The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 160 : Tania & Silvana



"halo… yah, laksanakan". Ucap Silvana melalui ponselnya. Setelah menghubungi melalui ponselnya, Silvana turun dari sepeda motornya lalu mengambil helmnya.


Buck terus mengalamati hingga ia tidak menyangka dengan cepatnya Silvana langsung melempar helmnya tepat kearah Buck sehingga ia terjatuh akibat hantaman helm Silvana tepat dikepala dan lensa kameranya pun rusak sudah.


"aaah!! kameraku! kau-". Buck yang marah seketika berubah menjadi terkejut bercampur bingung bukan main saat melihat Silvana berada dihadapannya Padahal jarak antara dia dan Silvana tidaklah dekat sama sekali.


"kau! bagaimana bisa-".


"kau pikir aku tidak tahu akan kehadiranmu ***-hole?!. Kau akan membayar atas kesalahnmu yang telah membuntuti diriku". dengan tatapan dingin dan berbicara dengan nada yang sinis juga dingin, Silvana menarik kerah baju laki-laki itu sehingga Buck terangkat dari tanah.


Buck sungguh terkejut dan tidak tahu bahwa Silvana sungguh kuat sehingga kakinya tidak menapak ditanah dan ia merasa tercekik saat Silvana menarik kerah bajunya.


ia mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Silvana namun tidak bisa sama sekali karena Silvana sungguh kuat.


lalu Silvana melempar Buck tepat di tembok sehingga menimbulkan bekas kerusakan ditembok dan Buck terbatuk-batuk mengeluarkan darah.


"uhuk-uhuk!. gadis brengsek, siapa kau sebenarnya?!".Buck marah atas perbuatan yang telah dilakukan Silvana kepadanya namun ia juga penasaran dengan sesuatu yang tidak dia ketahui dari sosok Silvana saat entah bagaimana, seorang gadis biasa bisa melakukan hal ini kepadanya terlebih kekuatannya setara dengan lima atau enam pria kekar, bahkan lebih.


"kau tidak perlu tahu namun kau tidak akan melihatku lagi untuk bisa kau buntuti". Ucap Silvana bernada kelam dan dingin.


Buck tidak tahu maksud ucapan Silvana hingga ia baru menyadari entah sejak kapan dan dari mana datangnya ada dua laki-laki berpakaian serba pemburu dibelakangnya.


"siapa kalian?!".


"bereskan dia". titah Silvana. kedua orang itu mengikuti perintah sang Jenderal lalu menyeret Buck pergi. Ia mencoba beteriak meminta tolong tapi tidak bisa karena mereka telah membekap manusia itu sedangkan Silvana menghela nafasnya saat ia sudah mulai tenang setelah kepergian manusia itu.


"hei, aku tahu bahwa manusia itu selalu mengganggu dan membuntutimu tapi… haruskah kau melakukan hal itu kepadanya". Ucap Keitha. Silvana menoleh dan mendapati bahwa Keitha berdiri bersandar di tembok dan telah melihat semuanya.


Kali ini Silvana tidak terkejut lagi akan kehadiran Keitha setelah ia tahu siapa Keitha yang sebenarnya tapi ia tidak lagi tersenyum ramah dan tatapan hangat kepada Keitha melainkan senyuman sinis dan tatapan dingin yang menyambut Keitha sekarang.


"cih, memangnya kenapa? ini bukan urusanmu juga. Kau tidak berhak menilai perbuatanku".Keitha terdiam mendengarnya dan Silvana berlalu pergi tapi Keitha mencegatnya sebelum pergi.


"temui aku di phantom cafe setelah pulang sekolah. Apa yang ingin kau tanyakan akan aku jawab tapi kumohon satu hal kepadamu…


Jangan beritahu siapapun termasuk dengan Keira. Tunggulah sampai kau mendengar ceritaku. Terserah kau mau mempercayaiku atau tidak". Silvana tidak mengatakan apapun membalas kata-kata Keitha melainkan sebuah anggukan sekali telah mewakili kata-katanya.


Keitha menyilahkan Silvana pergi lalu hanya memandang punggung gadis yang telah meninggalkan sendiri disana.


aku harap aku sudah melakukan hal yang benar. Aku tidak bisa selamanya memohon kepada Leo. Sudah saatnya aku bergerak. Batin Keitha.


"huh!. Pagi-pagi begini sudah membuatku sangat kesal".


"Siapa yang membuatmu kesal Silva?".Tanya Dion saat mendengar gumaman Silvana.


"ah, Dion". Silvana menyadari kehadiran Dion saat ia berjalan menuju koridor.


"kapan kau datang?. aku tidak melihat sepeda motormu apalagi milik Keira maupun Tania". Ucap Silvana mencoba mengelak dari pertanyaan yang diajukan oleh Dion.


"Yah aku datang diantar oleh paman Hara karena aku menginap di rumahnya semalam. Mengenai Keira, dia menginap di rumah Alex sedangkan Tania menginap di rumah Danny".


"oh be- tunggu dulu. Barusan kau mengatakan bahwa Tania menginap di rumah Danny?!". Silvana terkejut saat menyadari kalimat dari ucapan Dion.


"ya".


"tentu saja Danny yang itu. Danny yang mana lagi".


"kok bisa?".


"ceritanya panjang. Nanti aku beritahu secara detail tapi yang perlu kau ketahui sekarang, Tania telah…".


Beberapa saat kemudian di Kelas 2 Ipa-2…


"baiklah murid-murid, akan dibagikan hasil ujian semester".


Ucap wali kelas tempat Tania dan Silvana berada.


Hm, apa benar bahwa Tania tidak ingat apa-apa? memang sih dari aku datang bahkan aku duduk pun, jangankan menyapa, dia pun terlihat tidak mengenalku atau bertanya siapa aku tapi kok rasanya mencurigakan?. Pikir Silvana ketika melirik ke arah Tania sedangkan Tania sibuk mendengarkan sang guru memanggil nama mereka masing-masing.


fufufu, wahai para murid kaya manja tapi sombong dan tidak punya otak, lihatlah aku!, anak yang memiliki otak alias pintar juga baik hati.


Tidak seperti kalian yang bermanja-manja dengan kekayaan orang tua kalian dan menghabiskan waktu dengan menghambur-hamburkan uang terhadap barang yang tidak berguna sehingga kalian menjadi beban orang tua, lihatlah aku.


aku adalah anak yang rajin belajar dan menjadi kebanggaan orang tuaku. Hahaha.


aku selalu menyempatkan diri untuk belajar walaupun harus memantau, berburu, menonton Naruto ataupun sedang top up diamond. Hahaha.


sehingga hasil kerja kerasku, aku mendapatkan nilai 95, 8 dari enam mata pelajaran.


haha, aku tidak sabar mengetahui bahwa aku berada di rangking pertama dan bintang kelas seperti saat aku belajar dengan guru Madoc.


hahaha hahaha hahaha hahaha hahaha hahaha. Tania tersenyum mengerikan dan tertawa sombong didalam Pikirannya saat merasa yakin jika dia berada diposisi pertama dikelas seperti seseorang yang mengatakan bahwa kerja keras tidak akan berkhianat membawa hasil sehingga Tania yakin akan perumpamaan Seperti itu.


Tapi mari berharap dia ingat akan satu hal yaitu, dia lupa bahwa dirinya sedang beradegan orang yang sedang tidak ingat apa-apa.


Astaga, anak ini kenapa?😧 Pikir Silvana saat ia melihat senyuman yang mengerikan seperti joker yang merupakan musuh Batman di wajah Tania.


"Tania Rhyes".Panggil sang wali kelas.


"ya". Tania bangkit dari bangkunya lalu ia berjalan dan mengambil secarik kertas yang berisikan total nilai dan berada diperingkat mana dia sekarang dari gurunya. Ia tersenyum saat menerima kertas itu namun senyumannya memudar saat ia duduk sambil membaca hasil nilai total dari nilai rata-ratanya yang menyatakan bahwa dia adalah peringkat ketiga.


a-apa… peringkat ketiga… kenapaaaaaaaaaaa?!!!


didalam batinnya, ia menjerit tidak menyangka dengan kenyataan berbanding terbalik dengan ekspetasinya.


aku tidak menyangka, ngomong-ngomong Silvana peringkat berapa?. Pikir Tania saat nama Silvana dipanggil dan saat Silvana duduk sambil membaca hasilnya, diam-diam Tania melirik melihat hasilnya dan seketika baik pikiran maupun batinya terkejut dan syok bukan main saat melihat hasil nilai Silvana.


...******...


berapakah Peringkat Silvana dikelas?


apakah saat teman lebih baik daripada dirinya bisa membuat hati seseorang menghitam seperti kecap asin dengan efek samping negatif salah satunya kedengkian??


...mari mencari tahu di chapter selanjutnya ya, hahaha😉...