
"dasar Alex😒. Sungguh, aku tidak tahu pikiran laki-laki seperti dia. Memangnya aku minta?. Terkadang dia manis tapi terkadang dia menjadi menyebalkan".
Ucap Keira berbicara sendiri ketika sedang memikirkan tentang apa yang harus lakukan terhadap hadiah-hadiah pemberian Alex.
terlebih lagi Dion. saudaranya itu merengek menginginkan PS3 terbaru itu walaupun sebenarnya dia bisa beli dan dia tahu Alex tidak akan mau menerima hadiah hadiah yang diberikan laki-laki itu dikembalikan mengingat Alex tipe orang yang keras kepala.
Sebaiknya aku membagi-bagikan hadiah ini kepada orang saja. Toh, sudah menjadi milikku jadi aku bebas dong mau aku lakukan terhadap barang-barang ini. Pikir Keira setelah ia menemukan sebuah solusi untuk pemberian Alex.
"Hei Di- eh?. halo?". Belum sempat menyelesaikan Apa yang ingin dia katakan kepada Dion, sebuah panggilan muncul di ponselnya sehingga Segera Keira melihat dan mengangkatnya.
"oh halo Sanse, ada apa?". Keira mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Sanse dan seketika raut wajahnya berubah saat mendengar penjelasan dari Sanse terhadap sesuatu yang penting.
"Jangan khawatir, aku akan kesana".
...PIP...
"ada apa Keira?". Tanya Dion setelah Keira selesai berbicara dengan Sanse melalui ponsel.
"aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali nanti".
"oh baiklah kalau begitu aku akan membuka Cafenya setelah kau kembali. Tapi apa yang akan kita lakukan terhadap barang-barang ini?kau ingin mengirimnya ke rumah?".
"hm, sebaiknya barang-barang ini diberikan saja kepada yang membutuhkan. Sementara itu, simpan saja barang-barang ini digudang". Ucap Keira sambil terburu-buru mengambil jaket dan kunci sepeda motornya. segera Keira pergi mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan penuh meninggalkan Dion yang tidak tahu apa yang terjadi sehingga Keira pergi terburu-buru dan gusar setelah mendapat telepon dari Sanse.
Dikediaman keluarga Dasper…
"Jadi, harus bagaimana ayah?. Kita tidak mungkin menyerahkan Emery kepada bangsa doggy kotor itu tapi kita tidak bisa membiarkan Aarav menderita disana, ayah.
Kita tidak tahu apakah mereka menyiksanya disana".Ucap Jovanka.
" betul yang dikatakan Jovanka ayah. Apa yang harus dilakukan sekarang". Ucap Pratistha meminta pendapat Kendrick juga.
"Ini semua salah Emer! Jika saja ia bersabar diri dan tidak langsung menyerang putri Lestat, mungkin Aarav tidak akan jatuh ditangan musuh".Timpal Rosemary menyalahkan Emery.
"Jadi, kau mengharapkan agar Emery saja yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan Aarav, Rose?".
"aku tidak menyarankan agar Emery dikorbankan, Pratistha. Tapi dialah yang memulai semua ini sehingga raja Werewolf itu
Menyerang dan menjadikan Aarav sebagai tawanan mereka.
Seandainya saja Emery berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan, mungkin tidak akan terjadi".
"Dimana Emer?. Apa dia sudah kembali?". Tanya Kendrick setelah menyadari bahwa Emery masih belum pulang.
"dia belum kembali ayah". Jawab Pratistha.
"kalian Cari dia dan bawa dia pulang sekarang. Akan sangat berbahaya baginya saat ini di luar. Sementara itu, ayah akan memikirkan sesuatu untuk menyelamatkan Aarav dari mereka".Titah Kendrick.
"baik ayah". Jawab Ketiga gadis itu menerima titah dari Kendrick dan pergi sedangkan Kendrick mengepalkan tangannya saat kesal dan marah yang menghampirinya saat ini.
...***...
Tidak lama kemudian, Keira berhenti di depan kediaman Silvana. Keira memakirkan sepeda motornya dan saat turun dari sepeda, ia melihat Sanse dan Dallas menghampirinya.
"dimana Silvana sekarang?". Tanya Keira dengan ekspresi wajah yang serius dengan perasaan khawatir dibalik ekspresinya yang serius itu.
Saat Keira dalam keadaan serius, sudah pasti Telah terjadi sebuah Silvana dan saat Sanse memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Silvana, sudah pasti Silvana sedang mengalami sebuah masalah dan mengapa Sanse menghubungi Keira dikarenakan Silvana melarangnya dan Juga Dallas untuk mendekatinya.
"dia disana".Ucap Sanse lalu mereka berdua bersama dengan Keira yang mengikuti mereka memasuki ruangan penjara bawah tanah.
dibawah tanah, Keira dapat mencium aroma darah dari beberapa manusia yang tidak dia ketahui. Keira tidak bertanya apapun kepada dua saudara Silvana tentang aroma darah yang dia cium dari Indra penciumannya karena sebagai seorang sahabat, ia dan Tania cukup tahu bahwa Silvana memiliki tempat untuk menyekap dan menyiksa musuh-musuh Silvana seperti keluarganya sendiri.
Hanya saja, baik dia dan Tania tidak pernah melihat seperti apa keluarga yang jahat kepada Silvana selama ini. Mungkin karena takut melihat sosok gadis baik seperti Silvana bisa berbuat kejam kepada mereka yang menyakitinya selama ini atau mungkin saja karena sisi mereka yang baik tidak tega melihat para manusia itu disiksa sehingga meminta Silvana untuk tidak menyakiti mereka lagi dan pastinya Silvana akan merasa terkhianati oleh sahabatnya sendiri yang tega membela mereka yang sudah jahat kepadanya selama ini.
Apapun itu, Keira tidak setuju dengan perbuatan Silvana tapi Keira mendukung apa yang dilakukan oleh Silvana karena Diantaranya dengan Silvana, Silvanalah yang memiliki masa kecil yang menyakitkan dan mengiris hati.
Jika Keira mengalami masa kecil yang sama dengan masa kecil Silvana, bukankah berarti dia akan melakukan perbuatan yang sama dengan Silvana?.
"Dia tidak mau didekati siapapun saat ini.Aku tidak tahu apa yang dikatakannya sampai dia mengamuk dan menghabisinya…".Ucap Sanse saat ia dan Dallas juga Keira sampai di pintu penjara.
Kemudian, Dallas membuka pintu penjara itu.
Keira terkejut dengan pemandangan yang dia lihat saat ini.
Ia dapat melihat seorang pria, seorang wanita, tiga gadis dan seorang laki-laki duduk disudut ruangan dengan kondisi mereka yang dirantai dan tubuh mereka begitu Kumal Dengan darah kering dan darah segar bercampur menjadi satu ditambah lagi dengan luka dan bekas luka yang berasal dari cambukan dan pukulan.
Keira dapat melihat rasa ketakutan yang luar biasa disorot mata mereka saat ia melihat sisa orang yang telah menghancurkan kebahagiaan Silvana Sebelas tahun yang lalu.
Tapi bukan mereka yang membuat Keira terkejut melainkan ia terkejut melihat sahabatnya sendiri sedang memakan saudara tiri laki-lakinya itu dengan tetesan-tetesan darah melekat di pakaian sahabatnya itu.
"Silva…". Panggil Keira bernada lirih.