The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 112 : A Jelaous Brother



SYUUUNGG!


STAB


''ops, maaf ya Alex. Sepertinya tanganku tergelincir, deh sehingga tidak sengaja deh''. Ucap Leo yang sebenarnya dengan sengaja melempar kapak itu ke arah Alex yang untungnya hampir mengenai Alex.


dasar pembohong brengsek sialan! wajahmu mengatakan hal yang lain tahu.💢 Umpat Alex ketika kapak itu menancap di lantai kayu yang berjarak 0,5cm dari selangkangannya dan ia mengetahui bahwa Leo memang sengaja saat melihat senyuman iblis yang terukir di wajah Leo.


''Leo!".


"aku tidak sengaja lho, Myes". Ucap Leo dengan memasang wajah polos saat Myesha menatap tajam dirinya.


"lihat yang kakak buat, kakak membuat lantainya jadi rusak". Gerutu Keira sambil mencabut kapak itu dari lantai kayu sehingga terlihat bekas kapak di lantai itu.


Kau memikirkan lantai, bagaimana denganku!?. Alex menggerutuh dalam batinnya karena Keira mengkhawatirkan keadaan lantai lebih dahulu dibandingkan dengan dirinya.


''ah, Alex. Kau tidak apa-apa'kan? maaf ya, kakakku tidak sengaja''. Ucap Keira yang melihat ketersyokan di wajah Alex.


tidak tidak. kakakmu sengaja melayangkan kapak itu kepadaku. Tidakkah Kau bisa melihat senyumannya seperti Titan dalam film attack on Titan?!. 😤


''aku tidak apa-apa kok''.🙂 Ucap Alex yang tersenyum walaupun dalam pikirannya berkata lain.


entah mengapa, saat melihatnya tersenyum membuatku sangat senang dan bahagia...?. Ucap Keira secara batin saat melihat sebuah senyuman di wajah Alex yang terkesan dingin dan cuek.


'' selain itu…".


akh!. Ngapain dia!?. Pikir Leo saat salah satu tangan Alex memegang tangan kanan Keira saat Keira berhadapan dengan Alex.


''aku khawatir jika kapak ini mengenai dirimu dan melukai dirimu. Aku takut jika kau sampai terluka''. Ucap Alex secara kalem dan tangannya yang lain mengelus pipi gadis itu sehingga pipi gadis itu bersemu merah karena sentuhannya dan apa yang dilakukan oleh Alex membuat yang menonton memiliki pikiran sendiri.


Awwww 😄💕 sweet.😆 Ucap Myesha secara batin karena melihat aura cinta disekitar Alex dan Keira.


brengsek!! beraninya dia menyentuh pipinya yang lembut itu?!. 🔥 Ucap Leo secara kesal secara batin saat Ia melihat Alex mengelus pipi Keira sehingga terbakar api cemburu.


Wah Wah, melihat mantan terbakar api cemburu sih biasa tapi melihat seorang kakak terbakar api cemburu baru luar biasa. Hebat! 😂 Ucap Tania secara batin yang melihat kecemburuan dan kemarahan di mata Leo itu dan menganggapnya sesuatu hal yang luar biasa.


Wah, nyali Alex besar juga melakukan itu didepan kak Leo.😮 Ucap Dion Secara batin.


'' Oh ya Keira, apakah kau tahu jika seorang istri tewas, sang suamilah yang pertama kali dicurigai?''.


''eh? maksudnya??''. Keira sangat tidak paham dengan ucapan Leo.


''maksud kakak, jika seorang gadis tewas atau menghilang sudah pasti sang kekasih tetap dicurigai pertama kali. Jadi, kau harus berhati-hati dalam memilih seorang laki-laki. didunia ini awalnya laki-laki memasang wajah yang baik namun dibelakangnya, siapa yang tahu. Benarkan, Tania yang manis". Ucap Leo yang didalam kata-katanya terselip pujian untuk Tania, peringatan untuk Keira dan sindiran untuk Alex.


Jujur, aku masih belum paham apa maksud ucapanmu, kak. pikir Keira.


''kau benar sekali kak, nyam nyam''. Ucap Tania sambil menikmati cake bluberi buatan Dion lagi.


dasar! kau ini teman Keira tapi ucapanmu lebih ke sisi Leo. Uda yang sebelumnya menceritakan tentang diriku yang bagian jeleknya lagi saat disekolah.💢 Gerutu Alex saat Tania setuju dengan pendapatnya. Ia tidak lupa bagaimana Tania terlalu jujur mengenai dirinya di sekolah walaupun sebenarnya Tania tidaklah salah namun kejujurannya justru di tempat yang tidak tepat.


Tan, sebaiknya kau diam saja deh, jika masih mau hidup. Pikir Dion yang melirik ke sebelahnya.


''mungkin menurutmu begitu ya kak. Tapi…''. Sambil tersenyum, Alex merangkul pinggang Keira dan menariknya lebih mendekatinya.


''hei, Alex!''. Keira terkejut saat Alex merangkul pinggangnya didepan Leo sehingga pikiran bunuh membunuh kembali bergema di dalam pikiran Leo.


''aku adalah seorang laki-laki baik namun bukan berarti aku laki-laki baik. Pertemuan kami itu memanglah buruk pada awalnya tapi siapa yang akan menyangka bahwa adikmu bisa membuatku tergila-gila padanya. Perbuatannya kepadaku membuatku jatuh hati kepadanya dan aku akan melakukan apapun demi dirinya walaupun cinta kami memiliki rintangannya''. Ucap Alex tersenyum sambil menatap tajam ke Leo.


''lalu, bagaimana dengan ayahmu Harold Adrian?. Kau pasti tahu bagaimana watak ayahmu itu". Ucap Leo sambil meminum teh dicangkirnya namun matanya menatap tajam ke arah Alex sebagai bentuk pengingatan bahwa dia memiliki seorang ayah yang egois, arogan, juga memandang rendah orang lain.


Harold Adrian? jadi itu nama ayah Alex tapi entah mengapa rasanya ayahnya Alex bukanlah ayah yang baik dari cara kakak mengucapkannya kepada Alex. Kedua bola mata Keira melirik ke samping ia melihat ekspresi Alex berubah menjadi dingin seperti es seperti saat pertama kali bertemu dengannya terlebih lagi saat Leo menyebutkan Harold, seketika rangkulan Alex dipinggang Keira menjadi erat seakan tidak mau melepaskannya.


''apa yang kakak tahu tentang ayahnya Alex,ka?". Keira bertanya kepada Leo untuk mendapatkan sebuah jawaban dan pertanyaan Keira membuat Alex menoleh kepadanya.


"kau tidak tahu ternyata… mungkin Karena tidak akan menyangka bahwa kau berpacaran dengan seorang laki-laki dari keluarga Adrian. Akan kakak beritahu. dulu-''.


''Leo!''. Pekik Myesha menghentikan Leo berkata lebih dan saat Myesha menghentikan ucapan Leo, membuat Keira semakin penasaran.


Leo menoleh ke sampingnya dan Myesha pun melotot kepadanya dan mulai menggunakan kemampuannya.


(Jangan beritahu dia Leo bahwa dulu ayahnya pernah berniat menjodohkannya dengan putri paman Hara, Tania). Ucap Myesha secara telepati menghentikan Leo mengatakannya.


(Tapi, sayang. Keira perlu tahu tentang itu). Ucap Leo yang merasa Keira perlu tahu tentang sejarah Hara dan Harold.


(Aku tahu tapi, jika Keira ingin tahu biarlah Alex yang mengatakannya kepada Keira mengingat paman Madoc pernah mengatakannya kepada Alex.


lagipula, jangan mengatakannya di depan Tania, Leo. Jika kau mengatakannya bukankah tanpa kau sadari akan membuat pertemanan Keira dan Tania menjadi canggung?).


bola mata kanan Leo tertuju ke depan dan ia melihat Tania yang begitu polos menikmati cake bluberi tanpa ada beban dalam dirinya dan memikirkan ucapan Myesha yang mungkin Myesha ada benarnya karena jika ia mengatakannya di depan Tania, ia akan merasa canggung dihadapan Alex dan Keira mengingat mereka adalah pasangan sekarang.


Leo menghela nafas dan tidak mengatakan apapun lagi tentang hal yang ingin diucapkannya itu.


''ngomong-ngomong, Tania. Kenapa Silvana tidak diajak kemari?". Tanya Leo yang mengganti topik pembicaraan.


"oh Silvana. dia ada tamu dirumahnya jadi ia akan kemari Setelah tamunya pergi, kak?".


"tamu? siapa?".


Sementara itu…


''hati-hati membawanya, ya''.Ucap Silvana ke Dallas yang berada diatas sepeda motor sport milik Dallas dengan Noah yang duduk di belakang Dallas.


''pasti. Jangan khawatir''.


''aku akan menghubungimu saat sampai nanti''. Ucap Noah yang membuat Silvana tersenyum. Tidak lama kemudian, mereka pergi dan Silvana melambaikan tangannya ke mereka yang telah pergi sehingga tidak terlihat olehnya lagi selain kepulan asap knalpot yang telah menghilang secara perlahan.


dan tepat pada saat itu, Silvana melihat Sanse melesat ke arahnya sambil membawa sekantung besar persediaan makanan untuk disimpan di dapur.


''kau melesat? dimana sepeda motormu? ". Tanya Silvana sembari berkacak pinggang ke Sanse.


"aku terpaksa melesat karena sepeda motorku mendadak bermasalah saat perjalanan pulang dari supermarket jadi sementara sepeda motorku harus berada di bengkel, deh".


"tidak ada manusia yang melihatmu'kan?".


"tentu saja tidak. Aku berjalan cukup jauh sampai ditempat sepi yang jarang dilewati oleh manusia".


"syukurlah kalau begitu. Dallas pergi sebentar dan aku sementara pergi dulu kerumah Keira,yah".


"baiklah kalau begitu. Titip salamku ke mereka, yah".


"pasti". Ucap Silvana dan kemudian ia pun melesat bagaikan angin pergi menuju ke tempat tujuannya.