
Suara.....
Suara teriakan orang-orang...
Suara seseorang sedang memanggil... memanggil... memanggil...
"Keira, buka matamu... Keira..! Keira...!!".
"Ng...".Perlahan, Keira membuka matanya. Yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Alex yang sedang menitikkan air mata untuknya dan lampu lift yang awalnya putih berubah menjadi biru.
"Alex...". Panggil Keira.
"Syukurlah kau sudah sadar. Aku takut sesuatu terjadi padamu...". Ucap Alex sembari memeluk Keira yang terbaring di lantai lift dan menghujaninya dengan ciuman di pipi.
Keira membalas pelukannya itu dan mengelus-elus belakang kepalanya.
"apa yang terjadi, Alex?". Tanya Keira saat Alex membantunya berdiri. Ia tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi akibat benturan.
" begini...".
( Flashback...)
saat Keira dan Alex berada di lift, mereka tidak menyadari bahwa di lift yang mereka naiki bermasalah pada bagian sparepartsnya. hingga saat Keira ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja Lift mulai bergetar dan lampu menjadi remang-remang. Menyadari bahwa ada keanehan, Alex langsung memeluk Keira dan saat itu, main rope (sling/kabel utama) dan rope governor (kabel penyangga) yang terlepas. Sehingga, dari lantai tujuh tiba-tiba saja lift itu langsung jatuh. Jika saja lift itu transparan seperti departemen store yang lain, mungkin para pengunjung akan menyadari apa yang terjadi pada kedua orang itu. Lift itu terus saja turun bahkan klem pun tidak dapat membantu dan akhirnya... orang-orang terkejut saat mendengar sesuatu yang jatuh ke lantai basemen dengan keras.
Ow...apa yang terjadi... pikir Alex. Seketika ia menyadari apa yang terjadi dan ia menyadari bahwa ia diatas tubuhnya Keira dan gadis itu belum sadar.
"Astaga! Keira...".
(Flashback end...)
"begitu rupanya. Aku ingat sekarang".
"ini suatu keajaiban kita masih hidup, Keira. Padahal kita jatuh dari lantai tujuh ke G1".
"Kau benar Alex. Kita sungguh beruntung.".
Untunglah, aku sempat membuat Alex jatuh menimpaku saat ia memelukku. Jika tidak, Selain terluka berat, Alex bisa juga mati.
"tapi, apakah kau ada bagian tubuhmu yang terluka?".
Tanya Keira yang khawatir Alex akan terluka.
"Untungnya aku tidak terluka, bagaimana denganmu? apa kau juga-".
"aku baik-baik saja, Alex. Jangan khawatir. Semoga saja mereka yang diluar menyadari bahwa kita terjebak disini".
Ucap Keira lalu, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu lift.👂🏻
"kau sedang melakukan apa?". Alex penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Keira.
"ssssssstttt!". Setelah meminta Alex untuk diam, Indra pendengarannya yang tajam mulai beraksi dan mendengarkan suara-suara yang berasal dari percakapan orang-orang diluar.
"untunglah tidak ada korban pada insiden jatuhnya lift ini. Karena sudah malam, sebaiknya proses perbaikannya dilakukan besok". Ucap salah satu orang yang berwenang di departemen store yang sekarang ini dimana mereka berada.
Tunggu dulu! Kami disini brengsek! seharusnya kalian melihat cctv di depan pintu masuk liftnya dasar bodoh. Bukan harus meninggalkan kami disini.
"Hei! tolong kami! kami disini!" Keira beteriak sekeras mungkin di interkom lift agar suaranya dapat didengar oleh mereka sambil memukul-mukul pintu lift.
...BRAAK BRAAK BRAAK BRAAK BRAAK!...
"Hei, kau dengar suara itu?". Tanya seorang laki-laki itu.
"Hei, itu hanya perasaanmu saja. Ayo kita pergi".
Dasar manusia brengsek! apa manusia-manusia ini makan gaji buta apa?!. Keira mengumpat dalam hati saat mendengarnya, bahkan interkom tidak ada yang menjawab.
"dasar sialan!"
dengan kesal Keira Memukul pintu lift itu sehingga bagian pintu lift itu menjadi penyok. Hingga ia menyadari apa yang dilakukannya sehingga ia menekan emosinya setenang mungkin karena ia teringat bahwa ia terjebak bersama dengan Alex.
Ia menoleh ke belakang untuk melihat reaksi Alex namun ia terkejut saat melihat Alex.
"Alex!". Keira langsung menghampiri Alex yang terbaring di sudut lift dalam keadaan meringkuk menyerupai bola dan Keira dapat melihat Alex menggigil kedinginan.
Alex...
Keira melihat Alex yang sedang menggigil kedinginan. telapak tangannya menyentuh dahi Alex dan merasakan rasa panas saat menyentuh dahinya.
Panas sekali... dia pasti demam tinggi.🤒 Tidak mengherankan jika ia bakalan jatuh sakit karena ia basah kuyup dibawah guyuran hujan... aku harus meminta bantuan.
Segera Keira merogoh saku celananya dan jaket kulitnya untuk mencari ponselnya Hingga ia menyadari bahwa ponsel miliknya ketinggalan.
Sial!. Ponselku malah ketinggalan di saat situasi seperti ini. Oh yah. Alex pasti membawa ponsel miliknya.
Keira mulai memeriksa pakaian Alex yang miliki kantong sehingga perlahan Alex membuka matanya saat merasakan sesuatu menyentuh dirinya.
"kau sedang apa?".Ucap Alex dan suaranya terdengar lemah.
"aku sedang mencari ponselmu. Dimana ponsel milikmu, Alex?". Tanya Keira setelah menyadari bahwa dia tidak menemukan ponsel milik Alex.
"Ponselku?. Ponselku ketinggalan di rumahku. Aku mencharge baterainya sebelum kemari dan lupa membawanya".
"apa?!. Kenapa kau harus meninggalkannya juga disaat situasi kita begini!?".
"apa yang mau dikata, Keira. Kita tidak akan bisa menduga-duga bahwa kita akan mengalami hal ini seperti saat kita di bukit hitam waktu itu. Kau masih ingat'kan?".
"tentu saja aku ingat kejadian itu. Tapi sekarang ini...".
"aku akan baik-baik saja. Aku laki-laki yang kuat, Keira".
Selain itu...astaga, ini berarti bahwa tidak ada siapapun yang tahu bahwa kita terjebak disini.
Alex sedang demam. Apa yang harus aku lakukan? 😵
"Ini salahmu, Jika saja kau tidak bersikeras Menunggu dibawah guyuran hujan, mungkin kau tidak akan sakit seperti sekarang ini".Ucap Keira dengan suara yang kecil hingga tidak terdengar Alex karena ia tidak sanggup mengatakannya kepada Alex yang sedang demam.
Tapi tetap saja... ini salahku hingga dia...
"Hei... Apa yang kau lakukan sekarang?". Alex bertanya saat Keira melepaskan long Coat darinya.
"mantelmu terlalu basah. Makanya aku melepaskannya darimu". Setelah Keira melepaskan long Coat dari Alex, Keira melepaskan ransel anti airnya dan mengeluarkan sebuah handuk mandi putih bersih yang masih tersegel rapi di pelastiknya alias baru.
Aku tidak ingat kapan membeli ini namun ia seharusnya mengelap wajah Alex dengan handuk mandi itu dari awal. Bukan dengan handuk kecil bekas lap motor dan saputangan bekas bokong Moci. Hehe.
Setelah ia menyeret Alex ke sudut,
Keira membuka segel plastik itu lalu ia mengeluarkan handuk itu dan menyelimuti Alex.
"apa yang kau lakukan?".
"mencoba untuk menghangatkanmu. Ini ketiga kalinya kau bertanya padaku".
Setelah ia menyelimutinya, Keira mengeluarkan sebuah benda yang membuat Alex terkejut melihatnya.
"Linggis?! mengapa kau membawa-bawa benda itu?!".
"hehehe. Dunia ini begitu kejam, Alex. Setiap wanita harus melindungi dirinya sendiri'kan?".
Jujur saja. aku tidak tahu mengapa aku membawa ini tapi kurasa berguna juga untuk membuka pintu lift sialan ini. Setidaknya Alex melihat aku memakai linggis untuk membukanya. Bukan dengan kekuatanku.
Pikir Keira sembari meletakkan kepala Alex diatas ranselnya sebagai bantal.
Tidakkah aneh jika kau membawa linggis?!. Kau akan dikira maling oleh petugas sini karena membawa benda itu ke pusat perbelanjaan. Pikir Alex yang merasa heran dengan bawaannya Keira.
"biar aku saja yang melakukannya".Alex mencoba bangkit Namun Keira mencegahnya
"Alex, kau ini sedang demam. Berbaringlah, biar aku saja yang melakukannya. Jangan mengira bahwa aku tidak bisa".
Keira berdiri dan berjalan ke pintu lift itu, sedangkan Alex hanya bisa melihatnya saja.
Aku butuh bantuan... Aku terjebak di lift yang jatuh bersama dengan Alex di dalam mall yang lokasinya dekat dengan taman Altair. Manusia-manusia yang berhubungan dengan mall ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa kami berada disini dan akan melakukannya besok sedangkan Alex sedang demam dan aku tidak tahu berapa lama oksigen yang tersisa di dalam sini sedangkan Alex sedang demam...
Kirimkan bantuan.
Ucap Keira secara telepati ke bagian dirinya yang lain yang menggantikannya di Twinsbells dan disaat yang sama, Keira yang lain menerima pesan dari Keira Utama saat ia dan lainnya baru saja selesai membereskan cafe karena jamnya menunjukkan waktunya untuk tutup.
"apa?!".
"ada apa, Keira?". Tanya Dion saat melihat keterkejutan Keira. Tania dan Silvana juga penasaran.
"Tania, hubungi Aurora. Sesuatu telah terjadi pada Keira".
"apa?!". Ketiga orang itu terkejut mendengarnya dari Keira yang lain.
"apa!? apa yang terjadi padanya!?".
"akan ku ceritakan, tapi hubungi The Aurora terlebih dahulu".
Sementara itu...
"apa?!. Yang benar saja!".
"ada apa, Keira?". Tanya Alex saat mendengar nada marah dari Keira.
"aku berhasil membuka sedikit pintu lift namun saat melihat celahnya, aku melihat dinding semen di luar. Itu berarti bahwa kita jatuh di dasar yang lain. Argh! Sial!".
Dengan marah, Keira membanting linggis itu ke pintu lift dengan kuat sehingga menimbulkan kesan penyok karenanya.
Sekarang harus bagaimana?. Sebaiknya aku mengetahui seluk beluk sekitar lift ini.
Keira meletakkan telapak tangannya ke pintu lift. Ia memejamkan mata dan menggunakan kemampuannya Luminos dan seketika ia melihat yang dicarinya.
Sudah kuduga. Kami jatuh di lantai dasar lain selain basemen. Aku dapat melihat pintu lift diatas lift ini. Berarti, kami harus memanjat ke atas, namun jaraknya dari pintu itu lumayan jauh. Aku tentu saja masih bisa menjangkau pintu itu dengan sekali lompatan tinggi.
Tapi Alex... bagaimana dengannya?. Ia pasti tidak akan berhasil karena dia adalah manusia dan kondisinya sangat tidak mungkin.
Selain itu, tidak ada pijakan untukku di pintu itu. Sama saja jika aku melompat, aku pasti akan jatuh saat mencoba membuka pintu lift itu karena tidak ada pijakan.
Tidak ada pilihan lain selain harus menunggu.
"Keira". Panggilan Alex membuat Keira menghentikan kemampuannya lalu ia berbalik menghampiri Alex untuk mengecek kondisinya.
" Jangan khawatir, kita pasti akan keluar dari sini. Jangan memasang wajah yang sedih begitu. Sangat tidak cocok untukmu" Ucap Alex sembari tersenyum dan mengelus pipi kanan Keira.
"Jangan banyak bicara, Alex... Cobalah untuk tidur. Kau akan baik-baik saja".
"aku tidak akan baik-baik saja jika kau tidak mau berbaring di sebelahku". Alex memundurkan tubuhnya sedikit untuk membagi tempat kepala di ransel Keira agar gadis itu dapat berbaring di sebelahnya.
"hei, sudah demam begini jangan minta-minta yang aneh dong. Kau ini".
"Hei, permintaanku tidak aneh tahu. Tubuhmu sangat hangat, handuk ini hanya memberiku sedikit rasa hangat. Seharusnya kau berbagi kehangatan, dong. Bagaimana pun aku jadi begini salah siapa".
Ucap Alex untuk membuat rasa bersalah muncul dalam diri Keira. Sebuah siasat licik dari Alex agar Keira mau berbaring disebelahnya dan usahanya berhasil.
Sebuah rasa penyesalan terbesit di dalam diri Keira.
"baiklah. Kau menang". Mau tidak mau, Keira berbaring di sebelah Alex.