The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 92 : Who Blame Who?



Di rumah Keira…


Keira berdiri dan terus-menerus menatap foto-foto Elias yang terpajang di dinding dengan tatapan kesedihan. Dion Yang melihat Keira dari jauh hanya bisa bersedih untuknya.


sudah lima jam kau terus menatap foto-foto itu, Keira…


bahkan, kau tidak makan malam sama sekali. Kau bahkan tidak berbicara sedikit pun semenjak kita pulang dari cafe. Karena besok adalah harinya, Tidakkah Kau tahu bahwa yang kau lakukan hanya akan membuat Elias semakin sedih disana?.


Aku tahu bahwa dia pasti tidak ingin kau menyiksa dirimu sendiri karena kesedihanmu terhadapnya.


"Kei, sebaiknya kau makan dulu. Kau belum makan malam sampai sekarang". Ucap Dion menghampirinya dan berkata lirih kepada Keira.


"… aku tidak lapar, Dion". Keira menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke Dion yang sangat sedih melihatnya bahkan saat melihat foto Elias yang terpajang juga membuatnya sedih mengingat Elias.


Ingin rasanya ia mencabut foto Elias yang terpajang itu demi kebaikan Keira namun hatinya tidak sanggup untuk melakukannya


Karena Ia takut Keira akan kecewa dan marah kepadanya karena telah lancang mencabut foto Elias tanpa seijin dirinya.


"Tapi Kei-".


"apakah kau sudah memberitahu Silvana bahwa besok Alex akan datang ke pelabuhan untuk menemuinya?".


"sudah. Aku sudah memberitahunya".


"baguslah kalau begitu. Aku akan tidur sekarang. Selamat malam Dion".


"Selamat malam… Keira…". Balas Dion sambil melihat punggung Keira yang pergi menuju ke kamarnya tanpa melihat kebelakang bahwa ia sangat sedih melihat Keira.


Malam ini, mereka telah mengingat moment yang indah dan menyenangkan dan juga momen yang menyakitkan dan Kehilangan


dengan dendam tersimpan di dalamnya.


Terkadang…


hidup memang aneh…


tidak adil…


dan rumit.…


bahkan ada terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan yang sama ada terdapat dikepala setiap makhluk hidup namun tidak ada yang tahu siapa yang akan menjawabnya Seperti 'mengapa orang yang layak untuk hidup dan ingin hidup harus mati sedangkan yang layak untuk mati dan pantas mati tetap hidup?.


Setidaknya ada satu hal yang dapat diketahui setiap makhluk hidup yaitu, sepanjang-panjangnya suatu makhluk hidup itu hidup walaupun mereka abadi, mereka tetap tidak akan pernah bisa lepas dari jeratan kematian.


Keesokan harinya di kediaman Adrian. Sebuah mobil mewah berhenti dihalaman luas Mansion Adrian, tempat Alex tinggal.


Seorang supir keluar lalu belari membuka pintu belakang untuk tuannya.


Saat pintunya terbuka, keluarlah seorang laki-laki berusia tiga puluh sembilan tahun yang mengenakan setelan jas mahal buatan densainer ternama.


Sorot matanya yang tajam dan mata obsidiannya yang dingin menunjukkan keangkuhannya, harga diri yang tinggi dan memandang manusia sebelah mata bagi yang tidak sederajat dengannya.


Pria itu adalah Harold Adrian sang Presdir CEO Fallen Group. Pria yang angkuh, dingin, arogan, memandang rendah manusia yang berkasta bawah atau yang tidak sempurna baginya, ambisius, tidak simpatik, tidak punya hati, tidak ada rasa manusiawi bahkan Serakah. Setidaknya ia tidak main wanita, perokok, pemabuk atau penjudi mengingat imagenya yang harus ia jaga mati-matian.


Satu-satunya yang bagus dari pria tidak berhati itu adalah ketampanannya saja yang masih tampan dan tubuh yang sempurna untuk seseorang pria yang usianya hampir kepala empat.


Jika orang-orang yang mengatakan bahwa ketampanan dan kecantikan ketiga anaknya berasal darinya, mungkin benar tapi orang-orang lupa bahwa Dylan, sang istri yang koma itu juga sangat cantik. Jika mereka melihat Dylan, mereka akan menyadari bahwa Alex dan kedua saudaranya lebih mirip 99% mirip ibunya daripada ayahnya seakan yang maha kuasa mengejek Harold dengan Hanya memberikan satu persen kemiripan dengan ketiga anaknya.


"dimana Alex?".


"Tuan muda sudah pergi dari pagi tadi tuan".


"Cih, anak itu. Pasti dia bersama dengan kedua anak itu. Sudah berulang kali aku melarangnya berteman dengan mereka masih saja ia berteman dengan mereka. dia itu harus sadar bahwa dia itu pewaris Fallen Group!.


Selain itu, aku sudah memberitahunya untuk menetap di rumah. Huh!. Sifat pembangkangannya seperti dari ibunya saja. Bahkan sifat-sifat buruk anak-anak pun pasti darinya".Ucap Harold yang merasa kesal dan marah saat mengetahui bahwa Alex tidak menurut juga.


Salah satu sifat jeleknya yang lain adalah menyalahkan orang lain seperti ia menyalakan istrinya. Harold menyalahkan Dylan sebagai seorang pembawa bibit yang buruk bagi ketiga anak-anaknya. Padahal, ia tidak menyadari bahwa selama ini ia selalu salah tapi tidak mau menyalahkan diri sendiri melainkan menyalahkan orang lain.


Jhon yang selama ini menjadi butler di kediaman Adrian tahu betapa baik dan sayangnya Dylan kepada ketiga anak-anak itu khususnya Alex disaat Harold tidak pernah memperhatikan atau bertindak sebagai seorang ayah yang baik dan penyayang.


jika mengenai konsep keluarga bahagia, Harold tidak peduli sama sekali dengan namanya ayah yang baik dan suami yang baik. Tidak mengherankan jika ketiga anak-anaknya tumbuh membangkang dirinya karena Alex dan kedua saudaranya membencinya karena selain membuat ibu mereka bertiga menjadi koma sampai sekarang, mereka bertiga tidak pernah merasakan kebahagiaan masa kecil bersama dengan sang ayah dan selalu memaksa mereka untuk menuruti apapun yang dia mau seperti Jangan berteman dengan orang lain, jangan ini jangan itu bahkan harus setuju dengan perjodohan untuk mendapatkan apa yang Harold mau tanpa peduli dengan perasaan anak-anaknya.


Dylan yang malang…


dari luar, semua wanita Mengatakan bahwa ia adalah seorang wanita yang beruntung mendapatkan seorang Harold Adrian menjadi kekasihnya tetapi dibaliknya, Dylan adalah seorang istri yang malang dan rapuh namun harus bertahan dari suaminya yang Thyrant demi ketiga anak-anaknya.


Setidaknya…


Dylan cukup beruntung Alex, Alfa dan Alexa lebih mencintai dan menyayanginya dibandingkan dengan Harold. Setidaknya Cinta dan kasih sayang ketiga anak itu yang tidak akan pernah bisa didapatkan oleh Harold sehingga hatinya yang kosong tidak akan pernah bisa terisi oleh cinta dan kasih sayang mereka.


Yah… andai saja Harold menyadari kesalahannya dari awal bukannya sibuk menyalahkan Dylan, mungkin Alex akan tumbuh dengan kasih sayang orang tua yang lengkap.


Sementara itu…


Alex memakirkan mobil sportsnya di dekat pelabuhan. Ia keluar dan memperhatikan barisan -barisan kapal untuk mencari yang mana kapal Silvana berada.


"kalau tidak salah, nama kapalnya-".


"lho, Alex? kau kemari?".


"oh, halo Noah". Sapa Alex saat ia melihat Noah menghampirinya.


"mengapa kau kemari, Noah?".


"seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu. Aku mau menemui pacarku".


"kalau begitu, kita sama. Aku mau menemuinya juga".


"huh? buat apa kau menemui Silvana??". Tanya Noah yang merasa tidak suka jika Alex menemui Silvana walaupun Alex adalah sahabatnya itu.