The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 169 : Ng.....Wrong?



yah…


aku…


Sanse…


Dallas…


Seharusnya sudah lama mati sebelas tahun yang lalu tapi keajaiban dibalik kutukan telah membuat kami hidup dan menjalani kehidupan kami yang sekarang.


Sungguh buruk aku masih mencari keberadaan teman-teman laki-laki itu mengingat mereka juga turut andil dalam pelecehan yang dialami oleh ibu kami.


Aku ingin sekali menghabisi mereka sekarang sejak dulu tapi guru mengatakan sabar agar bisa menikmati balas dendam ini dengan baik mengingat dia sudah mengumpulkan informasi dimana mereka sekarang dan juga agar mereka tidak tahu bahwa bukan cuma aku yang masih hidup tapi Sanse dan juga Dallas masih hidup.


jika mereka tahu dan kami masih ingat akan kejadian sebelas tahun yang lalu, mereka akan pergi dan pasti kali ini Sulit mengetahui dimaan mereka dan saat itu tiba, jangankan mereka, keluarganya pun akan aku habisi mereka semua. Ucap Silvana dalam batinnya yang penuh dengan dendam.


ah… tapi aku harus menyelesaikan masalah vampire ini terlebih dahulu sebelum aku meminta informasi itu ke guru.


rasanya dihidupku ini banyak sekali masalah yang harus dihadapi. Terutama… Emery.


dimana si brengsek itu sekarang?. Haruskah aku mendatangi kediamannya?.


tapi sama saja aku melakukan hal bunuh diri jika datang sendiri ke tempat itu karena demi mendapatkannya, aku harus melawan saudaranya bahkan ayahnya. pikir Silvana.


"oi Silvana".


"eh, Dion". Silvana menyadari bahwa Dion berada disampingnya.


"aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak mendengarkan". Ucap Dion sembari duduk di seberang Silvana.


"ah. Maaf ya, aku tidak mendengarkan".


"Silvana, mengapa kau tidak mengajak kami juga makan?". Gerutu Dion saat mendapati bahwa Silvana sendirian di kantin.


"hehe. Habis lapar, kau tahu sendiri'kan?".Jawab Silvana sambil pura-pura menikmati spaghetti carbonara yang sudah dingin dikarenakan dirinya telah terhanyut dalam mengingat kejadian sebelas tahun yang lalu.


Sementara itu…


Siswa 1:"psst…psst. apakah kau sudah membawa barangnya?". tanya seorang siswa secara berbisik-bisik kepada temannya yang juga seorang siswa dikelasnya yaitu kelas satu.


Siswa 2:"pastilah. Nih". Jawab lawan bicaranya itu sambil menunjukan sebuah wadah kecil seukuran tabung camera film dengan bubuk bewarna merah muda didalamnya.


fiuh…untunglah dia sudah meninggalkanku sendiri. Yang benar saja dia. Ucap Tania dalam batinnya lalu ia pun tak sengaja mendengar percakapan antara dua siswa kelas satu secara bisik-bisik ketika ia baru saja melangkah.


Siswa 1:"apa barangnya bagus?".


Siswa 2 :" ya tentu saja bagus. Ini asli lho, kalau tidak asli ngapain aku bawa diam-diam ini barang". ia mengGerutu saat temannya meragukan barang yang dia bawa.


Siswa 1:"hm, iya deh".


Siswa 2:" kau bawa uangnya enggak?".


Siswa 1:" yah pastilah aku bawa. Macam aku gak sanggup pula kau pikir untuk membelinya. Jangankan sedikit ini, sekilo- dua kilo pun aku bisa beli".


Eh? apa yang mereka bicarakan tuh? bisik-bisik + bayar mahal untuk barang yang kecil ini… ah!!.


pasti Narkoba tuh.


belum lagi nama baik keluarga yang bakalan hancur jika semua orang tahu perbuatan mereka yang telah mencoreng nama baik keluarga.


padahal punya harta tapi jual Narkoba pula disekolah. Udah menghancurkan masa depan diri sendiri eh malah ngajak menghancurkan masa depan orang lain.


Wah ini gak bisa di biarkan nih. Dasar manusia perusak. Merasa perbuatan kedua manusia itu tidak benar, dengan menahan rasa denyut di kerang, Tania berjalan senormal mungkin dan tidak merasakan apapun walaupun dalam benaknya menangis karena masih denyut-berdenyut, lalu ia pun menghampiri mereka berdua.


Kedua siswa itu terkejut saat Tania menggebrak meja mereka. sehingga pastinya pandangan mereka semua mengarah ke arah Tania.


"WOI KALIAN BERDUA… APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN HAH?". Tania mulai mengintrogasi mereka berdua dengan suara lantang.


"sssst, kecilkan suaramu, kakak kelas". siswa nomor 2 mencoba mengingatkan Tania agar tidak bersuara keras.


"memangnya kenapa kalau aku tidak mengecilkan suara aku hah?. suka-suka aku dong. Selain itu, kaliann sedang melakukan apa di sini, hah?. kalian pasti sedang berkontraksi narkoba kan?".Tuduh Tania tanpa mencari kebenaran nya terlebih dahulu.


"Bertransaksi kali😧. Bukan berkontraksi". Siswa 1 meralat salah satu dari kata Tania yang salah sepelan mungkin.


"sama saja menurutku".


"hei kakak, enak aja kakak menurut kami bertransaksi narkoba. jangan menuduh kami sembarangan dong". Siswa 1 dan 2 tidak terima terhadap tuduhan yang Tania berikan kepada mereka.


"alah. Jangan mengelak deh. kalian tahu sendiri kan benda sesat itu selain menyesatkan orang lain juga menghancurkan masa depan orang lain. selain masa depan hancur, penyakit pada berdatangan udah begitu eh mati pula karena overdosis.


apalagi nama keluarga kalian pada rusak karena benda kecil itu merusak semuanya.


ingat harga diri, martabat, kesuksesan dan nama baik diraih dengan susah payah tapi berkas satu kesalahan kecil saya gampang sekali menghancurkan semua itu kayak mengerti.


Siswa 2: "ng… kakak".


"dengar ya, jika kalian pakai barang sesat itu, selain kecanduan eh pendek umur pula. Mengerti?. apalagi yang mengedarkan, Widih… sudah pasti dihukum mati karena barang sesat yang dijualnya telah menyesatkan banyak anak-anak muda yang menjalani kehidupan mereka dengan baik". Tania menjelaskan betapa buruknya barang sesat itu walaupun dia tidak mendengarkan pembelaan dari kedua siswa itu.


"oi kakak kelas, dengarkan kami dulu. Kami ini tidak bertransaksi narkoba tahu💢. Nih, kakak coba lihat baik-baik barang yang dibawa temanku apa". Dengan kesal, Siswa satu meninggikan suaranya karena tidak terima dengan tuduhan Tania.


"eh?". Tania mengamati baik-baik serbuk itu bahkan mencicipinya sedikit sehingga.


Eh? bentuk dan rasa ini kalau tidak salah, Dion sering menuang ini ke masakannya. Itu berarti…


"kalau Kakak tidak tahu, asal kakak Tahu ini bukan narkoba, tapi garam Himalaya. Aku membawanya untuk dijual sebagai sampel kepada temanku yang kebetulan ingin membuat makanan yang enak untuk ulang tahun ibunya dan garam Himalaya terkenal cocok membuat makanan lebih gurih daripada garam biasa".


...DOENG!...


Tania tidak berkata apa-apa bahkan merasa malu setelah siswa nomor 2 itu menjelaskan tentang barang yang dia bawa ke sekolah yang ternyata sudah pasti bukan narkoba melainkan sebuah garam Himalaya yang terkenal karena berwarna pink dan garam itu dinamakan garam Himalaya karena garam itu berasal dari gunung Himalaya. dan Tania menjadi malu karena telah berasumsi selalu mengingat apa yang dilihat tidak selamanya menjadi benar.


"jika ini narkoba kenapa kali memberi bicaranya pelan banget?".


Siswa 1: "ya jelaslah kami bicaranya pelan, kita kan diperpustakaan, tahu".


"Eh???!!!!". Tania mengamati sekitarnya. dia baru menyadari bahwa dirinya berada di dalam perpustakaan dan beberapa murid yang sedang membaca dan penjaga perpustakaan melotot ke arahnya Karena berisik mengingat perpustakaan, tidak boleh ada suara keras apapun disana seperti berbicara keras.


"oh, tidaaaaaaaaakkkkkkk".


...SYUNG...


Tania langsung pergi berlari keluar meninggalkan perpustakaan tanpa menghiraukan rasa sakit di bagian itunya akibat kejadian semalam, Karena rasa malu lebih besar dari rasa denyut-denyutan dan pastinya butuh waktu lama bagi Tania untuk bisa kembali lagi ke perpustakaan setelah rasa malunya karena berasumsi yang tidak-tidak.