
mengapa kedua makhluk sialan ini tidak pergi juga!? aku tidak tahu berapa lama kami akan bertahan menahan nafas.
Mereka berdua menunggu sambil menahan nafas sebisa mungkin demi keselamatan satu sama lain hingga hal yang tidak diinginkan terjadi pada tidak diwaktu yang tepat saat setetes hujan jatuh mengenai punggung tangannya.
Tidak! arg!
Keira meringis kesakitan saat setetes air hujan mengenai kulit punggung tangannya. Keira ingin berteriak saat merasakan rasa sakit seperti tertusuk pisau saat air hujan menetes mengenai dirinya namun dia tahu jika dia berteriak maka makhluk malam itu akan mengetahui keberadaan mereka dan mereka akan mati.
Sementara itu...
"kau mau kemana, Tania ?".Tanya Hara Melihat Tania mengambil sebuah tombak asli dan tajam yang terpajang di dinding.
"aku akan pergi ke sana mencari mereka, papa. Aku khawatir dengan kondisi Keira. Waktunya tidak banyak".
"aku ikut denganmu". Kata Silvana. Gadis itu juga mengkhawatirkan sahabatnya yang dalam bahaya. Kedua gadis itu akan pergi namun Hara berdiri di depan mereka untuk menghalangi mereka.
"kalian jangan bertindak bodoh. kalian tahu betapa berbahayanya tempat itu bagi bangsa kita? kalau kalian kesana, apakah kalian bisa keluar hidup-hidup? Tidak. Kalian akan mati pada saat itu juga".
"Lalu apa yang harus kami lakukan, papa? membiarkan mereka mati. Kita tidak bisa duduk-duduk santai tanpa melakukan apa-apa sedangkan Keira tersiksa dengan air hujan bulan purnama, papa. dia bisa mati".
"Tania benar paman. Kami tidak bisa berdiam diri disini sedangkan nyawa Keira dan Alex dalam baha...".
"Argh!!!".
"Astaga,Hara!". Antonia berteriak memanggil Hara saat Hara mencoba mencegah Tania dan Silvana keluar sehingga Silvana tidak menyelesaikan kalimatnya karena teriakan seseorang sehingga semua tatapan tertuju pada asal suara.
"Aaaaaaargh!!!!!!! aaaaaaargh!!!!!". Bagian keira berteriak kesakitan sehingga dia hampir terjatuh karena merasakan sakit yang luar biasa baginya. Beruntung Antonia menopang tubuhnya hingga dia tidak jatuh dan seketika semuanya menjadi khawatir karena apa yang dirasakan oleh bayangannya maka sesuatu telah terjadi pada Keira.
"Lihat yang terjadi padanya, Hara". Antonia begitu panik melihat bayangan Keira yang merasakan rasa sakit yang luar biasa dan muncul luka-luka merah ditubuhnya. Hara melesat dan mengetahui apa yang terjadi padanya.
"aku rasa.... hal yang kita takutkan telah terjadi, Antonia". Ucap Hara membaringkan tubuhnya bayangan Keira ke sofa. Mendengar ucapan Hara, kedua gadis itu melesat ke jendela dan melihat apa yang terjadi.
"kita.... terlambat, Tania. Hujan di malam bulan purnama Telah turun".
"Keira ....".
Setetes demi setetes air hujan mulai jatuh ke bumi di malam bulan purnama. Setiap tetesan hujan di malam bulan purnama mengenai bagian tubuhnya maka akan timbul luka kemerahan hingga berdarah dengan rasa sakit seperti campuran rasa terbakar dan tertusuk pisau dan Keira setengah mati menahan rasa sakit yang dirasakannya demi keselamatan Alex karena Makhluk itu tetap belum pergi sedangkan dia menahan nafas dan rasa sakit yang dirasakannya dalam diam hingga dirinya menggigit bibirnya hingga berdarah.
Perlahan, kedua makhluk itu pun mulai beranjak pergi saat hujan benar-benar turun diiringi suara petir yang menyertai. mereka menunggu hingga detak jantung mereka tidak berdegup kencang lagi dan berdetak normal.
"Fiuh... akhirnya mereka pergi". Ucap Alex yang kembali menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya setelah menahan nafas cukup lama sehingga dia merasa dirinya tidak cukup oksigen di paru-parunya.
Setelah ia cukup menghirup udara, Alex menoleh memastikan Keira namun dia terkejut saat melihat darah mengalir baik di tangan maupun di wajah Keira.
"Keira! apa yang terjadi padamu!?". Betapa paniknya Alex saat melihat Keira merasa kesakitan dan luka-luka merah muncul ditubuh gadis itu dengan mengalirkan darah diantara luka-lukanya sehingga dia mulai oleng dan hampir jatuh tetapi beruntung Alex dengan sigap langsung memegang dirinya hingga Keira tidak terjatuh dan pelan-pelan membaringkannya.
"Aaaaaaargh!". Keira tidak dapat menahan rasa sakitnya lebih lama lagi. Ia berteriak dan tubuhnya meronta-ronta setelah menahan sakit yang dirasakannya dari hujan yang turun.
Di Wilayah Selatan...
"Keira!". Leo tersentak bangun dan memanggil nama adik perempuannya, Jantungnya berdetak kencang saat ia terbangun dari atas tempat tidur gantung (Hammock)miliknya .
"ada apa Leo? kau mimpi buruk ?". Tanya seorang gadis werewolf yang merupakan sang Mate Leo. Gadis itu ikut terbangun di pelukan Leo saat Leo tersentak bangun dan beteriak.
"aku rasa begitu. Aku membuatmu terbangun, Myesha".Ucap Leo dengan Lembut mengecup kening gadis berambut Brunette bernama Myesha itu.
"Tidak apa-apa, Alphaku sayang. Lihatlah, kau berkeringat dingin dan jantungmu berdetak kencang. Aku rasa mimpi yang kau alami benar-benar mimpi yang sangat buruk". Kata Myesha saat salah satu tangannya mengelus pipi Leo sedangkan tangannya yang lain menyentuh dada bidang Leo yang terbalut kemeja putih yang terlihat basah akibat keringat.
"kau benar, Myesha. Mimpiku sangat buruk. dalam mimpiku, aku melihat adikku tersayang terbaring lemah dengan luka dan darah di sekujur tubuhnya. Aku khawatir bahwa mimpi yang aku alami adalah firasat tentangnya".
"oh Leo.... jangan khawatir, aku yakin Keira kita akan baik-baik saja. kau bilang dia berada di pulau Lamiya bersama paman dan bibi Rhyes. Aku yakin dia akan aman bersama mereka". Ucap Myesha menenangkan Leo namun dia juga khawatir jika mimpi yang dialami Matenya benar-benar menjadi kenyataan karena hubungan dia dan Keira cukup dekat layaknya kakak perempuan dan adik perempuan.
"aku harap dia baik-baik saja".ucap Leo yang mulai merasa tenang dari luar namun hatinya merasa tidak tenang sehingga dia memeluk Myesha dengan erat untuk menenangkan kegusaran hatinya.
aku harap mimpi ini bukan sebuah firasat... aku berharap kau baik-baik saja, Keira.
di sisi lain...
Mimpi apa barusan yang aku lihat? mengapa rasanya sebuah firasat terjadi sesuatu padanya...? aku berharap bahwa firasatku salah dan kau baik-baik saja, Keira.
Kedua laki-laki itu memiliki mimpi yang sama terhadap orang yang sama namun mereka salah mengira bahwa Keira akan baik-baik saja karena kenyataannya gadis itu tersiksa di guyuran hujan deras di malam bulan purnama.
Tubuh gadis itu gemetar tak terkendali dalam dekapan pangkuan Alex yang begitu panik melihatnya. Saat hujan di malam bulan purnama mengenainya, membuat Keira sang Alpha menjadi lemah, kesakitan dan mudah terluka.
"oh Keira, apa terjadi padamu? mengapa tiba-tiba saja kau menjadi seperti ini?". Alex begitu khawatir dan panik namun dia tidak tahu harus berbuat apa karena mereka terjebak di sumur yang mulai terisi air akibat hujan yang turun dengan deras sehingga kabut menghilang dan sewaktu-waktu makhluk mengerikan itu akan kembali.
Keira menatap Alex dengan pandangan yang nanar. Kedua tangannya yang terluka dan terasa berat juga lemah meraih kerah baju Alex sehingga wajah Alex menjadi begitu dekat dengan wajahnya.
"ra...ha...sia...ku... ada...lah... aku... a...***..gi de..ngan a...ir hu...Jan di ma...lam... Pur..nama. tetesan ai..r...nya mem...buatku se...perti i..n..i". Bisik Keira Secara terbata-bata karena dia sudah sangat lemah dan seketika ia mulai tidak dapat mendengar Alex memanggilnya dan pandangannya mulai menghitam.
"Keira. Keira, bangun Keira. Aku mohon bertahanlah". Ucap Alex memanggil manggil namanya sambil menepuk-nepuk pipi Keira yang mulai dingin.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? di atas makhluk hidup itu pastinya akan menangkap kami jika kami naik keatas sedangkan disini, air hujan mulai mengisi sumur ini dan sebentar lagi kami berdua akan tenggelam namun lebih dari itu, Keira sedang sekarat dan harus segera di tolong.
Sekali lagi Alex melihat wajah Keira yang berada di dekapannya. Wajah yang tidak sadarkan diri dan mulai dingin membuat Alex mengambil sebuah keputusan yang sangat berbahaya namun tidak ada pilihan lain karena nyawa Keira yang dipertaruhkan.
"Jangan khawatir, Keira. Kita akan keluar dari sini. Aku akan mengeluarkan kita dari sini karena itu, bertahanlah".
malam itu, dibawah langit bulan purnama dengan derasnya hujan yang turun disertai dengan kilatan petir terdengar jelas, Alex memanjat kembali ke celah-celah sumur dengan Keira yang berada punggungnya. Untunglah Alex sempat mengikat pinggang Keira ke padanya agar Keira tidak terjatuh saat ia memanjat. Dengan hati-hati ia meraih dan memanjat celah-celah sumur yang basah dan licin akibat guyuran hujan agar tidak jatuh kedalam air yang kedalamannya dengan cepat sudah setinggi lehernya ditambah lagi dengan guyuran hujan deras yang membuat jarak pandangnya lumayan berkurang .
Sekali-kali ia terpeleset dari celah dinding sumur namun ia berhasil bertahan demi Keira. Ia terus memanjat dinding itu menuju keatas hingga akhirnya usahanya telah membuahkan hasil baginya. akhirnya Alex bersama dengan Keira berhasil keluar dari lubang sumur itu dan beruntung makhluk itu tidak di dekat mereka. Sehingga Alex berlari dengan Keira di punggungnya yang tidak berdaya dan lemah.
"bertahanlah Keira. Kita pasti akan selamat". Laki-laki itu belari dan benar kata Keira. Setiap Alex melangkah, Alex dapat melihat sulur-sulur pohon mati mencoba menangkapnya tetapi dengan gesitnya Alex berhasil menghindar dari serangan pohon-pohon itu namun dia tidak tahu dimana mereka Sekarang dan jalan keluarnya berada di mana karena Keira tidak menunjukkan tempat terlarang ini dan hanya Keira yang tahu jalan keluarnya namun dia tidak bisa bertanya padanya karena ia sudah sangat lemah dan setengah mati sehingga disaat ia bingung dimana mereka akan berteduh hingga Alex Melihat sebuah gua yang tidak jauh dari hadapannya.
"aku rasa kita akan aman disana".
Setelah melihat kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada suatu makhluk apapun yang mendekati mereka, Alex langsung belari dan masuk ke dalam gua tua itu dan beruntung di dalamnya cukup besar dan luas sehingga mereka berdua bisa berteduh di dalamnya. dan didalam, memperhatikan dan menjelajahi sekeliling dalam gua dengan glow stik sebagai penerangan. Alex terus berjalan semakin dalam di dalam gua itu untuk berjaga-jaga tidak ada makhluk apapun yang akan mengikuti mereka Hingga Alex berhenti dan menurunkan Keira.
"Keira. Keira. Sadarlah, Keira. Kita sudah tidak di dalam sumur Sekarang". Alex terus memanggil namanya dan mencoba untuk menyadarkannya dari menepuk-nepuk pipi Keira bahkan menggosok-gosok telapak tangannya dengan kedua tangannya agar kehangatan dapat tersalurkan ke tubuh Keira hingga perlahan Keira mulai membuka matanya walaupun terlihat sayu saat membuka matanya dan kemudian dia kembali menutup matanya.
"Keira...". Segera Alex memeluk Keira dalam dekapannya seerat mungkin agar gadis itu bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya dan berdoa dalam hatinya untuk pertama kalinya dalam sebelah tahun terakhir agar Keira dapat bertahan dan mereka dapat diselamatkan.
Tok.....tok.... tok...
!! Suara apa itu? .Pikir Alex sesaat matanya yang terpejam kembali terbuka saat ia mendengar sesuatu yang mendekati mereka.
Suaranya Makin lama makin dekat kemari. Apakah monster-monster itu masuk kemari?. Kurasa tidak. detak Jantungku normal-normal saja tapi aku harus waspada.
"Siapa!?".Tanya Alex dengan nada tinggi sambil mengarahkan glow stik itu ke asal suara hingga ia melihat seseorang datang dengan tongkat jalan dan lampu lentera.
Huh? seorang wanita tua? buat apa ada wanita tua disini?? dan pakaiannya, kenapa aneh sekali?. Pikir Alex saat melihat wanita tua dengan pakaiannya yang terdiri jubah tudung hitam seperti dukun atau penyihir berjalan menggunakan tongkat kayu dan membawa Lampu lentera untuk melihat sepasang anak muda yang berpelukan dengan pakaian mereka yang basah kuyup.
"Siapa kau!? Jawab aku!".
"Aish anak muda. dimana sopan santunmu? tidakkah kedua orang tuamu mengajarimu untuk tidak meninggikan suara di depan orang tua?".
Alex terdiam mendengar ucapan dari seorang wanita tua itu. dia tahu bahwa dirinya terasa tidak sopan namun ia merasa aneh dengan wanita tua yang dihadapannya itu.
ini aneh. Bagaimana bisa wanita tua ini ada disini? aku tidak pernah melihatnya di pulau ini. mengapa dia bisa di hutan ini? Apakah dia salah turis yang pernah hilang karena memasuki hutan ini dan bersembunyi tanpa keluar semenjak itu? berapa lama dia disini?.
"anak muda, mungkin ada banyak pertanyaan yang ingin tanyakan kepadaku, tetapi sebaiknya ke tunda dulu pertanyaanmu itu karena yang penting sekarang adalah menolong putri Lestat ini".Kata wanita tua itu saat melihat kondisi Keira sekarang sangat mengkhawatirkan.
"Lestat?".
"hei, kau tidak tahu siapa nama Ayah gadis ini? ck ck ck padahal aku bisa melihat hubunganmu dengan nona Keira begitu dekat".
apa boleh buat. Aku tidak bisa bertanya siapa nama Ayah dan ibunya karena aku masih dalam tahap pendekatan... tunggu dulu...! dia tahu nama Keira, berarti...
"kau mengenal Keira, nenek tua?".
"hei, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Kau bisa memanggilku Mabayo. dan aku memang mengenal gadis ini sejak lama dan aku tahu cara mengobatinya sebelum terlambat. Kau mau ikut untuk menolong hidup gadis yang berada di antara hidup dan mati ini atau tidak?".
"Aku....".