
"sudah selesai yang mulia putri. Manusia yang bersama dengan anda tidak akan mencurigai luka belati anda yang telah sembuh dan menghilang". Ucap Dr. Jacob setelah membalut bahu kiri Keira dengan perban dan Keira tersenyum puas melihat balutan bahu kiri Keira di cermin yang dipegang oleh seorang perawat yang juga kaki tangan Dr. Jacob.
''bagus. terima kasih dr. Jacob. dengan begitu ia tidak akan curiga''.
''tapi kalau boleh tahu, mengapa anda meminta untuk bahu kiri anda di balut layaknya seseorang yang terluka?. Bukankah itu berarti anda akan sulit membalurkan bekas luka lama anda dengan krim itu?".
"ini untuk jaga-jaga dr. Jacob. Aku tidak mau menumbuhkan sebuah kecurigaan lagi dari Alex terhadapku dokter".
"kenapa anda berfikir bahwa manusia itu curiga dengan anda yang mulia?".
"… entahlah. Instingku berfikir begitu apalagi kejadian di pulau Lamiya waktu itu, pastinya dia curiga terhadap sesuatu yang berhubungan denganku namun tidak mau ia ceritakan kepadaku. Tapi aku tahu itu.
Aku tidak mau dia sampai tahu bahwa didunia ini, bukan cuma bangsa manusia yang hidup di dunia ini".
dan jika ia tahu… Apakah dia akan tetap mencintaiku…?.
''yang mulia, anda memikirkan sesuatu?". Tanya dr. Jacob setelah melihat Keira yang mulai diam memikirkan sesuatu.
"… tidak ada. Bagaimana dengan bekas lukaku ini dokter? adakah kemajuan?". Tanya Keira dengan sebuah harapan bahwa dia tidak akan merasa rasa sakit lagi dibahu kirinya itu.
"sementara masih sama yang mulia. Tapi jangan khawatir, Anda tidak akan merasa kesakitan di bekas luka itu sementara ini karena sudah saya balurkan obat itu ke luka anda untuk jaga-jaga dan saya telah membuat sebuah obat penghilang sakit yang sangat kuat dalam bentuk obat makan. Obat ini setara dengan enam belas dosis obat nyeri dari yang dipakai oleh manusia". Dr. Jacob menunjukkan sebotol obat tablet bewarna biru yang berisi enam puluh butir dan berukuran kecil itu. Obat itu diraciknya dari lima jenis obat penghilang nyeri yang sering dipakai manusia seperti tramadol dan sebagainya bahkan ia menambahkan satu jenis obat penenang didalamnya.
"apakah ini sangat keras dokter? mengingat dosis obat penghilang sakit manusia tidak sebanyak itu bahkan tidak ada yang pernah sampai tiga puluhan dosis ". Tanya Keira saat menerima obat makan buatan dr. Jacob.
"jika pada manusia biasa, tentu sangat keras bahkan satu tablet saja akan menbahyakan mereka namun kita berbeda dengan mereka sehingga kita bisa mendapatkan dosis sebesar itu mengingat rasa sakit yang anda alami sangat membuat anda tersiksa dan menderita".
Ucap dr. Jacob menjelaskan.
kau benar dokter…. Rasa sakit ini sungguh menyiksaku… rasa sakit ini membuatku sungguh berpikir bahwa mungkin kematian akan membuatku tidak merasakan rasa sakit lagi.
tidakkah keluarga Oerloom sangat hebat karena selain menimbulkan luka fisik padaku, mereka juga menimbulkan luka di hatiku.… Ucap Keira dalam batinnya saat teringat akan kematian Elias dan serangan Osmond Oerloom padanya dan sesungguhnya sangat menyakiti Keira dalam hati dan fisik.
''jadi yang mulia, saya menyarankan agar anda hanya memakannya saat rasa sakitnya muncul saja, oke?".
"baik dokter".Ucap Keira memakai kembali seragam putihnya yang masih ada noda darah di seragamnya bagian bahu kirinya.
setelah menjelaskan panjang lebar, Perawat itu membukakan pintu untuk menyilahkan Alex dan Madoc masuk. Alex akan menghampiri Keira duluan namun Madoc lebih dulu dan memeluknya sehingga menimbulkan rasa cemburu padanya.
''syukurlah dirimu baik-baik saja. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu''. Ucap Madoc yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaga muridnya dengan baik.
Keira tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Madoc untuk menghiburnya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku baik-baik saja guru. Ini karena aku lengah saja kok. Tapi aku sudah menghabisi anak buahnya dia". Ucap Keira secara bisik-bisik agar Alex tidak mendengarkanapa yang dia katakan ke Madoc.
"Ehem!". Merasa cemburu, Alex mendekati mereka lalu memisahkan Madoc dari Keira lalu menatap tajam Madoc sambil merangkul Keira sehingga kepala Keira bersandar di dada Alex.
"dia milikku. Jangan sembarang untuk memeluk dirinya, cukup aku saja yang memeluknya". Ucap Alex secara tegas sedangkan Wajah Keira menjadi merah dan tersenyum secara sembunyi-sembunyi saat Alex mengatakan bahwa ia adalah miliknya.
''wah, dasar egois". Gerutu Madoc sedangkan Alex tersenyum mengejek dan dr. Jacob hanya bisa geleng-geleng kepala melihat semua ini walaupun dia bingung dengan hubungan apa antara Keira dengan Alex si manusia.
''bagaimana keadaannya dok? apakah ia akan baik-baik saja?". Alex bertanya kepada dr. Jacob tanpa menyembunyikan betapa khawatirnya dirinya terhadap Keira dan Keira bisa melihat kekhawatiran yang terukir di wajahnya yang dingin itu.
"jangan khawatir, dia baik-baik saja sekarang. Untunglah ia cepat dibawa kemari dan dalam seminggu lagi perbannya akan dibuka lagi disini".
"syukurlah, apakah ada obat yang harus dia minum?".
"mengenai obat, sudah saya berikan obat makan kepadanya jadi jika merasa sakit ia akan meminumnya nanti. Saya permisi dulu tuan-tuan". dr. Jacob memohon diri pergi sehingga diruang itu hanya ada Keira, Madoc dan Alex.
"beg-ranselku, aku lupa ranselku''.Ucap Keira yang menyadari bahwa dia tidak membawa ranselnya sama sekali.
''ranselmu? oh, ada di kursi belakang mobilku".
"fyuhh, syukurlah kalau kau sudah mengambilnya kalau begitu. Soalnya Isinya sangat penting bagiku".
"yah…".
Tapi ini aneh…
Karena mengutamakan Keira, mana teringat lagi aku akan barang-barangnya seperti Ranselnya tapi bagaimana bisa ada di bagian kursi belakang mobilku?.
Apakah ada seseorang yang meletakkan ransel milik Keira didalam mobilku yang kebetulan sedang tidak terkunci?. Tapi siapa? kenapa aku tidak melihat keberadaan orang lain selain Keira?.
Alex bertanya-tanya dalam batinnya karena teringat saat membawa masuk Keira dalam mobil sportnya, ia menyadari sebuah ransel milik Keira dibelakang kursi ketika dirinya sedang memasang sabuk pengaman ke Keira saat itu.
''ada apa Alex? apa kau sedang memikirkan sesuatu?". Tanya Keira Ketika Melihat raut wajah Alex yang sedang memikirkan sesuatu sehingga pertanyaan Keira telah membuyarkan pikirannya.
Alex menatapnya sambil tersenyum lalu mencium kening Keira sehingga Keira terkejut dan Madoc merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh muridnya kepada muridnya.
"hei, disini masih ada guru tahu. Tidak sopan banget". Gerutu Keira yang dibalas Alex dengan wajah sebal karena gurunya hanya menjadi pengganggu dirinya bersama dengan Keira.
"Keira, bisa kita bicara berdua?". Ucap Madoc Dengan tidak mengajak Alex didalamnya karena hal ini merupakan urusan sebuah bangsa werewolf apalagi Madoc tahu yang menyerang Keira tidak mungkin manusia biasa. Pastinya seseorang yang berasal dari kelompok makhluk supernatural seperti mereka.
"hei, ken-".
"Alex, aku lapar. Maukah kau membawakanku sesuatu untuk dimakan?". Mohon Keira dengan melas saat memotong ucapan Alex yang tidak setuju.
Alex tahu bahwa Keira hanya mencari alasan agar ia bisa keluar namun dia sadar bahwa tidak selamanya ia bersikap egois karena rasa cemburu mengingat Madoc termasuk guru yang muda dan tampan sehingga dia menghela nafasnya lalu mengelus rambut Keira dengan lembut.
"aku akan membawakan sesuatu tapi nanti ceritakan kepadaku, yah".
"oke"
tapi maafkan aku Alex karena nanti tidak semuanya aku bisa menceritakan tentang apa yang terjadi padaku…
''oh yah. Kau tidak mau sekalian kubawakan yang itu?". Tanya Alex memberikan sebuah kode tentang sesuatu yang dia beli sebelumnya.
Menyadari benda Apa yang dimaksud Alex seketika pipinya menjadi merah dan langsung mengangguk dan Alex pergi keluar meninggalkan mereka berdua.
"sebelum kau menceritakan tentang apa yang terjadi padamu, aku ingin tahu dimana Tania dan Silvana?".
"mereka? mereka berdua sedang di Twinsbells sekarang ini. Aku sampai lupa untuk menghubungi mereka".
"dasar mereka. Mereka berdua adalah kaki tanganmu dan juga penjagamu, bagaimana bisa mereka meninggalkan dirimu sendiri disana. Jika Alex tidak menolong dirimu saat itu maka kau akan…".
"jangan menyalakan mereka guru… ini semua karena kelengahan diriku. Selain itu… Alex memang yang menemukanku tapi bukan dia yang menolongku dari mereka yang telah dihabisi".
"benarkah? siapa? apa dia berasal dari bangsa kita?".
kedua mata Keira menyipit dan membuang nafas kasar untuk mulai bicara.
''guru, kau ingat dengan ceritaku bahwa aku pernah diserang oleh vampire yang pernah kutemui pertama kali disekolah?".
"yah, kau pernah cerita padaku bahwa vampire itu menyerangmu dengan menggunakan wolf's Bane namun tidak membunuhmu sama se- tunggu dulu!! jangan bilang yang menolongmu adalah…".