The Hot Blood Of Saga

The Hot Blood Of Saga
Chapter 87 : When Fire Is Returned With Fire



BYUUUR.


"Ah!". Gadis itu terkejut saat seember air membasahi tubuhnya saat ia tidur sehingga dia terbangun dibuatnya.


"ayah?!. Ibu?! ka-". ucapannya terhenti saat ia menyadari bahwa dia sendirian disebuah ruangan tanpa ada ayah dan ibunya juga Saudara-saudari kandungnya.


Melainkan didepannya sekarang adalah Sanse, Dallas dan Silvana yang menyiram air itu kepadanya.


"tidurnya nyenyak, kakak tiriku Cara?". Ucap Silvana menatapnya dingin sambil menyebutkan namanya.


"Ka-kalian ma-au apa? di-dima-mmana yang la-lain?!". Pekik Cara saat menyadari tidak ada keluarga kandungnya disekitarnya melainkan ketiga Saudara tiri yang dulu pernah ia ikut andil dalam penyiksaan dan derita ketiga Saudara tiri yang didepannya sekarang ini.


" ucapanmu yang lebih tepat adalah dimana sekarang kau di bawa, ka Cara. Mereka baik-baik saja untuk sekarang ini. Selain itu, apakah kau tidak mencium sesuatu saat Silvana menyirammu?". Ucap Sanse menatap Saudari tirinya itu dengan tatapan kebencian dan tersenyum jahat.


Cara mengendus tubuhnya saat Silvana menyiramkannya dengan seember air yang ternyata bukanlah air biasa yang disiram kepadanya melainkan sesuatu yang bersifat cair, bewarna air dan digunakan dalam melarutkan cat.


"I-ini!!! Thinner!".


"yah, kau mengenal bau cairan pekat ini dengan baik saudari tiri kami. Thinner… kau benar sekali. Aku ingat dulu Kaulah yang memberikan ide kepada ayah kita untuk menghabisi ibuku dengan menggunakan cairan ini. apa kau ingat?. aku pasti juga ingat bahwa kaulah yang meminumkan paksa thinner itu kepada ibuku yang malang sebelum ibumu menyalahkan api dan membakarnya".


(Flashback…)


Dua belas tahun yang lalu…


"Ayah, bagaimana kalau ibunya Sanse dihabisi saja pakai cairan ini, ayah?".


Usul cara dengan riangnya menunjukkan sekaleng thinner kepada ayahnya yang sedang mencambuk Ibu Silvana.



"Thinner?. Wah, ide yang bagus anakku sayang. Cairan itu termasuk salah satu cairan yang mudah terbakar. Itu sudah cukup bagus".


"ayahmu benar. Kau pintar menemukan ide seperti itu". Puji wanita jahat itu.


Cara membuka penutup kaleng yang masih tersegel baru itu. Ia pun menuangkan thinner itu kedalam sebuah segelas kosong yang terbuat dari stainless steel.


"untuk apa kau menuangkan thinner ke dalam gelas?". Tanya saudara laki-lakinya.


"ada deh. Kakak, tolong bukakan mulut wanita ini dong. Dia pasti haus". mendengar ucapan dari saudarinya itu membuat si saudara laki-lakinya langsung paham dengan apa yang akan dilakukannya. Sehingga saudaranya itu langsung membuka paksa mulut wanita yang dirantai itu.


Wanita yang malang…


dia sudah dirantai, disiksa, dilecehkan, sekarang kedua anak dari pasutri kejam itu akan mengakhiri hidupnya dengan sangat menyakitkan.


Dan Sanse…


sianak laki-laki berusia Lima tahun itu yang merupakan anak kandung dari


siwanita malang itu tidak dapat melakukan apa-apa untuk melindungi ibunya yang teraniaya itu karena dia juga dirantai bersama Silvana dan Dallas dan mereka bertiga juga disiksa habis-habisan oleh keenam saudara tiri mereka yang lain.


"ump! uuummmmppp!!".


"buka mulutnya, sialan!". Umpat anak laki-laki itu yang memaksa ibu Sanse membuka mulutnya namun wanita itu mati-matian untuk tidak membuka mulutnya karena dia tahu jika dia membuka mulutnya, maka ia akan dicekoki dengan segelas berisi thinner.


"dasar brengsek! buka mulutmu!". Pinta anak laki-laki itu sambil terus memukul wajah wanita itu hingga berdarah-darah dan lebam karena ditangannya, ia memakai sebuah alat bernama Keling (brass knuckles).


Keling adalah sebuah senjatayang terbuat dari logam yang dapat dipasang melingkari keempat buku jari terdepan dari tangan. Senjata digunakan dalam pertarungan jarak dekat fisik antar individu yang mengutamakan tinju.


Konon, jenis logam yang digunakan untuk membuat senjata itu umumnya memiliki tingkat massa dan massa jenis yang tinggi untuk menambah tingkat kerusakan tubuh luar yang diakibatkan oleh senjata itu


dan ibu Sanse dipukul habis-habisan dengan senjata itu agar ia membuka mulut tapi wanita itu tetap teguh untuk tidak membuka mulutnya.


" ibu!! aku mohon… berhenti menyiksa ibuku…" ucap Sanse yang berurai air mata karena harus menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh dua saudara tirinya ke ibunya yang malang.


"Diam kau! dasar Anak Haram!".


...BUGH!...


"Sanse!". Wanita itu menjerit memanggil anaknya saat ia melihat putranya dipukul tepat di ulu hati dengan keras oleh laki-laki kejam itu yang juga ayah kandung Sanse hingga Sanse memuntahkan darah ke lantai.


"Ah! dia sudah membuka mulutnya. Seharusnya tadi dari awal dipukul saja anak haramnya itu. Ayo, masukkan Sekarang". Pinta Saudara yang membuat wajah ibu Sanse babak belur. Ia menahan mulut wanita itu menutup dengan tangannya saat wanita itu teriak melihat anaknya bermuntahkan darah.


Cara dengan senang hati meminumkan segelas thinner itu kedalam kerongkongan wanita itu. Pasutri jahat dan anak-anak tertawa melihat wanita itu dicekoki cairan yang sangat berbahaya itu sedangkan dua wanita dan tiga anak-anak yang teraniaya tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan perbuatan keji itu.


"Uhuk-uhuk! Hoek!-hoek!"


Wanita itu memuntahkan darah akibat meminum cairan itu. Ia merasakan kerongkongannya seperti terbakar sehingga ia terbaring di lantai karena tubuhnya sudah sangat lemah karena darah yang mengalir dari tubuhnya.


BYUUR!


"I-ibu!!" Ucap Sanse melihat Cara menyirami ibunya dengan sekaleng Thinner. Ia ingin melindungi ibunya, kedua ini lainnnya bahkan kedua saudara tiri yang disayanginya dari dari kecil.


tubuh yang kecil dan usia yang sangat muda membuatnya tidak mampu untuk melindungi orang-orang yang disayanginya Bahkan dirinya sendiri.


"kalian berdua menjaulah". Ucap wanita jahat itu sambil memegang sekotak korek api di tangan kirinya.


" baik, bu".


kedua anak itu menjauh seperti yang diperintahkan oleh ibu mereka yang sama jahatnya dengan mereka. setelah memastikan kedua anak yang menjauh dari bahaya, sambil tersenyum jahat, dia menyalakan korek api lalu ia melempar korek api itu dan kemudian…


BOOOSH


"AAAAAAARGH".


"IBUUUUUUUUUU!!".


(Flashback end…)


"aku tidak bisa melupakan malam itu.… Teriakannya yang menyakitkan terus terdengar di telingaku. Suara tawa kalian yang menyaksikan kematian ibuku yang menyakitkan masih menggema di telingaku. Aku tidak akan memaafkan perbuatanmu karena Kaulah yang memilih kematian ibuku yang kejam dan menyakitkan itu… apalagi setelah ibuku tinggal jasad kalian leburkan dengan zat asam bersama ibu Dallas dan ibu Silvana".


"Sa-sanse… maafkan aku… aku mohon, ampuni aku…". Gadis itu memohon bahkan sampai berurai air mata agar ketiga Saudara tirinya akan memaafkan dirinya karena dia tidak mau mengalami kematian yang menyakitkan seperti yang dialami oleh ibu Sanse beberapa tahun yang lalu.


Inilah Karma…


apa yang ditabur, dia yang akan menuai.


orang pernah berkata bahwa mata dibalas dengan mata…


dendam dibalas dengan dendam…


maka untuknya, api akan dibalas dengan api…


Seandainya saja mereka yang bertindak kejam bertahun-tahun yang lalu berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan, mungkin mereka tidak akan pernah mengalami apa yang mereka perbuat dengan ketiga anak dan ketiga ibu mereka sekarang ini.


Dimana selama bertahun-tahun lamanya mereka lupa dengan dunia luar, bahkan kehidupan yang mereka jalani karena dunia yang mereka kenal sekarang adalah ruang bunker dan pembalasan.


Andai saja mereka masih ingat konsekuensi yang telah mereka lakukan sebelas tahun yang lalu, mungkin saja mereka tidak akan mengalami sebuah pembalasan dendam.


" kau ingin aku menghajar wajahnya habis-habisan sebelum dia mati Sanse?". Silvana mengajukan agar Cara dihajar dulu sebelum ia akan dihabisi seperti yang dialami oleh ibu Sanse dulu.


"tidak Saudariku sayang. Aku ingin segera mengakhiri hidupnya sekarang juga. Dia beruntung aku tidak memcekoki dirinya dengan thinner tapi aku akan membuat dia mengalami penderitaan yang kejam sebelum mati".


Ucap Sanse yang dengan halus menolaknya karena Cara sudah setiap hari wajahnya dipukuli oleh Silvana dan Dallas untuk mengusir rasa bosan dan lukanya masih belum kering karena Silvana juga Dallas selalu memberikan luka baru diwajahnya sehingga kecantikannya tidak terlihat lagi sampai sekarang.


Silvana tersenyum. kemudian dia menyerahkan sekotak korek api kepada Sanse.


"Sebelum kau membakarnya, biarkan ibunya melihat salah satu putrinya untuk terakhir kalinya".


"ide bagus. Dallas, bawa kemari wanita jahat itu".


"…baiklah…".


tidak lama kemudian, Dallas menyeret paksa masuk ibu tiri mereka ke ruangan tempat mereka berada itu. ibunya langsung dapat mencium bau tiner yang menyengat di ruangan itu. Ia juga melihat sesuatu membasahi putrinya dan korek api yang di tangan Sanse.


Saat itulah, ia menyadari apa yang akan terjadi pada salah satu putrinya itu.


"tidaaaakk! Kumohon, jangan bunuh putriku. sudah membuat kedua anakku terbunuh, kumohon jangan kalian bunuh anak kami lagi. dia juga Keluarga kalian".


Ucapnya memohon pengampunan untuk anaknya yang akan dieksekusi didepan matanya dan air mata membasahi wajahnya yang banyak memiliki bekas luka dan juga luka baru.


"benarkah? dulu yang kalian siksa juga merupakan bagian dari keluarga kalian. Tapi apa? kalian tidak peduli dan bahagia menyiksa kami. Aku ingat bagaimana kau merampas kehidupan ibuku dariku karena ide anakmu sekarang aku akan perampas kehidupan Putrimu ini dengan cara yang sama".


"Tidak!!aku mohon! Jangan!" Sang ibu tiri mencoba untuk mencegah Sanse tapi Silvana menahan pergerakannya dengan menjambak rambut wanita itu dengan kuat bahkan ia terikat dengan rantai yang dipasang oleh Dallas didinding.


"IBUUUUUUUUUU!! TOOOLOOONG AKU!!".


"Selamat tinggal, Kakak…". Ucap Sanse sembari melempar sebatang korek api yang dinyalakannya itu ke Cara.


"Tidaaaakk"


...BOOOOM!...


"AAAAAAARGH!" Cara menjerit kesakitan saat api membakar tubuhnya. Sang ibu menjerit menangisi putrinya yang terbakar dalam api sedangkan Silvana, Sanse dan Dallas pergi meninggalkan mereka tanpa peduli dengan jeritan sang ibu melihat putrinya yang akhirnya tiada namun api terus membakar tubuh si gadis.


Sementara itu, ketiga Saudara itu pergi meninggalkan perbuatan mereka tanpa berkata apapun tanpa ada yang mengetahui apakah yang mereka lakukan itu sudah benar?.


Aku…


sungguh tidak tahu apakah yang kami lakukan selama ini sudah benar…?


atau tidak…?. Pikir Dallas yang mulai meragukan apa yang telah mereka perbuat selama ini.