
Di pantai...
Setelah perjalanan terutama Cio yang harus mendengarkan percakapan aneh antara Saudarinya dengan si manusia bernafas lega. Mereka telah sampai tujuan. Artinya ia tidak perlu lagi mendengar percakapan kedua orang itu.
di pantai, mereka melihat yang indah. Terutama Cio, Danny dan Dion melihat beberapa gadis seksi dengan bikini yang seksi. sedangkan Tania lebih fokus Melihat beberapa lelaki yang bertelanjang dada memperlihatkan roti sobek mereka. Alex tidak memperhatikan beberapa wanita yang seksi dalam balutan bikini itu namun bukan berarti ia akan membiarkan Keira Melihat para laki-laki yang memiliki tubuh atletis dan beroti sobek seperti dirinya itu.
"hei hei!? apa yang kau lakukan Alex!?". Keira terkejut saat Alex menutup kedua matanya dari belakang.
"Jangan lihat. Lihat aku saja jika ingin melihat pemandangan itu ". Bisik Alex sembari tersenyum menggoda Keira.
"apaaan sih! yang aku lihat cuma pemandangan lautan tahu". Ucap Keira dengan ketus namun ia mengakui bahwa dirinya berbohong bahwa yang dilihatnya sebenarnya bukan lautan tapi beberapa laki-laki yang memamerkan tubuh atletisnya yang indah.
"ngomong-ngomong soal laut, bagaimana menurutmu tentang pemandangan yang indah ini?". Tanya Cio.
"bisa terkena tsunami enggak?".
"karena itu laut dan ini pulau, mungkin saja". Jawab Dion dengan bodohnya.
"tidak adakah komentar yang lebih baik!?"π’ Ucap keempat orang itu yang tidak senang dengan tanya jawab dari retizen bersaudara.
"lah, bukankah kau sendiri yang bertanya? kenapa kau marah Cio?".
"aku bertanya dengan harapan kalian akan mengatakan hal yang bagus seperti"indahnya" atau " cantiknya", bukan yang seperti yang kalian katakan".
"iya iya. Aku ulangin saja. Menurutmu Bisa tenggelam apa enggak disana, Dion?".
"karena laut, bisa saja".
"bukan yang begitu juga!".π’
Tidak lama kemudian...
"Keira! Tania! Cio! Dion!". Panggil Silvana dari kejauhan Sambil melambaikan tangannya. Mereka berenam melihat Silvana dan Noah dari kejauhan dan Lima diantara mereka melambaikan tangan mereka ke dua orang itu.
Sedangkan Tania? gadis itu tidak membalas lambaian tangannya Silvana seperti yang lain karena kedua mata Hazelnya sedang fokus pada bukit kembar Silvana yang besar dalam balutan bra bikini biru laut model *Half Cup.
Silva...dia beruntung banget punya dada seperti itu sehingga dia terlihat seksi apalagi aku dapat mendengar bunyi "boing...boing" Saat ia belari.
Tatapan matanya yang semula menatap Silvana, kini beralih pada bukit kembar Keira yang berdiri disebelah Dion dan Alex.
Keira.. dibalik kaosnya, aku tahu... walaupun dadanya tidak sebesar milik Silvana, ia Memiliki bentuk dan ukuran dada yang ideal bagi perempuan dan disukai laki-laki Sehingga ia cocok memakai model bra apapun sedangkan aku...
Tatapan matanya yang melirik ke arah Keira, kini melirik ke bagian bukit kembarnya dibalik bajunya yang hampir bisa dibilang...tidak kelihatan bentuknya.
Mengapa..... Mengapa aku malah memiliki bentuk dada yang mirip seperti papan cucian!!!?π’
ini menyedihkan...π’ aku ingin memakai bra model apapun tetapi... aku hanya bisa* *memakai miniset, Hiks...
oh mama...oh papa... usiaku enam belas tahun, aku ingin belari di pantai dengan memakai baju renang yang seksi sehingga mata laki-laki pasti akan menatapku seperti mereka menatap Silvana, tapi apa daya... dadaku seperti papan cucian.π**
"Wah, aku tidak menyangka bahwa kalian akan kemari. Aku senang, semakin banyak semakin bagus".Kata Noah.
"yah, kami sangat bosan. Jadi kami kemari". Kata Danny.
"oh ya. di sana ada toko ice cream yang enak. Bagaimana kalau kita membelinya sekalian membeli untuk para gadis ini?". Ajak Noah.
"aku setuju. aku ikut".Kata Danny sembari menarik lengan Cio.
"hei, kenapa menarikku ikut ?"
"ayolah Cio. Kau tidak ingin membelinya sekalian untukmu dan saudaramu?".
"hmp, yalah".
"nah Dion. ayo ikut".
"hei, kenapa aku juga diajak, Alex?".
"aku ingin kau memberitahuku tentang ice cream mana yang merupakan kesukaan Keira". Bisik Alex.
Kelima laki-laki itu pergi meninggalkan ketiga gadis itu terutama dengan kecemburuan Tania terhadap kedua sahabatnya dengan bukit kembar mereka terutama Silvana.
"Oh Silva, kau nakal tidak mengajak kami". Ucap Tania sembari menepuk punggung Silvana dan menutupi kekesalannya itu.
"hehe. Maaf ya".
Ini perasaanku saja atau aku merasa ia sedang mengintrogasi aku? mengapa aku merasakan aura yang tidak enak disekitarnya?.π¦ Pikir Silvana sedangkan Keira menangkap tatapan Tania tertuju kepada Dada Silvana.
ini perasaanku saja atau memang dia ini sedang menatap dada Silvana?.
"sejujurnya aku tidak berencana untuk datang kemari. Noalah yang mengajakku pergi kemari sebelum beberapa orang datang kemari. Ia juga yang melarangku untuk mengajak kalian". Setelah Silvana memberi mereka penjelasan, suara Tania kembali normal dan tidak ada lagi aura gelap yang di rasakan oleh Silvana.
"oh begitu. Tapi mengapa dia mengajakmu kemari?". Tanya Tania.
"yah. Aku juga penasaran".
"hihihi. Itu karena dia menembakku". Ucap Silvana dengan gembira.
"Apa!? π±kurang ajar sekali dia. Tidak kusangka manusia itu tega menembak-".
"Ng.. Tania. Aku rasa yang dimaksud Silvana bukan ditembak yang kau pikirkan deh".π
"Ng, maksudmu Kei?".
lah, masa dia gak ngerti Juga. Pikir Keira.
"yang dia maksud itu pacaran".
"paca-!!!!! apa!?". Gadis itu terkejut saat mengetahui bahwa yang dimaksud kedua sahabatnya adalah pacaran. Ia tidak menyangka bahwa selain kalah dalam bentuk dada, Silvana juga duluan dalam berpacaran.
a-ku dikalahkan oleh Sahabatku sendiri...
sudah kalah duluan di ukuran dada, aku juga dikalahkan pacaran duluan!?
i-itu berarti..... dia bakalan tahu cara membuat bayi dan mempraktekkannya duluan!!???.π¨
oh tiiiiidaaaaaaaak....!!!!!.
Tania beteriak dalam pikirannya. Membuatnya menyadari bahwa menang atau kalah tidak mengenal persahabatan. Setidaknya hanya dialah yang berpikir begitu sedangkan Silvana dan Keira tidak berpikir begitu.
"hohoho... selamat untukmu, Silva. Kau berpacaran dengan salah satu dari Trinity.hohoho".
Ini perasaanku saja atau memang dia mengatakannya dengan perasaan yang kesal?.π Pikir Silvana saat melihat Tania mengucapkan selamat dengan tatapan mata yang sangat kesal.
"terima-".
"Tidak kusangka bahwa kau Secepat ini menerima perasaan manusia itu. Kau tidak mau menunggu dulu hingga kau bertemu dengan Mate mu?. Kau pasti juga tidak tahu juga seperti apa dia itu. Dia adalah seorang yang dipuja-puja para siswa siswi dan ia pasti selalu bersenang-senang dengan para gadis-gadis diluar sana". Kata Tania yang mencoba menjelaskannya kepada Silvana tanpa ekspresi di wajahnya.
Tidak ada yang tahu bahwa apakah maksud ucapannya itu dimaksudkan mencoba memberi tahu Silvana bahwa Noah bukan laki-laki baik atau memang dia berniat untuk menjatuhkan image baiknya di Depan Silvana.
"Kau benar. Tap- ng.... Tania, bisakah kau berhenti untuk tidak terus menatap ke arah dadaku?π¦". Perkataan Silvana sempat terhenti dan berganti topik setelah ia menyadari dimana mata temannya itu berada sehingga ia merasa tidak nyaman.
"oh, maaf. Hanya saja... milikmu itu besar, ya". Ucap Tania dengan wajah datar dan Silvana merasa tidak nyaman dengan wajah Tania yang berubah menjadi datar.
"tapi, kau beruntung bisa memiliki ukuran yang besar". Puji Keira sehingga wajah Silvana menjadi merah merona.
"yah... kau beruntung memiliki dada besar. wanita yang Memilikinya sudah pasti hidup bahagia. Tidak perlu khawatir tidak mendapat pasangan karena memilikinya sudah pasti dapat menjadi magnet bagi laki-laki. dan pastinya sebuah hubungan dapat menjadi awet. haha...".
Entah Mengapa rasanya aku yang bersalah karena memiliki ini?? . Pikir Silvana setelah mendengar ucapan Tania dengan wajah datar dan suara tawanya yang hampa apalagi ia tahu betapa datarnya dada Tania yang mirip seperti papan cucian.
"sebenarnya aku ingin bertanya dari dulu tapi karena kita jadinya membahas topik ini membuatku ingin bertanya. Bagaimana bisa kau memiliki dada yang lumayan besar itu?". Tanya Keira dengan nada penasaran sehingga Tania langsung menajamkan pendengarannya setajam mungkin.
"hm..... aku ingat kalau ibuku juga memiliki dada yang besar, kurasa mungkin... dari keturunan?".
"ke-tu-ru-na-n!!?". Jawaban Silvana telah membuat Tania menjadi syok. Ia terjatuh berlutut setelah mendengarnya. ah.... kasihan.
"Tania!"π¦ Keira dan Silvana terkejut melihat reaksi Tania sehingga mereka berdua berjongkok dan mencoba untuk menghibur dirinya yang terduduk di atas pasir.
"haha... aku tidak apa-apa hanya saja..... setelah bertahun-tahun aku baru menyadari bahwa milik mamaku tidak lebih dari papan cucian.haha...".
disuatu tempat...
"Hatchi!".
"sayang, apakah kau sedang flu?". Tanya Hara sembari menghampiri Antonia ketika ia mendengar suara bersin dari Antonia.
"hm, kurasa tidak sayang. Mungkin hanya karena serbuk sari".
atau lebih tepatnya, kayaknya seseorang sedang membicarakanku.π€