
Di kamar Keira...
"Kenapa kau lama sekali?". Tanya Alex ketika Keira masuk ke dalam kamar bersamaan dengan Alex baru saja selesai berganti pakaian.
"Aku habis berbincang-bincang dengan Tania dari tadi".
"pembicaraan para gadis?".
"Tentu saja ". Jawab Keira sembari berbaring di tempat tidur.
"hei, gantilah bajumu du- ah, dia sudah tertidur rupanya". Ucap Alex saat melihat gadis itu sudah tidur duluan.
Ya ampun, seharusnya dia melepaskan sepatunya dulu. Pikir Alex saat melihat sepasang sepatu boots masih melekat pada kaki gadis itu.
Sehingga Alex berinisiatif untuk melepaskan sepatu itu dari kaki Keira namun ia berhenti saat giliran Sepatu bots kaki kanan Keira yang dilepas.
Aku baru teringat. pergelangan kaki kanannya terluka, tapi mengapa dia pakai sepatu yang akan menekan luka di pergelangan kakinya ini? Tidakkah dia akan merasa sakit? . Pikir Alex. Setelah melepaskan kedua sepatunya, Alex melepas Jaket coklat dengan bulu-bulu hewan di bagian kerah dan kedua pergelangan tangan tapi matanya menangkap sesuatu yang familiar saat benda itu jatuh dari Jaket Keira.
!! i-ini'kan bulu hewan yang pernah aku temukan di...
Alex teringat saat mendapati gumpalan-gumpalan bulu hewan di kasur tempat Keira tidur dan ia pun teringat dengan pertemuannya dengan Serigala putih seperti salju.
Aku ingat bahwa Serigala itu juga memiliki warna bulu yang sama dengan bulu ini. Apakah bulu ini berasal dari hewan yang sama? aku tidak tahu. Teksturnya begitu lembut. Aku tidak bisa memastikannya dengan pasti.
"Ng...".
"shooo...". Alex membelai lembut kepala gadis itu agar gadis itu tidak terbangun sembari menyelimutinya. Gadis itu merasa nyaman dengan belaiannya itu. Alex tersenyum melihatnya saat tidur walaupun pertanyaan-pertanyaan mulai mengusik Pikirannya dengan semua keanehan yang dialami semenjak datang ke pulau lamiya.
Beberapa hari kemudian...
"ah..... senangnya bisa kembali". Kata Dion kepada Keira sembari menikmati ice cream cup Vanilla Choco chips di taman sekolah.
"hihi. Kau benar Dion".
Beberapa hari telah berlalu...
Tidak terasa bahwa liburan musim panas telah berakhir.
Itu berarti, para orang dewasa mulai sibuk terbebani dengan pekerjaannya yang menumpuk, murid-murid sekolah yang setelah bermati- matian mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk dalam sehari sebelum musim panas berakhir, dihadapkan kembali dengan tugas sekolah yang baru.
Ah...Para guru memang tidak bisa membuat membiarkan para murid bernafas lega setelah tugas musim panas dengan memberikan pelajaran yang panjang dan tugas sekolah yang baru. Aku baru mengetahuinya. Tidak mengherankan banyak yang merasa waktu liburan berlalu dengan cepat.
Setidaknya musim panas meninggalkan kesan mendalam dan pengalaman tidak akan pernah terlupakan bagi sebagian orang.
Seperti kami yang telah kembali dari pulau Lamiya beberapa hari yang lalu sebelum musim panas berakhir.
Keira memikirkan orang-orang yang ikut liburan bersamanya ke pulau Lamiya dan teringat akan perbicangannya dengan mereka diantaranya.
Cio...
ia kembali memantau Wilayah utara seperti biasanya saat aku, Tania dan Silvana tidak ada ditempat. Ia juga menjalankan kesibukannya sendiri yang tidak diketahui siapapun. Aku penasaran apa itu?.
Tania...
Kewarasannya telah kembali ? aku tidak tahu apakah sebagian atau seluruhnya.
Ia menjalani kehidupan SMA bersamaku, Silvana dan Dion. Ia senang bermain musik di klub bersama kami bertiga. Ia juga kemampuan baru dalam bermain dogdeball walaupun... saat melakukan Smash sering mengenai wajah-wajah lawannya. Khususnya wajah Britney, Violet dan Rachel. Ia bahagia sekali sering mengenai wajah ketiga gadis itu seolah-olah dia punya dendam dengan mereka.
Saat aku bertanya mengapa dia suka melakukan itu atau mengganggu mereka , dia akan berkata:
"Tentu saja karena aku adalah temanmu juga wakil sekaligus tangan kananmu dan ketiga gadis itu sering kali mengolok-olokmu atau mengganggumu sehingga... aku harus membalas mereka Mungkin inilah namanya mata dibalas mata, bully dibalas bully.
"aku tahu tapi kalau bisa, jangan terlalu sering melempar bola tepat diwajah mereka. Aku tidak mau kau mengalami tuntutan dari mereka karena menghajar wajah mereka".
Ucap Keira mencoba memberi nasihat kepada Tania tapi bahagia dengan perbuatan Tania demi dirinya.
"hehe. Jangan khawatir, Papa mendukung perbuatanku yang suka usil mengganggu mereka karena aku bilang pada papa bahwa mereka suka mengganggu yang mulia putri sehingga aku membalas mereka dan papa balik memarahi ketiga ayah gadis-gadis itu karena membuat mereka menjadi angkuh dan jahat. Hahahaha".
"bagaimana dengan bibi?".
"eh!?😅 mama tidak tahu karena aku dan papa merahasiakan ini darinya. Ia bisa ngamuk dan melempari papa dengan pisau-pisau karena mendukung perbuatanku yang bisa dibilang...ng... jahat?".
"hadeh...".
Silvana...
Tidak ada yang menyangka bahwa liburannya kali ini akan mendapatkan seorang kekasih dari bangsa manusia. Seseorang yang pernah ia temui saat masih kecil dan juga masih menjadi manusia saat itu. Aku teringat akan pembicaraan kami waktu itu:
"aku tidak pernah menyangka bahwa aku bertemu lagi dengan Noah Archer setelah bertahun-tahun dan dia masih mengingat dan mengenali diriku.
"kami bertemu saat aku masih seorang gadis kecil berusia tiga tahun berjalan diluar dibawah hujan deras disertai dengan petir yang menggelegar.
Karena dingin dan lapar disertai dengan luka membuatku pingsan dijalan. Untunglah mobil yang dikemudikan oleh supir keluarga Noah dengan Noah di dalamnya menemukanku dan membawanya kerumahnya".
"benarkah apakah dia baik?".
" dia baik sekali, Keira. aku tidak akan pernah lupa bahwa lukaku diobati dengan baik, diberi pakaian kering dan hangat juga diberi makan-makanan yang hangat oleh Noah walaupun hanya sehari karena ayahku menemukanku dan memaksaku untuk pulang demi ibuku yang tersiksa oleh ayahku". Ucap Silvana sembari tersenyum getir dengan membawa kesedihan dan kepahitan di dalamnya.
"jika saja Noah tahu apa yang dilakukan ayahmu kepadamu, pasti ia tidak akan membiarkanmu pergi".
"kau benar... sayangnya ia tidak tahu akan kenyataan waktu itu karena kami masih kecil dan aku terlalu takut pada ayahku karena usiaku yang masih kecil. Hingga mukjizat datang merubahku saat berusia lima tahun dan merubah hidupku seperti sekarang".
"kau begitu senang dan bahagia saat hak hidupmu sebagai manusia sudah tidak ada lagi, Silva... apakah kau tidak sedih?". Silvana tersenyum saat mendengar ucapan Keira yang begitu sedih dengan kehidupan Silvana dulu.
"Mau bagaimana lagi, Keira... memang hidupku sebagai manusia dikorbankan tapi anehnya... aku tidak merasakan apa-apa tentang ini seakan... penyiksaan yang kualami membuatku tidak ingat lagi bagaimana rasanya masih hanya manusia biasa. Diriku sebagai seorang Werewolf memberiku kehidupan baru, sahabat yang baik dan keluarga yang baik... aku dan kedua saudaraku sangat bersyukur dengan kehidupan kami ini yang tidak takut lagi akan cambukan dan siksaan dari keluarga manusia yang jahat itu...".
"mengenai ayahmu dan keluarga mereka, bagaimana keadaan mereka?". Tanya Keira walaupun dia tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Silvana terbilang salah namun ia tidak bisa menyalakan Silvana karena kehidupan yang kejam membuat sahabatnya menjadi seperti itu.
"hihi. Seperti biasa, mereka tampak menyedihkan dan oh iya, salah satu saudari tiriku baru saja mati tiga hari yang lalu setelah aku kembali. Tapi kami sudah mengurus mayat saudariku itu dengan membuangnya ke laut.".
"apa!?".
Bagaimana bisa dia berkata begitu dengan entengnya dan melakukan hal itu...? Aku tidak tahu sebenarnya siapa yang lebih kejam...
ayah kandung dan keluarga tirimu yang menyiksa kalian yang membuat ibu kandungmu tiada atau... dirimu, Silvana...? Apakah kata maaf memang tidak berarti lagi di dunia ini...? Mereka memang kejam dan aku tidak menyangka akan mengatakan ini... apakah mereka pantas menerima siksaan itu?
"apakah kau memikirkan sesuatu, Keira?".
Tanya Dion.
"hihi. Tidak ada. Aku memikirkan resep baru itu apakah para pelanggan akan tetarik atau tidak".
"tentu saja mereka akan tetarik. Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki ide untuk membuat stroberi di dalam es batu. Itu sangat fantastis". Puji Dion.
"hihi. Biar cocok dengan temanya dan didekorasi begitu".
Dion..
Sekarang yang kami bahas adalah tiga resep baru untuk Twinsbells yang bertemakan stroberi dari Stoberi soda, stroberi latte dan Stroberi panacota. Kami tidak sabar untuk menciptakannya di cafe setelah pulang sekolah nanti.
Diantara mereka bertiga, aku merasa bahwa hidup Dion tidak memiliki beban. Hidupnya mengalir bagaikan air yang mengalir.
Aku tidak tahu apakah dia memikirkan sesuatu seperti... tidakkah ia ingin tahu tentang orang tua kandungnya? tidakkah ia ingin tahu mengapa mereka membuangnya...?.
Aku ingin bertanya namun aku takut pertanyaanku akan mengingatkan dirinya bahwa dia bukanlah saudara kandungku, padahal aku sangat menyayanginya sebagai saudaraku.
aku tahu pertanyaanku akan mengingatkan dirinya bahwa dia adalah seorang anak manusia yang tidak diinginkan dan dibuang ke dalam hutan untuk dibiarkan mati...
Aku takut pertanyaanku akan membuat dirinya yang selama ini bahagia menjadi sedih.
Mungkin ada baiknya aku tidak pernah bertanya hal sensitif itu padanya...
Lagipula...
Jangankan Dion... aku tidak tahu bagaimana kabar keluargaku yang kedua sekarang?.
Ayah Tristan, Ibu Emily, kakak Kevin...
aku tidak tahu apakah mereka merindukanku atau...tidak. Mereka sudah pasti tidak merindukanku. Aku juga anak yang tidak diinginkan oleh mereka, dan sebuah kesalahan. Buat apa mereka merindukanku? bagi mereka, ketidakberadaanku merupakan anugerah yang terindah.
Aku benci mereka tapi, kakak Kevin...
dia mungkin yang merasa Kehilanganku karena dia pernah ada untukku tapi kurasa tidak, karena aku juga benci dirinya itu...
dia lebih dicintai dan disayangi daripada aku.
Mungkin saja yang dilakukannya adalah sebuah kepura-puraan bahwa dia menyayangiku padahal..... dia kasihan padaku...!
Alex...
Mengenainya, ini sungguh aneh. Tidak ada hubungan tapi entah mengapa rasanya kami menjadi dekat. Setelah kejadian di bukit Hitam, dan yang kami alami di pulau Lamiya, kami menjadi dekat dan nyaman seiring berjalannya waktu.
Mengenai Alex...
sedang apa dia sekarang...? Pikir Keira. Tanpa dia sadari bahwa di ruang Trinity, Alex sedang memperhatikan dirinya melalui jendela.
"Kau sedang apa, Keira?"