The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 203 : I Am Wrath...



sementara itu…


Dihutan, Silvana Duduk di atas sebuah tunggul pohon tua yang telah lama pohon itu ditebang dan tidak tumbuh lagi.


gadis itu duduk merenung memandangi langit yang tertutup awan-awan putih. Menutupi mentari disela hawa yang dingin.


kedua bola matanya yang abu-abu itu memandangi langit pagi itu sembari termenung hingga kesunyiannya terganggu ketika seseorang melesat dan ia melirik kanan secara tajam kearah sesosok yang mendatangi dirinya


"lapor Jenderal Silvana".


"Legolas? kau sudah kembali ternyata. Apakah kau mendapatkan berita bagus untukku?". Tanya Silvana sambil melipat kaki kirinya ke kanan menyambut kedatangan Legolas, salah satu bagian dari Werewolf yang juga merupakan orang kepercayaan Silvana.


Jika Silvana mencari sebuah informasi, Legolaslah yang bisa dia andalkan.


"sudah jenderal. Apa yang kau cari telah aku temukan. Aku telah menemukan tentang manusia-manusia yang anda cari berseta di mana mereka tinggal dan juga data-data keluarga mereka". Ucap Legolas menyerahkan Beberapa lembar kertas yang tersegel dalam sebuah amplop coklat.


Silvana membuka segel amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ia tersenyum saat membaca isi amplop itu.


"akhirnya, selama sebelas tahun , akhirnya aku bisa mengetahui keberadaan mereka.


Sekarang aku bisa membalas dendamku kepada mereka.


Kau setujukan jika karma akan segera datang kepada mereka yang telah melakukan kejahatan keji, Legolas?".Tanyanya sambil tersenyum jahat memikirkan balasan apa yang akan dia perbuat kepada orang-orang yang turut andil dengan apa yang dia dan Sande juga Dallas alami sebelas tahun yang lalu.


"tentu saja Jenderal. Manusia-manusia yang memiliki hati kotor dan perbuatan yang sangat busuk, tidak pantas untuk dibiarkan hidup.


Orang-orang seperti mereka hanya akan mencemari kehidupan bumi ini".


"kau benar. Sudah saatnya orang-orang seperti mereka diberantas.Kemanusiaan? aku beruntung aku bukan lagi seorang manusia sehingga aku tidak perlu memandang perbuatanku nanti seperti manusia.


Kerja bagus Legosas".Ucap Silvana tersenyum puas lalu memberikan sekantung besar berisi kepingan- kepingan koin emas.


Legolas menerima kantung itu dengan senang hati saat Silvana memberinya bayaran yang setimpal dengan perkembangannya.


"seperti perjanjiannya, aku akan memberimu tiga ribu koin emas tapi karena kerjamu Sangat bagus dan terpercaya, aku telah menambahkan tiga ribu koin emas lagi untukmu" .


"terima kasih atas kebaikan anda Jenderal. Tapi boleh saya tahu sesuatu?".


"apa?".Tanya Silvana sambil menyimpan kembali berkas itu dan meletakkannya di balik jaketnya.


"begini, Kenapa anda tidak bertanya saja kepada Tuan Madoc tentang mereka? Saya yakin bahwa dia pasti telah menemukan keberadaan mereka sebelum saya.


"Yah, aku yakin dia tahu makanya dia tidak memberitahu sama sekali bahkan mengulur-ulur waktu dengan berbagai macam alasan sampai aku akhirnya menjadi lupa.


Tapi dia lupa bahwa perbuatan seseorang yang tidak bisa dimaafkan itu tidak bisa dilupakan. Itulah mengapa aku meminta bantuanmu alih-alih menunggu dirinya mengatakannya sendiri padaku".


"mungkin dia tidak ingin anda mengotori tangan anda semakin jauh. Mungkin dia tidak ingin anda menjalani masa depan anda dibayangi dendam.


Atau bisa saja mungkin dia ingin hidup anda lebih baik mengingat anda sudah seperti anaknya sendiri".


"…sayangnya itu tidak mungkin buatku…


dia baik tapi… dia tidak berhak memutuskan apa yang terbaik bagiku.


Mungkin karena aku telah ditakdirkan memiliki seorang ayah yang buruk membuatku sulit untuk memahami kebaikan dirinya.


Mungkin dikehidupanku sebelumnya aku telah menjadi orang yang tidak baik sehingga hidup masa kecilku menjadi hancur.


Andai saja…".


"andai saja apa?".


"lupakan saja yang aku katakan. Aku ada tugas baru untukmu, Legolas".


"baik, Jenderal. tugas apa yang akan anda berikan?".


"baik Jenderal". Setelah menerima tugas, Legolas pergi meninggalkan Silvana sendirian disana.


Ayah James… terima kasih atas kebaikanmu untukku dan kedua saudaraku…


akan tetapi…


Maaf…


aku tidak bisa menunggu lagi…


aku tidak bisa membiarkan mereka yang melecehkan para ibu kami hidup bahagia lebih lama lagi…


Aku ingin memberikan keadilan untuk mereka yang disakiti oleh para monster itu…


aku… Sanse… Dallas… ibu-ibu kami adalah korban dari kejahatan mereka.


Jangan mencegahku untuk tidak membalas mereka agar aku bisa hidup bahagia.


Hati yang telah berubah menjadi hitam karena korban dari kekejaman manusia akan sulit hidup bahagia dengan melupakan balas dendam ini.


Aku tidak bisa mempercayai hukum karena Hukum tidak selamanya berpihak kepada korban jika yang jahat merupakan orang kaya dan berpengaruh.…


Mereka memang akan mendapatkan karmanya tapi ayah James… kau lupa jika akulah bentuk karma itu.


Karma yang akan membalas perbuatan mereka dan jauh lebih menyakitkan daripada apa yang telah aku lakukan terhadap ayahku yang kejam dan keluarganya yang terkutuk itu…


Aku adalah bentuk dari keangkaranmurkaan…


aku adalah bentuk dari percikan api yang membakar isi hati dan perasaanku… Batin Silvana sembari mengepal tangannya dan memandangi langit dengan perasaan amarah dan kebencian dan dendam didalamnya.


Api yang selama ini hanya api kecil di isi hatinya kini telah membesar seiring dengan keangkaran murkaan yang bergejolak didalam dirinya.


Sudah saatnya ia menjadi karma untuk orang-orang yang jahat kepada keluarganya sebelas tahun yang lalu, sudah saatnya Silvana, gadis yang tenang itu melepaskan amarahnya yang dia pendam sebelas tahun yang lalu.


Berkat penyiksaan yang dia lakukan kepada ayah dan keluarga tirinya sekian lama membuatnya tidak akan melupakan apa yang dia alami dan apa yang menjadi tujuannya hidup setelah mendapatkan kesempatan hidup yang kedua kalinya sebagai seorang Werewolf.


Kali ini, dirinya yang menjalani hidup baru sebagai seorang Werewolf akan membantunya untuk membalas dendam kepada mereka.…..


Silvana kemudian pergi melesat lurus ke depan. Matanya berubah menjadi kuning menyala dan kemudian dia berubah menjadi seekor Serigala berwana putih keabu-abuan.


Serigala itu belari maju ke depan melompati batu besar dan juga melewati pohon yang telah tumbang itu hingga ia berhenti saat merasakan sesuatu.


Sementara itu…


"kau tidak nambah lagi?".Tanya Daniel heran saat ia menyadari bahwa Tania hanya menghabiskan makanan sebanyak satu porsi mengingat terakhir kali ia mengajak Tania makan, ia melihat gadis itu makan banyak sampai lima porsi lebih.


"ng… aku tidak terlalu lapar".Jawab Tania bohong.


Bagaimana bisa aku makan banyak dan memesan lagi, jika mayat mayat-mayat ini masih disini!.Sudah syukur aku masih mau makan walaupun seporsi Karena ini. Haruskah pikir Tania melirik kearah lima sampai enam laki-laki manusia yang tergeletak bersimbah darah di lantai.


"ah… kau pasti tidak nafsu makan karena ini yah?.


maaf ya, akan aku suruh anak buahku untuk menyingkirkan mereka".


"Kau pikir nafsu makanku akan kembali?. Sudah terlambat untuk itu💢. Aku baru sebentar saja ke kamar mandi saat aku mendengar suara tembakan, tahu-tahu malah jadi begini".Ujar Tania kesal.


____________________________________________


Nb: kepada para pembaca setia Maaf jika terbit chapter selanjutnya terasa lama dikarenakan saya sedang sibuk dinas melayani pasien dan sedang sakit...🤒


Akan tetapi, saya akan memastikan chapter selanjutnya akan muncul secepatnya...


terima kasih semuanya atas dukungannya terhadap karya saya "The hot blood of saga🙏".