The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 53 : Where Is She?



Malam hari di hutan...


Keira melesat memasuki kedalaman hutan.Ia belari dengan cepat Bagaikan angin menuju ke sebuah pohon Pinus yang paling tinggi di pulau Lamiya.


Dengan cepat gadis itu memanjat pohon itu sampai paling ujung.


"haha. Akhirnya dapat sinyal juga". Kata Keira sembari memperhatikan Jaringan di layar smartphone miliknya. Tujuan ia datang ke hutan malam-malam sampai berada di atas pohon yang paling tinggi semata-mata untuk mencari jaringan.


Setelah mendapatkan sinyal, ia segera mencari nomor kontak dan menelepon ke nomor yang dituju.


TUUUTT... TUUUTT... TUUUT...


"Halo?".


"Halo, kakak...".


"Keira adikku sayang, senang dirimu menghubungiku. Aku mengira kau melupakanku karena sedang asyik liburan musim panas di Lamia bersama lainnya".


"hehe. Maaf ya, kak. Karena beberapa hal, Aku baru menelepon dirimu sekarang. Bagaimana kabar Mommy dan Daddy?".


"Mommy dan Daddy baik-baik saja. Bagaimana kabar Dion dan yang lain*?".


"Dion dan lainnya baik-baik saja. Apakah kakak tahu beberapa hari yang lalu, aku berjumpa dengan Mamba".


"Mambayo!? dia sudah kembali?".


"yup. Ia telah menyelesaikan tour judinya di casino Sandy. Tapi ia kembali hanya sebentar karena ia pergi bersama saudaranya selama musim panas entah kemana. Tapi Dia sudah pernah ketemu dengan Alex".


Alex? sepertinya aku pernah mendengarnya. Pikir Leo saat Keira menyebutkan namanya.


Lalu, selama beberapa saat, baik Keira dan Leo yang menjadi lawan bicara sedang asyik bercakap-cakap. Keira menceritakan pengalamannya di Lamia kecuali saat ia berada di bukit Hitam dimana ia hampir kehilangan nyawa dimalam hujan bulan purnama. Ia tidak mau membuat Leo, Lestat dan Lyora khawatir dan menyalakan Cio atas perbuatannya itu. Sehingga ia meminta Hara Antonia, Mambayo bahkan siapapun yang mengetahui kejadian itu diminta untuk merahasiakannya.


Ia tidak mau Cio dihukum atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap putri raja dan Alpha Utara padahal kenyataannya tidak begitu.


"oke Kak. Sampaikan salam sayangku pada kak Myesha juga Mommy dan Daddy. Aku sayang padamu".


"sampaikan salam sayangku juga pada lainnya. Aku juga menyayangimu".


Setelah pembicaraan mereka selesai melalui telepon, Keira memandangi langit penuh bintang disana.


Aku ingat, kau pernah mengatakan bahwa bintang-bintang dilangit menandakan orang yang kita cintai ada disana... kau juga pernah mengatakan bahwa bintang-bintang dapat menyampaikan pesan kepada orang yang kita cintai yang telah berada disana...


Bintang malam, katakan padanya...


aku rindu akan kehadirannya...


Angin malam, katakan padanya...


aku rindu dengan belaian Sayangnya.


Andai saja dia ada disini...


aku bisa mengatakan semua kebimbangan di hatiku...


Andai saja...


aku bisa bertanya padanya apakah dia bahagia disana saat ia melihat aku mulai membuka hati untuk orang lain...?.


Bintang malam, katakan padanya...


bahwa dia tidak akan terlupakan olehku...


Karena dia adalah cinta Pertama...


yang selalu mengisi hari-hariku...


Saat memandangi langit penuh dengan bintang dan menyampaikan pesannya dalam hati, ia mulai terusik saat nada di ponselnya berdering.


Keira mentouch screen ponsel itu untuk melihat nama orang yang menghubunginya malam ini.


Tidak ada nama... Nomor baru. Siapa yang menghubungiku?.


Segera Keira men-touch on dan mulai menjawab panggilan telepon itu.


"Halo? haloo?? Siapa ini?".Keira terus bertanya tetapi tidak ada jawaban dari si penelepon.


Keira tidak tahu jauh disana, seorang laki-laki di dalam kamarnya menghubunginya dirinya untuk mendengarkan suaranya. Terlihat kebahagiaan terpancar di wajahnya, ingin sekali ia menjawab namun bibirnya tidak mampu berkata apa-apa. Yang dia lakukan hanyalah mendengarkan suara Keira yang bertanya "siapa" hingga akhirnya Keira menutup teleponnya dengan kesal karena merasa dikerjai.


Kei... walaupun hanya mendengarkan suaramu, sudah cukup membuatku bahagia dan menghapus setengah kerinduanku ini. Aku bahagia bisa mendengar suaramu walaupun hanya sebentar saja... Ucap laki-laki itu dalam batinnya.


"siapa sih yang meneleponku ini? membuatku kesal saja!?".


Sementara di di ruang keluarga hotel...


Siapa lagi Dewi dada itu?. Pikir Dion dan Cio secara serempak. Kedua laki-laki itu mendengarkan percakapan kedua gadis itu sembari bermain kartu.


"hei, kapan aku pernah mengatakannya?".


"Waktu kita dipantai. Kau tidak ingat saat kau mengejekku, kau mengatakan Dewi dada di dalamnya". Kata Tania dengan mata yang melotot dan ekspresi wajahnya yang Kosong.


Siapa sangka kau bakalan mengingatnya, Tan.


"ah... yang waktu itu 💦 aku benar-benar keceplosan tapi memang tidak ada sama sekali dewi dada itu.hehe".😅


"cih! padahal aku berniat untuk membuat altarnya".


Tania...kau ini benar-benar polos atau bodoh?. Pikir Silvana.


"hei kalian berdua mau ikut main kartu enggak?". Tanya Cio dengan tujuan untuk mengajak mereka main dan tidak mendengarkan percakapan aneh antara kedua gadis itu.


"mau!! ayo Sil".


"hm, aku tidak ikut, yah. Noah mengajakku ketemuan". Kata Silvana sembari mengecek pesan di ponsel yang ternyata berasal dari Noah.


" baiklah. hati-hati yah. Jangan lupa pakai pengaman,yah".


"hei Tania! aku tidak akan melakukan apa-apa dengannya, tahu".😫 Kata Silvana yang terkejut dan salah tingkah saat Tania mengucapkan kata "pengaman".


"eh? apa maksudmu, Silva?. Jika kau dan dia jalan-jalan pakai mobil, kan memang harus pakai pengaman".


"oh. Maksudnya sabuk pengaman?".😶


"tentu saja. Memangnya kau maksud itu pengaman yang mana?". Tanya Tania yang


tidak paham maksud ucapan Silvana sedangkan wajah Silvana berubah menjadi merah karena salah paham.


Seharusnya bilang dong, kalau yang kau maksud itu sabuk pengaman!. 💢


Segera Silvana pergi meninggalkan mereka karena telanjur malu gara-gara Tania tidak menambahkan kata "sabuk" disamping kata "pengama".


Tidak lama kemudian...


"horeee! aku menang!". Seru Tania beteriak kegirangan karena menang melawan Cio dan Dion.


"nah, Dion siap-siap dapat hukumannya". Kata Tania setelah melihat hasil kartu Dion lebih kecil daripada Cio.


"hmp, baik-"


PLAAAK!!


"Hei! kok tampar sih!? kan hukumannya sentil di dahi!". Ucap Dion yang merasa kesal saat Tania menampar pipi kanannya.


"eh? benarkah? aku lupa. hehe". Kata Tania yang lupa bahwa hukumannya adalah sentilan di dahi, bukan di pipi.


"kalau sekali tidak masalah tapi ini ketiga kalinya kau menamparku. Pipi kananku yang malang".


"hehe. Maaf, yah. Ayo kita main lagi. Mungkin kali ini kau akan menang".Bujuk Tania.


"tidak mau. Aku mau balik ke kamar saja!". Dengan kesal, Dion pergi meninggalkan mereka berdua dan meninggalkan permainan mereka.


"kakak sih. Dia jadi marah tuh".


"hehehe. Maaf".


Kedua saudara itu kembali melanjutkan main kartunya sedangkan Dion berpapasan dengan Alex di depan lift.


"Dion, apakah kau melihat- pipi kananmu kenapa?".


"Lupakan saja pipiku. Kau ingin bertanya apa padaku?".


"apakah kau melihat Keira? dia tidak kembali setelah makan malam. Aku mengira dia ada di kamar namun ia tidak ada sama sekali disana".


"hei, hotel ini luas. Dia bisa dimana saja. Kau tidak perlu khawatir, karena dia bisa menjaga dirinya sendiri".


"hei, aku sudah mencari dan bertanya kepada orang-orang hotel setiap lantai tapi dia tidak ada-".


"aku bilang Jangan khawatir. Jika dia tidak ada dihotel, paling lagi mencari angin di luar". Kata Dion sembari masuk dalam lift dan lift itu pergi membawanya ke lantai yang dituju.


"ya ampun. Saudaranya tapi kok tidak khawatir banget?. Apa dia tidak ingat bahwa Keira cedera kaki?". disaat kebingungan, Alex mengarahkan pandangannya ke luar melalui jendela. Dia ingat larangan dari Hara bahwa dilarang untuk keluar saat malam hari karena ada hewan buas walaupun Hara tidak menyebutkan hewan buas apa yang dimaksud.


Paman bilang ada hewan buas selalu keluar dimalam hari apalagi aku masih ingat akan tempat itu yang sangat mencekam dan membuat jiwa kami terancam.


Apakah kau sedang berada di luar sana, Keira? jika iya, kau kemana?.