The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 167 :Death The Innocent Of Child



bagaimana kau bisa sekejam itu…?


ayah seperti apa kau…?


tidak hanya menipu dan mengkhianati ibuku, kau juga menyiksanya dan menghabisinya didepan mataku.


bahkan dua wanita yang kau hancurkan hidup mereka dan kuanggap seperti ibuku sendiri juga kau siksa dan kau habisin didepan kedua saudara laki-laki ku yang selalu ada untukku.


Harimau tidak akan menerkam anaknya sendiri tapi kau…?


makhluk seperti apa dirimu?.


dengan tega kau menyiksa kami yang juga sama-sama darah dagingmu sendiri seperti delapan anak-anakmu yang brengsek itu bersama dengan istrimu.


ibuku berkata jujur kepadaku bahwa kau adalah seorang figur ayah yang jahat dan tidak punya hati tapi dimataku, kau adalah iblis jahat yang tidak pantas aku panggil dengan sebutan ayah...!


Aku sungguh tidak beruntung bisa memiliki ayah sepertimu… Ucap Silvana didalam hatinya yang terluka karena tindakan dari ayahnya yang tidak pernah dia lihat selama lima tahun.


Tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya sendiri karena ibunya pergi bersembunyi bersama dirinya yang masih didalam kandungan dari seorang laki-laki Tyrant yang jahat, dan berkhianat.


Saat mengetahuinya, bukanlah kasih sayang yang didapat melainkan penyiksaan yang dialaminya sekarang bersama dengan kedua saudaranya yang juga memiliki ibu yang memiliki nasib yang sama dengan ibunya.


Ia menangis darah melihat kekejian ayah dan keluarga tirinya bahkan yang terburuk, lima teman ayahnya turut andil dan telah melecehkan ibunya juga kedua ibu dari kedua saudaranya sebelum akhirnya mereka pergi setelah selesai menonton ketiga wanita itu tiada karena dibunuh oleh keluarganya sendiri khususnya sang ayah.


"sanse… Dallas…". Ucap Silvana lirih dan hampir tidak terdengar suaranya karena sangat lemah saat menyebut kedua nama saudaranya yang juga mengalami nasib yang sama dengannya.


Ia menoleh ke kiri dan kanan, ia dapat melihat baik Sanse maupun Dallas juga menangis dengan air mata darah.


"kita harus… ka-bur da-ri nerak-ka ini". Ucap Sanse menatap ke depan dengan suara yang pelan karena juga sangat lemah.


"yah… demi ibu kita…". Ucap Dallas dengan suaranya hampir hilang dan pandangannya mulai buram.


"ayo kita hilangkan mereka". Ucap Si ibu tiri jahat sambil memakai masker hazmat dan sarung tangan karet begitu juga dengan anak-anak dan suaminya, mereka juga memakai sarung tangan karet dan masker hazmat.


Silvana, Sanse dan Dallas mengarahkan pandangannya ke arah mereka dan tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan sekarang terhadap jasad ketiga wanita itu hingga ayah mereka mengambil sebuah jerigen besar dan menuangkan isi jerigen itu ke sebuah wadah berbentuk teko dari besi.


mereka bertiga terkejut saat melihat ayah mereka menuangkan cairan itu ke tubuh ibu mereka yang seketika mulai melebur ketika cairan itu mengenai kulit mereka.


Mereka beteriak hentikan saat melihat ayah mereka menyiramkan sebuah cairan keras yang membuat kulit dan daging terkelupas dan terpisah dari tulang ibu mereka namun suara mereka terlalu lemah karena darah yang mengalir dari pergelangan tangan mereka.


Silvana yang melihat jasad ketiga wanita itu disirami air keras sampai bola mata mereka copot dan menyisahkan tengkorak dan tulang membuat Silvana meronta melepaskan diri dari jeratan kawat-kawat yang berduri itu hingga akhirnya ia berhasil melepaskan diri walaupun kedua pergelangan tangannya terluka cukup parah karena duri-duri tajam kawat membuat sobekan di pergelangan tangannya.


"Ka- kau ce- cepat lari…".Ucap Sanse menolak Silvana melepaskan dirinya karena khawatir jika mereka akan tahu dan Silvana tidak akan bisa Lolos untuk melaporkan kejahatan mereka.


Sedangkan Dallas?


nafas terakhirnya telah menghilang. Karena kehabisan darah membuatnya tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup.


Silvana menangis dan terpaksa harus pergi meninggalkan kedua saudaranya. Dengan hati-hati dan perasaan pusing yang menghinggapinya, Silvana mencoba pergi dari ruangan itu tapi ia lupa bahwa saat pintu ruangan itu berderit saat dibuka sehingga mereka mengarahkan pandangannya ke arah Silvana yang membuka pintu.


"Tangkap dia!". Titah sang ibu tiri. Silvana langsung melarikan diri dari salah satu saudara laki-laki tirinya yang belari mengejarnya dengan sebuah belati ditangannya.


Sambil terhuyung-huyung bahkan kepalanya sampai membentur Dinding hingga berdarah, Silvana berusaha melarikan diri dari dalam rumah itu.


Sang pengejar tidak ikut lari karena tahu bahwa adik tirinya tidak bisa pergi terlalu jauh karena luka-luka yang dialam gadis kecil itu dan yang dia lakukan hanyalah mengikuti jejak kakinya yang terbentuk dari darahnya di lantai. Intinya, ia menganggap bahwa dia sedang melakukan peta umpet yang berbahaya.


"oh Silvana, dimana kau? kau bisa lari tapi kau tidak bisa bersembunyi. Hati-hati, jika kau tertangkap kau akan terbunuh lho😈". Ucapnya sambil bersenandung ketika mengikuti Silvana sedangkan Silvana terus bergerak saat mendengar suaranya tapi ia tidak bisa lari lagi karena lelah dan lemah ditambah lagi dengan penglihatannya yang mulai kabur sehingga yang dilakukannya adalah berjalan cepat.


Untunglah tidak ada yang menjaga sisi depan rumah sehingga saat keluar dari rumah itu, Silvana berjalan terseok-seok menuju ke pagar rumah secepat mungkin.


"Sial!". Umpat Silvana saat menyadari bahwa pagar rumah telah dikunci gembok dan ketika melihat kebelakang, ia melihat kakak tirinya sudah keluar juga dari rumah dengan sebuah belati ditangan kanannya.


Ia tahu jika sampai tertangkap, ia akan mati sehingga ia pun mulai memanjat pagar itu dan mengerahkan kekuatannya yang tersisa sebanyak mungkin.


Sedangkan saudaranya yang melihat Silvana memanjat pagar rumah tidak bisa membiarkannya karena takut jika tetangga sampai melihatnya atau orang lain sehingga kejahatan ia dan keluarganya terbongkar sehingga kali ini ia belari menuju pagar.


Silvana terus berusaha Hingga tangannya mulai mencapai atas pagar dan sedikit lagi ia bisa keluar dari rumah itu dan menyelamatkan Sanse namun si saudara tirinya mendapatkannya terlebih dulu. Ia berhasil meraih kaki kiri Silvana dan ia langsung menarik kuat Silvana sehingga Silvana pun terjatuh ketanah dengan keras.


...BRUUUKKK!...


"ARGH!". Silvana menjerit kesakitan saat ditarik dan jatuh ketanah lalu saudaranya membekap mulut gadis kecil itu dan hal yang terakhir kali Silvana lihat dan dia rasakan adalah saat belati itu menikamnya sebanyak tiga puluh kali.


Jeritannya tidak terdengar, tidak satupun yang melihat apa yang dialami oleh gadis kecil yang malang itu dan saat Tikaman yang ketiga puluh, pandangannya mulai menghitam dan tangannya yang mencoba melepaskan diri telah terkulai tidak bergerak.


Sianak itu mengecek nadi dileher baik ditangan dan leher bahkan mengecek pernapasannya.


Ia tersenyum mengetahui bahwa Silvana akhirnya telah mati dengan keadaan yang mengenaskan.


"Si-Silva…". Ucap Sanse untuk terakhir kalinya sebelum pada akhirnya ia tidak bergerak lagi dan tidak ada lagi tanda kehidupan darinya.