya aku biarkan saja Keira yang menghabisinya…".Ucap Silvana sembari memandangi langit yang berawan itu lalu ia berbalik melangkah pergi sebelum akhirnya ia menghilang dari sana bagaikan hembusan angin.