
Alex baru saja keluar dari kamar mandi.Ia berjalan menuju balkon untuk merasakan angin sepoi-sepoi yang meniup wajahnya yang segar setelah cuci muka.Saat ke balkon, dia menoleh dan menyadari bahwa keira dibalkon yang disebelahnya.Keira tidak menyadarinya karena dirinya sedang sedih sehingga indranya terganggu sedangkan Alex menyadari bahwa dia sedang sedih saat melihat air mata mengalir membasahi pipinya.Saat Melihat Keira sedih,dia merasakan rasa sedih dan sesak dalam dirinya.
Alex ingin menghiburnya tetapi dia menyadari tidak mungkin ke kamarnya. Keira pasti mengunci pintu dan tidak mau siapapun yang masuk ke dalam kamarnya. Ia memperhatikan sekitarnya dan tidak disangka ada ide yang mungkin terbilang bahaya.
tidak ada pilihan lain...
perlahan Alex naik ke dinding luar hotel yang terdapat celah-celah tipis sebagai pijakan tanjakan.Dengan hati-hati, Alex berjalan tanpa melihat kebawah karena dia melihat hanya dengan satu mata. Ia berjalan menuju ke balkon kamar Keira sedangkan Keira masih tidak menyadarinya. Dirinya hampir sampai dan saat dirinya meraih pagar balkon itu, tiba-tiba saja kakinya tergelincir.
Agh!! gawat!
"aaah!".Keira mendengar teriakkan Alex dan langsung membalikkan badannya.Betapa terkejutnya dia melihat Alex bergelantungan di pagar balkonnya.Untunglah Alex memegangi pagar balkon itu dengan kedua tangannya saat dia tergelincir tadi. jika tidak mungkin aja dia sudah terjun dari lantai enam belas ke tanah.
"Alex!? apa yang kau lakukan!?".
"nanti saja bertanyanya.Selamatkan aku dulu".
Tanpa berpikir panjang,Keira langsung menariknya untuk menolongnya.Saat Keira menolongnya, Alex dapat merasakan kekuatan darinya.Berkat bantuan Keira,Alex berhasil lolos dari bahaya yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
"fiuh... untung saja.Teri...".
"apa yang kau lakukan tadi,Alex!? apa kau tahu bahwa yang kau lakukan tadi berbahaya!? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? tanganmu sampai lecet begini". Keira memarahi Alex secara panjang lebar dan melupakan apa yang membuatnya sedih. Alex mendengarkan Keira yang marah-marah padanya tetapi dia malah tersenyum karena dia tahu, Dibalik kemarahannya terdapat kepedulian dan kekhawatiran di dalamnya.
"kau ini, sudah dimarahi tapi, masih bisa saja tersenyum".
"habis, aku senang karena kau khawatir dan peduli padaku".
"ya ampun.jika orang melihatmu tadi, pasti akan melakukan hal yang sama".
"tapi tidak sekhawatir dan sepeduli setulus dirimu, Keira. Saat yang buruk terjadi padaku, orang asing yang berada disekitarku menjelek-jelekkan kami".
Aku tidak akan lupa saat itu...
"apa maksudmu,Alex?"Tanya Keira mengajak Alex masuk kedalam.di dalam, Alex duduk di sofa sedangkan Keira mengambil kotak p3k di lemari obat walaupun dia tidak tahu mengapa dia butuh sedangkan luka dapat menghilang dari tubuhnya.
Aku tidak menyangka akan menggunakan ini untuknya.Halo P3K, kau berguna hari ini.
"apakah kau mau mendengar ceritaku?".
"cerita apa?".
(Flashback...)
Sebelas tahun yang lalu di rumah sakit Fallen...
Kamar VVIP no 3 yang terletak di lantai Lima, seorang anak laki-laki yang baru menginjak enam tahun terbaring di ruangan itu. dia baru saja selesai operasi mata Kanannya. tinggal menunggu reaksi obat biusnya menghilang.
Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun dengan pergelangan tangan kanannya telah dipasangi Gips dan seorang anak perempuan berusia delapan tahun dengan 5 luka jahitan di dahinya yang diberi perban . Mereka berdua sedang menunggunya sadar tanpa mengindahkan dua orang suster lain yang meminta mereka untuk kembali ke kamar.
"maaf tuan muda Alfa,nona muda Alexa, sebaiknya anda berdua...".
"Biarkan kami disini! kalian tidak tahu adik kami Alex membutuhkan kami didekatnya!?". Kata seorang anak laki-laki bernama Alfa Adrian yang sedang meneriaki kedua suster itu.
"Tinggalkan kami sendiri! luka yang kami alami tidak seberapa jika dibandingkan dengan adik dan ibu kami". Kata anak perempuan itu bernama Alexandra Adrian yang memarahi kedua suster itu.
"Jadi, tinggalkan kami sendiri atau kalian mau aku pecat?".
"Ma...maafkan kami,tuan muda.Kami permisi dulu".
Kedua suster itu segera memilih pergi dari kamar itu daripada pekerjaan mereka yang terancam karena sebagai keluarga Adrian, mereka bisa melakukan apapun pada orang-orang menengah maupun bawahan.
"ugh..ibu...".
"Alex". Panggil Alfa dan Alexa secara bersamaan yang duduk disisinya. Alex mengerang pelan, kelopak matanya berkedip hingga akhirnya Alex membuka matanya dan menatap kedua saudaranya.
"kak Alfa.... kak Alexa..... apa yang terjadi...?".
"kita mengalami kecelakaan mobil sehingga kita dirawat disini".Alfa memberi penjelasan pada Alex tentang apa yang terjadi pada mereka.
"kecelakaan...?". Alex mencoba mengingat-ingat kejadian yang dialaminya bersama saudara hingga ingatan pentingnya muncul di dalam kepalanya.
aku ingat kalau bodyguard suruhan ayah mengejar mobil yang dikendarai ibu... hingga truk itu...
Alex tidak lupa apa yang terjadi.sebuah truk bermuatan kayu menabrak mobil mereka.Mobil yang dikendarai oleh Nyonya Adrian terbalik dan seketika semuanya gelap setelah mata kanannya tertusuk kaca.
"kakak, mata kananku..."Tangan Kanannya yang tertancap selang infus menyentuh mata kanannya yang telah dibungkus dengan perban.
"Alex... kata dokter, mata kananmu tertusuk sebuah kaca sehingga mereka mengangkat mata kananmu demi menyelamatkanmu..."Kata Alexa dengan nada sedih. Kedua bersaudara itu begitu sedih melihat adik kecil mereka terbaring tak berdaya ditambah lagi dengan berita yang yang akan didengar oleh Alex.
"berarti...aku cacat...? berarti mataku tinggal satu..?".
"tentu saja tidak,Alex.Kamu masih memiliki dua mata. Dokter terbaik telah mentransplatasikan sebuah mata kepadamu,Alex. Kau masih bisa melihat dunia dengan dua mata".
"benarkah,kak Alfa..?".
"yang dikatakan oleh kakak benar,Alex. Walaupun kami tidak tahu siapa pendonornya setidaknya kita bersyukur keajaiban telah terjadi pada kita dalam kesedihan ini".
"keajaiban... ibu...dimana ibu...? dia tidak apa-apa'kan?".
Kedua saudara itu diam mendengar pertanyaan adik mereka. Mereka tidak tahu harus apa yang mereka bilang padanya.
"bicaralah,kak.dimana ibu? DIMANA?".
"Alex...ibu...".
Tidak lama kemudian...
"Alex! tunggu Alex!".
Alfa dan Alexa mengejar Alex tetapi Alex tidak peduli.Bahkan saat Beberapa perawat dan dokter mencoba menghadangnya, Alex dengan gesit melewati mereka padahal mata kanannya telah diperban.
Alex tidak peduli dengan rintangan yang menghalanginya karena yang terpenting dirinya harus melihat kondisi ibunya setelah mendengarnya dari Alexa.
Alex...ibu... terluka parah sehingga dia harus dioperasi dan dokter tidak mau mengatakannya secara terperinci melainkan dia mengatakan bahwa ibu...coma.
ibu... ibu...!
Alex berlari dan berhenti di sebuah ruangan ICU kelas Suite.dibalik jendela pintu, Alex Melihat seorang wanita berkulit putih dan berambut pirang kecoklatan terbaring di sana dengan alat-alat medis yang menopang hidupnya.
"Maaf,Anda tidak boleh masuk".
Seorang perawat mencegahnya masuk.
"biarkan aku masuk. kau tidak tahu siapa aku!? Aku Alexander Adrian, salah satu pewaris Fallen Group!".
"maaf tuan muda,akan tetapi nyonya Dylan masih dalam perawatan kami sehingga anda belum bisa untuk masuk dulu".
"Alex".Alex berbalik saat seseorang memanggilnya yang ternyata Alfa.Kedua bersaudara itu berlari menghampiri Alex.Saat Melihat kedua saudaranya,Alex langsung memeluk mereka berdua dan menangis.
"ibuuu...!!".Alex menangis keras dalam pelukan mereka.Mereka berdua mencoba menenangkan Alex.Saat mencoba menenangkannya,Alex melihat dua sampai lima suster membicarakan mereka secara bisik-bisik menjelekkan ibunya dan dirinya.
(Flashback end...)
"oh Alex...jadi begitu ceritanya, bagaimana kau...bisa memakai penutup mata itu selama ini....". Ucap Keira sambil mengoleskan krim luka dari minyak cedar ke telapak tangan Alex.
Aku tidak menyangka bahwa kisah masa kecilnya seperti itu.selama enam tahun dirinya melihat dunia dengan sebelah mata.Kini aku mengerti mengapa dia bersikap dingin dan angkuh selama ini. Apa yang terjadi padanya dan orang-orang yang menjelekkan dirinya membuat dia melakukan penindasan dan semua itu seakan identitas dirinya menjadi pelindung dirinya dari luka di hati.Entah mengapa rasanya, aku dan Alex memiliki kemiripan...
Keira merasa bersimpati pada Alex. Saat melihat kesedihan di wajah Alex, Keira dapat melihat bahwa jauh disana,Alex adalah laki-laki yang baik.
Aku tahu, kau adalah laki-laki yang baik,Alex...
"Alex, mengapa kau tidak melihat dunia dengan kedua matamu jika memang benar bahwa dirimu memiliki transplantasi mata?". Tanya Keira Saat mengingat cerita Alex.
"hm...aku memutuskan untuk tidak menggunakan mata kananku karena warna bola mataku berbeda dengan bola mata kiriku dan rasanya sungguh aneh saat melihat sesuatu dengan mata ini dan asal dirimu tahu,kau adalah orang ke-enam yang tahu bahwa aku punya transplantasi mata".
"huh? berarti tidak banyak yang tahu bahwa...??".
"yep.Hanya kedua saudaraku, dokter yang pernah mengoperasiku, Danny, Noah dan tentu saja kau, Keira".
"mengapa?"
"itu rahasia.Suatu hari akan aku beritahu".
"baiklah.tapi mengapa kau memberitahuku?"Alex tersenyum saat Keira bertanya padanya.Setelah Keira mengobati kedua tangan Alex, Laki-laki itu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya.
"Karena aku percaya padamu,yang mulia putri. Aku percaya padamu karena aku mencintaimu segenap hati dan jiwaku. Kau adalah segalanya".
"Al..."Keira tidak melanjutkan ucapannya.Ia tidak menyangka bahwa Alex mempercayainya menjaga rahasianya karena cinta dan saat Alex berkata bahwa dia mencintainya segenap hati dan jiwanya, entah mengapa Hatinya berdegup kencang.pertama kalinya dia mendengar suara hatinya dengan jelas.Dalam beberapa hari ini baik yang diucapkan Alex maupun tindakan yang dilakukannya membuat hatinya deg-degan seakan sesuatu mencoba mendobrak pintu hatinya yang telah dikunci dan digembok kepedihan dan membuangnya jauh ke dalam lautan kesedihan.
Hingga hari ini, ucapan Alex telah berhasil mendobrak pintu hatinya untuk pertama kalinya.
***Hati... hatiku... suaranya... mengapa makin lama makin... deras...!? Aku**....
Dengarkan hatimu, Keira... perasaanmu mulai tumbuh Kepada manusia itu*. Kata Salah satu dari dirinya.
Aku... aku...
Bukalah hatimu untuknya,Keira... Pintu yang selama ini ditutup rapat kembali terbuka berkat dirinya yang menunjukkan perasaannya padamu.Tidakkah ini perasaan yang sama dengan Elias waktu itu...?
Saat Hatinya berdegup kencang dengan keras pertama, pikirannya yang mencoba mempengaruhi dirinya tidak terdengar sama sekali karena seterusnya,hati kembali memegang kendali dirinya.
"Keira,kau menangis?".Alex terkejut melihat sekali lagi air mata membasahi pipinya tetapi dia tidak tahu bahwa air mata Yang jatuh adalah air mata kebahagiaan dari hatinya.
"aku membuatmu menangis,ya?".Ucap Alex merasa bersalah bahwa tanpa sengaja yang tidak diketahuinya membuat Keira menangis.
Seketika, kedua tangan Alex mengusap pelan air matanya.Keira dapat merasakan sentuhannya yang lembut seperti yang dirasakannya saat Elias masih hidup.Sentuhan yang membuat hati semakin bergejolak.
"Alex...".
"ya?".
"hari ini,saat kau melompat ke balkon kamar ini,aku sedang sangat sedih.Bolehkah aku... memintamu untuk mem..el..ukku?".
Permintaan Keira membuat Alex terkejut.Pertama kalinya dia meminta sesuatu yang tidak lain adalah pelukan.Alex teringat betapa nyamannya Keira dalam pelukannya saat menginap di rumah Keira dulu dan berfikir bahwa Keira mungkin ingin mencurahkan kesedihannya.Alex menggendong tubuhnya tanpa ada perlawanan Keira kali ini dan langsung memeluknya dalam pangkuannya. Saat dirinya telah dipeluk Alex, Keira langsung memeluk dan menangis dalam pelukannya bahkan Keira menggunakan baju Alex untuk meredam suara tangisannya agar tidak terdengar keluar sehingga baju Alex bagian bahu jadi basah kuyup.
"keluarkan semua kesedihanmu padaku, Keira".Ucap Alex sambil menenangkannya dan mengusap dengan lembut kepala gadis itu tanpa peduli jika baju abu-abu yang dikenakannya menjadi basah karena air matanya sedangkan tangannya yang lain menepuk pelan punggung Keira.
Saat kau menangis dalam pelukanku, entah mengapa aku merasakan sebuah kesedihan lain dalam dirimu yang tidak ku ketahui akan tetapi,aku berjanji padamu bahwa tidak akan ada lagi air mata kesedihan keluar dari matamu yang indah dan aku berjanji akan membuatmu merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan dari Elias.Mungkin lebih darinya. Keiraku tidak boleh ada yang membuatnya menangis lagi.
Tiga puluh menit kemudian....
"Sekarang sudah merasa tenang?".
Tanya Alex sambil menyeka sisa-sisa air matanya yang berlinang di pipi. Keira mengangguk padanya.
Dia ini orang yang menyebalkan, dingin , pengganggu akan tetapi... dia juga orang yang romantis, baik dan memberiku kehangatan. dan juga orang yang berhasil mendobrak dan masuk ke dalam hatiku.
Tapi aku belum terlalu percaya padanya.
untuk itu... aku akan memberinya kesempatan untuk memenangkan diriku ini. Hingga waktunya tiba, aku akan berkata... aku...
"Keira". Panggil Alex. Membuyarkan lamunannya.
"yah?".
"bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?".
"Tentu saja".
"Saat aku berasa di rumahmu waktu itu, aku penasaran mengapa di setiap jendela selalu tergantung bawang putih?".
"oh! itu karena....tradisi keluarga retizen".Keira mencoba memberi alasan yang semaksud akal mungkin. Dia tidak bisa mengatakan bahwa alasan utamanya adalah mencegah vampire menyusup ke dalam rumah.
"tradisi,ya.Aku kira karena ada vampire".
Gulp! sebenarnya memang benar,Alex. Aku tidak bisa mengatakan bahwa mereka ada hingga kau harus tahu sendiri.Perjanjian menyebalkan mengharuskan kami menjaga rahasia mereka di depan manusia dengan begitu, vampire tidak akan mengungkap keberadaan kami di depan manusia.
"Alex,boleh bertanya sesuatu padamu?".
"Tentu.Silahkan saja".
"ibumu itu seperti apa?".
Alex terdiam mendengar pertanyaan Keira.Sebuah senyuman berisikan kepahitan di dalamnya terukir di wajahnya.Sambil bermain dengan rambut Keira dengan melilitkan rambut Keira dengan jarinya, Alex mulai memberi jawabannya.
"dia adalah wanita yang baik.Istri yang baik, kuat dan penyayang.Ia sangat menyayangi anak-anaknya lebih dari nyawanya sendiri.dia adalah pelindung, contoh dan pahlawan bagiku. Walaupun ayahku seorang tirani, bukan berarti dia akan diam. Ibuku mengajari dan menanamkannya dalam diri kami agar tidak boleh hidup seperti dirinya. ucapannya dan ajarannya melekat dalam hati kami".
"saat mendengarnya,aku merasa yakin bahwa dia ibu yang baik. Kau pasti sangat mencintainya".
"kau benar.aku sangat mencintai dan menyayangi ibuku".
Saat Alex membicarakan tentang ibunya, ia mengatakannya dengan rasa bangga tetapi dia juga merasakan kesedihan yang mendalam karena ibunya sudah lama koma selama sebelas tahun lamanya.
"maafkan aku karena membuatmu sedih.Aku tidak bermaksud...".
"tidak apa-apa. Aku senang kau menanyakannya.dirimu perlu tahu tentang nya.Aku sering menceritakan dirimu kepadanya".
"aku ingin melihatnya suatu hari nanti".
"pasti. dan oh iya,aku mau menanyakan tentang kamar yang aku pakai. aku melihat ada sebuah foto Elias terpajang disana.Apakah kamar itu...".
"Mereka tidak sempat memindahkannya. Kamar yang kau tempati dulunya milik Elias.Setelah dia tiada, paman dan bibi menguncinya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuka kembali kamar itu.....".
"apakah aku membuatmu sedih karena aku telah menempati kamar itu?".
Alex menunggu jawabannya tetapi tidak ada jawaban dari Keira karena Alex baru menyadari bahwa Keira merasa mengantuk dan akhirnya tertidur dalam pangkuannya.
"mungkin sebaiknya aku menjeda pertanyaanku ini".
Alex memperhatikan wajah Keira yang Tertidur pulas.Sangat imut, sehingga membuat Alex merasa gemas.