
Jam 18.30...
Keira memandangi luar cafe yang sedang turun hujan deras dari tiga puluh menit yang lalu melalui jendela.
Tiga puluh satu menit telah berlalu setelah kedua Saudara Alex datang ke cafe untuk menjumpai dirinya.
Aku yakin, dia pasti tidak akan pergi kesana.
Tapi, entah mengapa hati ini terasa gelisah?. Pikir Keira. Ia menduga bahwa bahwa seorang Alex Adrian pasti tidak akan datang dan menunggu di tempat mereka ketemuan dan menunggu dibawah guyuran hujan deras Seperti orang bodoh.
Kenyataannya...
"hai tampan, mengapa kau duduk sendirian dibawah guyuran hujan deras begini?". Tanya seorang wanita yang berpakaian seksi warna jingga dengan nada yang menggoda dan tatapan matanya yang nakal.
Alex mengangkat wajahnya dan menatap kesal ke wanita yang berpakaian seksi sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang montok mengalahkan Silvana sedang membawa payung merah dengan hiasam berbentuk renda-renda di pinggiran-pinggiran payungnya.
dasar sialan! bukannya Keira yang datang malah wanita penggoda ini!.
" Pergi kau dari sini!!". Bentak Alex secara kasar. Wanita itu terkejut saat mendengar bentakan Alex sehingga ia langsung pergi meninggalkannya.
Sementara itu di Twinsbells...
"Keira, kau mau?". Tanya Silvana menghampiri gadis yang sedang menatap ke luar jendela sambil membawa makanan diatas nampan.
"Woah, donat krim susu. Aku mau!". Seru Keira saat melihat makanan yang dibawakan Silvana dia atas nampan. Segera ia mengambil satu dan memakannya bersama dengan Silvana.
"apakah Tania dan Dion sudah mengambil donat ini?". Tanya Keira sambil memakan donat krim susu betabur bubuk gula itu.
"sudah. Mereka berdua sudah mengambilnya".
"Sungguh enak. Hari ini hujan turun deras, yah".
"iya. Manusia-manusia diluar sana pasti lagi berteduh dan melakukan apapun untuk menghangatkan tubuh mereka".
"sudah pasti. di luar sudah basah, dingin lagi. Siapa yang tahan?".
"Kau benar, Keira. Hanya manusia bodoh atau tidak waras yang duduk di luar sana sambil membiarkan dirinya diguyur hujan. Hahaha".
"hahah...ha? Tunggu dulu!". Keira menatap wajah Silvana yang mulutnya sudah berlepotan dengan krim susu dan tepung gula.
"kau bilang apa tadi? coba kau ulangi".
"Kau be-".
"bukan yang itu. Setelah kau mengatakan aku benar".
"hahaha?".
"bukan! sebelum hahaha!".
"oh! Hanya manusia bodoh atau tidak waras yang duduk di luar sana sambil membiarkan dirinya diguyur hujan?".
"itu dia!".
Aku lupa bahwa dia itu terkadang bodoh dan tidak waras. Astaga, dia pasti masih disanaπ±
Keira menghentikan dan meletakkan kembali makanannya lalu menggunakan kemampuannya untuk membelah dirinya.
"Kau, gantikan aku selama aku pergi". Pinta Keira pada Keira lainnya.
"beres". Setelah ia memberikan perintahnya ke dirinya yang lain, Keira beranjak pergi, mengambil kunci, jaket, ransel dan helm lalu pergi keluar mengendarai sepeda motornya.
"apa yang terjadi? kemana dia? mengapa dia membelah diri?". Tanya Silvana yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"ia ada urusan penting. Tapi terima kasih telah mengingatkannya dengan ucapanmu, Silva". Jawab Keira2 sambil berterima kasih kepada Silvana karena ucapannya telah mengingatkan Keira.
"huh?".
Tidak lama kemudian...
Keira memakirkan keretanya di dekat taman yang tidak terkena hujan. Saat membuka helmnya, ia melihat Alex masih duduk di bangku itu menunggu dirinya sambil memeluk dirinya sendiri karena dingin yang menerpa tubuhnya akibat hujan yang turun terus mengguyur tubuhnya.
Dasar bodoh... kau tahu hujan tapi, Mengapa kau tidak berteduh...?.
apa yang kulakukan... aku telah membuat dirinya menunggu disana dalam keadaan seperti ini.....
Sebuah rasa bersalah muncul dalam dirinya. Hatinya sangat sedih dan bersalah karena membuat Alex menunggu lama di bawah guyuran hujan yang turun dengan derasnya.
ia tidak tahu sudah berapa lama Alex disana.
dalam keadaan basah, Keira belari menghampirinya. Alex menoleh dan melihat Keira belari menghampirinya. Ia segera berdiri dan membiarkan Keira yang menghampirinya.
"Al-".
" lama sekali kau datang! Kau tidak tahu sudah berapa lama aku menunggu disini sampai basah kuyup begini!?". π’π¨ Ucap Alex memarahi keterlambatan Keira sehingga Keira tidak bisa berkata apa-apa karena Alex memarahinya langsung.
dan Keira... awalnya ingin minta maaf, menjadi emosi saat Alex memarahinya.
"Dasar bodoh! apakah orang-orang disekitarmu tidak mengatakan apa-apa bahwa hari ini bakalan hujan turun dengan deras? mengapa kau tidak berteduh ketika hujan turun. Selain itu, walaupun kau memaksaku datang, seharusnya kau tahu bahwa kemungkinan aku tidak akan datang".π’
"tapi kau sudah datang kemari. lagipula, salah siapa yang membuatku disini dibawah guyuran hujan ?!. Seharusnya jangan marah dong. Siapa yang salah kenapa kau yang ikut-ikut marah". Ucap Alex yang tidak mau mengalah dimarahi oleh Keira. Keira ingin memarahinya namun ia tidak menguntungkan niatnya saat melihat tubuh Alex mengigil kedinginan.
"Maafkan aku..." Ucap Keira bernada lemah sembari membenamkan wajahnya ke dadanya Alex.
Saat Keira memeluknya erat, Alex terdiam Hingga tidak lama kemudian ia juga memeluk Keira.
"aku juga minta maaf karena sudah memarahimu".
Setelah hujan-hujanan...
" tolong donat Kentangnya yang panas dua dan coklat panas dua". Kata Keira memesan makanan di stan donat. Beruntung tidak jauh dari lokasi mereka terdapat stan donat di pinggir jalan. Memberikan kesempatan untuk berteduh di kanopi yang kecil.
"mengapa kau harus mengajakku ke kedai pinggiran Seperti ini?". Gerutu Alex. Sesungguhnya Keira merasa kesal mendengarnya karena disaat hujan-hujanan begini, ia masih sempat-sempatnya memilih-milih tempat berteduh dan makan walaupun hanya sebatas donat.
"Masih beruntung ada tempat berteduh di dekat sini untuk menghangatkan diri sebentar, dasar payah".Ucap Keira tanpa memandang Alex karena dia sibuk merogoh-rogoh tasnya. Ingin sekali Alex membalas ucapannya namun sensasi dingin masih dapat ia rasakan.
Beruntung ransel yang dikenakan Keira sekarang ini anti air. Ia mencari barang yang dibutuhkannya hingga ia menemukan handuk kecil bewarna biru.
Setelah ia menemukan handuk, dengan lembutnya, Keira mengelap wajah Alex. Jantung Alex berdegup kencang saat Keira menyentuh wajahnya untuk mengeringkan wajahnya yang basah dengan handuk.
Ia menyukai yang dilakukan Keira hingga Keira tiba-tiba saja Alex menghentikan Keira yang akan mengeringkan rambutnya dengan handuk karena mencium sesuatu.
"ada apa?".
"apakah kau tidak mencium sesuatu di handuk ini?". Tanya Alex saat menyadari bahwa sumber bau berasal dari handuk kecil yang digunakan Keira.
"Benarkah?". Keira mulai mencium handuk kecil itu. Jika saja tidak hujan, sudah pasti penciuman tajam Keira pasti akan menyadarinya karena hujan kelemahan bangsa werewolf untuk mencium sesuatu sehingga vampire-vampire sering memanfaatkan kelemahan mereka.
"hm, baunya ini..... astaga! aku lupa bahwa handuk kecil Ini selalu ku pakai untuk mengelap rantai sepeda motorku setelah ku... pelumas...hehe".
"kau pakai buat apa!!?".
Pantas saja mengapa wajahku terasa berminyak dan tercium aroma yang aneh. Ternyata.π’
segera Alex mencuci Wajahnya seketika di bawah guyuran hujan sedangkan Keira mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
Yang ada tinggal saputangan ini. Tapi, apakah aku harus mengelap wajahnya pakai ini mengingat...
(Flashback...)
Suatu hari yang indah di Rumah Silvana...
"Keira. Silvana. Dion, cepat kemari".
Panggil Tania sehingga ketiga orang yang namanya dipanggil segera datang ke ruang tamu dimana Tania berada.
"ada apa?". Tanya Silvana.
"lihatlah kucingmu Moci, Silva". mereka Bertiga mengarahkan pandangannya ke kucing jantan berwarna orange milik Silvana yang berusia tiga tahun dan sangat gemuk seperti roti. Mereka melihat tingkah kucing lucu itu sedang melakukan gaya ngesot.
"Woaahh lucunya πππ" Ucap mereka bertiga saat melihat Tingkah laku Moci.
"eh, Tunggu! saputanganku!". Keira Melihat dan menyadari bahwa Moci menggosok-gosok bokongnya ke saputangan biru Navy milik Keira yang diletakkannya di atas meja.
Silvana menghampiri Moci dan menggendongnya. Saat kucing itu di gendong pemiliknya, kucing itu langsung mendengkur dan bersikap manja.
"oh... Moci. Bagaimana bisa aku marah padamu jika kau seimut dan melakukan ini"π Silvana langsung luluh saat Moci ingin manja-manja dengannya sehingga Silvana memeluknya dengan sayang.
"Ehem!".
"Oh Keira, Jangan khawatir. Kucingku ini sangat bersih, jadi saputanganmu tidak kotor".π
"aku tahu tapi kuman tetap saja ada apalagi saat Moci menggosok-gosok bokongnya ke saputanganku".β οΈπ¨
"kalau begitu, ingatlah untuk tidak mengelap wajah dengan saputangan ini sampai kau mencucinya".
Keira meletakkan saputangannya itu kedalam ranselnya. Namun, sekali masuk tidak ada kabar lagi kapan keluarnya.
Begitulah dengan saputangan Keira. I tidak teringat akan saputangannya untuk dicuci bahkan sapu tangannya itu semakin terkubur lebih dalam di ranselnya setiap Keira memasukkan sesuatu ke dalam ranselnya.
(Flashback end...).
"Eh!". Keira terkejut saat Alex merebut saputangan yang dipegangnya barusan dan semakin terkejut saat Alex mengelap wajahnya dengan saputangannya itu.
waduh! π¨ Bagaimana ini?! Alex tidak tahu bahwa saputangan itu sudah lama tidak kucuci dan bekas Moci menggosok-gosok bokongnya.π€’
"ada apa Keira? kau ingin mengatakan sesuatu?".
Tanya Alex saat melihat raut wajah keira yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"ah... tidak ada apa-apa".π π¦
Lebih baik diam saja deh.π€
"Oh ya, ini untukmu".
Alex mengeluarkan sebuah dari balik Long Coatnya untuk diberikan kepada Keira yang ternyata adalah sebuket bunga dan ia meletakkannya di balik long Coatnya agar tidak terkena hujan secara langsung.
Buket bunga? pantas saja mengapa rasanya ada yang aneh saat memeluk Alex.
Keira menerima bunga pemberian Alex. Ia melihat Terdapat tiga jenis bunga yang sewarna dengan warna bola matanya. Ada Aster, Pansies, dan satu lagi yang membuat Keira terkejut saat menyadari bunga yang berada di tengah.