The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 183 : Justice ?



Keira Melihat Silvana dalam transformasi Manusia sedang memakan sebuah tangan yang berasal dari sebuah jasad laki-laki yang tidak lain adalah salah satu dari saudara tiri Silvana.


Tidak mengherankan jika keluarga jahat itu menjauh dan ketakutan terlihat sangat Dimata mereka karena anak yang mereka jahati dan mereka siksa telah menjadi monster yang mengerikan untuk mereka.


Sebuah karma yang mengerikan tapi apa yang ditanam itulah yang dituai. Sebuah perumpamaan yang cocok untuk mereka yang telah melakukan kejahatan sehingga hukuman telah mendatangi mereka walaupun tidak ada yang tahu bagaimana atau dalam bentuk apa hukuman itu datang.


"Silvana…". Panggil Keira bernada lirih sekali lagi dan tangan kanannya mencoba menyentuh pundak Silvana.


Silvana terdiam lalu saat tangan Keira hampir menyentuh pundaknya, gadis itu langsung berbalik dan mendorong Keira.


"Jangan sentuh aku!!". Teriak Silvana saat mendorong Keira.Beruntung, Sanse dan Dallas dengan sigap menangkap tubuh Keira sehingga Keira tidak terjatuh menyentuh lantai yang dingin dan bernoda darah itu.


Keira bisa melihat sosok temannya yang lain dari Silvana memamerkan taringnya saat mengeram dan Mata birunya yang melotot marah saat diganggu dan mengapa Bola matanya bisa berubah menjadi biru karena saat seorang Werewolf memakan seorang manusia maka bola matanya akan berubah dari kuning menyala menjadi biru dan bersifat sementara sampai seorang Werewolf itu berhenti memakan seorang manusia.


Dari sorot matanya yang tajam dan marah, Keira dapat melihat rasa kesedihan yang mendalam Dimata Silvana.


Ia tahu betapa rasa marah dan sedih bercampur menjadi satu Dimata Silvana sehingga ia tahu bahwa hati Silvana sedang terluka oleh seseorang.


"Ia menjadi gampang sekali marah dan menyuruh kami menjauh saat ia menghabisi dan mulai memakan saudara tiri kami yang mulia. Ia tidak mengingat siapapun jika dia dalam kondisi seperti itu. Untuk itu ada baiknya kita tidak mendekatinya sementara ini".Ucap Dallas menjelaskan dan memperingatkan tentang Silvana.


"Tidak Dallas.… kita tidak bisa membiarkannya seperti ini".Ucap Keira mengubris peringatan Dallas.


Sekali lagi, Keira berjalan pelan menghampirinya tapi kali ini ia berlutut dan menyentuh punggung Silvana. Mendadak Silvana melotot marah kepadanya sedangkan Keira menatapnya dengan tatapan mata yang sayu.


"GRRRRR!!!".


"jangan marah Silva… ini aku… Keira, temanmu. Apa kau juga tidak ingat kepadaku…?"Ucap Keira bernada lirih dan menggenggam tanganya.


Silvana Masih menggeram tapi kali ini ia tidak mendorong Keira kali ini saat Keira menggenggam tangannya sebagai tanda bahwa dia mulai mengingat Keira saat mendengarkan Kata-kata yang berasal dari Keira. Itu berarti bagian dirinya mulai melawan sisi lain dari serigala yang berada dalam dirinya saat mendengarkan Keira.


"aku Keira… pemimpinmu… sahabatmu… aku ingin dirimu yang berada di bagian alam bawah sadarmu yang terdalam untuk kembali kepadaku… kepada orang-orang yang menyayangimu". Ucap Keira dengan menatap mata Silvana dengan bola matanya yang berwarna Kuning menyala seakan Keira menggunakan kemampuannya sebagai pemimpin untuk menyadarkan Silvana kembali ke sedia kala.


"K-KKe…ira…".Ucap Silvana dan seketika bola matanya berubah menjadi bola matanya yang sesungguhnya yaitu abu-abu dan saat ia melihat tubuh saudara tirinya yang tinggal setengah besar ia menyadari bahwa emosinya telah membuatnya memakan saudaranya itu.


Segera ia melempar potongan tangan itu kesembarang arah dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking tidak menyangka bahwa dirinya tega melakukan hal itu walaupun sebenarnya saudaranya pantas mendapatkan hukuman mati yang tidak layak.


"a-apa yang sudah kulakukan?".Silvana berdiri dan dia bisa melihat pakainya banyak bercipratan darah dan kedua tangannya penuh dengan darah dan ia juga melihat sebuah kapak yang ternyata ia gunakan untuk menghabisi saudaranya.


Tanpa banyak tanya, Keira membawa Silvana keluar dari ruangan penjara itu agar ia bisa bertanya kepada Silvana secara leluasa mengingat keluarga itu sangat ketakutan dengan apa yang telah dilakukan oleh Silvana.


"dia monster! anak itu benar-benar monster yang mengerikan! ah anakku!! ia membunuh dan memakan anakku!. Ia Monster". Teriak wanita itu saat ia dan suaminya juga kedua anak mereka menghampiri jasad sianak laki-laki itu. Sedangkan Sanse yang sedang mengambil kapak yang digunakan Silvana untuk membunuh merasa muak.


"tutup mulutmu! kau mengatakan bahwa saudari kami adalah monster tapi, bukankah kau sama juga?.


"Kalian tidak akan mengalami nasib seperti ini jika saja sebelas tahun yang kalian tidak berbuat kejahatan terhadap kami saat itu, mungkin kalian tidak akan pernah berakhir seperti ini dan pastinya kedua putri dan kedua putramu masih hidup".Ucap Dallas bernada dingin juga sehingga wanita itu terdiam bahkan suami dan ketiga putri dan putra satu-satunya ikut terdiam. Setelah menutup mulut wanita itu dengan kata-kata mereka, mereka pergi keluar dan mengunci pintu sedangkan keluarga itu menangisi mayat itu.


Tidak lama beberapa kemudian, Keira berada didalam kamar Silvana dan saat itu, Silvana yang telah selesai mandi dan berganti pakaian duduk di pinggir tempat tidur dengan kepala menunduk kebawah.


Keira berjalan menuju kearahnya dan duduk di sampingnya sambil memandang ke depan.


"ada apa Silvana?. aku tahu mereka sangat kejam terhadapmu dan mereka pantas untuk dihukum setelah ah apa yang telah kau juga Sanse dan Dallas alami.


Aku tidak akan menyalahkan dirimu yang diam-diam menyekap dan menyiksa mereka dipenjara bawah tanah.…


Aku tidak akan memintamu untuk melepaskan mereka dan melupakan kesalahan mereka ataupun memaafkan mereka karena aku tidak bisa memaksakan seseorang yang hatinya masih tidak rela ataupun masih tersakiti.…


Semua keputusan itu ada pada Hatimu karena selama aku mengenalmu, aku tahu bahwa kau adalah orang yang baik sebagai orang yang baik tidak selamanya orang baik itu tahan ditindas atau disakiti oleh orang yang tidak baik.…


aku juga tidak akan menghakimi caramu menghukum mereka karena aku bahwa kau dan kedua saudaramu sudah lama menderita karena mereka. aku juga memahami perasaanmu saat orang yang kita sayangi dirampas hidupnya dari kita karena aku juga kehilangan orang yang paling aku sayangi walaupun Alex Hadir dalam hidupku tapi rasa kehilangan itu tetap terasa.


Mungkin karena cara orang yang kita sayangi pergi karena kejahatan orang lain membuat kita tidak bisa merelakan mereka yang pergi dengan cara seperti itu sehingga dendam dan kehilangan tetap terasa dihati… Intinya… hati kita butuh keadilan untuk orang yang kita walaupun setiap keadilan itu berbeda-beda caranya". Ucap Keira memandang ke depan tanpa melihat kearah Silvana.


Silvana menoleh saat Keira berbicara dengan perasaan didalamnya. Ia pun tahu bahwa Keira juga memahami mengapa ia melakukan hal itu walaupun dalam hati Keira merasa tidak benar.


Ia tahu Keira tidak akan ikut campur dalam urusan menyiksa keluarga tirinya karena dia, Sanse dan Dallas juga dikatakan sebagai korban yang ditindas dan disiksa.


Mereka bertiga juga pernah mati tapi takdir telah memberi mereka kesempatan kedua untuk hidup agar mereka bertiga bisa mendapatkan keadilan walaupun tidak secara hukum atau bisa dibilang hukum yang mereka ciptakan sendiri.


Silvana juga tahu bahwa dibalik lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin berhenti mengotori tangannya dengan darah mereka tapi Pikirannya terlalu kuat untuk membuatnya tidak mendengar suara hatinya melainkan suara pikirannya sendiri yang terus memaksanya untuk membalaskan dendam kepada Keluarga yang telah menyakiti dan merampas hidup orang yang dia sayangi sebelas tahun yang lalu.


Mungkin karena rasa sakit, dendam dan amarah membuatnya menutup hatinya untuk iba terhadap orang lain yang jahat kepadanya.


ditambah lagi dengan Silvana yang berfikir jika ia berhenti, adilkah untuk Sanse dan Dallas yang juga korban dari mereka dan juga meminta keadilan.


Andai saja kau tahu Keira… jika aku iba terhadap mereka, bagaimana dengan Sanse dan Dallas?. Mereka juga menginginkan keadilan untuk ibu mereka.


Aku juga menginginkan keadilan untuk ibuku sendiri…


Jujur saja… mencium aroma darah mereka bahkan aku memakan sibrengsek itu sungguh membuatku muak… tapi jika aku berhenti, apakah adil untuk ibuku…?


apakah adil untuknya? untuk kami…?


sungguh… aku tidak tahu keadilan itu seperti apa sebenarnya…Batin Silvana.