
Noah bertanya sambil berjalan maju perlahan menahan rasa sakit dipunggung akibat terbentur pilar tadi dengan waspada. Sosok berjubah hitam itu diam saja saat Noah bertanya siapa dirinya melainkan tanpa menjawab pertanyaan Noah, ia melesat cepat dan langsung melayangkan tinjunya dengan kuat ke perut Noah, sehingga Noah yang ditinju perutnya langsung terpental kuat menembus tiga dinding ruangan.
Ia terkapar, Noah terkapar dilantai diiringi dengan robohnya dinding menghujani dirinya.
Sesosok itu mencium kuat aroma darah yang mengalir dari hidung, mulut dan kepala Noah namun ia berdecak kesal karena, walaupun sudah terluka parah, Nafas kehidupan Noah masih ada walaupun lemah.
walaupun tubuhnya yang terluka parah akibat pukulan tadi dan tertutup runtuhnya, untungnya kepala Noah tidak tertutup runtuhan sehingga ia masih mencoba untuk mempertahankan kesadarannya walaupun perlahan penglihatannya mulai buram karena darah yang mengalir di dahinya mengganggunya untuk melihat.
Sumpah, Noah merutuki dirinya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa langit mendengarkan doanya untuk mati saat ia marah ketika berbicara dengan ayahnya melalui telepon.
Sial!
Langit… dengan cepatnya kau mengabulkan doaku yang seperti itu padahal aku tidak bersungguh-sungguh untuk mengatakannya sama sekali.
Padahal…
walaupun aku punya kesedihan dalam hidupku…
Walaupun keluargaku yang menjadi penyebab kesedihan dan kekosongan dalam hidupku…
Walaupun kekayaanku masih membuat hidupku hampa…
Tapi masih ada seseorang yang sangat berarti bagiku.
dalam hidupku yang menyedihkan ini, dia hadir mewarnai hidupku.
dia menghangatkan hatiku…
senyumnya menghilangkan kesedihanku…
kehadirannya menghilangkan kekosongan yang kurasakan dalam hatiku…
dia membuat hidupku menjadi berarti…
dia lebih berharga daripada keluargaku sendiri.
namun…
jika aku tiada, bukankah berarti akulah alasan kedua matanya yang selalu memandangiku dengan cinta itu tergenang air mata…?.
Bagaimana jika dia menangis karena kepergianku…?.
bagaimana jika aku tiada tanpa orang yang tahu?. Bukankah berarti dia akan mengira aku menghilang meninggalkannya?.
Sungguh mengerikan jika seseorang tiada tanpa diketahui oleh orang yang dicintai.
orang yang dicintai pasti akan setengah mati mencari keberadaan orang yang tersayang tanpa tahu ia hidup atau sudah tiada.
Tidak…
aku tidak bisa melakukan itu padanya.
Sudah cukup derita dalam hidupnya.
Aku harus membahagiakannya….
Aku ingin bahagia bersamanya…
Oh langit…
jika aku bisa diberi kesempatan…
biarkan aku hidup untuk bersamanya…
Disaat deru nafasnya, Noah memohon untuk diberi kesempatan hidup.
Noah sangat takut jika ia tiada ditempat yang tidak diketahui ditangan seseorang misterius yang membuatnya luka parah dengan kekuatan yang tidak wajar.
Sungguh, Noah tidak tahu mengapa ia sampai dalam kondisi seperti ini namun Noah dapat merasakan kebencian orang itu saat ia menatap mata merah itu seakan ia melakukan sesuatu yang sangat tidak termaafkan.
"Si-Silva…". Sebuah kata keluar dari lidah Noah yang keluh. Sebuah nama yang membuat laki-laki itu marah mendengarnya.
"Beraninya manusia rendahan sepertimu menyebut namanya, bajing*n". Dengan marah, ia mengepalkan kedua tangannya, lalu berjalan menghampiri Noah untuk menyelesaikan tujuannya namun, mendadak ia berhenti saat akan menginjak kepala Noah ketika indra penciumannya mencium sesuatu.
Kedua matanya membulat dan seketika sesosok perempuan melompat turun dari lubang langit-langit lalu belum sempat mengelak, gadis yang penuh amarah itu langsung melayangkan tinju yang sangat kuat karena diselimuti energi tepat ke wajah vampir itu sampai vampir itu terpental kuat sampai membentur tembok dinding.
vampir itu terjatuh bersamaan dengan runtuhnya tembok sekitarnya untuk mengubur dirinya.
Cih! tidak kusangka ternyata dia!. Itu berarti dia tahu hubungan antara Silvana dengan Noah sehingga ia menculik Noah.
Tapi, setidaknya aku puas saat menghajarnya tadi.
Tapi bagaimana jika Silvana melihat siapa vampir itu? sanggupkah dia?. Pikir Keira saat ia masuk dari langit-langit reruntuhan dan melayangkan tinju dengan kuat ke vampir itu.
"Keira. Bantu aku Keira". Keira segera berbalik badan saat melihat Silvana berteriak memanggil namanya.
Ia melihat Silvana berurai air mata sambil menyingkirkan puing-puing reruntuhan dari Noah dengan kasarnya.
Keira bisa melihat berapa parahnya keadaan Noah saat ini dan bagaimana sulitnya Silvana sekarang saat masa lalu menyakiti masa depan Silvana.
Keira turut membantu Silvana mengeluarkan Noah dari puing-puing itu hingga akhirnya mereka berhasil menariknya dari sana.
"Noah… Noah!". Panggil Silvana mengguncang tubuh Noah. Ia menangis saat melihat tubuh Noah yang terluka parah dan kekhawatirannya membuatnya takut hal yang buruk.
"tenanglah Silvana, dia masih hidup. Aku ak-".
Belum sempat Keira menyelesaikan Kata-katanya, puing-puing reruntuhan tempat vampir itu terkubur meledak.
Vampir itu bangkit beteriak marah.
Sebuah bekas tinju Keira masih melekat terasa dipipi kirinya sehingga ia mengeluarkan darah biru disudut bibirnya.
Ia melotot ke mereka namun rasa terkejutan telah bercampur dengan amarah dari amarah saat sang Alpha Utara memukulnya dan terkejut melihat sang Jendral Utara.
Silvana juga tak kalah terkejut saat melihat siapa vampir yang telah menyakiti kekasihnya itu yang tidak lain adalah seseorang dari masa lalu yang pernah ia cintai dan ingin ia habisin ketika cintanya sudah mati untuk orang yang berada di masa lalunya itu
"Silvana…".Panggil vampir itu. Laki-laki itu memanggil Silvana dengan lirih. Perasaan rindu dan sayang menghampiri perasaannya.
Bahkan ia tidak akan pernah melupakan kenangan indahnya bersama dengan Silvana baik dulu maupun sekarang ia masih mencintai gadis itu.
Setahun dalam tidur komanya membuatnya merindukan akan sosok yang telah mengisi hatinya dan yang diharapkannya sekarang adalah mendapatkan sebuah maaf dari gadis yang dia sayangi walaupun gadis itu adalah seorang werewolf.
"Emery…". Ucap Silvana namun tidak seperti Emery, dalam nadanya terdapat rasa amarah didalamnya.
Kemarahan dan Kebencian yang dimiliki Silvana terhadap laki-laki yang pernah mengisi hatinya yang juga menghancurkan hatinya.
Emery bisa merasaka aura kebencian yang dirasakannya terhadap Silvana seolah-olah mata dan raut wajah Silvana mengatakan 'aku membencimu'.
Ia merasa sakit saat gadis itu menatapnya benci karena penghianatan yang dia lakukan demi keluarga dan bangsanya telah menghilangkan rasa cinta dan sayang Silvana terhadapnya.
Inilah konsekuensi yang harus dibayar oleh seorang laki-laki yang telah melakukan pengkhianatan karena pengkhianatan merupakan perbuatan tabu dalam sebuah hubungan dan jangan harap para perempuan akan memaafkan seorang laki-laki yang telah melakukan pengkhianatan karena pengkhianatan merupakan salah satu kesalahan fatal yang tidak termaafkan.
Saat ini, Silvana memandang Emery dengan tatapan kebencian. Ia mengepalkan kedua tangannya, ia tidak sabar untuk membuat Emery membayar kesalahannya termasuk apa yang telah Emery lakukan terhadap Noah.
"Kau ingin aku yang melawannya, Silva?".Keira mengajukan dirinya melawan Emery karena bagaimanapun, jika cinta masih ada walaupun hanya beukuran secuil beras, bisa membuat Silvana bimbang sehingga tidak heran jika Keira merasa skeptis jika Silvana melawan Emery.
Silvana berdiri dan tersenyum optimis lalu melirik ke arah Keira.
"jangan khawatir, tidak ada apapun yang tersisa untuknya. Jangan lupa Keira, jika aku disakiti baik hati atau fisik, sampai mati aku tidak akan pernah memaafkan Orang-orang yang melakukan itu padaku melainkan akan membalas mereka lebih buruk dari yang mereka lakukan padaku.
Kau pasti ingat apa yang telah kulakukan pada ayahku dan keluarganya'kan?".
Ucapan Silvana telah membuat rasa Skeptis Keira terhadapnya hilang. Keira tahu bagaimana pembalasan Silvana terhadap Keluarga yang menyakiti Silvana dulu.
tidak ada rasa ampun saat Silvana menyiksa bahkan menghabisi keluarga yang telah menyakitinya dulu.
"Aku percaya padamu Silvana".Ucap Keira lalu ia mengangkat tubuh Noah dan berdiri tanpa Tahu Noah setengah sadar saat Keira mengangkat tubuhnya.
Walaupun lemah, Noah mencoba mengamati punggung gadis yang membelakanginya itu walaupun darah yang mengalir di dahinya mengganggu penglihatannya.
tangan kanannya mencoba menggapai baju gadis itu namun tidak bisa ia lakukan karena Keira telah membawanya pergi.
Setelah yakin Keira membawa Noah pergi, tatapan Silvana kembali beralih ke Emery dengan tatapan mata yang tajam.
"Silva…".
"grrr!!! Bajing*n!!! apa yang telah kau lakukan terhadap kekasihku!!!!?". Teriak Silvana lantang lalu melompat tinggi dan langsung melayangkan tinjunya yang terbalut energi tepat diwajah Emery.
Serangan yang dilakukan Silvana sama dengan Keira namun hasilnya berbeda.
Mungkin kebenciannya yang mendalam membuat pukulannya lebih kuat sehingga tubuh Emery terpental kuat sampai keluar dari bangunan villa itu.
Tidak mengherankan jika Silvana menjadi jenderal werewolf wilayah Utara. Bukan karena persahabatannya dengan sang Alpha melainkan kemampuannya menghadapi musuhnya, Silvana sangat kejam melawan musuhnya bahkan Madoc sangat takjub saat Silvana telah menoreh prestasi gemilang saat berusia delapan tahun dengan mempersembahkan kepala sang istri kepala sang kepala keluarga diulang tahun Lestat.
Emery yang terpental merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia tidak menyangka jika serangan Silvana bisa sekuat itu hingga rasa sakit diwajahnya menjalar sampai di dada kirinya. Ia tebatuk memuntahkan darah biru ke tanah. Ia menyeka Sisa darahnya di sudut bibirnya dengan tangannya.
Saat Silvana memukulnya tadi,Ia merasakan sensasi kemarahan dan kebencian bercampur jadi satu. Perlahan, Emery bangkit dari tanah sambil mengamati gadis yang dihadapannya itu.
Emery menyadari satu hal, Silvana yang dihadapannya bukanlah lagi gadis manis pemalu yang pernah ia cintai melainkan gadis dingin yang menyimpan dendam dan amarah terhadap dirinya.
"Silva…deng-".
"diam!!". Memotong ucapan Emery, Silvana melompat tinggi sembari mengarahkan tinjunya ke arah Emery namun kali ini Emery bereaksi dengan cepat, ia menciptakan barrier transparan dengan kekuatannya untuk mencegah tinju Silvana mengenai dirinya.
Akan tetapi, tinju Silvana yang dilapisi dengan energi Silvana terlalu kuat dan karena masih dalam proses penyembuhan setelah tidur panjang membuat kekuatan Emery masih setengah pulih sehingga barrier itu pun berhasil dipecahkan Silvana sehingga mau tidak mau Emery membalas tinju Silvana dengan tinju energi juga hingga pada akhirnya…