The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 193 : Bye... Past



Sesosok itu memandang teduh kapal itu dengan mata merahnya di balik kegelapan malam selama beberapa menit hingga pada akhirnya dia pun pergi seakan tujuannya tercapai atau tidak tercapai.


Ia pun melangkah pergi kembali ke dalam hutan tanpa disadari bukan dia saja yang berada di dalam hutan itu.


"Emer". Langkahnya terhenti saat ia mendengar seseorang memanggil namanya lalu ia pun melihat seseorang telah berada didepannya.


"ada apa, kak Jova?". Tanyanya dengan nada malas.


"pulang. Ayah memintamu untuk pulang segera".


"untuk apa? agar ia bisa memarahiku lagi? aku belum mau pulang". Jawab Emery malas saat teringat ayahnya, Kendrick telah memukulnya karena dia telah berani menyerang putri Lestat.


"Pulang Emer. Ada masalah gawat dirumah. Dan perlu kau ketahui Emer, kau harus berhati-hati Sekarang mengingat hanya tinggal dirimulah putra ayah yang tersisa". Ucap Jovanka langsung ke inti pembicaraan.


"huh? apa maksudmu bahwa hanya akulah yang tersisa sebagai putra ayah?". Tanya Emery bingung maksud ucapan saudarinya tapi Jovanka hanya terdiam tidak tahu harus mulai dari mana menjelaskan apa yang telah terjadi pada Aarav.


"… kakak… apa yang telah terjadi? beritahu aku".


"…".


dikediaman keluarga Dasper…


"beraninya raja sialan itu menghabisi orang-orang kita dan menjadikan kak Aarav sebagai tahanan mereka. Ayah, kau harus melakukan sesuatu". Ucap Emery marah setelah mengetahui bahwa Lestat menghabisi perajurit mereka dan menjadikan saudaranya sebagai tahanan.


"apa yang harus aku lakukan sekarang Emery. Semua ini tidak akan terjadi jika saja kau tidak menyerang putrinya". Kendrick marah dan mengingatkan kesalahan yang telah dibuat Emery.


"ayah menyalahkanku?. Tapi ayah lupa bahwa putrinya juga berasal dari bangsa kotor seperti ayahnya dan mereka termasuk musuh kita.


Bukankah saat itu merupakan kesempatan Bagi kita untuk merebut wilayah Utara jika Keira dihabisi mengingat dia adalah pemimpin Werewolf wilayah Utara dan kematiannya akan membuat para prajurit Utara menjadi lemah dan patah semangat.


Jika saja saat itu tidak ada yang menggangguku maka sudah pasti putrinya sudah aku habisi".


"kau tidak sepenuhnya bersalah tetapi kau gegabah. Dia pasti akan dihabisi tapi tidak Sekarang. Tunggu waktu yang tepat untuk menghabisi nyawa sang Alpha Utara.


seharusnya kau bersabar untuk melakukan itu karena yang paling penting adalah mengalahkan sang raja dan ratu mengingat mereka bidak terkuat dalam bangsa itu.


Saat mereka tewas baru kita bisa menyerang kedua anak mereka dan kau bisa menghabisi putrinya tapi kau tidak bisa menunggu hal itu


Apalagi jika seandainya Sang Alpha yaitu Keira tiada sebelum memiliki pewaris maka sang panglima yaitu putri Rhyes yang merupakan seorang wakil sang Alpha akan naik menjadi sang Alpha dan sang jenderal naik menjadi wakil sang Alpha Utara".


"Kalau begitu, kita bisa menghabisi putri Hara mengingat aku dendam dengannya karena dia membunuh Samuel".Ucap Emery.


"yah tapi wakilnya bukanlah lawan yang mudah selain itu, jika kedua gadis itu yang mati maka sang jenderal akan naik menjadi sang Alpha Utara dan saat itu-".


"tidak. Jangan bunuh dia". Larang Emery karena dia tahu siapa si jenderal itu.


"kenapa? kau masih mencintai gadis dari bangsa kotor itu?". Selidik Kendrick.


"yah. Aku masih mencintainya. Jangan sakiti dia".


"tidak bisa Emer!. Musuh tetaplah musuh walaupun kau memiliki perasaan terhadap gadis itu, dia tetap berasal dari bangsa Werewolf dan aku tidak akan pernah merestui hubungan kau dengan makhluk itu.


aku tidak Sudi mempunyai seorang menantu dari bangsa budak dan tidak Sudi ada percampuran antara bangsa vampire dan Werewolf di keluargaku.


Selain itu, jangan bermimpi untuk berharap bahwa gadis itu masih mencintai dirimu setelah apa yang kau lakukan padanya". Ucap Kendrick secara rasis dan memutuskan untuk bangkit dan naik ke atas.


"Ayah! kita belum selesai bicara!. Ayah!" panggil Emery tapi Kendrick tidak berhenti melangkah pergi sehingga Emery ingin mendatanginya namun Pratistha mencegahnya.


"Sudahlah Emer. Biarkan Ayah sendiri dulu. Ia sudah cukup pusing dengan masalah ini.


Untuk sementara ini, sebaiknya kau berada dirumah dulu karena raja Serigala itu masih berada di kota ini dan selama dia masih dikota ini kau tidaklah aman mengingat dia masih mengincar dirimu". Emery terdiam saat Pratistha berbicara. Ia tenang namun tangannya mengepal kuat seakan ia berkata bahwa urusan ini belum selesai dan akan membalas perbuatan sang raja.


Sementara itu di rumah Keira…


Matanya menatap teduh saat memandangi wajah sang kekasih di foto yang terpajang itu.


Setelah lama memandangi foto di figura itu, Keira mengambil foto-foto di figura itu lalu melangkah ke sebuah kamar tapi kamar yang dia tuju bukanlah kamarnya ataupun ke kamar Dion.


Melainkan sebuah kamar yang sudah setahun tidak dia datangi dan dia buka karena gadis itu tahu bahwa kekasihnya yang telah tiada itu memakai kamar itu setiap menginap dirumahnya.


Bisa dikatakan dulunya kamar itu milik Elias.


Keira merogoh isi kantongnya lalu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya itu, Ia memasukkan kunci kamar itu, memutar kunci dan memutar kenop pintunya.


dulu, kamar ini selalu terang karena cahaya lampu setiap kau tidur dikamar ini.


Tapi sekarang… kamar ini sudah lama sekali tidak dimasuki dan dinyalakan semenjak dirimu telah… Ucap Keira dalam batinnya yang terasa pilu dan sedih dihatinya saat melihat suasana gelap dikamar itu.


Keira menekan tombol lampu. Lampu menyala menerangi ruangan itu. Keira dapat melihat semua perabotan di kamar itu tetap pada tempatnya walaupun ia bisa melihat debu-debu dan jaring laba-laba yang menempel di perabotan-perabotan kamar itu karena sudah setahun dibiarkan begitu saja mengingat Keira tidak pernah lagi membuka pintu kamar tempat Elias berada dulu untuk membersihkan karena kematian Elias telah membuat Keira tidak sanggup untuk masuk ke dalam kamar Elias.


Ia sungguh tidak sanggup mengingat kenangan-kenangan bersama Elias berada di kamar itu.


"Maafkan aku karena tidak membersihkan tempat dirimu biasa berbaring setiap kau datang menginap…


Hatiku sangat sedih mengingat… mengingat… kamar ini merupakan saksi kenangan kita yang bahagia…". Ucap Keira lirih.


Sambil memeluk foto Elias, Keira duduk di tepi tempat tidur. Ia mengingat kenangannya bersama dengan Elias. Ia dapat melihat kenangannya itu saat memandangi sebuah kursi kulit yang berada tidak jauh dari sofa, ia ingat dirinya selalu duduk di pangkuan Elias setiap Elias Duduk dikursi itu.


Keira tersenyum saat mengingat dirinya bermanja-manja dengan Elias yang berada di kursi itu.


Di meja belajar, Keira teringat saat Elias selalu membantunya mengerjakan tugas pemberian Madoc. Ia ingat saat Elias mengajarkan dirinya cara mengerjakan tugas yang sulit.


Disofa, Keira ingat saat Elias membacakan sebuah buku yang menarik untuknya sedangkan ia mendengarkan sambil membaringkan kepalanya di paha Elias sampai-sampai ia tertidur karenanya.


Keira ingat akan hal itu sampai air mata mengalir di pipinya.


bahkan di tempat tidur, Ia dan Elias sering main perang bantal dulu tidak peduli sampai bulu-bulu angsa keluar dari sarung bantal.


Keira mengingat semuanya saat memasuki kamar itu. Ia tersenyum sampai senyumannya itu memudar bersamaan dengan kenangan itu berakhir.


Elis… dulu kita punya kenangan yang indah…yang istimewa… tapi takdir telah memisahkan kita…


Selama setahun aku berduka untukmu… aku menagisi kepergian dirimu…


dunia kita tidak lagi lama, aku tidak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidup tanpamu.


Hingga kemudian dia datang mengisi hidupku.


Aku tidak tahu sejak kapan dia mulai masuk kedalam kehidupanku…


tapi aku bahagia saat dia bersamaku…


yah… aku telah memiliki perasaan terhadap Alex. disana, kau tidak perlu khawatir… aku tahu dia baik dan aku berharap agar hubunganku dengannya selalu baik-baik saja seperti kau dan aku…


Yah… aku harus melanjutkan hidupku.


tapi kau tidak perlu bersedih Elis…


sampai kapanpun aku tidak akan melupakan dirimu.


kau akan tetap ada didalam jiwaku. Selamanya kau adalah belahan jiwaku, Elias.


Sudah saatnya aku maju menuju masa depan. Ucap Keira dalam batinnya lalu, setelah mencium foto Elias, Keira meletakkan foto itu diatas meja dan bangkit dari duduknya.


Selamat tinggal… masa lalu… terima kasih untuk semuanya, Elias…Ucap Keira di dalam batinnya.