
"kau tahu, Aku tidak akan melakukan apapun tentang semua yang aku katakan padamu itu tapi…Aku ingin bertanya kepadamu, kenapa kau terlihat semarah itu Silva…?. Ini pertama kalinya kau memakan seorang manusia walaupun tidak masalah selama manusia yang dimakan itu berdoa terhadap sesuatu hanya saja… ini pertama kalinya diwilayahku ada seorang Werewolf yang telah memakan seorang manusia bahkan aku tidak pernah melakukannya…". Ucap Keira menghela nafasnya.
"Aku… juga tidak pernah terpikir untuk memakan seorang manusia… bahkan untuk manusia hina seperti mereka aku tidak Sudi…".Ucap Silvana pada akhirnya sehingga Keira menoleh ke arah Silvana yang masih menundukkan kepalanya.
"apakah dia membuatmu marah?".Tanya Keira dan Silvana mengangguk bertanda iya. Ia menegakkan kepalanya dan menatap kearah Keira.
"kau tahu, setelah menyelesaikan urusanku, aku kembali kemari sebentar lalu waktu itu…".
(Flashback…)
sebelumnya dipenjara bawah tanah…
"ini makan siang kalian. Anggap saja aku lagi baik hari ini".Ucap Silvana dingin dan memandang keluarganya dengan tatapan jijik sambil melempar beberapa bungkusan Styrofoam yang berisikan makanan ke lantai.
Dan Ayah kandungnya juga keluarga tirinya itu langsung berebut makanan yang dibawa Silvana karena untuk pertama kalinya Silvana memberikan mereka sebuah makanan yang baru dan layak dimakan padahal biasanya dia dan Sanse juga Dallas akan memberikan mereka makanan yang mau basi dan makanan basi sangat tidak layak untuk dimakan.
Mereka tidak berterima kasih kepada Silvana untuk makanan yang dia bawa melainkan mereka mengambil makanan mereka dan menjauh. Yah, kecuali satu orang.
Silvana menyadari bahwa salah satu dari saudara tirinya itu tidak mengambil makanan yang dilemparkan oleh Silvana melainkan menatapnya dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian dan Silvana tahu itu.
"kenapa kau menatapku dengan tatapan mata yang seperti itu?. Ah! sudah lama sekali bukan? aku ingat bahwa dulu aku pernah melakukan tatapan mata yang seperti itu kepada kau Dan kalian sebelas tahun yang lalu saat kalian menyiksa kami apalagi denganmu.
aku tidak akan lupa pada saudara yang telah menikamku sebanyak tiga puluh kali". Ucap Silvana bernada dingin dan balas menatap saudaranya itu dengan tatapan kebencian didalamnya apalagi ia sadar bahwa saudaranya itulah yang satu-satunya menatapnya seperti itu saat ia dan kedua saudaranya mulai menyekap dan menyiksa mereka.
"aku tidak akan lupa pada apa yang aku lakukan terhadapmu. Bahkan aku menyesal bahwa seharusnya aku menikammu lebih banyak lagi sampai kau tidak akan pernah bisa bangkit lagi melainkan jiwamu pergi ke sana untuk selamanya".
"jadi, kau tidak menyesal dengan apa yang sudah kau lakukan terhadapku?".Tanya Silvana sembari mengontrol emosi dalam dirinya.
"nak, apa kau sadar dengan yang ka-".
"aku sadar yang aku katakan, ibu. Lagipula, aku sangat merindukan masa saat kami menyiksa ibu kalian dan membuat mereka menjadi pelacur yang menyedihkan diantara teman-teman ayah kita. Apalagi aku Sangat merindukan masa-masa kami menyiksamu dan kedua anak haram itu".
"Jaga bicaramu brengsek!! Siapa yang kau panggil dengan sebutan anak haram hah?!. pria b*jingan yang kau sebut ayahlah yang menghancurkan hidup kedua teman ibuku! dia juga menghancurkan hidup ibuku jika bukan karena si b*jingan dan wanita j@lang yang merupakan ibumu, kami sudah pasti hidup bahagia Dan kalian tidak akan mengalami nasib seperti ini!!".Bentak Silvana kepada saudaranya itu. dan semuanya pun bungkam tapi si ibu tiri merasa marah dihatinya saat Silvana mengatai dirinya dengan sebutan wanita J@lang padahal kenyataannya benar.
Cinta palsu laki-laki itu menghancurkan ibuku! dia dan ibu murahanmu itu menipu dan menginjak harga diri ibuku bahkan menyakiti ibuku bahkan malangnya, ia tidak bisa bercerai dan mendapatkan kekayaannya dari kembali daripria lucknut ini sehingga ia pun memilih untuk lari demi keselamatanku yang telah dirahimmya saat itu bersama dengan kedua sahabat ibuku yang kau Tawan Untuk menjadi budak nafsunya yang saat itu Sanse dan Dallas juga dirahim mereka!"Bentak Silvana dengan marahnya sambil menunjuk kearah ayahnya sebagai dalang dari penderitaan yang dialaminya sebelas tahun yang lalu tapi pria itu memalingkan wajahnya kearah lain seakan waktu tetap menunjukkan bahwa dia masih tidak merasa bersalah atas perbuatannya padahal dia sedang menjalani karma dari perbuatannya dia sendiri.
dan wanita itu, sudah wajahnya penuh dengan lebam dan bekas pukulan dan luka ditubuhnya juga tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun atas perbuatannya dimasa lalu dari terlihat saat ia memalingkan wajahnya dengan rasa angkuh yang dimilikinya.
rasa marah mereka terhadap Silvana atas perbuatannya terhadap mereka ada tapi rasa penyesalan yang mereka miliki untuk perbuatan mereka jelas-jelas tidak ada sehingga wajar saja jika Silvana tidak percaya dengan penyesalan dan air mata buaya mereka. Setidaknya rasa takut mereka akan kematian yang disebabkan oleh Silvana, Sanse dan Dallas ada dalam benak mereka terlebih lagi hati mereka sangat sakit saat melihat keempat anak mereka telah dihabisi oleh Silvana dan dua saudaranya.
"yah, kami memang telah melakukan kejahatan terhadap kalian tapi bukankah kalian sama saja dengan kami?.
Kau menganggap bahwa jahat tapi kau? kau tidak lebih dari seorang monster. Sadarkah kau bahwa kau bukanlah seorang manusia seperti kami. Kalian bukan lagi bagian dari bangsa kami tahu!".
"cukup!" Dengan emosi dan kenangan buruk sebelas tahun lalu yang mendadak muncul di dalam pikirannya membuat Silvana marah. Entah kapan ia membawa kapak bergagang kecil dibalik bajunya lalu ia mulai membacok tepat di bagian leher saudaranya itu.
Keluarga itu berteriak dan ingin mencegah Silvana dan menyelamatkan si saudara laki-laki yang dibacok Silvana tapi rantai yang membelenggu mereka mencegah hal itu.
Si saudara laki-laki yang dibacok Silvana beteriak dan berusaha untuk melepaskan diri dari serangan kapak Silvana sedangkan Silvana yang teringat bagaimana dia ditikam berkali-kali oleh saudaranya sendiri terus menerus menyerangnya dengan kapak.
...(Flashback end…)...
"setelah itu…?".
"…yah…karena mendadak mengingat kenangan bagaimana dia menghabisi ku membuatku membacok dia berulang kali sampai ia terjatuh mengeluarkan banyak darah.
dia masih hidup walaupun terluka parah tapi…aku masih belum puas…aku tidak terima dia harus mati dengan kehabisan darah sehingga… aku bisa melihat kengerian dimatanya saat aku merobek tangannya dari tubuhnya dan memakannya… ia mati dengan luka dan kengerian saat ia melihat aku mulai memakan dirinya walaupun sesungguhnya aku jijik untuk memakan mereka...
ia benar bahwa tindakanku sama saja dengan mereka".Ucap Silvana lirih.
"tapi tujuan kalian berbeda. Mereka melakukannya karena kesenangan mereka bahwasanya menyakiti, menyiksa dan membunuh orang lain sungguh menyenangkan.
sedangkan kau, Sanse, juga Dallas melakukannya karena kalian ingin mendapatkan keadilan dengan cara kalian sendiri.
Jadi… jika ada yang mengatakan bahwa kalian juga sama saja dengan mereka ingatlah bahwa kalian melakukannya untuk mendapatkan keadilan kalian dan ibu kalian yang berada disana". Ucap Keira memberikan pendapatnya sehingga Silvana mulai tersenyum bahwasanya temannya menganggap bahwa yang dilakukannya sudah benar.