
"Silver!? bagaimana bisa?". Silvana kaget tak percaya saat tahu anak yang memeluknya adalah Silver.
Silver yang mendengar ketidak percayaan Silvana melepaskan pelukannya dari pinggang Silvana, sambil menyeka air matanya, ia memandangi wajah Silvana.
"Ibu, apa kau tidak percaya padaku? aku Silver, anak yang ibu lahirkan setahun yang lalu.... ".
"Nak, ini karena ibumu begitu bingung dengan wujudmu yang sekarang, nak". Ucap nyonya panti menjelaskan kepada Silver.
"Nona, mungkin nona belum tahu bahwa ketika seorang wolfblood lahir dari pasangan werewolf dan vampir, maka saat ia berusia satu tahun, ia akan tumbuh menjadi lima tahun dalam sekejap dan saat itulah proses pertumbuhan Anak-anak wolfblood dimulai. Kecuali wolfblood dengan wolfblood menghasilkan anak wolfblood maka sang anak akan tumbuh seperti Anak-anak pada umumnya". Tuan panti menjelaskan.
"jujur, aku baru tahu akan hal ini. Tapi kenapa ketiga anakmu tumbuh biasa seperti aku dan lainnya?".
"itu karena ibu kami adalah seorang werewolf, dan gen dalam tubuh ayah kami terdapat gen werewolf jadi tidak heran jika kami hanya telahir sebagai seorang werewolf dan tumbuh biasa seperti Anak-anak werewolf atau manusia atau vampir". pemandu itu menjelaskan.
"Selain itu, anda adalah orang pertama yang berkunjung kemari lagi untuk melihat anak anda jadi andalah yang tahu akan hal ini". Ucap tuan panti.
Silvana terdiam mendengarnya, ia menoleh. Anak kecil itu berjalan bersama dengan nona panti kearah dirinya. Bocah kecil itu menatap Silvana agar ia percaya bahwa dia adalah putranya.
Silvana mengajarkan tubuhnya sesuai dengan tinggi Silver. Silvana bisa melihat kemiripan yang ada pada anak itu. dia begitu mirip dengan dirinya saat masih kecil, anak itu bagaikan dirinya versi laki-laki.
Air mata mulai menetes membasahi pipi kirinya lalu dalam sekejap, ia memeluk putranya.
Silver yang dipeluk tersenyum bahagia karena ibunya telah mengenali dirinya. Ia pun memeluk balik Silvana.
"ibu... aku senang akhirnya ibu mengenali diriku. Aku sangat merindukanmu, ibu".Ucap Silver mengungkapkan kerinduannya pada Silvana.
Mereka melepas pelukan dan melihat satu sama lain. Sungguh, Silvana sangat merindukan putranya itu setelah sekian lama namun ia harus menahan ego demi keamanan putranya sehingga ia harus menekan kerinduannya itu.
"…nak, bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku adalah ibumu…?. Apakah mereka memberitahumu?". Tanya Silvana sembari mengelus Kepala Silver dan Silver menjawabnya dengan geleng-geleng kepala.
"aroma tubuhmu ibu. Silver bisa mengenali ibu karena aroma tubuh ibu".
"eh?".
"nona, saat wolfblood lahir, mereka bisa mengetahui siapa ibu mereka karena mereka mencium aroma tubuh sang ibu sehingga mereka menanam aroma tubuh sang ibu dalam kepala mereka".
"berarti dia mengingat aroma tubuhku dari lahir, yah". Kata Silvana saat tuan panti menjelaskan.
"betul nona. Selama anda hidup, dia bisa mengenali dan merasakan keberadaan anda walaupun berjauhan".
Setelah mendengar penjelasan yang baru dia ketahui pertama kali, Silvana menoleh ke arah Silver. Anak itu tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang menghangatkan hatinya.
"ng… ibu membawakanmu hadiah. Maaf karena terjatuh".
"wah, tidak apa-apa ibu. Apakah yang lain juga dapat?". Tanya Silver karena ia juga memikirkan Anak-anak yang tinggal bersamanya dari kecil. Silvana mengangguk membuat Silver senang lalu ia menyerahkan Goodybag- goodybag itu pada tuan dan nyonya panti. Silvana tersenyum haru, diusia masih kecil, Silver masih memikirkan orang lain.
"saya juga membawakan oleh-oleh untuk tuan dan nyonya".
"Anda tidak perlu repot-repot membelikan kami hadiah nona. Melihat anak-anak bahagia mendapatkan hadiah dari anda sudah membuat kami senang".Ucap nyonya panti yang merasa sungkan saat menerima bingkisan untuknya dan suaminya dari silvana, sedangkan suaminya dan anaknya sedang membagikan hadiah yang dibawa Silvana untuk Anak-anak.
Benar saja, mereka sangat menyukainya saat mendapatkan hadiah. Silvana merasa senang melihat keceriaan anak-anak tersebut apalagi ia juga merasa simpati terhadap mereka karena mereka tidak punya orang tua.
Mungkin mereka merasa sedih melihat anak-anak wolfblood lain bersama dengan orang tua mereka yang juga wolfblood ataupun yang salah satunya dari bangsa werewolf. Silvana berharap hadiah yang dia berikan bisa membuat mereka ceria.
"Silver, mengapa kamu tidak mengajak ibumu Jalan-jalan melihat-lihat nak?".
"baik paman. Ayo ibu".dengan senangnya Silver menarik tangan ibunya dan mengajaknya pergi sedangkan mereka yang melihat di panti itu juga senang melihat kebahagiaan di wajah Silver walaupun hanya sementara karena Silver tidak tahu bahwa Silvana hanya mengunjunginya saja, tidak membawanya pulang.
....•♫•♬•Sementara itu di sekolah...•♬•♫•....
"dimana Silvana?".Noah bertanya kepada Tania. Saat itu, jam istirahat telah tiba. Tania yang ingin pergi ke kantin Untuk makan siang malah berpas-pasan dengan Noah dan seperti biasa bila ada anggota Trinity yang lewat para siswi akan menggila karena berjumpa dengan idola mereka.
Sehingga, Tanpa ba bi bu Noah menarik tangan Tania dan mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk bicara sedangkan Tania merasa kaget karena belum sempat ia menjawab ia malah ditarik pergi oleh orang yang bertanya.
Semua itu gara-gara para siswi yang kegirangan melihat idola mereka padahal mereka pasti melihat Anggota Trinity setiap hari.
"hei, kau membawaku kemana?".
"ada yang perlu ku bicarakan denganmu".Jawab Noah.
"jika kau bertanya tentang Silvana, hari ini dia gak masuk".
"apa?".Noah menghentikan gerak langkahnya dan menoleh ke Tania.
" dia tidak masuk? ".Noah memastikan apakah yang dia dengar benar atau tidak.
" ya". dengan kasar ia melepaskan tangannya dari tangan Noah. Tania merasa jengkel dengan Noah yang langsung menarik tangannya.
"kenapa dia tidak masuk? ".Tanya Noah nernada dingin.
"masa kau tidak tahu?!. Bukankah kau sahabatnya?. dia satu kelas denganmu".Mendadak Noah meninggikan suaranya sehingga membuat Tania kaget.
Ini aneh, baru pertama kali aku melihat Noah meninggikan suaranya. Padahal, antara Alex, Danny dan Noah, Noah lah yang paling kalem. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini, dingin dan meninggikan suaranya.
Ada apa ini? .Pikir Tania. Gadis itu Berasa bingung dengan tindakan Noah hari ini.
"kau pasti berbohong padaku".Tuduh Noah.
"Apa?!!. Kau pikir aku bohong?!".
Noah sialan, aku memang tidak tahu kenapa dia tidak masuk. Lagipula, aku menghargai privasinya tahu, jadi wajar aku tidak bertanya.
"ada apa ini?". Tanya seseorang. Mendadak Tania merasakan aura yang dingin, baik Noah maupun Tania menoleh ke asal suara yang ternyata adalah Danny.
Danny berjalan menghampiri mereka dan menatap dingin Noah.
"bagaimana kau bisa tahu kami disini?". Tanya Tania berasa bingung.
"Salah satu siswa telah memberitahuku bahwa Noah telah menemuimu dan menarikmu pergi. Dengan perasaan gusar Aku mencari kalian. Selain itu, Noah…".Tatapan Danny kali ini mengarah pada Noah. Sambil membelakangi Tania agar menjadi penghalang antara Noah dengan Tania, ia menatap Noah dengan dingin juga.
"bagaimana bisa kau menuduh Tania berbohong?. Terlebih lagi aku tidak suka dengan nada bicaramu yang tinggi terhadapnya tadi".Danny merasa kesal, saat itu ia mendengar argumen Noah dan Tania. Ia tidak suka jika ada orang yang menyudutkan Tania walaupun orang itu adalah sahabatnya sendiri.
"Ini bukan urusanmu Danny. Aku bertanya, aku ragu dia berkata jujur".Noah juga tidak suka jika ada yang mencampuri urusannya.
"ini urusanku juga Noah!. Gadis yang kau tuduh pembohong adalah pacarku!"Pekik Danny.
huh? pacar?? sejak kapan aku pacaran dengan anak ini???. Pikir Tania. Gadis itu bingung dan juga kaget. Bagaimana tidak, ia hanya Jalan-jalan sekali saja dengan Danny. Dan pastinya hubungan mereka masih belum mengarah ke sana.
"Jika kau ingin tahu, kenapa kau tidak menghubunginya saja?".
"jika bisa, aku tidak akan bertanya pada gadis ini. Selain itu, ada yang mau aku tanyakan pada kalian berdua".
....•♫•♬•DI DESA WOLFBLOOD...•♬•♫•....
Silvana duduk di pinggir sungai, menikmati udara sejuk yang membelai wajahnya bersama dengan putranya untuk pertama kalinya. Silvana menoleh ke kiri, ia tersenyum haru saat melihat putranya yang tampan itu sedang asyik memakan roti kukus daging yang dia beli untuknya di pasar saat ia Jalan-jalan dengan Silver di desa.
"nak". Panggil Silvana.
"hm?". Silver menoleh.
"apakah disini kamu baik-baik saja?".
"he em. Aku baik-baik saja ibu. Silver makan dengan baik, Semua orang disini baik padaku ibu. Aku juga belajar dengan baik, kata guru nilaiku bagus dan anak yang pintar". Jawab Silver sambil tersenyum hangat pada Silvana.
"Syukurlah... ibu lega mendengarnya... nak…
apakah dirimu membenciku?". Tanya Silvana dengan raut sedih. Silver menoleh, ia terkejut mendengar pertanyaan itu dari ibunya.
"kenapa aku membenci ibu?".
"… ibu telah meninggalkanmu disini. Kamu pasti kesepian dan kecewa dengan keputusanku meninggalkanmu disini'kan?. ditambah lagi, ibu belum bisa membawamu kembali".Silver terdiam setelah mendengar ucapan Silvana,Silver menggelengkan kepalanya. Sambil menyedot minuman kotak berisi darah hewan, Silver berdiri lalu menatap ibunya.
dengan kedua tangannya, ia memegang kedua pipi Silvana sehingga kedua mata mereka bertemu.
"Silver tidak membenci ibu. Silver memang sedih karena ibu meninggalkanku di panti namun Silver mengerti bahwa ibu melakukannya untuk melindungi Silver…".
"Silver…".
"Silver mendengar dari paman dan bibi bahwa Silver masih punya ibu, namun karena ada orang jahat yang ingin menyakiti Silver maka ibu harus menitipkan Silver di panti. dan Silver harus menunggu ibu kembali menjemput Silver setelah ibu berhasil melawan orang-orang jahat yang ingin menyakiti Silver.
Ibu betarung di luar sana untuk melindungi Silver jadi, kenapa Silver membenci ibu karena itu?. Lagipula Silver tidak sendirian disini orang-orang panti adalah keluarga Silver juga jadi Silver akan menunggu sabar sampai Orang-orang jahat itu pergi".
"Nak, kamu masih kecil tapi pemikiranmu seperti orang dewasa yah".Silvana tersenyum mendengar Kata-kata yang diucapkan oleh Silver. Ia terharu putranya mengerti kondisi yang dialami walaupun dia juga sedih karena Silver tidak tahu bahwa orang-orang jahat yang dimaksud adalah keluarga ayahnya sendiri dan ia tidak sampai hati mengatakan kenyataan pada anak kecil yang masih polos itu.
"selain itu, Silver tahu bahwa ibu merindukan Silver, memikirkan Silver. Silver juga sama ibu...
Silver bertanya-tanya seperti apakah ibu Silver karena Silver tidak punya foto ibu dan saat Silver mencium bau ibu, Silver bisa melihat sendiri seperti apa ibu Silver. ibu Silver sangat mirip dengan Silver.
Silver bahagia telah bertemu dengan ibu Silver". Ucap Silver dengan sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya. Ia memeluk ibunya, menumpahkan semua kerinduan yang terpendam.
Silvana memeluk anak itu dan mengelus belakang kepalanya dengan lembut.
"ibu juga sayang padamu, nak"
dan ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, putraku...
tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu walaupun orang jahat itu adalah kakekmu , bahkan ayahmu sendiri.