
" Kau sedang lihat apa, Alex?".
"Menurutmu Danny, aku sedang lihat apa?". Ucap Alex sembari tersenyum menatap ke depan bawah. Danny mengarahkan pandangannya yang dilihat Alex. Ia melihat Keira duduk di bangku taman bersama dengan Dion sambil menikmati ice cream.
"oh, mereka manis sekali saling suap-suapan ice cream, ya". Kata Danny yang melihat betapa manisnya Retizen bersaudara yang sedang saling suap-suapan ice cream itu.
Tapi tidak dengan Alex... sebuah kecemburuan terlihat di matanya yang biru dan dingin seperti es.
"wowo Woahwoaahh. Kau cemburu nih?".
"Tentu saja. Aku tidak senang jika ada laki-laki lain yang lebih dekat dengannya".
"hei, mereka berdua bersaudara lho".
"aku tahu tetapi... entah mengapa rasanya sungguh aneh, aku tahu mereka bersaudara tapi aku tidak bisa mengingkari hati ini, Danny".
"cinta itu rumit,ya".
" tapi indah saat dijalankan, Danny. Jika kau ingin tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang, carilah gadis yang benar-benar membuatmu nyaman, benar-benar membuatmu jatuh cinta padanya". Alex memberi saran kepada sahabatnya itu. Ia berjalan menjauh dari jendela ke sebuah lukisan yang ditorehkannya di kanvas.
Alex mencelupkan kuas lukisnya di cat putih di palet lalu ia menorehkan cat putih itu di kanvas. Danny melihat lukisan yang dibuat Alex itu dan takjub dengan lukisannya itu.
"nah, Sudah selesai. Bagaimana menurutmu?". Tanya Alex sembari menunjukkan hasil lukisannya itu.
"Woaahh, ini indah sekali, Alex".Puji Danny saat melihat lukisan Serigala putih itu.
"kau tahu, Danny. Aku Pernah bertemu dengan Serigala ini saat liburan musim panas di pulau Lamiya waktu itu".
"benarkah!? kau tidak pernah memberitahukan kami. Kapan kau melihatnya?".
"hm, aku pernah bertemu dengannya saat aku diserang oleh serigala-serigala liar saat aku mencari Keira di luar".
"apa!? kenapa kami tidak diberitahu tentang ini!?".
"itu karena aku meminta mereka untuk tidak memberitahukan kejadian malam itu agar tidak terjadi kekhawatiran pada kau dan Noah".
"pantas saja waktu itu mengapa kita dilarang untuk pergi keluar dari hotel di malam hari. Kenapa kau nekat melanggar peraturan itu!? kau tidak berpikir tentang ibumu dan saudaramu jika sesuatu terjadi padamu !?".
Alex terdiam mendengar perkataan Danny yang memarahinya itu. Apa yang dikatakan oleh Danny benar, jika saja ia tidak diselamatkan oleh Serigala putih itu, mungkin saja dia tinggal cerita belaka.
Tapi, ia tidak akan tinggal diam jika gadis itu tidak terlihat olehnya. Sebuah kekhawatiran dan kecemasan bercampur menjadi satu saat
Keira tidak ada didekatnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Danny... Cinta membuat orang-orang terkadang berbuat nekat. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana Keira berada disebuah tempat yang berbahaya, Danny... Saat kau jatuh cinta, pasti kau akan seperti diriku ini. Selain itu...".
Alex memperhatikan lukisan yang dibuatnya itu dan tersenyum.
"serigala ini yang telah menolongku dari para serigala itu, Danny. Jika tidak ada Serigala ini, sudah pasti aku akan tinggal cerita...".
"apakah itu benar, Alex?".
"tentu saja".
Apalagi aku tidak akan melupakan Serigala itu...
Bulu putihnya yang seputih salju begitu indah saat dibawah sinar rembulan...
Mata Emasnya yang tajam...
Ukurannya yang dapat dinaiki oleh satu orang manusia...
Walaupun liburan telah berakhir...
aku tidak bisa melupakan Serigala itu. Serigala jenis apa itu?.
"mengenai lukisan, sudah lama sekali aku tidak melihatmu melukis Alex. Semenjak kehadiran gadis itu, kau memiliki hasrat untuk melukis lagi,yah".
Alex tersenyum mengingat-ingat bagaimana pertemuan mereka. Ia tidak menyangka bahwa Gadis yang ia ganggu karena berani melawan dirinya, bisa membuat dirinya yang dingin, kejam, tidak punya hati menjadi jatuh hati pada gadis itu sehingga dia tidak menyelesaikan ucapannya itu.
"Alex, aku turut bahagia untukmu namun kau harus ingat satu hal Alex...".
"apa?".Tanya Alex dan seketika wajah Danny berubah menjadi murung. Ia tidak ingin mengatakannya namun ia harus tetap mengingatkan Alex tentang. kenyataan yang ada.
"kita bisa dan bebas dekat dengan perempuan manapun di sekolah ini tapi jangan harap untuk bisa bersama dengan perempuan pilihan kita karena masa depan kita... dengan siapa kita menikah... sudah pasti orang tua yang memutuskannya karena sebagai kita sebagai anak-anak mereka-".
"kita tidak lebih dari alat pertukaran dalam dunia bisnis... kau ingin berkata begitu'kan...Danny?. Kita telahir di dunia ini dengan keberuntungan menjadi anak kaya Sejak lahir... orang tua kita menghujani kita dengan kemewahan dan kesenangan namun sebagai bayarannya... merekalah yang memutuskan masa depan kita tanpa peduli mendengarkan apa yang kita inginkan... dengan siapa yang ingin kita nikahi... bagi orang tua kita... cinta hanyalah nomor dua dan tidak berarti. Tidak peduli apakah kita akan bahagia atau tidak dengan keputusan sepihak dari orang tua kita ".
Ucap Alex dengan nada yang sedih dan membuatnya menyadari kenyataan yang ada.
Tidak bisakah anak-anak golongan atas seperti kami ini memilih cinta, kasih sayang dan kebahagiaan sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang tua...?.
Demi sebuah departemen store ternama... ayah mengorbankan kakak laki-lakiku...
Demi sebuah Hotel ternama...
ayah mengorbankan kakak Perempuanku...
aku tidak tahu demi sebuah apa, ayah akan mengorbankanku demi sesuatu yang diinginkan pria yang tidak akan puas itu...?
Tidak bisakah aku bahagia...?
Alex berjalan menuju ke Jendela tempat ia melihat Keira. Kali ini ia duduk sendiri sembari mendengarkan musik di headphone sambil tertidur. Ia tidak tahu kemana Dion pergi, Ia terus menatap wajahnya yang menikmati hembusan angin yang mulai dingin karena akan memasuki siklus musim gugur. Ia bahagia, namun sedih saat mengingat ucapan Danny.
Apa yang harus aku lakukan...?
Alex... berjanjilah pada ibu untuk bahagia dengan keputusanmu sendiri,nak. Jika kau mencintai seseorang, raih dan perjuangkan dirinya. Buktikanlah kepada ayahmu bahwa cinta dan kebahagiaan itu lebih penting dan berarti daripada sebuah ambisi yang mengorbankan perasaan kalian.
Ibu !?. Saat Alex berfikir, tiba-tiba saja ia teringat akan Ucapan Dylan, ibunya. Ia teringat nasihat yang diberikan oleh Dylan saat ia masih kecil, awalnya ia tidak mengerti Namun semakin bertambahnya usia, ia menyadari maksud ucapan Dylan.
Alex, kau adalah adik kami tersayang...
kami ingin kau bahagia dengan keputusanmu sendiri.
(Alfa)
Ka Alfa benar Alex... ayah sudah mengorbankan kebahagiaan kami demi ambisinya. Jangan sampai kau juga mengalaminya, Alex. Tunjukkan pada Ayah bahwa cinta dan kasih sayang lebih berarti daripada sebuah ambisi dan kearogansian.
( Alexa ).
Kami mendukungmu...Alex.
Ka Alfa... Ka Alexa... ibu... ucapan kalian bertiga terngiang-ngiang dalam telingaku...
Kalian benar. Aku berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang.
Aku tidak ingin menjalani hidup seperti ayah yang egois, arogan, Tidak memikirkan kebahagiaan kita...
dan kebahagiaanku berada di depan mata.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Alex?".
Tanya Danny. Alex menoleh dan tersenyum padanya.
" Kau tahu, Danny. Kita tidak akan pernah tahu takdir dan masa depan kita jika kita tidak berusaha".
"maksudmu?".
"hm, aku akan memperjuangkan hal yang berhaga bagiku. Tidak peduli apapun ujian dan rintangan yang akan aku hadapi, walaupun aku harus melawan ayahku.
aku tidak akan menyerah".
Demi dirimu, Keira...