
huh! manusia itu sungguh menyebalkan. bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gerutu Tania. Ia pun membaringkan tubuhnya di kasur sambil memikirkan percakapan sebelumnya antara ia dan Danny di taman.
Sebelumnya…
"nah, sekarang katakan, apa yang ingin kau minta padaku saat pembicaraan kita dimobil saat itu?".Tania mulai serius bertanya apa yang diinginkan Danny agar ia tidak mengatakan kepada siapa pun termasuk kedua orang tuanya bahwa dia hanya berpura-pura amnesia.
Danny tersenyum lalu ia pun berjalan mendekati Tania dan mulai berbisik sehingga seketika kedua bola matanya yang berwarna hazel itu membesar karena mendengarnya.
"apa kau gila?! menjalani kencan selama sepuluh kali denganmu dan dekat denganmu?!. Yang benar saja. Untuk apa?!". Cecar Tania saat ia tahu bahwa permintaan Danny adalah berkencan dengannya selama sepuluh kali.
"untuk apa belum saatnya kau akan mengetahuinya. Aku akan memberitahumu pada saat yang tepat Jadi, kau mau'kan?".
"tidak".Jawab Tania Secara singkat dan padat.
Memangnya kita ini pacaran apa?. Kita kan bukan kekasih. Aish, sebenarnya apa sih yang direncakan dia?. Batin Tania mengomel saat mendengar permintaan Danny.
"ooooooh kau tidak mau yah?. Oke tapi jangan salahkan aku jika aku memberitahu kedua orang tuamu bahwa kau-".
"baik baiklah! aku akan memenuhi permintaanmu". Ucap Tania menyelah ancaman Danny yang belum selesai dikatakan Danny.
"benarkah?😀".
"ya…😒".
"benarkah ?😀😀"
"ya ya…".
"ow…benarkah ?😀😀😀".
"ya ya ya Ya!!. Tidak ada kata lain yang kau katakan?!💢". Tania mulai kesal saat Danny terus menerus bertanya 'benarkah'.
"hehehe maaf. Ini sudah fix ya".
"ya tapi perjanjian kita akan tetap berjalan selama orang lain termasuk kedua orang tuaku tidak tahu bahwa aku pura-pura amnesia 😒 dan perjanjian ini akan dapat berakhir bahkan sebelum mulai menjalani kencan saat mereka tahu. Kau mengerti?".
"tentu saja. Nah, aku pulang dulu yah". ucap Danny dan berbalik memunggunginya.
"tunggu… kenapa kau meminta permintaan ini?". Tanya Tania sebelum Danny pergi.
"…sudah aku katakan… aku akan mengatakannya kepadamu suatu hari. Tidak hari ini tapi pasti". Jawab Danny tanpa berbalik dan menoleh sedikitpun dan Tania hanya terdiam saja memandangi Danny yang berjalan pergi.
dan sekarang…
"aish, sebenarnya apa yang ada dipikiran laki-laki itu?".Tania berpikir dan berpikir Hingga pada akhirnya dia ketiduran karena banyak pikiran.
sementara itu, Alex yang telah kembali kediamanya berada di dalam kamar ibunya. Sambil duduk di samping ibunya, ia memandang boneka yang diberikan oleh Keira untuknya.
"ibu, aku sungguh bahagia hari ini. Apakah ibu tahu, aku menikmati kencanku bersama dengan Keira ditempat yang ingin sekali aku datangi saat masih kecil.
tempat yang merupakan Tempat yang membuat masa kecil seorang anak menjadi berwarna…
ibu tahu… ada sebagian keinginanku yang terpenuhi ibu… aku telah pergi ketempat itu bersama dengan orang yang aku sayangi tapi… sebagian keinginanku yang tidak terpenuhi adalah… aku juga ingin pergi ke tempat itu bersamamu ibu, aku ingin mengisi kenangan kita bersama ibu…
andai saja kita bertiga bisa kesana bersama…
ibu… aku ingin sekali mengenalkanmu dengan Keira ibu. Dia gadis yang baik dan cantik. Aku tahu ibu akan suka padanya dan merestui hubungan antara aku dan dia…".Ucap Alex lirih memandangi Dylan yang masih terbaring koma dengan alat-alat medis yang menunjang hidupnya.
Ia menggenggam tangan Dylan dan mencium punggung tangannya itu. Ia ingin mengutarakan isi hatinya namun ia sungguh sedih karena ibunya hanya bisa mendengarkan tapi dalam keadaan diam tanpa bersuara.
aku ingin mendengar suaramu yang memanggil namaku ibu…
jujur saja, bertahun-tahun tidak mendengarkan suaramu membuatku lupa bagaimana suaramu saat memanggil namaku dan berbicara denganku ibu…
aku ingin sekali merasakan hangatnya pelukanmu ibu rasa perlindungan yang kau berikan padaku dalam dekapanmu saat kambing tua itu mengamuk…
aku ingin merasakan kecupan dahi yang kau berikan padaku sebelum aku tidur ibu… aku tidak pernah merasakan mimpi buruk saat kau selalu melakukan hal itu kepadaku tapi sekarang… saat aku tertidur, aku tidak pernah merasakan mimpi indah.
sungguh ibu…dirimu terbaring diam membuatku merasa kesepian dirumah ini bu…
ibu… aku sungguh merindukanmu ibu…"Ucap Alex mengutarakan isi kesedihan dan kerinduan yang mendalam terhadap Dylan. Alex menggenggam tangannya dan menangis dan tanpa disadari terdapat setetes air mata yang mengalir di sudut mata wanita itu seakan ia mendengar ucapan-ucapan Alex yang membuatnya merasa sedih karena kerinduan seorang anak kepadanya namun ia tidak dapat membuka matanya ataupun menggerakkan tubuhnya akibat tidur panjang yang masih dialami oleh dirinya.
Sementara itu di pelabuhan…
...Silvana…....
...DEG...
Silvana terbangun saat sebuah bisikan suara yang begitu familiar ditelinganya.
Ia mendadak bangun dan duduk ketika merasakan seseorang memanggil namanya diantara hembusan angin.
siapa?… Suara ini… mungkinkah…Silvana yang saat itu memilih untuk tidur dikapalnya segera bangkit dan keluar untuk memastikan jika dugaannya ternyata benar.
Akan tetapi…
Saat ia keluar, ia tidak menemukan siapapun baik di hadapannya maupun sekitar pelabuhan.
Melainkan hanya angin malam yang dingin dan berhembus sepoi-sepoi disekitarnya.
Mungkinkah aku salah mendengar…? tapi entah mengapa aku merasa bahwa…
ah Silvana… untuk apa kau memikirkan dia lagi?.
Bukankah kau telah memutuskan semua hubungan antara dirimu dengannya?. Batin Silvana mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia telah memutuskan semua hubungan antara dirinya dengan seseorang yang pernah mengisi warna dihatinya namun juga menorehkan luka didalamnya.
"Kurasa hanya perasaanku saja. Saat ini perasaanku memang sedang memburuk". Silvana memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya saat ia merasa bahwa yang dirasakannya hanya perasaan dirinya saja akan tetapi, ia tidak tahu jika dibalik bayangan, seseorang sedang mengamati gadis itu dari jauh namun suaranya memanggil gadis itu telah sampai kepada gadis itu.
Silvana… sudah setahun aku tidak bertemu denganmu namun rasa rindu ini terasa selamanya untukku.
Aku ingin bertemu denganmu, ingin memeluk dirimu kembali Tapi sayangnya tidak bisa kulakukan saat ini karena kau menjauh dan membenci diriku.
Apakah karena sebuah kesalahan yang telah kuperbuat membuatku pantas mendapatkan hukuman ini dengan mendapatkan kebencianmu dan kau menjauh dariku?.
Aku memang membohongi kalian tapi perasaanku padamu bukanlah sebuah kebohongan…
Kau tahu Silva… aku ingin sekali mendapatkan sebuah kesempatan kedua agar bisa dicintai oleh dirimu lagi.
Sesosok itu hanya bisa berbicara di dalam batinnya sendiri karena tahu bahwa lawan bicaranya sangat membencinya. Matanya yang berwarna merah hanya bisa melihat gadis itu dibalik bayangan malam.
Ingin rasanya ia melangkah keluar dari bayangan malam menuju ke kapal Silvana, menghampirinya dan mencoba untuk berbicara dengannya walaupun besar kemungkinannya gadis itu tidak mau mendengarkan dirinya.
Tidak tidak. Bukan waktunya aku menemui dirimu Silva… aku berjanji akan segera dengan cepat menghabisi sang Alpha dan wakilnya yang sialan itu karena aku tahu mereka berdua merupakan penggalang terbesar kita untuk bersama.
Terutama wakilnya yang sialan itu!. Aku masih dengan dengannya setelah apa yang dia lakukan terhadap Samuel. Ucap sesosok itu dalam batinnya saat mengurungkan niatnya itu karena masih harus menyelesaikan tugas yang Belum selesai sampai sekarang.